Looking For Murder

Looking For Murder
Ganbare Hakase



1 jam berlalu, bantuan personil kepolisian beserta 3 mobil ambulans tiba di lokasi ditambah dengan paramedis. Garis polisi segera dipasang di sekeliling rumah. Petugas kepolisian segera melakukan olah tempat kejadian perkara. Ketiga korban dibawa menuju rumah sakit dengan ambulans yang berbeda. Ke 3 korban mengalami cidera yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. 3 mobil ambulans melaju kencang membelah jalan sepi kota Osaka ketika malam merangkak menuju pagi.


Pukul 4.46 menit dini hari, Keiko mendapatkan telepon dari rumah sakit agar segera datang untuk melakukan analisis forensik pada seorang korban yang disinyalir mengalami pelecehan seksual. Dengan hanya mencuci muka dan berdandan secukupnya, Keiko segera berangkat ke rumah sakit. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pukul 5.06 Keiko tiba di rumah sakit. Beberapa rekan sejawat Keiko terlihat sedang bersiap-siap menantikan kedatangan 3 korban. Diantara mereka, ada Sora yang berdiri di teras depan rumah sakit dengan wajah terlihat cemas. Keiko mendekati Sora yang tidak menyadari kedatangannya.


"Pagi, Sora".


"Ehh. Selamat pagi, Dok".


"Kau baik-baik saja, Sora?"


"A a aku baik, Dok".


"Benarkah ? Kau terlihat cemas. Apakah ada kaitannya dengan ke 3 korban yang akan tiba?"


"Benar, Dok. Salah satu korban, diduga teman dekat ku".


"Ya Tuhan. Bagaimana ceritanya teman dekat mu bisa ikut terlibat?"


"Aku tidak tahu persis, Dok. Nanti aku akan menanyakan padanya".


Obrolan mereka terhenti dengan suara sirine ambulans yang memasuki halaman rumah sakit.


"Itu mereka tiba". Ucap Keiko.


Satu persatu korban diturunkan dari mobil ambulans yang berhenti berjejer di depan rumah sakit.


Korban pertama yang turun dari ambulans adalah Hikari. Hikari yang mengalami luka lebih serius langsung ditangani dokter bedah trauma instalasi gawat darurat Rumah Sakit Universitas Osaka. Dokter Masao telah menunggu dengan teamnya sejak beberapa saat yang lalu. Setengah berlari mereka mendorong brankar ambulans ke ruang bedah. Sora ikut berlari di samping brankar sambil menggenggam tangan Hikari. Wajahnya terlihat cemas. Hikari yang merasakan tangannya digenggam, membuka matanya yang terasa berat akibat pengaruh obat anti nyeri yang diberikan paramedis di atas ambulans. Ia mencoba tersenyum begitu mendapati Sora ada di hadapannya.


" Sora kau sampai di sini saja". Masao menghentikan Sora di depan pintu ruang bedah trauma.


"Ganbare hakase. (Lakukan yang terbaik, Dokter)". Ucap Sora pada Masao dengan wajah memohon.


🚑🚑🚑


Takagi tiba tak lama setelah mobil ambulans ke 3 berhenti di depan rumah sakit. Begitu turan dari mobil, matanya sangat lihai menangkap sosok orang yang sangat dirindukannya berada di antara team medis yang menunggu di teras rumah sakit. Ia menuju ke brankar yang membawa Clarisha, di mana Keiko juga berada di sana.


"Dokter Keiko. Korban Clarisha diduga mengalami pelecehan seksual. Tolong dibantu penanganannya". Ucap Takagi basa-basi menahan degup jantung di dadanya.


"Baik, Detektif. Team ku telah siap. Percayakan pada kami. Kami akan melakukan yang terbaik". Balas Keiko tanpa menoleh pada Takagi.


"Aku akan ikut dalam pemeriksaan Clarisha. Kau tidak keberatan, bukan?" Takagi mencoba terus mengajak bicara Keiko agar wanita itu menoleh padanya.


"Tentu saja tidak. Bukankah itu SOP nya?"


"Syukurlah kalau begitu".


"Sebentar, aku tinggal dulu. Ada yang harus aku kerjakan. Perawat akan membawa Clarisha ke ruang pemeriksaan. Kau ikut mereka dahulu. Nanti aku menyusul." Tanpa menunggu jawaban Takagi, Keiko melangkah dengan cepat.


"Dokter, kau mau kemana?"


"Ada yang tertinggal. Aku tidak akan lama". Ucap Keiko sambil terus berjalan.


Keiko bergegas menjemput Sora yang tadi mengikuti brankar salah satu korban yang di bawa ke ruang bedah trauma. Dari kejauhan Keiko dapat melihat Sora berdiri terpaku di depan pintu ruang bedah trauma yang telah tertutup sempurna.


"Sora, ayo. Salah seorang korban membutuhkan kita. Kau percayakan temanmu pada Masao. Dia salah satu dokter bedah trauma terbaik di sini". Keiko menyentuh punggung Sora dan mengusapnya perlahan. Ia mencoba menyalurkan kekuatan pada rekan sejawatnya itu.


"Baik, Dok." Mau tidak mau Sora harus profesional dalam bekerja. Menyingkirkan semua perasaan yang menggangu, dan lebih mengutamakan keselamatan pasien.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang analisis forensik. Tugas mereka adalah melakukan analisis forensik pada korban Clarisha. Keiko dan teamnya akan menanyakan keluhan serta alur kejadian, memeriksa, dan mengidentifikasi kelainan dan luka yang ada, serta mendokumentasikannya dalam catatan medis. Dokumen ini dijadikan resume medis yang dibutuhkan oleh penyintas untuk mengajukan laporan ke kepolisian atau lembaga terkait. Bukti kekerasan seksual akan mudah hilang seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, penting untuk segera dilakukan pemeriksaan dan mendokumentasikannya untuk kepentingan lebih lanjut. Dokter spesialis kejiwaan (Psikiater) yang ikut dalam team Keiko, memeriksa korban dari segi kejiwaannya. Untuk mendeteksi tanda-tanda gangguan psikologis, seperti trauma, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stres pascatrauma adalah kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa traumatis), hingga depresi.


...****************...