
"Tomaru (berhenti) !!!". Seorang pria mendekap erat tubuh Benjiro, tangan kirinya menodongkan kunai ke arah leher pria tua itu.
"Kau !!!" Benjiro menggeram kesal.
"Jangan banyak bicara, kalau kau tidak mau benda ini menembus lehermu !!". Hardik pria itu. "Dan kau Hikari. Ikuti perintah ku kalau kau masih ingin, furui rokudenashi (bandot tua) ini hidup !!".
"Kuurang aajar !! " Benjiro memberontak. Ia menggerakkan tubuhnya melepas dekapan pria itu. Dengan cepat penyandera memukul belakang leher Benjiro. Seketika pria paruh baya itu roboh, tidak sadarkan diri.
"Siaalan !! Apa yang telah kau lakukan pada Ayah ku !!" Hikari berlari dari tempat dia berdiri, menuju keberadaan Ayahnya di bawah kaki pria itu. Dengan cepat pria muda itu melemparkan kunai dalam genggamannya ke arah Hikari.
Ceeess. Kunai tepat menancap di paha kanan Hikari.
"Akhhh... ". Hikari roboh, menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Kuurang aajar !!" Uumpat Hikari.
"Sudah aku katakan, kau jangan macam-macam. Itu akibatnya jika kau tidak mengikuti perkataan ku !!"
Pria itu mengambil sebuah kunai lagi yang terselip di belakang pinggangnya. Ia melangkah dengan cepat ke arah Hikari, dan menodongkan senjata itu ke arah wanita malang itu.
"Berdiri !!" Dengan susah payah menahan rasa sakit, Hikari berusaha berdiri.
"Kau hanya berani pada wanita dan orang tua !! Dasar pengecut !!" .
"Diam !! Jangan banyak bicara !!" Hardik pria itu kemudian.
"Jalan !!" Hikari pun mengikuti perintah pria itu. Ia berjalan terseok-seok dengan kunai masih menancap di paha kanannya.
"Cepat !!"
"Hei !! Kau pikir mudah bagiku berjalan cepat dengan kunai menancap di pahaku!!" Bantah Hikari.
"Jangan mendebat ku dōsei josei !! (wanita penyuka sesama jenis)".
"K k kau !!" Hikari menggeram tak percaya. "Bagaimana kau bisa mengetahui tentang kehidupan pribadiku ?"
"Ha ha ha ha. Apa yang tidak aku ketahui tentang seluruh anggota keluarga Nobou. Sudah jangan banyak bicara. Jalan !!"
Pria itu menggiring Hikari ke ruangan yang ada di belakang dapur. Membuka pintu ruangan pengap dan gelap itu, dan mendorong Hikari hingga terjerembab. Dengan cepat pria itu mendudukkan Hikari di atas sebuah kursi kayu dan mengikat tubuh, kaki dan tangan Hikari dengan kuat. Dan tak lupa menutup mulut Hikari dengan lakban.
"Kau diam di sini. Jangan macam-macam !!"
Pria itu kemudian ke luar dari ruangan itu. Sepeninggal pria itu, Hikari memejamkan matanya sesaat, membiasakan matanya melihat dalam kegelapan. Ketika mulai terbiasa, matanya menjelajah seluruh ruangan. Di sudut ruangan ia bisa melihat seorang wanita sedang meringkuk di atas sebuah kasur tipis dengan tangan dan kaki terikat. Ia tidak dapat melihat siapa sosok wanita itu karena posisi wajahnya menghadap ke dinding.
"Mmmmm". Hikari berusaha mengeluarkan suaranya untuk menarik perhatian wanita yang ada di sudut ruangan. Ia juga menghentak-hentakkan kakinya ke lantai agar menimbulkan bunyi. Usahanya berhasil. Wanita itu bergerak.
"Siapa di sana?" Ujar sang wanita. "Aku Clarisha. Bisakah kau membantuku?"
"Mmmmm". Jawab Hikari.
"Ternyata keadaanmu tidak lebih baik dari diriku". Balas Clarisha lemah.
