Looking For Murder

Looking For Murder
Mengapa Ponselmu Belum Aktif Juga?



Hari ini Takagi sudah di izinkan pulang. Pagi-pagi sekali, laki-laki itu telah bersiap-siap. Ia telah rapi dengan kemeja flanel warna ungu tua dan celana panjang bahan warna hitam, pemberian dari Kaoru tadi malam.



Takagi mengambil ponselnya. Dan duduk di tepi brankar kamar rawat inapnya. Ia memeriksa pesan teks yang dikirimkan pada Keiko kemarin, masih menunjukkan centang satu. Kemudian ia mencoba melakukan panggilan suara untuk yang kesekian kali pada wanita itu.


“Apa yang terjadi padamu? Mengapa ponselmu belum aktif juga?” Takagi terlihat frustasi. Seharian tidak melihat dan mendengar suara kekasih hatinya, cukup membuat dia agak “gila”.


“Detektif, semua urusan administrasi sudah selesai. Ayo kita keluar” Ajak Kaoru yang tiba-tiba masuk.


Takagi tidak merespon ucapan Kaoru. Dia masih sibuk dengan telepon pintarnya itu. Wajahnya terlihat resah.


“Ada masalah apa? Kenapa wajahmu yang tampan itu tidak enak dilihat?”


“Semua ini gara-gara ulahmu”.


“Memang apa salahku?”


“Gara-gara kau membawa wanita itu, Keiko jadi salah paham. Ponselnya tidak dapat dihubungi dari kemarin”.


“Maksudmu, Dokter Keiko melihat Rosanne memeluk dan menciuummu?”.


“Mungkin. Aku juga tidak tahu. Lagi pula kenapa kau membawa Rosanne ke sini?”


“Dia memintaku untuk membantunya membuat kejutan kecil untukmu. Aku tidak mempunyai alasan untuk menolak permintaannya”. Takagi hanya mendengus kesal.


“ Mana aku tau kalau dia akan melakukan itu padamu. Hei.. yang mendapat pelukan dan ciuuman dari mantan. Apakah rasanya masih sama dengan yang dulu?” Kaoru tertawa.


“Sialan” Hati Takagi bertambah kesal mendengar ucapan Kaoru.


“Jangan berprasangka yang tidak-tidak terlebih dahulu. Siapa tau Dokter Keiko ada alasan sendiri kenapa sampai saat ini ponselnya belum aktif juga. Mungkin ponselnya hilang atau rusak. Bisa saja kan?”


Kaoru mencoba memberikan pendapat yang masuk akal.


“Ya sudah. Kalau begitu kita pergi dari sini. Siapa tau nanti kita bertemu dengannya di luar”.


“Nah. Itu itu pemikiran yang lebih baik. Oh ya barang-barangmu sudah semua? Tidak ada lagi yang tertinggal ?”


“Sudah. Aku kan tidak membawa banyak pakaian. Cuma paper bag itu saja”.


Kemudian mereka keluar dari kamar tempat Takagi dirawat beberapa hari itu. Mereka berjalan beriringan menuju ke bawah. Ketika tiba di lantai 1 mereka berpapasan dengan Sora.


“Selamat pagi, Detektif. Selamat pagi Letnan. Wahh anda sudah boleh pulang”. Sapa Sora.


“Pagi Sora” Jawab Kaoru riang.


“Waduh. Kenapa kau terlihat senang sekali”. Takagi heran dengan ekspresi Kaoru yang di nilainya berlebihan.


“ Memang kenapa, tidak boleh aku senang?”


“Ahh sudahlah. Terserah kau saja” Takagi mengalihkan perhatiannya kembali pada Sora. Sora yang melihat hal itu hanya tersenyum simpul. “Pagi juga Sora. Iya. Dokter Masao sudah mengizinkan aku pulang. Kau baru datang?”


“Seperti yang kau lihat, Detektif”.


“Apa kau melihat Dokter Keiko pagi ini?” Tanya Takagi pada Sora.


