Looking For Murder

Looking For Murder
Selamat Tinggal Sayang



Ketika keluarga Nobou sedang menyelenggarakan upacara pemakaman, di tempat yang berbeda, Sora telah berada di dalam pesawat Boeing 777, maskapai penerbangan Japan Airline yang telah take off dari bandara internasional Kansai. Duduk seorang diri dikelas ekonomi, Sora menuju California, Amerika Serikat. Melalui jendela pesawat, wanita hamil itu melepaskan pandang sejauh mungkin sambil mengusap lembut perutnya yang sedikit membuncit. Hamparan langit biru dihiasi gumpalan awan putih beraneka rupa, laksana domba-domba yang sedang bermain di padang rumput yang luas. Di ketinggian 30.000 kaki, Sora membawa asa meninggalkan kampung halamannya untuk memulai kehidupan baru di negeri orang.


"Selamat tinggal, sayang. Maaf jika kepergianku akan menyakiti hatimu. Aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikan dan pengorbananmu untukku. Berbahagialah. Walau tanpa diriku di sisi."


Flashback


Sekembali dari lapas wanita waktu itu, Sora memutuskan untuk membeli test pack di apotek dengan berbagai merek yang berbeda. Kata-kata yang diucapkan Hikari menyentil rasa ingin tahunya. Dari lubuk hati yang paling dalam, Sora berharap hal itu tidak benar. Namun, kenyataannya semua alat itu menunjukkan hasil yang sama. Untuk lebih meyakinkan dirinya, Sora memutuskan untuk menemui salah seorang rekan sejawatnya, Megumi Igarashi seorang dokter kandungan.


"Hello Sora San! Mari kita lihat bayi mu dengan USG."


"Tunggu sebentar, Dok. Apakah aku benar-benar sedang mengandung?"


"Dari hasil tes Beta HCG (tes untuk mendeteksi hormon kehamilan), kamu positif hamil. Dan dihitung dari siklus datang bulan


terakhir, seharusnya kehamilan sudah masuk minggu ke enam."


"Jadi, hasil sebelumnya menggunakan test pack itu tidak salah? "


"Sebenarnya test pack yang dijual di apotek umum itu cukup akurat untuk mengecek kehamilan. Hasil positif yang salah itu jarang terjadi. Kecuali kau baru saja keguguran atau sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu."


Sora terdiam dengan wajah pias tak percaya.


"Kenapa kau begitu terkejut ? Apakah kau dan kekasihmu tidak merencanakan kehamilan ini?" Tanya Megumi lembut.


"Iya, Dok." Wajah Sora tertunduk.


"Hmm. Sebaiknya kau harus segera mengatakannya. Karena seorang wanita yang sedang hamil sangat membutuhkan support sistem dari orang-orang terdekat, terutama dari pasangan. Yang penting sekarang, kandungan mu harus sehat. Karena sudah masuk minggu ke enam, seharusnya detak jantung sudah terdeteksi. Mau coba dengar? "


Mendengar penjelasan Megumi, Sora terdiam.


"Dengarkan ini detak jantungnya." Dokter Megumi kemudian mengoleskan gel khusus ke perut Sora, guna mencegah terjadinya gesekan antara kulit dan transduser. Gel tersebut juga berfungsi untuk memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh. Setelah itu ia mulai menggerakkan dan menekan sedikit transduser ke perut bagian bawah Sora.


Duk Duk Duk.. Duk Duk Duk...Duk Duk Duk...


Suara detak jantung janin terdengar dari alat USG. Hatinya bergetar. Nurani keibuannya tersentil. Rasa sayang, ingin memiliki dan melindungi makhluk yang tidak berdaya itu, muncul begitu saja.


Selesai USG, Sora kembali duduk di kursi konsultasi depan meja dokter.


"Bagaimana kondisi mu sekarang?"


"Akhir-akhir ini aku sering merasa mual dan susah untuk makan."


" No problem, itu biasa terjadi di saat kehamilan trimester pertama. Yang penting itu kau tidak boleh kelelahan dan banyak pikiran. Asupan nutrisi juga harus dijaga. Oh ya. Trimester pertama itu masih rawan. Jadi hati-hati kalau mau berhubungan dengan pasangan. Pakai pengaman dan jangan gaya yang aneh-aneh."


Berbagai catatan yang diberikan rekan sejawatnya itu hanya biasa membuat Sora meringis. Terutama bagian gaya yang aneh-aneh. Megumi. Megumi. Seandainya saja kau tau...


