
Kita flashback kehidupan Yusa dulu, yuk.
Hikari Nobou adik semata wayang Yusa, memang terkenal dengan sifat kerasnya. Tak heran Ayah mereka, Benjiro Nobou mempercayakan perusahaan mereka ke tangan sang adik, setelah Yusa memutuskan melepas jabatan itu dan keluar dari rumah besar mereka. Yusa juga melepaskan nama keluarga di depan namanya. Ia menambah sendiri nama depannya dengan Kiyoharu yang merupakan gabungan dari kata kiyo yang berarti suci dan bersih dan kata haru berarti musim semi.
Bukan perkara mudah ketika Yusa memutuskan keluar dari rumah. Ia akan kehilangan semua fasilitas yang diberikan ayahnya.
Pertengkaran hebat yang terjadi waktu itu dengan ayahnya, merupakan puncak dari perasaan amarah dan kecewa yang terpendam setelah sekian lama.
“Dasar Booodoh. Kau simpan di mana otak mu. Urusan mudah begitu saja kau tak bisa. Penjualan bulan ini menurun drastis. Kalau di biarkan terus kita bisa rugi jutaan dolar”.
“Pasar lagi lesu, Ayah. Bukan perusahaan kita saja yang mengalami penurunan. Perusahaan lain juga”.
“Alah. Itu cuma alasan yang di buat oleh orang-orang yang gagal. Aku tidak mau tau, kau harus menyelesaikannya dalam waktu seminggu”.
“Seminggu ? Yang benar saja. Itu tidak mungkin?”.
“Apa yang tidak mungkin. Tidak ada kata tidak mungkin dalam kamus hidupku. Segera selesaikan atau kau angkat kaki dari perusahaanku!!!”.
“Baik kalau itu memang mau Ayah. Aku mengundurkan diri”. Yusa melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu.
Benjiro tidak menyangka Yusa akan mengambil langkah seberani itu. Niat awal hanya menggertak anaknya saja.
“Sekali kau keluar dari pintu itu, jangan coba-coba kembali lagi. Semua fasilitas yang kau nikmati akan aku cabut. Kau juga tidak boleh tinggal lagi di rumahku !!”.
Setelah lepas dari keluarga, Yusa mengisi kebebasannya dengan menekuni kegiatan yang ia sukai, yaitu cullinary . Ia mencoba mencari peruntungannya di dunia luar dengan bekerja di salah satu resto hotel di Osaka. Memulai karir sebagai pelayan restoran. Ia sangat yakin, jika bekerja dengan tekun dan bersungguh-sungguh, suatu saat nanti ia akan memiliki restorannya sendiri.
Untung saja dia mempunyai simpanan uang yang tidak di ketahui keluarganya. Dengan uang itulah ia bisa menyewa apartemen murah dan membeli sebuah mobil bekas. Uang itu juga membantunya untuk melanjutkan hidup sebelum ia memperoleh penghasilan sendiri dari pekerjaannya sebagai pelayan resto.
Benjiro Noubu seorang ayah perfeksionis. Tidak mentolerir sedikitpun kesalahan. Waktu kecil, Yusa kerap menerima hukuman jika tanpa sengaja melakukan kesalahan. Mulai dari hukuman verbal sampai fisik yang menyakitkan. Ayahnya menginginkan Yusa tumbuh menjadi pribadi yang kuat, untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan kerajaan bisnis yang susah payah dibangunnya. Parahnya, ibu pun mendukung tindakan suaminya. Ia tidak peduli dengan kejiwaan putranya. Ibunya jarang di rumah. Wanita itu sibuk dengan teman-teman sosialitanya yang kerap mengumbar kemewahan dan kekayaan. Wanita itu sering berpergian ke luar negeri hanya untuk berburu barang-barang branded limited edition sebagai penunjang gaya hidupnya.
Yusa sangat kurang afeksi sedari kecil. Cangkir kasih sayangnya kosong. Kedua orang tua lalai mengisinya. Yusa sendiri lupa bagaimana rasanya pelukan seorang ibu. Yusa juga tidak tahu bagaimana rasanya dekapan erat seorang ayah dengan penuh cinta, yang konon katanya bisa menumbuhkan perasaan sehat dan gembira. Satu-satunya kasih sayang yang ia dapatkan, hanyalah dari pengasuhnya. Wanita paruh baya itulah yang dengan sukarela menghapus air mata di pipinya, memberikan pelukan saat Yusa butuhkan tempat menghilangkan perasaan sedih, takut, kecewa, dan marah. Ia juga dengan sukarela mendengarkan setiap celoteh yang keluar dari mulut mungil Yusa tanpa interupsi dengan penuh minat.
“Yusa sayang, kemarilah”. Wanita lembut itu akan merentangkan tangannya begitu Yusa kembali ke kamar setelah “belajar” bersama ayahnya.
Wanita itu juga yang mengobati luka-luka di tubuh Yusa akibat cambukan sang ayah saat dia dengan keterbatasan pengetahuan, melakukan hal yang salah menurut ayahnya.
Pada saat-saat itulah, Nanny, begitu Yusa memanggilnya, dengan sangat sabar memandikannya, menyuapi dan meninabobokan sampai ia tertidur.
Hati Yusa hancur ketika sang pengasuh meninggal dunia saat ia berusia 7 tahun. Jiwanya seakan ikut bersama jasad Nanny yang terbakar dan menjadi abu.
Belakangan Yusa baru mengetahui, bahwa pengasuhnya itu telah lama mengidap penyakit kronis yang telah menggerogoti tubuhnya. Dokter telah lama menyarankan untuk melakukan perawatan dan pengobatan di rumah sakit. Namun, karena rasa sayangnya yang begitu besar pada Yusa, ia memilih untuk terus bekerja agar bisa menemani hari-hari majikan kecilnya yang suram. Ia mengabaikan rasa sakit ketika bersama Yusa, agar bisa menghibur dan menguatkan jiwa Yusa yang rapuh. Sampai pada suatu ketika, tubuh ringkih itu pun menyerah dengan penyakit yang telah bersemayam di raganya. Ketika pagi hari, Yusa yang terbangun dari tidurnya, mendapati sang Nanny tidur dan tidak bangun lagi dalam posisi duduk dengan kepala beralaskan tangan di ranjang Yusa. Yusa yang tidak mengerti hanya bisa memandangi para asisten rumah tangga ayahnya beramai-ramai menggotong tubuh pengasuhnya itu, ke rumah belakang khusus pelayan. Di sanalah mereka melakukan ritual upacara pemakaman, kemudian membawa jenazah ke krematorium. Pada saat jenazah di masukkan ke krematorium, tubuh kecil Yusa berlari menuju peti yang berlahan masuk ke lubang besar. Sebuah tangan besar dan kuat menyentak tubuh kecilnya dan menariknya ke belakang. Pandangannya seketika kabur, berlahan memudar dan gelap.
Momen itu tidak akan pernah Yusa lupakan. Kejadian besar yang menjadi titik balik dalam hidup Yusa tanpa ia dan orang-orang di sekitarnya sadari.
***