Looking For Murder

Looking For Murder
Akhir Petualangan Bandot Tua



Setelah selesai dilakukan proses otopsi, dan polisi telah memperoleh data yang lengkap perihal penyebab kematiannya, jenazah Yusa sudah bisa diserahkan pada pihak keluarga. Yana yang datang ke Tokyo ditemani oleh, Teramae, harus sedikit bersabar selama beberapa hari, agar jasad Yusa bisa dibawa pulang. Setelah mengurus beberapa prosedur pemulangan jenazah, akhirnya tubuh kaku Yusa bisa dibawa ke Osaka. Derai air mata membasahi wajah dan pipi Yana, begitu ia diizinkan untuk melihat jasad putranya. Yusa yang malang, seandainya waktu bisa diputar kembali... Entahlah. Semua sudah terjadi. Yang tersisa hanyalah penyesalan yang tak bertepi.


Serangkaian prosesi pemakaman yang melelahkan dilakukan keluarga Nobou. Tentu saja itu semua dengan biaya yang tidak sedikit. Mereka harus menggelontorkan dana sekitar 2,3 juta Yen atau setara dengan Rp. 251 juta.ยน Mulai dari Otsuya (wake ceremony), Sogi (prosesi pemakaman), Shukkan (pengiringan peti ke krematorium), hingga Kaso (proses kremasi).


Kerabat dan orang-orang yang mengenal keluarga Nobou, silih berganti datang untuk menyampaikan rasa duka cita mereka. Walaupun terdengar selentingan bisik-bisik sumbang tentang siapa Yusa dan bagaimana sepak terjangnya semasa hidup, tetapi mereka tetap datang dengan mengenakan pakaian serba hitam, untuk memberikan penghormatan terakhir pada mendiang. Terlepas dari apakah kedatangan mereka dengan hati tulus ikut merasakan duka cita atau hanya untuk kepentingan bisnis belaka.


Benjiro dan Yana sebagai keluarga yang berduka, menerima tamu yang datang silih berganti. Sementara Hikari hanya dibolehkan hadir selama 2 jam setiap harinya, mengingat prosesi pemakaman panjang yang memakan waktu berhari-hari. Clarisha pun tidak ketinggalan hadir untuk ikut menyampaikan duka citanya. Di depan pintu rumah duka, Clarisha yang hendak keluar berpapasan dengan Shuji yang baru saja datang. Tatapan mereka bertemu.


"Shuji Tetsuya. " Bisik Clarisha dalam hatinya. Lalu, ia pun tertunduk dan berusaha bersikap setenang mungkin, berpura-pura tidak mengenal pria yang pernah mengisi hari-harinya itu.


Dengan sudut matanya Shuji memandang Clarisha. Di dalam hatinya bertanya-tanya,


"Apa hubungan Clarisha dengan keluarga Nobou ? Apakah hanya sekedar rekanan dalam pekerjaan atau lebih dari itu ?"


Shuji melangkah masuk ke dalam rumah duka. Ia berdiri menunggu giliran untuk memberi penghormatan pada mendiang Yusa. Alangkah terkejutnya Shuji melihat Nyonya Yana berada di barisan keluarga bersama dengan Benjiro.


"Nyonya Yana? Jadi, dia itu sebenarnya... Oh My God ..."


Shuji yang datang sebagai teman sekolah Yusa, terkejut begitu mengetahui kenyataan, bahwa mendiang Yusa adalah putra dari wanita yang kerap menghabiskan malam bersamanya. Air mata Yana malam itu ternyata karena menangisi kepergian Yusa, putranya. Sungguh itu merupakan suatu hal yang tidak Shuji duga sebelumnya. Karena selama ini, Yana tidak pernah menyinggung perihal keluarganya. Dan ia pun cukup tau diri untuk tidak mencari tahu kehidupan pribadi Yana. Dengan kasih sayang dan sikap royal Yana padanya, itu sudah lebih dari cukup.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Malam beranjak naik. Udara dingin terasa menusuk tulang. Shuji berniat menghabiskan sebatang rokok, untuk mengurangi rasa dingin. Agar tidak mengganggu orang lain dengan asap rokok yang ditimbulkannya, Shuji berjalan ke belakang rumah duka.


