Looking For Murder

Looking For Murder
Will You Marry Me ? 2



Keiko berlahan menjauh dari dua rekannya yang sedang merancang ulang masa depan mereka. Keiko ikut bahagia, dokter Masao telah menemukan sandaran hatinya. Walaupun usahanya kali ini tidak berhasil, tetapi bukankah dokter Agnes tidak menolaknya? Ia hanya tinggal menunggu wanita itu sebentar lagi.


“Baru pulang, sayang?” Takagi berbisik di telinga Keiko, sambil berjalan mensejajarkan posisinya di samping Keiko.


“Astaga, kau bikin kaget aku saja.” Keiko menghentikan langkah kakinya.


“Kau terlalu fokus dengan kedua rekanmu itu, hingga tidak menyadari kehadiranku di sini.”


“Kau sudah lama menungguku?”


“Tidak begitu lama. Tapi, cukup bagiku untuk menyaksikan pertunjukan tadi. Kau pasti mengira, Masao melamar mu bukan?”


“Hu um. Aku sempat salah duga, begitu pandangan matanya tidak mengarah padaku, aku segera menyadari kebodohanku.”


“Apakah kau merasa kecewa ?”


“Kecewa untuk apa?”


“Seharusnya Dokter Masao melamarmu, bukan Dokter Agnes.”


“Untuk apa aku kecewa. Bahkan aku senang sekali, akhirnya Masao menemukan seseorang yang bisa mengisi relung hatinya. Oh ya, ada apa kau mencari ku ke sini?”


“Memangnya aku tidak boleh menemui kekasih ku?”


“Sejak kapan aku jadi kekasihmu?”


“Sejak malam itu. Apa kau sudah lupa?” Dengan senyuman menggoda.


Wajah Keiko bersemu merah. Bayangan malam panas beberapa waktu lalu kembali menari di pelupuk matanya. Kejadian malam itu ketika dalam keadaan setengah mabuk, ia berbagi saliva dan peluh bersama lelaki yang ada di sampingnya saat ini (bab 69). Kesadarannya baru kembali utuh keesokan harinya ketika, bangun ia mendapati dirinya terjaga dengan tanpa mengenakan sehelai benang pun. Ia mendapati sehelai catatan yang ditinggalkan Takagi di atas nakas, yang menyatakan bahwa pria itu harus segera kembali ke kantor karena tugas telah memanggil. Pria itu juga meminta maaf bahwa ia tidak bisa menunggu dirinya membuka mata di pagi hari.


Sejak saat itu, karena kesibukan mereka tidak pernah bertemu. Hanya berbagi kabar melalui chat dan telepon.


“Mukamu sampai memerah. Apa yang kau pikirkan, sayang?”


“Tidak ada.”


“Benarkah?” Dengan tatapan menyelidik.


“Kenapa kau memandang wajah ku seperti itu? Apa kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan ?”


“Tentu saja tidak. Wajahmu sudah menggambarkan apa yang ada dalam hatimu.”


Keiko cemberut. Ia melangkahkan kakinya dengan lebar meninggalkan Takagi di belakangnya.


“Hey. Sayang mau kemana?”


“Pulang. Aku lelah sekali.“


Takagi mengikuti langkah kaki Keiko, ia berjalan di samping wanita itu.


“Makan yuk. Aku lapar sekali.“


“Sudah malam. Aku lelah sekali, lagi pula aku sedang tidak berselera pergi kemana-mana.”


“Kalau begitu take away saja. Kau mau makan apa?”


“Terserah kau saja."


“Kalau begitu aku pesan pizza. Kau tunggulah di apartemen mu. Nanti kita bertemu di sana.”


“Baiklah.”


Mereka menuju mobil masing-masing. Keiko langsung melajukan kendaraannya menuju apartemennya. Sementara Takagi memesan dua box pizza malalui ponselnya kemudian ia menuju kedai pizza untuk menjemput pesanannya.


30 menit kemudian Takagi sampai di apartemen Keiko dengan membawa 2 box pizza dan beberapa kaleng Sapporo Yebisu Beer. Keiko yang baru selesai mandi, dengan langkah cepat ia menuju pintu, setelah ia mendengar seseorang menekan bel berulang kali.


