Looking For Murder

Looking For Murder
Izinkan Aku Memelukmu Sebentar Saja



Tok tok tok


Ruang rawat Takagi diketuk.


Kaoru masuk ke kamar itu, diikuti oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam, kemeja merah motif bunga warna hitam dengan kacamata hitam tersemat di bajunya. Terlihat 2 orang lelaki tinggi besar yang mengikuti pria itu, berjaga di depan pintu. Kaoru menutup pintu begitu pria itu masuk.


"Detektif, ini Tuan Satoshi Nomura" Kaoru memperkenalkan pria yang datang bersamanya.


"Selamat pagi, Tuan Fujimaru. Aku Nomura Satoshi" Pria itu membungkukkan badannya sedikit


"Selamat pagi, Tuan Satoshi. Silahkan duduk." Jawab Takagi.


Pria itu pun duduk di kursi yang ada di sisi lain Takagi. Keiko yang berada di samping Takagi, terlihat menegang. Tangan Keiko dalam genggaman Takagi terasa dingin. Takagi mempererat genggaman tangannya dan berusaha memberikan ketenangan pada wanita itu dengan menggerak-gerakkan ibu jarinya.


"Bagaimana keadaan anda saat ini, Tuan?"


"Aku baik-baik saja. Seperti yang anda lihat" Jawab Takagi.


"Syukurlah. Aku dengar Anda menjalani operasi"


"Ah iya. Hanya operasi kecil. Tinggal menunggu recovery saja "


"Aku ikut senang mendengarnya" Terdiam sesaat. "Kedatanganku ke sini, ingin berterimakasih pada anda, karena berkat pertolongan anda putriku terselamatkan" Ia menundukkan wajahnya.


" Aku gagal menjaga anak perempuanku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada putriku jika anda tidak berada di sana. Aku berhutang nyawa padamu, Tuan" Katanya kemudian.


"Sudah menjadi tugasku Tuan Satoshi. Anda tidak perlu mengatakan itu"


"Sebagai ucapan terimakasih, aku berniat membantu menemukan pelaku tabrak lari putrimu"


Keiko dan Takagi terkejut mendengar penuturan pria itu. Kaoru yang berdiri di belakang Satoshi tersenyum puas. Keiko yang tidak mengerti dengan ucapan Satoshi, hanya bisa menatap Takagi, meminta penjelasan.


"Benarkah kau akan melakukan itu, Tuan" Ujar Takagi dengan wajah haru.


"Tentu saja. Aku berjanji atas nama putriku. Aku akan membawa pria itu ke hadapanmu. Kau ingin aku melakukan apa?"


"Aku hanya ingin putri kecilku mendapatkan keadilannya"


"Aku akan melakukannya, Tuan. Beserta barang buktinya akan aku serahkan padamu. Kau tunggu saja."


"Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu"


"Kalau begitu aku permisi dulu, Tuan Fujimaru san." Satoshi membungkukkan badannya di hadapan Takagi. Kemudian dia menatap Keiko yang tangannya digenggam Takagi.


"Nyonya, aku permisi dulu" Membungkukkan badannya di hadapan Keiko.


Keiko yang mendapat perlakuan itu bermaksud untuk menyanggahnya, tapi Takagi menghalangi dengan menggelengkan kepala.


Satoshi keluar diikuti oleh Kaoru. Keiko memandang tangannya yang masih dalam genggama Takagi


"Excuse me, bisakah kau melepas tanganku, Tuan Fujimaru?"


"Sebentar lagi, Nona Kitagawa. Aku mohon" Takagi meletakkan genggaman tangan mereka di atas dada bidangnya. Matanya menerawang ke atas langit-langit kamar. Keiko yang melihat ekspresi Takagi yang tergambarkan itu, hanya bisa diam membisu. Ia membiarkan pria itu menterjemahkan hatinya. Menikmati waktu dalam diam bersama.


"Seira Rosalie Fujimaru" Takagi memecah kesunyian di antara mereka. Keiko tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia menunggu Takagi melanjutkan ucapannya dengan menunjukkan ekspresi bahwa ia siap menjadi pendengar yang baik.


"Nama Putri kecilku" Lanjutnya.


"Dua tahun yang lalu saat usianya genap empat tahun, kami berencana mengajak Seira ke taman hiburan. Karena kesibukanku, kami sepakat bertemu di sana. Pada saat itu, Rosanne dan putriku pergi menggunakan taksi" Takagi terdiam sesaat.


