Looking For Murder

Looking For Murder
Tidak Boleh Ada Orang Ketiga, Karena Yang Ketiga Itu...



“Detektif !!!” Dari kejauhan kaoru datang sambil setengah berlari. Takagi dan Keiko yang hendak menaiki mobil, mengurungkan niat mereka.


“Dari mana saja kau. Jam segini baru datang .” Ucap Takagi dengan wajah yang dibuat kesal.


“Maafkan aku. Aku baru saja mengantar Sora untuk bertemu terapisnya. Setelah itu aku langsung ke sini. Bagaimana sidangnya? “ Karena kondisinya yang mengalami trauma berat, Sora dipaksa Kaoru untuk memeriksakan diri ke seorang psikiater. Kaoru rutin mengantar dan menjemput Sora tiga kali seminggu.


“Sidang sudah selesai. 20 tahun vonis hakim pada Ren.”


“Cuma 20 tahun? Kenapa tidak hukuman mati saja sekalian?”


Bukannya menjawab pertanyaan Kaoru, Takagi mengalihkan pembicaraan mereka ke hal yang lebih menarik. “Tunggu sebentar. Kau ada hubungan apa dengan Dokter Sora ?"


“Ehh. Hubungan apa? Kami tidak ada hubungan apa-apa kecuali pertemanan.” Jawab Kaoru kikuk.


“Ahh... Aku tidak percaya. Jangan-jangan sejak malam itu kalian melanjutkan ke...”


“Stop berprasangka yang tidak-tidak, Detektif!!”


“Hei !!. Memangnya aku salah. Aku Cuma membaca situasi yang ada. Menurut rumor yang beredar, kalian terlihat sangat akrab di setiap kesempatan bahkan sampai saat olah TKP. “ Kaoru terlihat semakin kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat gatal.


“Ha ha ha.. Hayo kau mau jawab apa?”


“Detektif. Bisa saja meledekku. Demi Tuhan. Untuk saat ini, hubungan kami masih sebatas pertemanan. Tidak lebih.”


“Tapi ada kemungkinan untuk lebih pada suatu saat kan?”


“Aku tidak tahu.” Jawab Kaoru murung.


“Kau ini. Belum apa-apa sudah menyerah. Kalau kau memang suka, kenapa tidak kau perjuangkan ?”


“Aku tidak tahu, apakah Sora juga menyukaiku atau tidak.”


“Kenapa tidak kau tanyakan sendiri?”


“A aku... “


“Berjuang Letnan. Setahuku Sora belum punya kekasih.” Timpal Keiko kemudian.


“Benarkah, Dokter?”


“Hu um. Semangat!!” Keiko mengepalkan tangan dan mengangkatnya sebatas bahu.


“Terimakasih Dokter."


“Baiklah. Kami tunggu kabar baik dari mu.” Takagi membuka pintu mobilnya, begitu pun Keiko membuka pintu penumpang sebelah kemudi.


“Kami ada urusan sedikit.”


“Kalian tidak mengajakku?” Kaoru menahan pintu mobil yang akan ditutup oleh Takagi dengan tangannya.


“Tidak. Ini urusan pribadi. Tidak boleh ada orang ketiga. Karena yang ketiga itu...”


Bruk.. Takagi mendorong tubuh Kaoru yang menghalangi pintu dan segera menutupnya dengan cepat. Kemudian menyalakan mesin mobil.


“Hei... !! Yang ketiga itu apa ?!!” Teriak Kaoru sambil menggedor-gedor pintu mobil Takagi yang sudah tertutup. Mobil Takagi berlahan mundur, begitu keluar dari slot parkir miliknya, kaca pintu mobil Takagi pun turun berlahan.


“Yang ketiga itu... SETAN !!!” Mobil Takagi langsung meluncur dengan cepat meninggalkan kaoru yang terkejut mendengar perkataan Takagi.


“Aku setan dong. Sialan !!!” Kaoru mengumpat sendiri sambil menendang sebuah batu kerikil yang ada di hadapannya.


🧸🧸🧸


20 menit berlalu, mobil Takagi berhenti di lahan parkir stasiun Namba. Dengan berjalan kaki selama beberapa menit mereka sampai di kawasan kuil Hozenji*. Dengan bergandengan mereka berjalan menuju samping kuil, setelah sebelumnya membeli beberapa tangkai bunga.


“Kita mau ziarah?” Takagi hanya menjawab pertanyaan Keiko dengan senyuman.