“Kau sudah tiba, masuklah. Maaf agak lama. Aku baru saja selesai mandi.”


Keiko mempersilahkan Takagi masuk kemudian ia melangkah menuju dapur. Takagi tertegun menatap Keiko yang terlihat mempesona malam itu. Wanita cantik itu, tampil anggun dengan dress motif bunga-bunga selutut. Wangi sampo beraroma manis strawberry keluar dari sela-sela rambutnya.


“Kau mau minum apa?” Sambil mengambil dus suusu dari dalam lemari pendingin.


“Bawakan saja aku segelas es batu. Aku ingin meminumnya bersama dengan bir ini.” Takagi meletakkan bawaannya di atas meja sofa di depan televisi. “Kemarilah. Nanti pizzanya dingin.”


“Sebentar.“ Tak berapa lama kemudian Keiko datang membawa segelas suusu hangat dan segelas es batu di tangannya.


Keiko mengikuti permintaan Takagi. Ia meletakkan gelas milik Takagi di atas meja. Kemudian duduk di samping Takagi sambil menyeruput minuman hangat yang ia bawa.


“Aku biasa minum ini sebelum tidur. Kau membawa pizza apa?”


“Okonomiyaki pizza* dan Chicago pizza.*” Takagi membuka kemasan kedua pizza. Aroma wangi khas pizza seketika memenuhi ruangan. “Kau mau yang mana ?”


“Hmmm.. Sebentar.” Keiko berfikir sejenak. “Ini saja.” Ia mengambil satu slice okonomiyaki dan memasukkannya ke dalam mulut. “Mmmm.. Enak sekali. “


Senyuman tersungging dari bibir Takagi melihat Keiko melahap pizza yang ada di tangannya. Ia kemudian mengambil satu slice Chicago pizza dan menggigitnya sedikit.


“Cobalah ini.” Pria itu menyodorkan sisa gigitan pizzanya pada Keiko. Keiko tidak langsung menerima pemberian Takagi. Wanita itu terlihat berfikir sejenak. “Ayo lah. Ini enak sekali. Kejunya meleleh di dalam mulut.” Dengan ragu-ragu keiko membuka mulutnya, menerima suapan pizza dari Takagi. Senyum kecil kembali tersungging dari bibir pria itu.


“Mmmm...” Keiko mengunyah dengan pelan. Gerakan mulutnya berhenti, ketika ia mendapatkan benda keras yang beradu dengan giginya. Tanpa berfikir panjang, Keiko mengeluarkan benda itu dari dalam mulutnya. Jari telunjuk dan ibu jarinya, mengambil benda yang sudah berada di ujung bibirnya. Dengan tatapannya, ia meminta penjelasan pada Takagi. Sebuah cincin platinum bertahtakan berlian, Keiko pegang dengan kedua jemarinya.


Takagi turun dari duduknya. Ia menggenggam kedua tangan Keiko sambil berlutut di hadapan wanita itu dengan tatapan memuja.


“Keiko. Aku sangat mencintaimu dengan seluruh hatiku. Aku mungkin bukan pangeran berkuda putih yang mempesona bagimu. Aku hanya seorang pria biasa yang pernah menikah dan memiliki seorang putri yang aku jaga dalam hatiku. Aku tidak akan menjanjikan kebahagiaan untukmu. Tapi aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan mu. Keiko Kitagawa, mau kah kau menerima cincin ini?”


“Dia sedang melamarku?” Keiko tertegun. Hatinya terasa menghangat.


Tatapan mata dan rangkaian kata yang Takagi ucapkan membuatnya tak dapat berkata-kata.


“A aku.. “ Keiko terdiam sejenak. “A apakah ini tidak terlalu cepat?”


“Tidak ada batasan waktu yang pasti, terlalu cepat atau tidak, apabila cinta sudah memilih. Hatiku telah tertuju padamu. Tidak ada wanita yang lain.”


