
“Detektif Takagi? Ada apa dengan wajahmu?”
“Kenapa dengan wajahku?”
“Itu ada noda oli." Geo menunjuk pipi Takagi yang bernoda hitam.
“Oh.. ini.” Takagi meraba wajahnya yang ditunjuk Geo.
“Saat di perjalanan tadi ada mobil yang mengalami pecah ban. Untung saja tidak ada korban. Aku membantu pemilik mobil mengganti roda kendaraannya dengan ban cadangan. Menunggu montir pada jam segini sangat mustahil. Apa lagi di tengah kemacetan jalan raya yang diakibatkan oleh kejadian itu. Aku jadi datang terlambat memenuhi untuk janjiku.”
“Jadi, kau pria yang telah membuat janji dengan Keiko?”
“Iya.” Takagi mengalihkan pandangannya pada Keiko yang sudah tidak bersuara. “Dia mabuk?”
“ Iya. Padahal baru minum 2 o-choko sake” Geo tertawa kecil.
“Keiko tidak bisa minum. Kenapa kau ajak dia minum?”
“Dia terlihat bersedih. Aku hanya mencoba menghiburnya dengan mengajaknya minum. Kenapa kau tidak mengabarinya kalau akan datang terlambat?”
“Ponselku kehabisan daya.“
“Oh begitu. Lebih baik kau mengantarkannya pulang ke apartemen.” Ada ketidakrelaan yang menyusup rulung hati Geo. Namun ia harus berlapang dada, menerima fakta jika tidak ada kesempatannya untuk kembali bersama. “Sebentar.” Geo mengambil dompet dari saku belakang celananya. Ia mengeluarkan kartu akses apartemen milik Keiko. Apartemen yang sama, yang dulu pernah Geo tempati bersama Keiko sewaktu masih berstatus suami istri.
“Aku masih pegang kunci apartemen kami dulu. Ini ambillah. “ Geo menyodorkan kartu itu pada Takagi. “ Di situ ada nomor apartemen yang di huninya. Jangan khawatir, sejak kami berpisah aku tidak pernah menginjakkan kakiku lagi ke sana. “
“Kenapa kau jelaskan semua padaku hal itu?” Takagi mengambil kartu yang di sodorkan Geo.
“Karena kau lelaki yang disukai Keiko.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Keiko yang mengatakannya.”
“Benarkah dia mengatakan hal itu?”
“Huum. Ayo... Aku akan membantumu.” Geo bangkit dari duduknya. Ia mengambil tas dan jas milik Keiko.
Takagi kemudian menggendong tubuh Keiko yang belum sadarkan diri menuju mobilnya yang terparkir tak jauh kedai makan. Ia membaringkan Keiko di kursi penumpang belakang.
“Aku pergi dulu. Terimakasih sudah menemani Keiko .”
“Tidak masalah. Aku tadi kebetulan lewat dan melihat Keiko duduk sendiri dengan wajah murung. Dengan alasan ingin makan malam, aku mendekatinya. Jagalah dia. Jangan sakiti hatinya seperti yang pernah aku lakukan. “
Takagi diam tidak menjawab kata-kata Geo.
“Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu. Menyelesaikan makan malamku."
“Baiklah. Sekali lagi terimakasih.“
Geo membalikkan tubuhnya kembali ke kedai makan.
“ Oh iya. Tuan Geo. Sebentar.” Geo yang sudah berjalan 2 langkah, terhenti begitu Takagi memanggil namanya.
“ Iya, Detektif."
“Soal pembunuh mendiang adikmu, kami sudah mengetahui siapa pelakunya. Saat ini kami sedang mengejarnya. Begitu tertangkap, kau akan segera aku kabari.”
“Bolehkah aku mengetahui siapa orang yang berdarah dingin itu?”
“Maaf aku tidak bisa mengatakannya. Kau tunggu saja kabar selanjutnya. Bersabarlah.” Takagi menepuk pundak Geo. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu. Geo kembali masuk ke dalam kedai makan, dengan pikiran dan hati yang tak menentu.