Dari semua hasi tes, jelas menunjukkan kalau dia sedang mengandung. Di dalam rahimnya saat ini sedang tumbuh janin, buah dari hubungan terlarangnya dengan Letnan Kaoru waktu itu. Sora sangat yakin kalau itu adalah embrio milik Kaoru. Karena ia tidak pernah melakukan hubungan sekss dengan pria manapun.


Untuk saat ini, sebenarnya ia belum siap untuk menjadi seorang ibu, karena sedikitpun hal itu tidak pernah masuk dalam rencana masa depannya. Ia juga tidak siap dengan reaksi Hikari jika mengetahui perihal kehamilannya. Sora mengetahui dengan pasti, bahwa Hikari sangat membenci penghianatan. Kehamilannya ini adalah salah satu bukti, dirinya telah berkhianat. Sora sungguh tidak sanggup melihat raut wajah kecewa Hikari. Untuk memberitahukan pada Kaoru itu juga tidak mungkin. Sebab saat ini mereka tidak memiliki hubungan apapun selain pertemanan. Sora juga takut, apabila ternyata Kaoru memiliki kekasih. Tentu saja kehadiran dirinya dan janin dalam kandungannya, akan merusak hubungan mereka. Jalan terbaik dari semua itu adalah pergi sejauh mungkin. Memulai hidup baru di tempat baru.


Tak berapa lama setelah ia memutuskan untuk resign dari rumah sakit, Sora mendapat tawaran pekerjaan menjadi asisten profesor sekaligus beasiswa untuk melanjutkan studi dari almamaternya Universitas California, San Fransisco. Sambil menunggu janinnya kuat untuk terbang, Sora tinggal dengan bibinya di Tsurui, sebuah desa kecil yang terletak di timur Hokkaido, 1.727,4 km dari Osaka.


🌿🌿🌿


Netra Sora berkaca-kaca. Perlahan tapi pasti butiran bening turun dari pelupuk matanya. Dengan jemari tangannya ia mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Are You, Ok?" Tanya pria kaukasia, bermata coklat dengan garis tegas di dagunya, yang duduk di samping Sora. Dengan senyum tulus pria berkacamata itu menyodorkan sapu tangan yang ia ambil dari dalam saku jaketnya. Walau ragu, Sora mengambil sapu tangan biru muda itu.


"Terimakasih." Sora mencoba tersenyum. Di usapnya sapu tangan itu ke matanya yang basah. Masih dengan senyuman yang menghias bibirnya, pria itu memusatkan kembali perhatiannya pada buku tebal yang ada di tangannya.


Lebih dari 10 jam, Sora harus berada di udara, sampai pada akhirnya, burung besi berbadan lebar itu mendarat dengan mulus di San Fransisco International Air Port.


Di sinilah ia sekarang, di San Fransisco. Sebuah kota yang terletak di bagian utara California yang merupakan rumah dari University of California, San Francisco (UCSF). UCSF merupakan universitas negeri, universitas riset dan universitas hibah-tanah di San Francisco, California. UCSF adalah bagian dari sistem University of California yang didedikasikan sepenuhnya untuk ilmu kesehatan. UCSF menjadi pusat utama penelitian dan pengajaran medis serta biologis. University of California sendiri merupakan universitas riset publik yang kampusnya tersebar di seluruh California, ada yang di Berkeley, Irvine, Davis, Merced, Los Angeles, Riverside, Santa Barbara, San Diego, San Francisco, and Santa Cruz. Kampus utamanya berada di Berkeley.


Kuliah sambil bekerja bukan perkara mudah bagi Sora. Apalagi di lakukan saat sedang berbadan dua. Sebagai asisten dosen, tugas Sora tidak bisa dikatakan sederhana. Ia harus menggantikan dosen mengajar di kelas, membantu penyusunan silabus untuk semester selanjutnya, mendampingi penelitian mahasiswa, membantu proses penelitian dosen. Sebagai asisten dosen, Sora juga harus siap siaga jika dibutuhkan sewaktu-waktu. Otomatis jeda untuk diri sendiri akan berkurang. Jika ada kesalahan dalam pelasanaan tugas harus siap revisi, revisi dan revisi. Untuk itu ia harus pandai-pandai membagi waktu antara pekerjaan dan studinya sendiri.


Sora sangat bersukur, Profesor Jylan Jackson seorang atasan yang sangat pengertian. Pria kharismatik itu ternyata orang yang sama dengan pria yang menyodorkan sapu tangan pada Sora sewaktu di atas pesawat.


...****************...