Looking For Murder

Looking For Murder
Sayang, Sterilkan Aku...



Setelah mengunjungi makam, Takagi mengajak Keiko singgah di restoran mungil yang ada di Hozenji Yokocho. Di namakan Hozenji Yokocho karena lorong selebar 4 meter ini merupakan akses masuk menuju kuil Hozenji. Hozenji Yokocho menyambut mereka dengan papan nama yang ditulis oleh Kanbi Fujiyama.



60 toko berjejer di sepanjang gang sempit berbatu, memberikan suasana nostalgia. Ada banyak bar izakaya, dan restoran di sana. Di malam hari, jalanan dan rambu-rambu diterangi dengan lampion.



Karena hari masih siang, tidak banyak restoran yang buka. Mereka masuk ke sebuah restoran seafood yang kebetulan sudah siap menerima pelanggan. Memesan menu teishoku, yang mencakup semangkuk nasi, beberapa lauk utama, dan sup atau makanan penutup.



"Sayang, sebentar. Aku ke toilet dulu." Takagi pamit ke belakang.


"Baiklah. Jangan lama-lama."


"Iya. Aku tidak akan lama."


Sambil menunggu Takagi dan pesanan mereka datang, Keiko menyibukkan diri dengan ponselnya. Sementara itu Takagi masuk ke dalam toilet yang terletak di belakang dapur. Ruang pembuangan kotoran itu, di dalamnya ada dua bilik. Satu untuk pria dan satu untuk wanita. Takagi masuk ke bilik pria dan segera menuntaskan dorongan alamiahnya. Begitu selesai, ia segera keluar dari dalam bilik. Betapa terkejutnya Takagi, seorang wanita yang sangat ia kenal telah berada di ruangan yang sama dengannya. Wanita itu bersandar pada pintu toilet yang tertutup.


"Rosanne? Apa yang kau lakukan di sini?"


"Tentu saja menunggumu."


"Minggir, aku mau lewat." Takagi berusaha meraih handle pintu yang berada di belakang tubuh Rosanne.


"Ai. Aku sangat merindukanmu." Rosanne merapatkan tubuhnya ke tubuh Takagi. Tangannya menyentuh daada Takagi dan mengusap-usapnya.


"Jangan menyentuhku." Ucap Takagi pelan. Takagi menghempaskan tangan Rosanne dari tubuhnya. Rosanne tidak memperdulikan perkataan Takagi, ia mendorong tubuh Takagi ke dinding dan mencium pria itu dengan paksa.


"Mmmm.. Apa yang kau lakukan !!" Takagi mendorong tubuh Rosanne. Ia menghapus bekas bibir Rosanne dengan telapak tangannya.


"Ai. Aku sungguh merindukanmu. Teramat sangat. Aku melihatmu bersama dengan seorang wanita di pengadilan. Kalian terlihat begitu akrab. Aku cemburu, Ai. Aku segera pergi dari sana setelah vonis dibacakan. Tapi, aku melihatmu membawa wanita itu ke makam putri kita. Aku tidak tahan lagi. Hingga aku mengikutimu sampai ke sini." Rosanne menumpahkan semua sesak di daadanya sambil melepaskan blazer yang ia kenakan."


"Kisah kita telah usai. Kau tidak berhak mengganggu kehidupan pribadiku. Minggir. Kekasihku sedang menunggu." Takagi melangkah ke arah pintu. Namun Rosanne cepat menarik tangan pria itu.


"Aku mohon, puaskan aku kali ini saja, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi. Izinkan aku mengandung benihmu sekali lagi. " Rosanne mendekat sambil membuka satu-persatu pakaian yang dikenakannya. Hingga menyisakan lingeerie tembus pandang berwarna putih di tubuhnya.


"Kau sudah gila, Rosanne." Takagi berkata sambil menggerakkan giginya.


"Aku memang sudah tergila-gila padamu, Ai." Dengan suara yang dibuat mendesah. "Ai, sudah lupakah kau dengan ini ?" Rosanne menyentuh daadanya yang berisi dan mereemas-reemasnya. "Dulu ini bagian tubuh favorit mu."


"Astaga !! Aku bisa gila." Takagi memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. "Kenakan kembali pakaianmu, Rosanne !!"


"Ai, aku mohon. Sebentar saja." Meraba dada Takagi sambil melepaskan kancing kemeja pria itu. Hingga dua kancing bagian atas pun terlepas. Telapak tangannya segera menyusup ke daada bidang milik Takagi.


"Hentikan kegilaan ini !!." Tidak ingin kejadian itu terus berlanjut, Takagi terpaksa mendorong tubuh Rosanne dengan kuat hingga jatuh terjerembab ke lantai. Bergegas ia membuka pintu, dan meninggalkan wanita itu.


