
“Tunggu." Benjiro bergegas mengejar Yana. Ia berhasil meraih tangan Yana dan menghentikan langkah wanita yang masih berstatus istrinya itu. Benjiro kemudian menarik Yana keluar dari ruangan itu menuju sudut koridor yang sepi.
“Aku tidak akan menceraikan mu. Kau tinggal menutup mata atas semuanya. Aku pun menutup mata apa pun yang hendak kau lakukan. Apa susahnya !!”
“Kenapa? Kau takut ramalan sialan itu akan terwujud ?"
Benjiro terdiam. Pikirannya melayang ke 30 tahun yang lalu, saat pertama kali ia bertemu dengan Yana.
Pada saat itu, Benjiro keluar dari rumah besar orang tuanya, tanpa membawa apa-apa. Dengan menumpang mobil yang membawa hasil bumi ke kota, Benjiro muda meninggalkan kampung halamannya. Karena mengalami pecah ban, kendaraan tumpangan Benjiro berhenti tak jauh dari kuil Senso-ji. Seperti ada yang menariknya untuk turun, Benjiro tanpa sadar berjalan berlahan memasuki area Kuil. Sebuah lampion raksasa berwarna merah yang tergantung di gerbang Kuil Senso-ji bernama Kaminarimon, menyambut kedatangannya.
Benjiro menyusuri Nakamise-dori yang menghubungkan Kaminarimon dengan kuil Sensoji di bagian dalam. Dengan panjang sekitar 200 meter, Nakamise-dori tersusun lebih dari 80 toko yang menjual pernak-pernik oleh-oleh khas Jepang dan kuliner dengan harga bervariasi.
Di ujung jalan pasar "Nakamise-dori", tampak kompleks kuil Sensoji, yang terdiri dari kuil dan beberapa bangunan untuk tempat tinggal pendeta Buddha, serta fasilitas lainnya. Sebelum masuk ke kuil Benjiro membasuh tangan dan kaki serta berkumur dengan air yang keluar dari mulut patung naga yang terbuat dari batu dan berada di tengah. Setelah membasuh tubuh dan membersihkan diri, Benjiro berkumpul bersama jemaat yang lain di sekitar "Jokoro", atau tempat dupa, yang berada di depan aula utama kuil.
Kemudian melumuri tubuh dengan asap dari dupa yang sedang dibakar. Setelah itu masuk ke dalam kuil dengan mengantri untuk berdoa. Setelah berdoa Benjiro berjalan keluar kuil utama. Langkahnya terhenti menyaksikan orang-orang yang ingin mengetahui ramalan masa depan dengan melakukan omikuji atau ramalan khas Jepang.
Di butuhkan sekitar 100-200 Yen untuk bisa membaca prediksi masa depan. Ia merogoh kantong celananya dan tidak menemukan sepeser pun uang di sana. Dengan menundukkan kepala memendam rasa kecewa ia berniat pergi dari tempat itu. Selembar uang 100 Yen yang di sodorkan seorang gadis menghentikan langkahnya. Gadis itu tersenyum. "Pergilah. Jemput keberuntungan mu". Awalnya Benjiro ragu mengambil uang yang diberikan gadis yang tak dikenalnya itu, namun senyum tulus yang diberikan sang gadis, menghapus keraguannya. Dengan langkah pasti, Benjiro melangkah mendekati tempat omikuji. Ia menyerahkan uang 100 Yen itu kepada penjaga. Penjaga memberikan satu buah wadah segi enam. Sambil berdoa Benjiro mengguncangkan wadah itu hingga keluar satu buah sumpit panjang. Di Bagian atas sumpit terdapat huruf kanji yang merupakan hasil ramalan. Kemudian ia mencocokan huruf kanji tersebut pada deretan laci yang juga terdapat huruf kanjinya. Setelah itu, ia mengambil satu lembar kertas di dalamnya. Laci inilah yang menyimpan 7 jenis ramalan. Mulai dari yang paling baik atau daikichi, hingga terburuk yaitu daikyō. Siapapun yang mendapat ramalan buruk biasanya akan mengikat kertas itu pada musubidokoro, yaitu susunan besi tempat pengikat ramalan buruk.
Satu lembar omikuji, terdapat ramalan kesehatan, karir hingga hubungan asmara.
