
Beberapa hari setelah pemakaman, rumah keluarga Nobou di datangi oleh 3 orang perwira polisi. Karena masih dalam suasana berduka, kepolisian berinisiatif untuk mendatangi rumah keluarga korban Yusa. Detektif Takagi Fujimaru beserta dua orang polisi dari Tokyo yaitu Letnan Taishi Nakagawa dan Letnan Dori Sakurada, datang untuk melakukan serangkaian penyidikan dan penyelidikan guna mengumpulkan barang bukti berkenaan dengan kasus kematian Yusa. Yana ditemani oleh Teramae memberikan keterangan yang dianggap perlu kepada polisi.
"Kami ikut berduka cita atas musibah yang menimpa anda dan keluarga." Ucap Takagi mewakili 2 rekannya yang lain.
"Terimakasih, Detektif." Jawab Yana.
"Mohon maaf jika kedatangan kami dirasa tidak pada waktu yang tepat. Hal ini perlu segera dilakukan agar kasus penembakan mendiang Yusa cepat terungkap."
"Tidak apa-apa, Detektif. Aku mengerti. Kami juga berharap, agat kasus ini cepat selesai. Dan putraku dapat beristirahat dengan tenang."
"Baiklah. Kita semua berharap agar kasus ini cepat terungkap. Dari hasil penyelidikan di lokasi kejadian, kami berkesimpulan bahwa pelaku telah mengetahui keberadaan korban Yusa di hotel itu. Pelaku juga mengetahui kalau korban Yusa pada malam itu berada di kamar hotelnya. Dan tidak berencana untuk keluar. Selama berada di Tokyo, korban kerap menghabiskan malam di luar hotel, dengan mengunjungi menara Tokyo. Jadi kami menarik kesimpulan bahwa pelaku adalah orang terdekat korban."
Yana dan Teramae saling melempar pandang.
"Nyonya Yana, apakah benar anda yang membeli tiket Shinkansen untuk korban Yusa berangkat ke Tokyo ?"
" Iya benar."
"Selain polisi dan anda, siapa saja yang mengetahui keberangkatan korban Yusa ke Tokyo ?"
"Teramae, Dokter Tamaki Saito dan mendiang suamiku, Benjiro."
"Hanya itu?"
"Iya. Aku tidak memberitahukan perihal keberangkatan Yusa pada orang lain. Hikari pun tidak tahu. Aku belum sempat menjenguknya di penjara."
"Semua orang terdekat korban layak untuk dijadikan tersangka. Untuk itu kami minta kerjasamanya jika dibutuhkan keterangan lebih lanjut."
"Baik, Detektif."
Dari keterangan yang Yana berikan, polisi bekerja sama dengan provider telekomunikasi menelusuri data digital orang-orang yang dicurigai. Dari penelusuran itu, polisi menemukan adanya panggilan yang mencurigakan dari salah satu nomor ponsel orang-orang terdekat. Panggilan itu berdurasi pendek tetapi berulang-ulang. Pada hari naas itu pun berlangsung dua kali panggilan masuk. Beberapa saat sebelum
dan sesudah kejadian.
🍁🍁🍁
Hari sudah sore. Matahari sudah condong ke barat. Sinarnya pun sudah meredup, meninggalkan warna lembayung di ufuk barat. Dokter Tamaki Saito melangkah memasuki pelataran kuil Isshinji. Dengan membawa buket bunga di tangannya, ia berjalan lebih dalam menuju kompleks pemakaman. Sebuah perkuburan yang jauh dari kata menyeramkan. Tempat yang sangat cantik dengan adanya bunga sakura di pintu depan dan di tengah area kuil. Degradasi dari hijaunya pepohonan dan bunga sakura yang bila sedang blossom membuat para pengunjung betah untuk berlama-lama di sana.
Ceklek... Bunyi senjata di kokang.
"Angkat tangan !!" Beberapa orang polisi mengarahkan senjata kepada Tamaki. Refleks ia mengangkat kedua tangannya.
"Dokter Tamaki Saito, anda ditahan atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Kiyoharu Yusa. Mulai sekarang anda berhak untuk diam. Anda memiliki hak untuk bicara pada penasehat hukum. Apapun yang anda katakan dapat dan akan digunakan untuk melawan anda di pengadilan!!"
Flashback
Peristiwa itu berawal 5 tahun yang lalu. Tamaki dan Ayaka adalah pasangan pengantin baru. Usia pernikahan mereka baru saja menginjak bulan ke tiga. Keduanya sama-sama berprofesi sebagai Psikiater dan bekerja di klinik yang sama. Pada hari naas itu, Ayaka tidak lagi berkerja. Ia mengambil cuti karena kehamilannya yang baru berusia 6 minggu. Pukul 9 malam seperti biasanya, Tamaki tiba di rumah.