"Aiiiii. Jangan tinggalkan aku...!!" Rosanne terduduk di lantai toilet sambil memeluk daadanya. Air matanya menetes. Rasa penyesalan yang datang terlambat. Segala usaha telah ia lakukan, hingga menjatuhkan harga diri sejatuh-jatuhnya, demi Takagi kembali dalam pelukannya. Namun semua sia-sia. Tak sedikitpun Takagi menoleh kembali padanya. Pria itu terlalu jauh untuk bisa diraih kembali.


Tanpa memperdulikan teriakan Rosanne, Takagi segera berlalu dari tempat itu.


"Sayang. Ayo kita pergi dari sini." Keiko yang sedang asik dengan ponselnya, terkejut mendapati Takagi datang terburu-buru dengan wajah memerah.


"Lho? Kenapa ? Pesanan kita baru saja datang."


Takagi kemudian memanggil pelayan. Seorang pelayan datang begitu ia mengangkat tangannya. Pelayan itu segera melakukan apa yang diminta Takagi.


"Sayang. Ada apa dengan kemejamu?" Sungguh mengherankan bagi Keiko, Takagi yang masih mengenakan dasi di lehernya, bisa melepaskan dua kancing kemeja bagian atas.


"Astaga. Aku lupa. Tadi ada serangga besar masuk ke dalam bajuku." Segera Takagi mengancingkan kembali kemejanya yang terbuka.


Sementara pelayan membungkus makanan mereka, Takagi kemudian melakukan pembayaran.


"Biar aku saja yang bawa." Keiko berinisiatif mengambil bungkusan yang diserahkan oleh pelayan.


Tak menunggu lama, mereka segera meninggalkan tempat itu. Dengan menggandeng erat tangan Keiko, Takagi membawa wanitanya menuju tempat parkir mereka di stasiun Namba.


Selama dalam perjalanan pulang, Takagi tidak sedikitpun bersuara. Ia menyetir dalam diam, Sambil memijat-mijat pelipisnya


"Kau kenapa ? Apa telah terjadi sesuatu? Tingkahmu aneh begitu kembali dari toilet." Keiko memecah kesunyian di antara mereka.


"Sebentar lagi kita sampai di apartemenmu. Nanti akan aku ceritakan semua."


"Baiklah kalau itu maumu."


Kesunyian kembali menyelubungi mereka.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di apartemen Keiko. Dengan menaiki tangga mereka menuju unit milik Keiko. Begitu tiba di unitnya, Keiko membuka pintu dan mempersilahkan Takagi untuk masuk.


"Masuklah. Aku akan menyiapkan makan siang kita." Keiko berjalan ke ruang makan. Ia meletakkan bawaannya di atas meja makan, kemudian berjalan ke arah kitchen set, mengambil peralatan makan.


Sambil mengikuti langkah Keiko, Takagi melepas jas dan dasi yang terasa sangat mencekik. Melempar kedua benda itu ke sofa. Mendekat ke arah Keiko yang berada di kitchen set, Takagi memeluk tubuh Keiko dari belakang. Erat. Menghirup wangi ceruk leher wanita itu. Tindakannya sukses membuat tubuh Keiko menegang. wanita itu memejamkan matanya. Menikmati kecuupan Takagi yang turun ke bahunya.


"Sayang, tolong sterilkan aku."


"Ada apa denganmu?" Keiko memutar tubuhnya. Pandangan mereka bertemu.


Tidak menjawab pertanyaan Keiko, Takagi meraup wajah keiko. Mengecup rakus bibir wanita itu, hingga mereka kehabisan nafas. Ia menaikan tubuh Keiko ke counter table pada kitchen set. Ciuumannya turun ke leher jenjang Keiko. Desaahan pelan keluar dari bibir wanita itu. Tangan Takagi bergerilya ke dalam blus Keiko, naik ke punggung, melepas pengait yang menahan gunung Fuji milik Keiko. Mengusap perut, kemudian naik sedikit ke atasnya. Tangan besar itu kini telah berada di kaki gunung. Sementara tangan yang lain, masuk ke dalam celah celana yang dikenakan Keiko.


"Hentikan." Keiko menjauhkan tubuh Takagi darinya.


"Sayang.. " Wajah Takagi memerah, menahan sesuatu yang terasa sesak di bawah sana.


"Kita akan melakukannya di sini?"


"Kenapa? Meja ini cukup kuat menahan tubuh kita. "


"Tapi aku ingin di kamar." Ucap Keiko malu-malu.


"Di sini saja sayang." Takagi kembali mendekat. Tangannya kembali menyusup masuk ke dalam blus Keiko. Keiko menarik kedua tangan nakal Takagi.


"Aku akan membiarkan kau membuka semuanya, jika kau membawaku ke kamar." Keiko melemparkan senyuman sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kamu nakal ya.." Takagi segera menggendong Keiko. Dengan langkah cepat ia membawa Keiko menuju kamar. Keiko tertawa, sambil merangkul leher kokoh Takagi.


...****************...


Hayoo mau ngapain. Puasa oii puasa... Cukup sekali dan terima gaji... 🚴🚴🚴