Looking For Murder

Looking For Murder
Hikari Di Hotel Prodeo 1



Kita kembali ke sidang putusan kasus penganiayaan berat yang direncanakan dengan terdakwa Hikari Nobou.


“Menimbang terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya dan kooperatif selama proses penyidikan dan penyelidikan berlangsung. Mengingat terdakwa masih berusia muda dan mengakui kesalahannya. Memutuskan terdakwa Hikari Nobou dengan hukuman 3 tahun penjara.”


Tok tok tok... Hakim mengetukkan palu kebesarannya ke meja sidang.


“Bagaimana saudara penuntut hukum ?”


“Kami pikir-pikir dulu, yang mulia.” Jawab Jaksa.


"Saudara pembela ?"


“Kami akan konsultasikan dahulu pada klien kami, yang mulia.” Jawab Teramae.


“Baik. Keputusan kalian kami tunggu selama 14 hari ke depan. “ Tok tok tok.


Begitu majelis hakim menutup sidang, dan meninggalkan ruang sidang, Hikari segera digiring oleh beberapa orang aparat menuju mobil kejaksaan. Rencananya hari itu, ia langsung akan menginap di hotel prodeo.


“Ibu...!!” Seru Hikari pada Yana yang langsung mengejar putrinya.


“Pak. Tunggu sebentar. Berikan kesempatan pada Ibunya untuk berbicara. “ Teramae menahan tubuh Hikari yang sedang digiring oleh petugas.


“Nanti saja di lapas. Keluarga akan diberikan kesempatan untuk bertemu terpidana.” Ucap seorang petugas.


“Ayolah Tuan. Berperikemanusiaanlah sedikit. Dia bukan seorang pembunuh berdarah dingin. Bukan juga seorang terooris yang mengancam keamanan negara. Kenapa sikap kalian terlalu berlebihan?” Protes Teramae.


“Baik. 2 menit. Tidak lebih.” Ucap petugas yang lebih senior. Yana segera mendekati Hikari dan memeluk putrinya itu.


“Ibu bantu aku.”


“Tenang ya, Nak. Kita akan berjuang hingga akhir. Bersabarlah. “


“Iya, Bu. Aku percaya padamu.”


“Nanti kita akan bertemu di lapas, Nona. Kita bahas nanti semua di sana.” Hikari mengangguk.


“Sudah dua menit. Ayo..”


Sora, apa kabarnya? Rasa rindu seketika menggelayut di relung hatinya. Sejak peristiwa naas itu, ia sudah tidak berjumpa sang kekasih. Ditambah lagi dengan hukuman 3 tahun yang harus ia jalani, sanggupkah ia melewati hari-hari yang pasti akan terasa menyiksa.


Beberapa puluh menit berlalu. Hikari tiba di lapas wanita. Begitu ia turun dari mobil, Teramae beserta ibunya juga tiba di sana.


“Kau akan baik-baik saja, sayang. Percayalah pada Ibu. “ Yana memeluk putrinya sesaat sebelum Hikari masuk ke selnya.


“Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk membebaskanmu. Selain kita bisa mengajukan banding, kasasi, peninjauan kembali. Kita juga bisa mengajukan pembebasan bersyarat¹ jika kau telah menjalani 2/3 dari masa hukuman.”


"Harus menunggu dua tahun baru aku bisa mengajukan pembebasan bersyarat? Aku tidak sanggup, Tuan Teramae.. “ Ucap Hikari dengan tatapan dingin. " Aku tidak mau tahu. Segera ajukan banding."


"Akan aku kerjakan, Nona."


Sebelum menempati selnya, Hikari diharuskan melakukan beberapa prosedur, termasuk meninggalkan semua yang ia kenakan dan mengganti dengan seragam penghuni lapas. Barang-barang tersebut akan diserahkan kembali padanya apabila ia telah selesai menjalankan hukumannya.


Hikari kemudian ditempatkan di sel wanita bersama dengan dua orang napi lainnya.


Penjara di Jepang tidak penuh sesak dan terawat dengan baik. Tahanan diperlakukan sama, menerima jumlah makanan yang sama, memakai seragam yang sama. Hampir tidak ada kekerasan antar tahanan. Tidak ada pembunuhan balas dendam dan tidak ada pemerkoosaan. Keadaan begitu damai sehingga biasanya hanya ada satu penjaga yang menjaga 40 tahanan.


Kehidupannya di penjara baru saja dimulai. Hikari harus membiasakan diri dengan semua aturan ketat tembok penjara. Penjara di Jepang diatur dengan baik dan kaku. Ketika sampai di sana, Hikari mendapatkan panduan besar tentang bagaimana berperilaku. Seperti cara berjalan, berbicara, makan, duduk dan tidur. Saat makan harus melihat ke bawah, ketika tidur wajib dengan wajah diperlihatkan.


Mandi pun hanya diperbolehkan beberapa kali seminggu dengan pengawasan penjaga.


Jika melanggar, tentu saja akan mendapat hukuman. Yang paling umum adalah hilangnya hak istimewa untuk waktu rekreasi, akses TV, dan hilangnya pekerjaan yang paling diinginkan.


Hampir semua narapidana bekerja, baik dalam pemeliharaan penjara atau sebagai pekerjaan kontrak untuk perusahaan swasta, selama enam hari seminggu. Tergantung pada penjaranya, semua tahanan bekerja baik secara internal maupun eksternal untuk perusahaan yang memiliki kontrak dengan pemerintah. Gajinya sangat rendah, hanya satu sen per jam. Namun bagi para napi hal tersebut dipandang sebagai kesempatan yang bagus untuk melihat dunia luar.


Sebagai narapidana baru, Hikari dilibatkan dalam hal pemeliharaan penjara, berupa bersih-bersih halaman penjara, hingga membantu di dapur penjara, sesuai jadwal harian yang telah ditentukan.


Kehidupan yang tenang sekaligus menyiksa bagi Hikari. Dia harus menanggung rindu yang teramat sangat pada Sora sang kekasih. Chatting hanya diperbolehkan siang hari. Itu pun hanya bisa ia lakukan disela kesibukan kerja hariannya, pada saat jam istirahat. Kunjungan dari kerabat hanya boleh selama 5 hingga 30 menit. Pengunjung yang diperbolehkan hanya keluarga atau pengacara. Tidak ada kunjungan suami-istri,


pengantin atau pacar, apalagi kamar cinta.


🪴🪴🪴


¹ Menurut undang-undang pembebasan bersyarat dapat diajukan jika terpidana telah menjalani 2/3 dari masa hukumannya. Dan vonis yang dijatuhkan minimal 9 bulan. Jika vonis yang dijatuhkan hakim atas suatu perkara pidana dibawah 9 bulan, maka pembebasan bersyarat tidak dapat diajukan.