🚗🚗🚗
20 menit kemudian Takagi tiba di apartemen Keiko. Dengan menggotong tubuh Keiko di punggungnya. Di tangannya ada tas dan jas Keiko, Takagi membawa wanita mabuk itu ke unitnya di lantai 3 dengan menaiki lift. Pintu ke 3 di sebelah kanan lift adalah unit apartemen milik Keiko. Dengan menempelkan kartu akses ke kotak sensor yang berada di dekat handle pintu, Takagi membuka pintu apartemen dan menutup dengan kakinya. "Aku harus meletakkannya di mana? .Tidak sopan kalau aku masuk ke kamarnya."
"Lelah sekali. Ternyata wanita ini berat juga."
Takagi terduduk di lantai bersandar ke sofa panjang tempat Keiko berbaring.
“Hmmm...Aku di mana?” Keiko merintih sambil memegang pelipisnya.
“Dokter kau baik-baik saja?”
“Geo? Sejak kapan kau berada di sini?” Keiko terkejut dan menarik tubuhnya menjauh dari Takagi.
“Maaf. Aku yang membawamu ke sini. Geo memberikan kunci dan nomor apartemen mu.”
“Keluar !! “ Keiko mengusir Takagi sambil berdiri sempoyongan.
“Kei, aku bisa jelaskan kenapa sampai aku terlambat."
“Keluar... Aku bilang keluar!! Aku tidak Sudi melihat wajah sialan mu lagi !!"
“Kei. Aku minta maaf, terlambat memenuhi janjiku padamu. Ada orang yang membutuhkan bantuanku di jalan, ketika aku dalam perjalanan menuju kedai makan. Keadaan waktu itu macet parah akibat kejadian itu. Aku tidak bisa menghubungimu, ponselku kehabisan daya. Aku secepatnya datang begitu situasi terkendali. Maafkan aku. Maafkan aku.” Takagi berlahan mendekat ke arah Keiko.
“Bohong. !! Dasar lelaki brengsek !!
Berkali kali kau membohongiku dan aku bodoh begitu mudah mempercayai ucapan manismu. “ Keiko tertawa, detik berikutnya matanya mulai berkaca-kaca. “Ya.. Aku bodoh.. Sangat... Bodohnya aku, percaya saja semua omongan mu. Ha ha ha.. aku memang bodoh.”
“Aku tidak bohong Kei. Demi Siera Rosalie Fujimaru putriku.” Mendengar nama Seira, Keiko bergeming. Perlahan tubuhnya luruh ke lantai. Ia terduduk dengan air mata berlahan menetes dari mata indahnya. Takagi mendekat. Ia berjongkok. Diraihnya tubuh Keiko ke dalam dekapannya. Takagi melihat sosok Keiko yang begitu rapuh. Ketika dalam kondisi normal, Keiko tidak pernah menunjukkan betapa luka yang ditorehkan mantan suaminya masih meninggalkan bekas.
“Aku Takagi Fujimaru, bukan Geoffrey Lafayette. Aku tidak akan menyakiti mu. Percayalah padaku.” Ia mengecup pucuk kepala Keiko dengan dalam. Entah sadar atau tidak, kedua tangan Keiko merangkul pundak Takagi. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria 36 tahun itu.
“Aku sangat mencintaimu, Keiko. Aku sangat mencintaimu.” Ucapan Takagi mengurai pelukan mereka. Keiko mengangkat wajahnya menatap mata Takagi yang juga sedang memandangnya lekat. Debar jantung Takagi bertalu-talu melihat posisi intim mereka saat ini. Wajah Keiko yang kemerahan disebabkan sake yang diminumnya, menambah kecantikan wajah Keiko di mata Takagi. Dengan ibu jari kanannya Takagi mengusap sisa air mata yang masih melekat di pipi Keiko.
“Jangan menangis lagi. Berjanjilah padaku. Ini kali terakhir kau menangisi pria itu”. Bisik Takagi.
Wajah mereka sangat dekat. Takagi dapat merasakan aroma sake dari hembusan nafas Keiko. Mata Takagi memandang bibir ranum Keiko yang begitu menggodanya. Dengan sekuat tenaga ia menahan keinginannya untuk mengecuup dua benda kenyal itu.
