
Ren di interogasi pihak kepolisian selama 3 jam. Ia di cecar 30 lebih pertanyaan. Jawaban yang di berikan pria itu berubah-ubah. Hampir saja Takagi naik darah dan menghajarnya. Kalau saja rekan-rekannya tidak mencegah, perbuatan konyolnya itu yang akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Takagi keluar dari ruang interogasi dengan membanting pintu. Ren sengaja memancing emosi pria 39 tahun itu dengan menampilkan muka yang menjengkelkan. Takagi melangkah ke ruangannya. Mengambil air mineral dan meneguknya kasar. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi kerja yang berwarna hitam itu. Memijit pelipisnya dengan tangan kanan, tangan kirinya tetap menggenggam botol air mineral.
Tok tok tok..
“Masuk” Ucap Takagi tanpa melihat siapa yang mengetuk pintu.
“Kau sudah tenang?”
“Komandan”. Takagi mengangkat wajahnya begitu mendengar siapa yang masuk ke ruangannya.
Komandan Hajime menarik kursi yang ada di depan meja kerja Takagi.
“Melihat tingkah mu seperti itu, akan mempersulit kita ke depannya”.
“Maafkan aku, Komandan”.
“Untuk tetap menjaga objektifitas, dengan berat hati, aku menarik mu dari kasus ini”.
“Tapi Komandan”. Protes Takagi.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu. Ini kasus yang menyebabkan kematian putrimu. Kau tentunya ingin terlibat langsung. Tapi, kau tidak lihat, tersangka pelaku sengaja memancing emosimu. Dan sialnya, kau mengikuti permainannya. Apa kau bisa menjamin, perbuatan konyol itu tidak akan terjadi lagi ke depannya. Hal itu akan menjadi senjata bagi tersangka pelaku untuk menuntut balik kepolisian, jika kau tidak bisa menahan diri. Kau mau itu terjadi? Mendiang anakmu akan semakin jauh untuk mendapatkan keadilannya”.
Takagi hanya terdiam mendengar penuturan Komandan Hajime.
“Sebaiknya kau fokus saja pada kasus pembunuhan 3 wanita yang belum terungkap itu. Soal kasus tabrak lari mendiang putrimu, kau percayakan saja semua pada rekan-rekanmu”.
Komandan Hajime berdiri. Dia menghampiri Takagi dan menepuk pundak pria itu 3 kali. Kemudian keluar dari ruangan itu. Takagi hanya bisa memandang kepergian Komandannya dengan melepaskan nafas berat.
***
Setelah kepergian komandan Hajime, Takagi berdiam diri di ruangannya. Bersandar di kursi kerjanya dengan kaki kiri berada di atas kaki kanan dengan posisi lurus. Kedua tangannya bersidekap di atas perut dan kepala menghadap ke atas dengan mata terpejam. Pikirannya benar-benar kacau.
Tok tok tok .. Seorang perwira polisi mengetuk pintu ruangan Takagi yang tidak tertutup itu.
“Masuk”. Ucap Takagi tanpa menoleh.
“Pak. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda”.
“Siapa?”
“Tuan Geoffrey Lafayette, Pak”.
Takagi refleks menegakan posisi duduknya.
“Di mana dia sekarang?”
“Masih di bawah, Pak”.
“Siap laksanakan”. Perwira itu pun berlalu.
Takagi menduga kedatangan Geo berkaitan erat dengan kematian adiknya. Diteguknya kembali sisa air mineral dan melemparkan botol plastik yang telah kosong itu ke tempat sampah yang berada di sudut ruangan. Ia harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan seorang kakak yang telah kehilangan adiknya secara tragis. Akan banyak emosi yang keluar nanti. Takagi mensugesti dirinya bersikap setenang mungkin, untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Tak lama berselang, dengan diantar perwira polisi tadi, Geo tiba di depan pintu ruang kerja Takagi. Takagi yang sudah menunggu Geo langsung mempersilahkan pria bule itu masuk.
“Tuan Geo, silahkan masuk”.
Goe yang diperbolehkan masuk, langsung menuju Takagi yang telah menunggunya di depan meja kerjanya.
“Apa kabar Detektif ”. Geo menyalami Takagi ramah.
“Kabarku baik, Tuan Geo. Silahkan duduk". Geo menarik kursi yang ada di depan meja kerja Takagi dan mendudukinya. "Kapan anda tiba di Jepang?”
“Tadi malam, Detektif".
"Bagaimana perjalanan anda, Tuan. Apakah menyenangkan?"
"Sedikit melelahkan. Aku belum bisa beristirahat dengan benar. Setelah serangkaian upacara pemakaman Adriana, aku harus segera kembali ke Jepang".
"Oh begitu ya. Baiklah apa yang bisa aku bantu, Tuan?".
"Maksud kedatanganku ke sini, ingin menanyakan sudah sejauh mana penyelidikan polisi atas kematian adikku”. Ucap Geo tanpa basa basi.
“Kami sudah menemukan orang yang terakhir kali terlihat bersama dengan Adriana, melalui rekaman kamera pengintai di kawasan Chuo Ward, Nishishinsaibashi. Untuk sementara status orang itu masih saksi. Kami juga sudah mengirimkan surat pemanggilan pertama, tetapi dia berhalangan hadir. Surat pemanggilan ke dua sudah kami layangkan”.
“Keluarga kami sangat berharap, pelakunya segera di tangkap. Kalau polisi bergerak lambat, aku akan melakukan mencari dan menangkap pelakunya dengan tanganku sendiri. Jika aku menemukannya, aku tidak akan menjamin menyerahkan orang itu pada polisi dalam keadaan hidup, setelah perbuatan keji yang dia lakukan pada adikku”.
“Kami sedang berusaha, Tuan. Aku minta, percayalah pada kami. Bersabarlah sedikit lagi Tuan”.
“Tidak ada sedikitpun keraguan di hatiku pada kepolisian. Aku juga mencoba untuk bersabar. Aku tau ini bukan kasus yang mudah. Seharusnya dengan sumber daya yang kalian miliki, polisi bisa bergerak cepat. Aku dengar, adikku merupakan korban ke 3. Bagaimana kalau ada korban-korban berikutnya ?".
“Bukti dan saksi sangat minim, Tuan. Hasil tes DNA 2 korban sebelumnya sudah mengerucut pada 1 orang. Tapi sayang sekali, dari data base DNA yang kami miliki sangat terbatas. Kami sedang menunggu hasil tes DNA mendiang Adriana. Kalau seandainya ada kesamaan, besar kemungkinan Adriana juga dibunuh oleh pelaku yang sama”.
“Aku dan keluargaku menunggu kabar baik dari mu, Detektif. Aku akan terus mengawal kasus ini sampai tuntas. Kalau begitu, aku permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan".
“Baik lah, Tuan” Geo bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan Takagi. Ketika di depan pintu, pria itu berhenti melangkah. Ia membalikkan tubuhnya memandang Takagi.
“Oh iya. Bagaimana kabar Keiko?”
“Dokter Keiko baik Tuan”.
“Apakah dia hidup dengan baik dan bahagia?”
“Aku rasa begitu, Tuan”.
“Syukurlah. Aku pergi dulu, Detektif” Geo melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Takagi di kursi kebesarannya.
***