Cleklek.. Korek gas bermerek milik Shuji mengeluarkan api begitu pemantiknya ditekan. Ia menyulut rokok dengan api yang telah menyala. Menikmati rokok putih miliknya dalam beberapa kali hisaapan, rasa hangat perlahan menyusup keseluruhan tubuhnya. Tiba-tiba, sayup Shuji mendengar suara orang sedang memadu kasih. Suara itu jelas terdengar disepi dan heningnya malam. Rasa penasaran menuntunnya untuk mencari tahu. Ia membuang rokok yang belum habis separuh itu, kemudian mematikan dengan sekali pijakan. Shuji melangkah perlahan ke arah datangnya sumber suara. Langkah Shuji terhenti di depan sebuah gudang dengan pintu yang sedikit terbuka. Pelan ia masuk ke dalam gudang tanpa menimbulkan keributan. Di sudut ruangan yang gelap, Shuji melihat bayangan seorang pria sedang mendesak seorang wanita di dinding. Terdengar tawa dan canda saling menggoda di antara mereka.


Jantung Shuji berdegup kencang. Darahnya seketika mendidih. Amarah naik ke ubun-ubun. Sungguh apa yang mereka lakukan di luar batas kewajaran. Di rumah duka. Di tempat orang yang sedang bersedih karena kehilangan salah seorang anggota keluarga, bisa-bisanya mereka melakukan hal yang tak senonoh dan menjijikkan. Dengan mengepalkan tangan, Shuji berjalan ke arah sepasang manusia yang tak bermoral itu.


"Hei.. Apa yang kalian lakukan?" Shuji menepuk bahu kanan sang pria. Lelaki yang ditepuk bahunya, refleks menoleh.


"K.. Kau.. !! " Alangkah terkejutnya Shuji, melihat siapa pria dan wanita itu. Pancaran cahaya dari luar gudang cukup membuat Shuji mengenali kedua sejoli itu.


"Siapa kau. Berani-beraninya kurang ajar padaku !" Pria itu Benjiro dan sang wanita adalah Clarisha. Merasa terganggu dengan pria muda yang menegurnya, Benjiro mendaratkan bogem mentah ke wajah Shuji. Bug... Shuji terhuyung ke belakang menabrak sebuah rak botol minuman. Brak... Isi rak berserakan. Tangan Shuji terluka terkena pecahan botol minuman. Merasa puas telah menyalurkan amarahnya, Benjiro balik badan. Ia berniat mengajak Clarisha untuk keluar dari tempat itu. Sadar ada kesempatan untuk membalas, dengan meringis menahan sakit, Shuji berusaha bangkit, sambil mengambil sebuah botol.


"Kau yang kurang ajar dasar bandot tua !!" Secepat kilat Shuji menghantam kepala bagian belakang Benjiro dengan botol yang digenggamnya hingga pecah. Pria paruh baya itu roboh dengan luka parah di kepalanya.


Melihat kejadian itu Clarisha berteriak histeris. Suara Clarisha cukup menarik perhatian security. Shuji yang berniat melarikan diri, tertangkap oleh para penjaga di depan pintu gudang. Clarisha menangis memeluk Benjiro yang bersimbah darah tak sadarkan diri. Mendengar adanya keributan, Yana yang sedang berdiskusi dengan Teramae, segera menuju arah datangnya suara.


"Apa yang terjadi?" Mata Yana membulat sempurna melihat keadaan gudang yang berantakan. Di lantai gudang, Yana menyaksikan Clarisha sedang menangis sambil memeluk Benjiro yang berlumuran darah.