“Istirahatlah. Besok pagi-pagi sekali aku akan datang lagi. Apakah kau bisa berjalan ke kamar mu?”
“Kepalaku agak pusing." Keluh Keiko.
Tanpa meminta persetujuan dari Keiko, Takagi berinisiatif menggendong Keiko dalam dekapannya. Keiko yang terkejut, refleks tangannya merangkul leher Takagi dengan erat. Disandarkannya kepala pada bahu pria itu. Dari dekat Keiko dapat melihat pahatan wajah Takagi yang begitu sempurna. Bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya menambah ketampanan pria itu. Takagi berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu kayu berwarna coklat.
“Apakah ini kamarmu?”
“Iya.” Jawab Keiko lirih. Takagi membuka pintu kamar dengan menekan knop pintu menggunakan sikunya. Pintu terbuka. Sebuah ruang tidur utama yang cukup luas berwarna krem menghadirkan nuansa hangat dan nyaman menyambut kedatangannya. Dengan hati-hati Takagi membaringkan tubuh Keiko di atas ranjang yang berwarna senada.
“Istirahatlah. Tidurlah dengan nyenyak. ” Takagi mengecup kening Keiko dengan hangat. Ia berniat menarik selimut untuk menutupi tubuh Keiko, tetapi langkahnya tertahan dengan genggaman tangan Keiko di lengannya.
“Aku juga mencintaimu”. Ucap Keiko tiba-tiba dengan suara yang hampir tidak terdengar. Ada rasa tidak rela yang menghampiri hati Keiko begitu Takagi hendak meninggalkannya.
Takagi terkesiap mendengar penuturan Keiko.
“Ucapkan sekali lagi.”
“Watashi mo daisukidesu, Fujimaru-san.(Aku juga mencintaimu, Fujimaru-san)." Dengan tatapan memuja.
Takagi mendekat ke arah Keiko dan duduk di tepi tempat tidur. Ia meraih pinggang Keiko. Kedua tangan Keiko merangkul leher Takagi. Wajah mereka sangat dekat. Keiko dapat merasakan hembusan nafas Takagi di wajahnya. Aroma mint yang keluar dari rongga mulut pria itu, begitu sangat disukainya.
Dengan lembut Takagi mengecuup ke dua biibir milik Keiko. Keiko mengatupkan kedua matanya menikmati cumbuuan Takagi padanya. Merasa tidak mendapat penolak dari Keiko, Takagi meraup wajah Keiko dengan kedua tangannya, untuk memperdalam ciuuman mereka. Keiko memberi akses agar Takagi bisa leluasa menjelajahi seluruh rongga mulutnya. Ciuuman itu berlahan mulai memanas. Takagi melepas ciuumannya. Kecupannya beralih ke leher Keiko hingga belakang telinga wanita itu. Desaahan halus dari mulut Keiko menambah gejolak di hati Takagi. Sudah lama ia tidak merasakan dorongan asmara yang begitu kuat. Sejak pertikaian bersama mantan istrinya yang berakhir dengan perceraian, Takagi tidak pernah melakukan hal itu lagi dengan wanita manapun. Keinginannya ia alihkan dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Begitu juga dengan Keiko. Sejak Geo meninggalkannya dengan luka yang menganga, tidak terpikirkan olah Keiko akan melakukannya lagi. Keiko tidak menyangka saat ini, dia sangat menginginkan pria itu menyentuhnya.
Perlahan Takagi membawa Keiko untuk merebahkan tubuhnya di ranjang. Takagi naik ke atas ranjang dan membuat tubuh Keiko berada dalam kungkungannya.
...****************...
Fuihhh.. Part yang berat menurutku. Maaf atas keterlambatan update. Jujurly, bab ini sangat berat. Part romance bukan kemahiranku. But, bab ini harus up, cause ini part terakhir buat Takagi - Keiko.. 🤭. Terimakasih buat Thorball yang sudah membantuku buat rombak abis dari naskah awal .. 😩. Next tinggal beberapa bab lagi, LFM menuju end..🏃🏃🏃