"Di tengah perjalanan, taksi yang mereka tumpangi mengalami pecah ban. Karena sudah dekat dan hanya tinggal menyeberang saja, mereka memutuskan untuk jalan kaki. Ketika Rosanne akan membayar taksi, Seira keluar dari taksi karena melihat boneka bear besar yang terpajang di etalase toko boneka yang terletak di sebelah taman hiburan. Sementara aku yang menunggu mereka di depan pintu taman hiburan dengan membawa boneka bear besar dan menyembunyikannya di belakang tubuhku. Aku dapat melihat Seira yang tidak sabaran menunggu ibunya membayar taksi, menyeberangi jalan" Takagi mengambil nafas dalam. Kemudian dengan suara serak ia kembali berujar.


"Tiba-tiba dari arah berlawanan, sebuah motor dengan kecepatan tinggi menabrak Seira yang berada di tengah jalan. Seketika putriku terpental beberapa meter. Pengendara itu kabur dengan meninggalkan putri kecilku tergeletak di pinggir jalan dengan luka parah di kepalanya. Kejadiannya begitu cepat. Aku tidak sempat menyelamatkan putriku. Kalau saja aku menjemput mereka, tentu Seira saat ini masih berada di sini" Air mata menetes dari sudut matanya jatuh membasahi pipi.


"Kau tau, betapa hancur hatiku saat itu. Apalagi sampai saat ini, pelaku tidak pernah ditemukan. Kesedihanku bertambah dengan keputusan sepihak Rosanne meninggalkan aku, tak lama setelah kejadian itu. Dia menyalahkan ku atas kematian Seira dan mengaitkannya dengan kasus yang saat itu sedang aku tangani. Aku mendapat double kill. Aku gagal menjaga putri ku, aku juga gagal membuat Rosanne tetap berada di sampingku"


"Hmm" Keiko bergumam.


"Itulah sebabnya aku tidak ingin mengulang kebersamaan ku dengan Rosanne. Menolak ajakan dan perhatiannya belakangan ini. Saat tersulit dalam hidupku dia memilih menjauh". Takagi mengusap kembali pipinya yang basah.


"Putri mu pasti sangat cantik"


"Iya. Dia malaikat kecil yang sangat cantik. Memiliki mata biru yang indah. Aku menyimpan fotonya di dompet. Aku akan memperlihatkan padamu. Kau melihat di mana dompetku?"


" Di dalam paper bag kalau tidak salah"


Keiko mencari paper bag yang tadi malam diserahkan pada Kaoru.


"Nah ini dia" Keiko menemukannya di dalam nakas di samping tempat tidur. Ia mengambil dompet di dalam paper bag itu, dan menyerahkannya pada Takagi.


Takagi mengambil dompet yang Keiko berikan padanya. Membuka benda itu, mengambil foto Seira yang terselip di sana.


"Ini dia. Lihatlah"


"Cantik sekali" Dengan mata berbinar Keiko melihat foto Seira yang seakan tersenyum padanya. Tanpa sengaja bibirnya ikut membentuk sebuah senyuman.


"Aku dapat merasakan betapa kau sangat menyayanginya" Keiko menyerahkan kembali foto itu pada Takagi.


"Sudah saatnya kau memaafkan dirimu. Berdamai dengan masa lalu. Menerima takdir ini dengan lapang dada. Aku percaya, putrimu saat ini sudah bahagia di sisi Tuhan. Dia pasti akan menjaganya dengan baik. Menyalahkan diri sendiri tidak akan mengembalikan Seira lagi. Bahkan hanya membuat kau semakin terluka"


Takagi memandang lekat wajah Keiko.


"Dokter, bolehkah aku memelukmu?"


Keiko yang berdiri di samping tempat tidur Takagi, diam mematung. Ia tidak menduga Takagi meminta hal itu padanya. Tidak tau harus menjawab apa, Keiko hanya diam membisu.


"Sebentar saja. Aku mohon. Izinkan aku memelukmu"


"Baiklah" Dengan ragu-ragu, Keiko mengembangkan tangannya dan meraih Takagi dalam dekapannya.


Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam hangatnya pelukan. Menterjemahkan perasaan masing-masing, melalui detak jantung yang saling bersahutan.


Sementara itu, sepasang mata melihat apa yang mereka lakukan di sela pintu yang terbuka. Membatalkan keinginan untuk menginterupsi adegan teletubbies yang fenomenal itu. Berharap pria yang di dalam sana menemukan kembali kebahagiaannya yang sempat hilang. Membuka lembaran baru yang indah bersama wanita dalam dekapannya itu.


***