"Kau !! Apa yang telah kau lakukan pada suamiku !!" Yana mendorong Clarisha menjauh dari tubuh Benjiro. Wanita muda itu terjerembab dengan air mata membasahi kedua pipinya. Yana kemudian mengambil alih tubuh Benjiro, dan meletakkan kepala pria itu di atas pahanya.


"Tekan lukanya." Teramae memberikan instruksi pada Yana, yang diikuti oleh Yana tanpa banyak bicara.


"Nobou-san. Bangun !! Apa lagi ulahmu kali ini !!" Yana menepuk-nepuk pipi Benjiro. Berharap pria itu membuka kedua matanya.


"Tenangkan dirimu, Yana." Ucapan Teramae mampu membuat Yana sedikit tenang.


"Adakah diantara kalian yang telah menghubungi ambulans dan polisi?"


"Sudah, Tuan. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini." Jawab salah seorang security.


"Kerja bagus." Puji Teramae.


"Tuan. Ini pria yang kami duga sebagai pelaku pemukulan terhadap Tuan Benjiro." Seorang security memperlihatkan Shuji yang tertunduk dengan tangan diborgol ke hadapan Teramae. Yana yang menyaksikan hal itu memandang Shuji dengan tatapan tidak percaya. Sekilas Teramae menatap Yana yang terlihat shock.


"Sebentar. Ada yang bisa menjelaskan padaku, apa yang sebenarnya telah terjadi?"


"Aku tidak tahu, Tuan. Kami mendengar jeritan Nona Clarisha dari dalam gudang. Ketika kami datang, Tuan Benjiro sudah dalam keadaan seperti itu. Dan Tuan ini keluar dengan terburu-buru. Karena merasa curiga, dia kami tahan sambil menunggu polisi datang."


"Shuji, apa kau ada hubungannya dengan semua ini?" Tanya Teramae kemudian.


"Maafkan aku, Tuan. Aku khilaf. Tuan Benjiro yang lebih dahulu memukulku." Jawab Shuji masih dengan wajah tertunduk.


"Kenapa dia sampai berbuat begitu padamu?"


"Aku menangkap basah dia sedang bercinnta dengan wanita itu." Shuji menunjuk dengan tatapan mata tajam ke arah Clarisha.


"Aku akan membuktikan ucapanmu nanti dengan melihat rekaman cctv."


Tak berapa lama kemudian, polisi dan ambulans datang. Paramedis terlambat karena adanya kecelakaan beruntun di pusat kota. Begitu ambulans tiba, Benjiro segera dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis karena kehilangan banyak darah. Sedangkan polisi meminta keterangan semua orang yang ada di lokasi kejadian. Malam itu juga Shuji ditetapkan sebagai tersangka dengan barang bukti botol pecah dengan sidik jarinya yang tertinggal di sana.


Sementara itu, tim dokter bekerja keras untuk menyelamatkan Benjiro yang mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Mereka melakukan operasi darurat untuk mengeluarkan darah beku di kepala Benjiro. Tidak ada keluarga pasien yang menunggu selama Benjiro ditangani oleh tim dokter. Karena mereka semua harus memberikan keterangan pada pihak berwajib. Baik itu Yana, Teramae, bahkan selingkuhannya Clarisha.


Kerja keras tim dokter, berakhir sia-sia. Geger otak parah karena pukulan benda tumpul membuat Benjiro tidak dapat bertahan. Benjiro Nobou berpulang 6 jam kemudian setelah sempat mengalami koma.


...****************...


ยน. Jika estimasi kurs, 1 JPY setara dengan Rp.109. Itulah sebabnya, Jepang merupakan salah satu negara dengan biaya upacara pemakaman termahal di dunia. Mahalnya biaya pemakaman ini dipengaruhi oleh tingginya harga yang ditetapkan oleh vendor yang mengurus upacara pemakaman di Jepang. Seiring dengan waktu, semakin sedikit orang melangsungkan pemakaman secara tradisional di Jepang.