“Kenapa?”


“Aku tidak tahu. Kemarin aku bertemu dengannya, dia terlihat terburu-buru. Katanya ada keperluan yang mendesak”.


“ Keperluan yang mendesak apa?”


“Entahlah. Dia tidak menjelaskanya padaku”.


“Apakah ia terlihat baik-baik saja?”


“Aku kira begitu, Detektif. Apa kau mengkhawatirkan sesuatu?”


“Hanya tidak biasanya Keiko belum mengaktifkan ponselnya dari kemarin”.


“Mungkin masih sibuk, Detektif. Pertemuan terakhir kemarin Dokter Keiko mengatakan padaku, bahwa dia baik-baik saja”.


“Syukurlah, kalau begitu kami permisi dulu. Ada pekerjaan yang harus segera kami diselesaikan” Takagi pamit pada Sora diikuti oleh Kaoru.


"Silahkan, Detektif."


“Kalau ada kesempatan, boleh kita makan bersama lagi?" Tanya Kaoru pada Sora.


“Tentu saja boleh Letnan”.


"Aku akan meneleponmu nanti". Kaoru tersenyum senang dengan respon positif Sora padanya.


" Baiklah. Terserah kau saja". Sora membalas senyuman Kaoru padanya.


Dua orang pria itu pun melangkah pergi. Sora tertegun sejenak melihat kepergian mereka. “Apakah mata Dokter Keiko yang sembab perlu aku beritahukan pada Detektif? Kenapa aku baru mengingat hal itu ya?” Gumam Sora.


“Detektif..” Orang yang yang di panggil Sora sudah berjalan menjauh. Dan Takagi sepertinya tidak mendengar panggilan Sora.


“Ya sudahlah..” Sora memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia berbelok ke kanan untuk melakukan absensi scanner barcode id.


Dengan menaiki mobil Kaoru, Takagi beserta Kaoru segera menuju kantor kepolisian Osaka. Sepanjang perjalanan mereka membahas kemajuan kasus pembunuhan Adriana yang sedikit mulai terkuak. Membahas hasil investigasi Kaoru ke rumah Shuji. Membahas penjadwalan ulang pemanggilan saksi Shuji Tetsuya. Karena pada waktu pemanggilan pertama, saksi Shuji berhalangan hadir dengan alasan sakit.


“Yang menyampaikan kalau dia sakit itu siapa?” Tanya Takagi.


“Pengacaranya, Takeshi Teramae”.


“Wow. Seorang perawat bisa menyewa pengacara hebat seperti Takeshi Teramae?”


“Bisa saja. Menurut kabar yang beredar, dia itu kan memiliki profesi sampingan selain seorang perawat UGD”.


“Sejak kapan kau percaya gosip?”


“Itu bukan gosip, Detektif. Waktu aku datang untuk meminta keterangan ke rumahnya, secara tidak langsung dia sudah membenarkan hal itu”. Mereka diam sejenak.


“Kita juga perlu mengambil sampel rambut saksi Shuji. Seandainya nanti DNA Shuji terdapat di tubuh Adriana, kita juga perlu mencocokkan dengan DNA yang kita curigai sebagai pelaku. Dari situ nanti dapat di ketahui apakah 2 pembunuhan sebelumnya berkaitan atau tidak dengan kasus Adriana”. Jelas Takagi.


"Iya benar. Kita tinggal tunggu hasil uji laboratorium korban Adrian. Semoga tidak lama lagi hasilnya keluar".


Mobil Kaoru memasuki halaman kantor kepolisian Osaka. Pembicaraan itu pun terhenti sampai di situ. Kaoru memarkirkan mobilnya di parkiran samping kantor polisi. Setelah tiba di parkiran, mereka segera turun dari mobil. Takagi berjalan lebih dulu, selangkah di belakangnya Kaoru menyusul. Ketika baru tiba di anak tangga di depan teras kantor, seseorang memanggil Takagi dengan lantang.