
Operasi pengangkatan kunai yang menembus tulang di paha kanan Hikari berjalan lancar. Dokter Masao melakukan tugasnya dengan baik. Setelah diobservasi selama beberapa waktu, Hikari tidak mengalami demam, tidak ada pendarahan pasca operasi, bagian yang dioperasi bersih dan tidak mengalami komplikasi lainnya, Hikari diperbolehkan pindah ke ruang rawat inap.
Jam di dinding telah menunjukkan pukul 12.30 malam. Sepanjang koridor tempat ruang rawat inap Hikari terlihat sepi. Pemberian cairan obat terakhir baru saja dilakukan oleh perawat yang bertugas malam itu.
Krieet..
Seseorang membuka pintu kamar rawat inap Hikari. Orang itu masuk dan menutup pintu kamar dengan perlahan. Setelah pintu tertutup sempurna, tanpa menimbulkan suara, ia melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat Hikari berada. Perlahan ia menarik gorden penyekat ruang rawat inap yang menghadap ke pintu masuk, kemudian menarik kursi yang ada di sisi sebelah kiri tempat tidur dan mendudukinya.
"Sayang. Ini aku ". Menggenggam tangan Hikari dengan kedua tangannya dan mengecupnya lembut. Kemudian meletakkan tangan itu di pipinya.
Merasakan seseorang menggenggam tangannya, Hikari membuka matanya yang terasa berat. Ia tersenyum begitu melihat orang yang berada di depannya. Seketika rasa kantuknya menguap entah kemana.
"Sora sayang. Kapan kau datang?"
"Baru saja".
"Pukul berapa sekarang?"
"Hampir pukul 1 dini hari".
"Hmm. Kau nakal ya, diam-diam menyelinap ke sini".
"Aku merindukanmu". Sora mengecup punggung tangan Hikari dalam-dalam.
"Aku juga. Kemarilah". Hikari merentangkan tangannya, meminta sang kekasih masuk dalam dekapannya. Tanpa ragu Sora mendekat dan memeluk Hikari.
"Hmm. Kau wangi sekali ". Sambil mengecup pucuk kepala sang kekasih.
"Jangan membohongiku. Aku belum mandi sejak tiba di rumah sakit pagi tadi."
"Kau memang wangi. Aku tidak berdusta".
"Benarkah?"
"Huum". Hikari semakin mengeratkan pelukannya. "Naiklah. Berbaringlah di sisiku".
"Baiklah". Sora naik ke ranjang Hikari. Ia membaringkan tubuhnya dengan posisi menyamping sambil memeluk tubuh Hikari.
"Bagaimana rasanya? Apakah sakit sekali?" Tanya Sora sambil memandang paha kanan Hikari yang berbalut gips.
"Tidak. Tidak sakit sama sekali".
"Benarkah?"
"Benar. Yang lebih menyakitkan ketika mengetahui siapa orang yang melakukan hal ini padaku".
"Apakah kau mengenalnya, sayang?"
"Aku sangat mengenalnya".
"Apakah dia juga yang telah menculik Clarisha?"
"Iya".
"Hmm. Orang yang sama yang telah melakukan hal yang tidak senonoh pada artis itu".
"Benarkah?"
"Huum".
"Apa yang akan kau lakukan padanya, sayang?"
"Aku akan membuat dia jera, karena telah mengabaikan peringatan ku".
"Jangan mengotori tanganmu dengan hal-hal yang tidak perlu. Serahkan saja semua pada polisi".
"Hmmm". Jawab Hikari singkat.
"Berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar hukum". Hikari diam. Ia tidak menjawab permintaan Sora.
"Sayang. Kenapa kau diam saja".
"Aku harus jawab apa?"
"Katakan kau tidak akan melakukan hal itu".
"Aku tidak bisa berjanji, sayang. Dia sudah mempermalukan keluarga ku".
Sora melepaskan dekapannya. Ia turun dari ranjang dan berniat pergi dari tempat itu.
"Sayang, kau mau kemana?" Hikari menahan tangan Sora.
"Pulang". Jawab Sora singkat.
"Kenapa tiba-tiba mau pulang. Kau kan baru saja datang".
"Aku tidak ingin punya kekasih yang hidupnya terlalu rumit. Lepaskan tanganku".
"Sayang, jangan pergi". Dengan tatapan memohon.
"Lepaskan tanganku". Ucap Sora dingin.
"Baiklah. Aku berjanji".
"Aku tidak mendengar perkataan mu".
"Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar hukum". Hikari mengangkat 2 jarinya dengan tangan kanannya yang dipasangi infus. Sora tersenyum. Ia naik kembali ke atas ranjang dan mendekap erat tubuh Hikari.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku" Ucap Hikari sambil mengecup pucuk kepala Sora.
"Asal kau tetap manjadi cahaya (Hikari) ku yang hangat".
"Aku berjanji. Sora, daisukidayo (Sora, aku sangat mencintaimu). Jangan pernah berfikir, kau akan meninggalkanku".
Sora mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.
"Sayang, kenapa kau cantik sekali?". Pertanyaan Hikari membuat wajah Sora bersemu merah.
Perasaan hangat dari dalam hati mereka menjalar ke seluruh tubuh. Mengalir melalui pembuluh darah. Jantung mereka berdetak lebih cepat. Menuntut hasrat yang tiba-tiba ingin segera dituntaskan. Perlahan kedua wajah yang sudah dekat itu semakin mendekat. Dan....
...****************...
Tetot tetot.. Cukup sekian dan terima gaji...🏃🏃🏃🏃