"Sayang. Aku pulang." Tamaki meletakkan sepasang sepatunya di sebuah rak yang terletak di dekat pintu. Tidak ada sahutan. Tamaki menyapu pandangannya keseluruhan ruangan, tidak didapati isterinya di sana. "Apakah dia sudah tidur?" Tamaki menghela nafas dan memutuskan untuk naik ke anak tangga menuju kamar.
Kreeet...
Tamaki membuka pintu kamarnya, dan ia tersentak melihat kondisi kamar dalam keadaan berantakan. Bed cover dan bantal berserakan di lantai. Lampu tidur jatuh dan pecah di dasar kamar. Pakaian dalam wanita berserakan. Dokter Tamaki memindai seluruh ruangan, mencari keberadaan istrinya.
"Sayang .. !!!"
Setengah berlari, Tamaki mendapati isterinya tergeletak tak sadarkan diri di sudut ruangan dengan keadaan mengenaskan tanpa sehelai benangpun. Darah segar merembes dari sela-sela kedua pahanya.
"Sayang. Apa yang telah terjadi padamu!!" Ia memeluk tubuh Ayaka yang tidak sadarkan diri. Tamaki berusaha untuk tidak panik. Ia memungut bed cover dari lantai kamar dan membungkus tubuh isterinya.
Selanjutnya Dokter Tamaki memanggil layanan gawat darurat. Mereka merespon dengan cepat. Tak berapa lama kemudian ambulans datang. Ayaka dilarikan ke instansi gawat darurat untuk dilakukan pertolongan medis. Dari hasil pemeriksaan, Ayaka Miyoshi mengalami kekerasan seksuual, yang mengakibatkan ia mengalami keguguran. Pelaku kekerasan terhadap Ayaka belum ditemukan. Walaupun polisi telah mengantongi hasil tes DNA pelaku yang tertinggal di tempat kejadian, tetapi mereka belum mengetahui siapa pemiliknya. Sedangkan Ayaka, sejak saat itu tidak bisa di ajak komunikasi. Ia mengalami depresi berat. Kejadian itu mengguncang hebat jiwanya. Tidak ada informasi yang bisa digali dari korban Ayaka. Kondisi itu berlangsung selama hampir 3 bulan. Karena Dokter Tamaki harus bekerja, ia menitipkan isterinya ke rumah sakit. Setelah pulang kerja, Tamaki akan menjenguk isterinya. Hingga pada suatu saat, ketika masih berada di kliniknya, ia mendapat panggilan telepon dari rumah sakit. Mereka mengabarkan bahwa Ayaka telah mengakhiri hidupnya dengan loncat dari gedung rumah sakit.
Betapa hancur hati Tamaki. Ia harus kehilangan orang yang sangat dicintainya.
Setelah kepergian Ayaka, Tamaki berusaha mencari tahu siapa yang telah tega melakukan tindakan biadab itu pada isterinya. Namun, belum membuahkan hasil. Hingga pada suatu saat, ia mendapat kabar baik dari dokter forensik yang dahulu menangani Ayaka. Dokter itu mengungkapkan bahwa pelaku pemerkoosaan terhadap isterinya telah diketahui. Dari identitasnya diketahui, ia adalah pasiennya sendiri di klinik. Pelaku yang tidak lain adalah Sota Fukushi alias Kiyoharu Yusa alias Ren Takahashi, mengenal isterinya ketika sedang melakukan konsultasi. Disinyalir Sota terpikat dengan penampilan menarik Ayaka Miyoshi. Ia menyelidiki di mana Ayaka tinggal dan kegiatan kesehariannya. Saat Ayaka sedang sendiri di rumah, Sota melancarkan aksinya.
Tamaki terlambat mengetahui kenyataan itu, setelah Yusa menerima putusan pengadilan. Bahkan ia sempat menjadi saksi ahli yang meringankan Yusa. Karena dendamnya itulah ia merencanakan pembunuhan. Menyewa penembak jitu untuk menghabisi nyawa Yusa. Pada saat kejadian, ia sengaja melakukan panggilan video terhadap Yusa, agar ia bisa melihat dengan matanya sendiri detik-detik kematian pelaku pembunuh isterinya.
Dari keterangan Tamaki, dengan bantuan interpol, polisi berhasil menangkap penembak jitu bayaran yang telah membantu Tamaki melancarkan niatnya. Til Schwiger diciduk di kediamannya, di Hannover, Jerman.
...****************...