Looking For Murder

Looking For Murder
Aku Mengawasimu, Oniichan



Matahari sudah tinggi. Bahkan sinarnya menembus kaca jendela apartemen lantai 10 itu. Yusa menggeliat dari atas tempat tidurnya yang empuk karena panas mentari menerpa tubuhnya. Menahan sinar matahari yang menyilaukan mata dengan tangan kirinya, sambil mengedipkan mata samar dilihatnya ada balutan perban putih dipergelangan tangannya itu.


" Apa ini? " Sejenak Yusa berfikir. " Sejak kapan aku mendapatkan luka ini? " Yusa menekan perban itu perlahan.


" Sss.. Sakit" Ia meringis menahan sakit.


"Ah. Iya. Aku ingat. Ini luka sayatan yang aku buat waktu itu. Kenapa aku masih hidup? Siapa yang membawaku ke sini? Beragam pertanyaan silih berganti di kepalanya. Dia tak tau kepada siapa dia akan bertanya untuk mendapatkan jawabannya.


Drrrttt... Drrrrttt... Ponsel Yusa bergetar di atas nakas tempat tidurnya. Perlahan Yusa meraih ponsel itu. Ada nama Kenta tertera di layar ponsel. Sambil memijat kepalanya yang sedikit pusing, Yusa mengangkat penggilan itu.


" Ya. Hallo Kenta"


"Akhirnya kau angkat telepon ku. Thanks god. Kau kemana saja. 2 hari tak menampakkan batang hidung ke resto. Boss besar marah-marah tuh. Karir mu bisa tamat, man"


" 2 hari ? " Gumam Yusa dalam hati.


"Hmmm. Aku sedang tidak enak badan. Maaf aku tidak sempat memberi kabar "


"Terus gimana keadaanmu sekarang? Sudah lebih baik?"


"Iya. Begitulah .. "


"Syukurlah kalau begitu. Kalau bisa, usahakan hari ini masuk kerja. Nanti aku bantu bicara ke big Boss"


"Iya. Aku usahakan."


"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa di resto"


"Ok. Sampai jumpa"


Yusa meletakkan ponselnya kembali ke nakas.


" 2 hari? Apa benar aku tidak sadarkan diri selama 2 hari?"


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Seorang wanita muda kira-kira berusia 25 tahun masuk sambil membawa nampan makanan.


"Oniichan (Kakak ♂️) sudah bangun? Kenapa kau lama sekali tidurnya? Menyusahkan saja. Oniichan tau aku sibuk sekali. Pekerjaanku sangat banyak. Waktu ku sangat berharga. Harus mengurus hal-hal remeh-temeh seperti ini. Membuat waktuku terbuang percuma. Kalau bukan Papa yang memintaku, aku tak sudi membuang-buang waktuku" Omel Hikari.


Hikari meletakkan nampan yang dibawanya di atas tubuh Yusa.


"Sarapan dulu. Susu dan buburnya harus di habiskan. Setelah itu obatnya juga harus di minum". Hikari duduk di tepi ranjang Yusa, ia mengambil ponsel miliknya dari dalam jaket dan mulai menyibukkan diri dengan ponsel itu.


Yusa mengikuti perintah Hikari tanpa banyak bicara. Ia sangat tau watak sang adik yang keras kepala dan tidak bisa di bantah.


"Hmmm.." Jawab Hikari tanpa menoleh sedikitpun kepada Yusa.


" Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"


Hikari menghentikan kegiatannya. Ia mengalihkan perhatiannya, memandang lekat wajah Yusa.


" Apa Oniichan tidak ingat?"


"Aku tidak ingat apa-apa, Hi"


Hikari menghela nafasnya.


" Oniichan ditemukan security apartemen tidak sadarkan diri di dalam mobil. Dengan kondisi mobil masih menyala. Waktu itu Oniichan tiba di apartemen pukul 7 pagi. Oniichan tidak keluar dari mobil lebih dari 15 menit. Hal itu membuat security curiga. Manager apartemen meneleponku. Mau tak mau aku datang lah. Mana Papa sudah mengamanatkan aku untuk menjaga mu. Lagi pula apa yang telah Oniichan lakukan. Kondisi berantakan, pergelangan tangan luka bekas sayatan. Oniichan mau bunuh diri?"


Yusa enggan menjawab pertanyaan Hikari. Akan ada pertanyaan lain apabila dia memberi jawaban atas pertanyaan itu. Sementara dia pun bingung harus memulai dari mana.


Yusa melanjutkan makannya. Menghabiskan bubur okayu* dan meminum obat yang dibawa adiknya tadi.


" Aku harus bergegas. Manager sedang menunggu ku" Yusa mengalihkan pembicaraan untuk menghindari pertanyaan Hikari.


"Oniichan, kenapa kau tidak mau menerima tawaran dari Papa ? Buat apa Oniichan mesti repot-repot kerja di resto ? Jadi pelayan pula. Pekerjaan rendahan yang hanya dilakukan oleh orang-orang rendahan. Sementara perusahaan membutuhkan mu"


" Kan ada kau. Lagi pula kau lebih baik dari aku. Aku merasa tidak ada passion ke arah sana" Yusa berusaha tenang menanggapi ucapan adiknya yang meledak-ledak.


" Alah. Alasan klise. Aku tidak mengerti dengan jalan fikiran mu. Apa yang hendak kau cari dan buktikan, Oniichan ? Ya sudahlah, terserah kau saja. Aku mau kembali ke kantor. Masih banyak yang harus aku kerjakan" Hikari bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Di depan pintu kamar, ia berhenti membalikkan tubuhnya sambil memandang tajam ke arah Yusa.


" Oniichan ingat ya. Kalau sampai Oniichan melakukan sesuatu yang merusak nama baik keluarga, aku tidak segan-segan membunuhmu. Aku mengawasimu, Oniichan" Kata Hikari dengan tatapan yang menghunus.


“Aku tidak akan merusak nama baik keluarga, Hi-chan. Karena aku sudah lama melepaskannya. Orang-orang tidak akan mengetahui kalau aku anak pengusaha sukses di negari ini”.


Hikari mendengus kesal.


Brak !! Pintu di banting dengan kuat. Yusa hanya bisa menghela nafas berat.


***


* Okayu atau bubur nasi khas Jepang merupakan salah satu menu masakan yang biasanya dimakan ketika sakit atau tidak enak badan. Hidangan ini memiliki rasa yang sangat ringan dan mudah dicerna, sehingga menjadikannya sebagai makanan yang sempurna jika sedang tidak memiliki banyak nafsu makan. Selain itu, okayu juga dimakan untuk sarapan pagi, dibeberapa restoran hotel di sana menyajikan Okayu di pagi hari. Di Jepang, biasanya bubur terbuat dari air dan beras putih yang berasal dari negera setempat, beras tersebut memiliki ukuran lebih pendek. Untuk penyedap rasa pada bubur, topping yang paling sering digunakan adalah umeboshi atau acar plum yang memiliki rasa asam dan asin, daun bawang atau bisa juga ditambahkan dengan telur.