“Tapi aku tidak berencana menikah lagi setelah apa yang pernah terjadi dalam hidupku.” Takagi terdiam. Namun ia tetap tersenyum. Berusaha tetap tenang menerima apa pun keputusan Keiko dengan lapang dada. Tidak ada raut kecewa ia tampilkan di wajahnya.


“Aku tau. Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu.” Takagi bangkit. Ia berniat kembali ke tempat duduknya.


“Apa yang harus aku lakukan ? Hatiku selalu ingin dekat dengannya. Apakah aku harus melampaui batasanku?” Keiko menahan pergerakan Takagi dengan balik menggenggam jemari pria itu.


“Tapi ..... Aku sangat mencintaimu,


Fujimaru-san. Dan ingin selalu bersamamu.” Keiko menatap Takagi yang terkesiap dengan ucapannya.


“Karena itu. Fujimaru-san, maukah kau tinggal bersamaku?”


Takagi terpaku di tempatnya. Ia yang mengira, Keiko menolak lamarannya dibuat terkejut dengan permintaan Keiko padanya. Takagi menarik Keiko dalam dekapannya. Matanya menatap intens iris kecoklatan milik wanita cantik itu. Untuk beberapa saat mereka saling memandang. Wajah mereka sangat dekat. Takagi dapat merasakan hembusan nafas Keiko menerpa wajahnya. Manik legamnya menyoroti tatapan nanar wanita di depannya. Dadanya berdesir hebat dan terasa sesak. Mengangkat tangannya, Takagi menggerakan jemarinya, membelai permukaan wajah Keiko dengan perlahan. Hingga wanita itu memejamkan mata, merasakan sentuhannya.


Di menit berikutnya pria itu menyelipkan satu tangan kokohnya dibelakang pinggang Keiko, menarik dan membawa Keiko lebih dekat dengannya. Sontak pergerakan itu membuat Keiko membuka matanya, dan menemukan sorot mata Takagi yang menatapnya dengan jarak yang teramat dekat.


Tatapan itu semakin sayu, dan terpejam. Perlahan wajah mereka tak berjarak. Kedua bibir mereka saling bertaut. Mengecuup dengan lembut dan hangat. Untuk beberapa saat mereka larut dalam cumbuan yang memabukkan. Kecupan mereka terhenti begitu mendengar suara perut yang menginterupsi aktivitas mereka.


Kriiiuuuuk... Mereka tertawa dengan kening saling bertaut.


“Maaf. Maaf. Perutku keliatannya tidak bisa di ajak kerjasama.” Takagi menarik wajahnya. Ia menghapus bibir Keiko yang basah akibat ulahnya dengan ibu jari.


“Ini bagaimana ?” Keiko mengangkat tangannya. Cincin platinum bertahtakan berlian ada dalam genggamannya. Takagi mengambil cincin itu dari telapak tangan Keiko dan memasangkan di jari manis tangan kiri wanita itu.


“Pas sekali .” Ujar Takagi


“Cantik sekali.” Ucap Keiko


“Kau memang cantik.”


“Cincin ini maksudku.”


“Iya. Cincin ini secantik dirimu.” Takagi kembali menatap lekat wajah Keiko.”Terimakasih sayang. Hari ini aku sangat bahagia.” Ia mendaratkan kecupan di pipi Keiko.


Malam itu mereka habiskan dengan menyantap pizza tanpa sisa. Selanjutnya terserah mereka. Netizen dilarang kepo... 🚶🚶🚶


...****************...



Okonomiyaki sering disebut sebagai 'Osaka soul food' karena sangat mudah ditemui di kota tersebut. Makanan ini juga sering dikatakan sebagai pizza bergaya Jepang yang diolah dengan potongan kubis, daging babi, mie, telur, dan berbagai jenis makanan laut sebagai toppingnya. Permukaan pizza kemudian ditutupi dengan saus okonomiyaki dan adonan bercita rasa gurih seperti udang, gurita, kimchi, dan ubi.



Pizza ala Chicago mirip seperti pai tebal dengan saus tomat, keju, dan topping melimpah. Kira-kira, kedalamannya dari atas ke bawah adalah 5-8 sentimeter.