
Pukul 12 malam Yana baru saja sampai di rumahnya.
“Nyonya sudah pulang. Mau aku siapkan makan malam ?” Kawasaki kepala pelayan rumah Nobou menyambut Yana di depan pintu.
“Tidak usah Saki, aku sudah makan.”
“Kalau begitu apa Nyonya mau disiapkan air panas untuk mandi?”
“Boleh. Aku lelah sekali. Berendam dengan air panas, rasanya sangat menyegarkan.”
“Baik Nyonya. Aku akan segera meminta Mei menyiapkan untuk Anda.”
Kawasaki meminta izin undur diri pada Yana.
Sepeninggal Kawasaki, rumah besar dan mewah itu terasa begitu sepi. Sekretarisnya Amaya ia izinkan pulang begitu Yana menginjakkan kaki di rumah. Memindai pandangan ke seluruh ruangan, Yana menghembuskan nafas kasar membuang kehampaan yang tiba-tiba menyelimuti rongga dadanya.
Memilih menaiki tangga utama ketimbang lift, Yana tiba di lantai 2 rumahnya. Berjalan berlahan di lantai yang dikhususkan untuk ruang pribadi bagi pemilik rumah. Begitu tiba di depan pintu kamar tidurnya, tangan Yana menggantung begitu hendak menyentuh handle pintu. Pandanganya beralih pada kamar yang ada di pojok lorong. Ruangan yang sudah lama tidak ada penghuninya, setelah empunya kamar memutuskan keluar dari rumah mereka. Yana menunda keinginannya untuk segera beristirahat. Ia melangkah menuju tempat itu.
Krieet..
Ruangan gelap menyambut Yana begitu pintu kamar terbuka. Yana mencari tombol lampu yang berada tak jauh dari pintu masuk.
Ting..
Lampu menyala begitu tombolnya di sentuh Yana. Cahaya lampu memancar ke seluruh ruangan, memperlihatkan keadaan kamar yang sesungguhnya. Kamar itu masih sama seperti dahulu, ketika Yusa masih anak-anak. Yang berubah hanya beberapa furnitur yang berganti seiring pertumbuhan pemilik kamar yang semakin besar. Yana berjalan menuju ranjang milik Yusa. Mendudukkan bokongnya di kasur empuk itu. Menyapu coverbed dengan telapak tangan kanannya, Yana merasakan tidak ada sebutir debu pun melekat di sana. Menandakan pengurus rumahnya merawat ruangan itu dengan baik. Membersihkan secara berkala, walaupun sang penghuni berada entah di mana. Yana membaringkan tubuhnya di kasur. Rasa lelah yang menumpuk di pundaknya seakan terobati dengan kenyamanan yang dihadirkan oleh kasur kualitas terbaik milik Yusa. Mata Yana menerawang ke atas langit-langit kamar.
Angannya melayang kekejadian beberapa jam yang lalu. Keinginan Benjiro yang enggan berpisah dengannya. Bukan karena pria itu mencintainya dengan sepenuh hati, tapi karena ketakutan pria itu akan jatuh miskin apabila berpisah dengannya. Kekayaan yang mereka dapatkan apakah karena faktor keberuntungan semata atau disebabkan kerja keras mereka berdua? Percaya atau tidak, ramalan itu telah menuntun mereka untuk menyatu. Keberuntungan demi keberuntungan selalu menaungi kehidupan mereka setelah itu. Namun setelah dunia berada dalam genggaman mereka, apakah kebahagian telah mereka dapatkan ? Entahlah. Yana juga tidak tahu, apa hakikat dari kebahagiaan itu.
Suara tawa dan canda jarang sekali ada di rumah mereka. Bahkan bisa dikatakan sebagai sesuatu yang langka. Kehidupan asmaranya bersama Benjiro pun tidak begitu hangat. Pria itu hanya mendatanginya bila ia ingin. Apakah Benjiro pernah mencintainya dengan sepenuh hati? Entahlah. Yana lupa kapan terakhir pria itu mengucapkan kata cinta. Bahkan diakhir kegiatan panas mereka, Benjiro tidak pernah mengatakannya. Disela-sela teriakan kenikmatan pun, kata cinta tidak pernah keluar dari bibir pria itu. Sampai kapan aku menjalani kehidupan seperti ini? Apakah aku sanggup hidup miskin jika memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami ? Hati Yana dilanda dilema.
Hubungan dengan anak-anaknya juga bisa dikatakan tidak begitu dekat. Hikari menjadi penyuka sesama jenis. Sungguh itu kejutan yang menyakitkan. Yusa... Ahh Yusa. Anak lelakinya itu sangat misterius bagi Yana. Barangkali karena Yana terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Hingga ia tidak pernah mengikuti perkembangan kedua buah hatinya. Pengasuhan anak-anak banyak diserahkan pada Benjiro yang dibantu oleh para nani yang mereka pekerjakan.
Yana bangkit dari posisinya. Ia menuju meja belajar milik Yusa. Menarik kursi belajar dan mendudukinya, Yana memindai satu persatu penghuni perkakas itu. Menilik beberapa jenis buku yang terdapat di sana. Ada buku-buku tentang kulinary. Yana tersenyum melihat deretan buku masak memasak itu. Setahu Yana, putranya Yusa memang sangat tertarik dengan dunia kulinary dan bercita-cita menjadi seorang chef. Itulah yang menyebabkan pertengkaran hebat antara Yusa dengan sang ayah, yang berujung Yusa pergi dari rumah. Pandangannya berhenti pada beberapa buku arsitektur.
“Sejak kapan Yusa tertarik dengan dunia rancang bangunan?” Hal ini membuat Yana tak percaya. Buku-buku itu pasti bukan milik Yusa.
Pandanganya berpindah pada laci meja yang berada di sebelah kiri bawah meja. Yana menarik kotak kecil itu. Sebuah buku catatan bersampulkan menara Tokyo tampak tersimpan rapi di sana. Rasa ingin tahu Yana menyeruak. Diambilnya buku itu. Lembaran pertama buku itu membuat kening Yana berkerut. Tertulis nama Ren Takahashi di lembaran pertama buku.
“ Buku siapa ini? Kenapa ada di meja putraku? Siapa Ren Takahashi?”
Tok .. tok .. tok ..
“Nyonya, air panas sudah saya sediakan. Anda bisa mandi dan berendam di bath up dengan aromaterapi kesukaan, Nyonya."
“Baiklah, Mei. Aku akan segera ke sana.”
Yana bangkit dari duduknya, ia menutup buku catatan itu dan membawanya keluar dari kamar Yusa.
Setelah mandi dan berendam selama satu jam, Yana meneruskan membaca buku catatan pria yang bernama Ren Takahashi itu.
Tubuh Yana melemas, mengetahui kenyataan yang diungkapkan Ren. Hatinya teriris. Naluri keibuannya terasa tersentil. Di manakah ia selama ini ? Masih layakkah ia di panggil dengan kata ibu?
"Yusa, di manakah kau saat ini, Nak?" Mata Yana mengembun. Air mata menetes di pelupuk matanya.
"Maafkan Ibu. Maafkan Ibu..." Yana menangis sesegukan. Tubuh dan bahunya bergoncang. Hatinya hancur.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Akibat ketidakhadiran dirinya dalam perkembangan kedua buah hatinya, anak-anaknya menjadi korban. Masih adakah waktu untuk memperbaiki semua ?
...****************...