
Keiko baru saja keluar dari ruang rawat inap Sora. Wanita itu baru saja menceritakan apa yang Sora alami setelah Billy ditangkap Polisi. Ponsel Sora yang masih terhubung dengannya, merekam dengan jelas apa yang terjadi antara dirinya dan Letnan Kaoru. Tentu saja rekaman itu disimpan polisi untuk melengkapi BAP (Berita Acara Penyelidikan) yang sebentar lagi akan dijalaninya.
Air mata Sora perlahan turun membasahi pipinya. Sora menangis dengan meringkuk menghadap dinding di atas tempat tidur. Ia malu sekali. Malu terhadap para polisi yang mengetahui kejadian itu, terutama terhadap Kaoru.
Tok .. Tok .. Tok.. Krieet.. Suara langkah kaki memasuki ruang rawat Sora. Langkah itu terdengar semakin mendekat.
“ Dokter, kau baik-baik saja?” Suara pria yang baru saja ia khawatirkan, ternyata sudah ada di dekatnya. Sora mengusap kedua pipinya dengan cepat.
“Buat apa kau ke sini.” Jawab Sora dingin tanpa mengubah posisi tubuhnya.
“Ada apa denganmu? Sora yang aku kenal tidak pernah berkata ketus padaku.”
“Maaf Letnan, bisakah kau tinggalkan aku sendiri ?”
“Aku datang ingin mengajukan beberapa pertanyaan, berkaitan dengan kasus yang telah menimpamu.”
“Bisakah yang melakukan itu bukan dirimu ?”
“Tidak bisa. Kasus ini aku yang tangani. Jadi harus aku yang melakukannya.”
“ Bisakah kau datang lain kali saja ?”
“ Kata Dokter Agnes, keadaanmu sudah lebih baik. Sudah bisa mengikuti proses pemeriksaan saksi. “
“Tapi aku tidak siap hari ini.”
“Kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Sora, ada apa dengan mu?” Kaoru menanggalkan pengucapan gelar di depan nama Sora.
“Aku tidak sanggup menatap wajahmu, Letnan.”
“Ada apa dengan wajahku?”
“Aku malu sekali dengan kejadian malam itu.”
Kaoru tersenyum mendengar penuturan jujur Sora. “Tataplah aku. Jangan kau berbicara sambil membelakangi ku begitu.”
“Aku tidak mau.”
“Fumiko Sora, tatap aku !! Kau mau aku tuntut dengan pasal menghalangi proses penyelidikan dan penyidikan."
“Iss kau ini.” Dengan terpaksa Sora membalikkan tubuhnya. Perlahan ia duduk, namun dengan wajah tertunduk.
“Angkat wajahmu !!”
“Kenapa kau membuatku seperti seorang tersangka. Aku kan korban ..” Dengan mata mendelik, Sora memprotes tindakan Kaoru padanya.
Kaoru tersenyum melihat Sora yang lupa dengan rasa malunya. Melihat senyum manis di wajah kaoru, pipi Sora seketika memerah.
“Jujur, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Bukan kau saja yang malu. Aku juga. Tapi kita harus menghadapinya. Ada hal yang lebih penting dari rasa malu itu.”
“Apa?”
“Kau akan menghadapi dua kasus. Selain kasus yang menjadikan mu korban, Billy menuntut balik kau dan temanmu yang bernama Hikari, atas tuduhan penganiayaan berat dengan kekerasan. Ancaman hukumannya 5 tahun tahun penjara.”
“Astaga !! Penganiayaan berat ? Dia menuntut Hikari juga. Memangnya apa yang telah Hikari lakukan padanya ?"
" Berdasarkan bukti rekaman cctv yang diajukan Billy, terlihat dengan sangat jelas kalau Hikari mendatangi pria itu dan melakukan penganiayaan dengan menendang berkali-kali selaangkaangannya. Tindakan itu mengakibatkan tidak berfungsinya organ reproduksi korban."
" Penjahat kelamiiin seperti itu memang pantas mendapatkannya. Tapi, kenapa Hikari tidak pernah mengatakan hal itu padaku?"
"Aku tidak tahu. Kau bisa menanyakan sendiri padanya."
Sora tertunduk sambil memainkan jari-jemari nya. "Kenapa hal sepenting ini, Hikari rahasiakan semua padaku."
"Kau cukup dekat dengan teman mu itu ya?"
"Kami memiliki hubungan dekat. Sangat dekat."
"Terkadang seseorang ingin memiliki privasi sendiri walaupun dengan teman dekat atau pasangannya." Kaoru terdiam sesaat. Raut wajah Sora yang tertunduk, terlihat menyimpan rasa sedih dan kecewa. "Kau sebaiknya jangan terlalu memikirkan hal itu. Lebih baik energimu digunakan untuk menghadapi dua kasus yang ada di depanmu."
"Kenapa pria itu melakukan semua padaku ? Seolah-olah dia lah korbannya."
"Kelihatannya ia sudah terpojok. Dia tidak ingin mendekam sendirian di dalam penjara."
"Tapi, Letnan. Kasus itu sudah terjadi lama sekali. Dua tahun yang lalu. Apa mungkin diangkat kembali?" Sora mengangkat wajahnya. Memandang Kaoru meminta penjelasan lebih.
"Tentu saja masih bisa. Berdasarkan undang-undang, kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lebih dari tiga tahun, jangka waktu kadaluwarsanya dua belas tahun. Jadi masih bisa untuk diajukan ke meja hijau."
"Bagaimana dengan Hikari, apakah ancaman hukumannya sama?"
"Dia lebih berat lagi. Perempuan itu melakukan penganiayaan berat dengan perencanaan. Ancaman hukumannya 7 tahun penjara. "
"Ya Tuhan." Sora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuh Sora bergetar. Ada amarah bercampur takut, panik dan cemas di sana.
“Sebenarnya apa yang terjadi dua tahun yang lalu? Ceritakan lah semua. Kami butuh gambaran yang utuh agar proses ini cepat dan tidak berlarut-larut." Tidak ada jawaban dari Sora.
“Sora tenanglah.” Kaoru mendekap tubuh Sora yang bergetar. Keringat dingin mengucur dari keningnya.
“ Tenanglah ... Aku berjanji akan menemanimu melewati ini. Semua akan berlalu. Kau akan baik-baik saja.” Sora mendekap erat tubuh Kaoru. Kedua tangannya meremas kemeja belakang kaoru. Kepalanya bersandar di dada pria itu. Air matanya menembus kemeja putih yang dikenakan polisi muda itu.
“Maukah kau menceritakan padaku, apa yang terjadi dua tahun yang lalu? “
Di dalam dekapan Kaoru, Sora mengisahkan peristiwa suram yang telah dialaminya. Semua berawal dari kencan buta yang diatur oleh ibunya. Kaoru merekam setiap detail keterangan Sora guna melengkapi BAP.
🍊🍊🍊