Pada kertas ramalan milik Benjiro mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan seorang gadis yang merupakan bintang keberuntungannya. Karirnya akan cemerlang dan bersinar, selama ia bersama gadis itu. Benjiro memandang kertas ramalan itu tak percaya. Ia baru saja bertemu dengan seorang gadis yang memberikan selembar uang untuknya. Apakah gadis itu yang dimaksudkan ramalan ? Ia mencari keberadaan gadis berbaju krem itu. Tapi ia tidak mendapatkan gadis itu di tempat ia meninggalkannya tadi. Benjiro berlari mengelilingi area kuil mencari bintang keberuntungannya. Langkahnya terhenti begitu melihat gadis yang dicarinya berada di Nakamise sedang menikmati sembei atau kerupuk beras.
Itulah perkenalan pertama Benjiro dengan Yana. Sejak perkenalan itu, keberuntungan selalu menaungi kehidupan Benjiro. Tak ingin kehilangan bintang keberuntungan, Benjiro mengikat Yana menjadi istrinya.
"Kalau memang aku ini wanita keberuntungan mu, kenapa kau sia-siakan? Jawab aku Nobou-san!!”
Benjiro tersentak dari lamunannya mendengar makian Yana.
“Alah. Ramalan di percaya” Yana mendengus kesal.
“Kau ingin bertaruh dengan hidupmu? Kalau ramalan itu terjadi, kau mau menanggung akibatnya? Kalau aku jadi kau, aku tidak mau !!”
“Dasar pengecut !!"
“Aku memang seorang pengecut. Dan kau tau itu”. Nobou menggenggam kedua tangan Yana dengan lembut. Yana berusaha melepas kedua tangannya dari genggaman Benjiro, tapi lelaki itu bergeming.
“Yana tatap mataku." Benjiro diam. Matanya lekat memandang wajah Yana yang tidak sudi menatapnya. " Tatap mataku Yana.” Yana yang semula enggan menuruti keinginan Benjiro, akhirnya mengalah dengan permintaan suaminya. “Aku minta maaf, jika wanita ku kali ini orang yang telah kau tolong. Sungguh itu di luar kuasaku. Rasa itu mengarah padanya. Yana, jangan pergi dari sisiku. Bertahanlah sebentar lagi. Temani aku melewati masa kegilaan ku ini. Lakukanlah apa yang hendak kau lakukan. Aku tidak akan melarang mu jika kau memiliki seorang selir. Kalau kau merindukan ku atau aku merindukanmu, kita tinggal mengatur jadwal untuk bersama. Cuma satu permintaan ku, kita jangan berpisah. Hanya maut yang bisa memisahkan kita. Dan bila saat itu terjadi, bintang keberuntunganku akan redup. ”
Yana mengusap air mata yang berlahan turun dari sudut matanya.
“Kau tau sakit sekali rasanya, Nobou-san. Sakit sekali.“ Yana terisak. Air mata yang menetes berlahan menganak sungai di pipinya. Benjiro menarik Yana dalam dekapannya.
“Maafkan aku. Maafkan aku. Setelah kegilaanku ini berakhir, aku akan kembali padamu. “
Cukup lama mereka dalam posisi itu. Saling berpelukan. Menumpahkan semua rasa yang menyesakkan dada.
“Sudah malam. Aku harus pergi.” Yana mengurai pelukannya. Benjiro menghapus sisa air mata yang membasahi pipi Yana.
“Pulanglah. Besok kita bertemu di kantor”.
“Kau sudah boleh pulang?”.
“Satu hari setelah datang ke sini, aku sudah diperbolehkan pulang. Aku bertahan di sini karena Clarisha membutuhkan kehadiran ku.”
“Baiklah terserah kau saja. Aku tidak ingin membahas wanita itu. Aku pulang.”
“Berhati-hatilah” Benjiro mengecup kening Yana dalam-dalam.
“Tentu saja. Ayo Amaya.” Yana melangkah meninggalkan Benjiro diikuti oleh sekretaris nya Amaya yang menunggu tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sepanjang jalan pulang Yana termenung. Ia teringat atas ramalan omikuji di kuil Senso-ji 30 tahun yang lalu saat pertama kali ia bertemu Benjiro. Ramalan itu mengatakan, ia akan memiliki pasangan yang dikelilingi banyak wanita sepanjang hidupnya, tetapi lelaki itu juga yang mampu membuat dirinya bisa berdiri tegak menghadapi dunia. Pilihan berada di tangannya. Maju dan bertahan dengan lelaki itu atau mundur dan menjadi seorang pecundang.
...****************...