"Mmmmm". Suara Hikari kemudian.
"Aku tidak mengerti perkataan mu". Clarisha bergerak-gerak. Ia berusaha keras untuk duduk walau kaki dan tangannya terikat kebelakang.
Tak berapa lama kemudian, pria itu datang kembali dengan menggendong Benjiro di punggungnya. Ia mendudukkan Benjiro di atas kursi kayu 10 langkah dari tempat Hikari berada.
Dengan cepat pria itu pun mengikat tangan dan kaki Benjiro yang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas kursi itu. Dan menutup mulut Benjiro dengan lakban.
"Mmmmm". Hikari masih mencoba untuk melawan. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya untuk melonggarkan ikatan. Tanpa ia sadari sebuah tangan meraih kunai yang menancap di paha kanannya, dan menekan dengan kuat. Krak.. Kunai menancap lebih dalam menembus tulang paha Hikari.
"Mmmmm" Hikari menjerit kesakitan.
"Sudah aku katakan, kau jangan berbuat macam-macam !!"
Ceklek. Pria itu menyalakan saklar lampu yang ada di kamar itu. Terlihat muka Hikari memerah menahan sakit. Dari sudut matanya, Hikari dapat melihat Clarisha yang sedang dalam posisi duduk meringkuk dengan mata tertutup, terlihat ketakutan. Bibir wanita malang itu bergetar.
"Mmmmm" Ucap Hikari kemudian.
"Ada yang mau kau katakan padaku?" Pria itu menatap lekat wajah Hikari.
"Mmmmmm". Jawab Hikari lagi.
"Baiklah-baiklah. Aku akan memberi kau kesempatan untuk berbicara. Aku bukanlah pria yang sangat kejam seperti Ayah mu".
Sreeeeet. Lakban di bibir Hikari ditarik.
"Akhhhhhh". Jerit Hikari. Ia menahan rasa sakit di paha kanannya dan sakit dari tarikan lakban di bibirnya.
"Aku beri kesempatan padamu untuk berbicara 10 menit. Di mulai dari sekarang!!". Pria itu memulai menghitung entah berdasarkan apa. Di ruangan itu tidak ada jam dinding yang tergantung dan tidak satu pun jam tangan melekat di salah satu pergelangan tangannya.
"Siaalan kau Yusaaaa!!" Teriak Hikari kemudian.
Plak...Terdengar bunyi tamparan keras.
"Aku bukan Yusa !!" Pria itu mendekatkan wajahnya pada Hikari.
"Ingat baik-baik namaku. S-o-t-a F-u-k-u-s-h-i !!".
Cih.. Hikari menyemburkan ludahnya ke wajah Sota. Refleks Sota memejamkan matanya dan mengusap air ludah itu dengan tangan kirinya. Sota tertawa terbahak-bahak.
"Lelucon apa ini !!" Ucap Hikari.
"Apakah kau tidak bisa membedakan kami wahai Onesan (Panggilan untuk kakak perempuan orang lain) ?".
"Lihat baik-baik. Tidak bisakah kau membedakan kami !!" Ucap Sota untuk ke dua kalinya dengan nada lebih tinggi.
Sota merentangkan kedua tangannya ke samping dan berputar di hadapan Hikari. Mata Hikari memandang sosok pria muda yang ada di hadapannya dengan amarah.
"Tidak ada bedanya bagiku !!" Dengan wajah mengejek. "Kau tetap adik kecilku yang selalu menyusahkan!!".
"Apa matamu sudah buta !! Aku bukan si Yusa yang lemah itu !!" Hardik Sota.
"A a a apa yang telah kau lakukan pada Ayahku !!" Teriak Yusa tiba-tiba.
🐐🐐
Sementara itu 2 unit mobil polisi baru saja keluar dari kantor Kepolisian melaju meninggalkan pusat kota Osaka, mengikuti jejak terakhir mobil yang membawa Clarisha pergi.
...****************...
*Hari ke 13. Alhamdulillah aku masih di sini 🏥 🤭