Memasuki kawasan makam yang tampak tenang, mereka menyusuri jalan paving blok yang bersih. Hembusan angin sepoi-sepoi dan kicauan burung menambah suasana damai. Tiba di depan sebuah makam Takagi menghentikan langkahnya. Ia melepaskan genggaman tangannya pada Keiko. Makam itu sangat terawat. Ada seikat bunga segar yang terletak di sana. Sepertinya seseorang telah mengunjungi makam sebelum mereka. Sejenak Takagi berfikir, siapa yang baru saja berkunjung ke makam? Apakah Rosanne? Tapi sejauh mata memandang, ia tidak melihat sosok wanita itu di sana. Mengabaikan sementara pikirannya terhadap mantan istrinya itu, Takagi memilih menyapa putrinya terlebih dahulu.


“Halo sayang. Papa datang. Maaf Papa baru bisa datang sekarang.“ Kemudian ia meletakkan bunga yang dibawanya di atas makam. “Sayang. Papa sangat merindukanmu.” Takagi berdiri di depan makam sambil menundukkan kepala. Tak terasa, butiran cairan bening menetes di sudut matanya. Hening tanpa ada kata yang terucap kemudian. Keiko dengan sabar menunggu di belakang Takagi. Lamunan Keiko melayang ke beberapa waktu yang lalu, di saat mereka belum memiliki status apa-apa. Bagaimana pria itu mencurahkan rasa kehilangannya atas kepergian sang putri (bab 25).


“Sayang kemarilah..” Takagi meraih tangan Keiko untuk lebih mendekat.


“Kenalkan ini Siera putri kecilku yang cantik. Sayang papa, ini teman dekat papa. Namanya Keiko. Dia seorang dokter. Cantik kan ?. Dia Dokter yang baik. Kau pasti akan menyukainya.”


“Halo cantik. Aku kitagawa Keiko. Panggil saja Keiko. Senang berkenalan dengan mu.” Keiko membungkukkan sedikit tubuhnya.


Takagi bercerita pada makam putrinya, bahwa ia bahagia bersama Keiko. Dan meminta izin dalam waktu dekat ia akan menikahi wanita itu. Apa yang dilakukan Takagi membuat hati Keiko menghangat. Rasa sayang Takagi pada putrinya yang telah tiada menambah keyakinan hati Keiko, bahwa ia tidak salah memilih dan menjatuhkan hatinya pada polisi muda itu. Harapannya sangat besar akan memiliki keluarga yang bahagia ke depannya. Setelah pengalaman buruknya, ia sempat berpikir untuk tidak pernah menikah lagi. Namun setelah semakin dekat dengan Takagi, ia harus berpikir ulang kembali atas keputusan yang hendak diambilnya itu. Keiko pernah merasakan kehidupan pernikahan yang tidak ada kebersamaan di dalamnya. Ia dan mantan suaminya terikat dengan tali pernikahan, tetapi meraka sering hidup terpisah. Kata menikah hanya sebatas formalitas semata.


🌹🌹🌹


Kuil Hozenji yang terletak di kawasan Namba, Osaka ini terkenal dengan patung Budha “Mizukake Fudo-son” yang berlumut dan jalanan “Hozenji Yokocho” yang memberikan suasana tenang. Hozenji awalnya didirikan pada tahun 1637 dan pada saat itu merupakan kuil yang jauh lebih besar dari sekarang. Namun patung itu hancur total oleh serangan udara pada perang dunia tahun 1945. Hanya patung Buddha Fudo-son lah yang masih tersisa.Patung Buddha yang menghadap ke barat “Nishi-muki Fudo-Myoou” memiliki sejarah hampir 400 tahun, tetapi baru setelah perang patung ini disebut dengan “Mizukake Fudo-son” atau “Mizukake Fudo-san.” 水掛 / Mizukake” mempunyai arti : memercikkan air.



Konon, suatu hari ada seorang wanita yang memercikkan air ke patung dan berdoa untuk memenuhi keinginannya. Kabarnya setelah itu keinginannya dikabulkan. Sejak itu, lebih banyak orang mulai memercikkan air ke patung tersebut, membuat patung tersebut menjadi berlumut.


🍄🍄🍄


Yang komentar Takagi mengajak Keiko ke makam putrinya, anda benar sekali 🤭. Garing banget ya ? Bisa di tebak. Ya sudahlah, ada satu bab lagi berkenaan dengan kuil Hozenji, wait masih aku edit dikit.. 🚴🚴🚴