
Pukul 5 pagi waktu Dubai.
Yana yang sedang tertidur dalam pelukan penyedap rasanya, merasa terganggu dengan bunyi ponsel yang terletak di atas nakas ranjang mereka.
“Baby, kenapa ponsel mu berisik sekali”.
“Itu bukan nada dering ponselku, Nyonya”.
“Benarkah?” Yana memejamkan matanya kembali setelah ponsel berhenti berbunyi. Baru saja matanya terpejam, benda pipih itu berbunyi kembali.
“Ponsel siaalan”. Umpaat Yana.
“Sebaiknya kau angkat, Nyonya. Siapa tau penting”.
“Aku malas sekali untuk mengambilnya”.
“Ya sudah, aku saja yang mengambilnya”. Shuji kemudian menjangkau ponsel milik Yana yang berada di sisi nakas tempat Yana berbaring.
“Dari my princess, Nyonya”.
“Angkatlah”. Shuji menyentuh tombol hijau dan memberikan ponsel itu pada Yana.
Dengan mata yang masih terpejam Yana menjawab panggilan suara itu.
“Ya”. Terdengar seorang wanita berbicara di ujung telepon.
“Ibu, kau di mana?”
“Hikari? Kau kah itu?” Masih dengan mata terpejam.
“Iya Ibu. Ini aku. Kau di mana ?”
“Aku di Dubai”.
“Kapan kau pulang, Bu?”
“Belum tau, sayang. Urusanku di sini belum selesai”.
“Cepatlah pulang, Bu. Aku membutuhkan bantuanmu”.
“Ada masalah apa?”
Hikari menceritakan peristiwa yang telah menimpanya dan sang ayah. Ancaman hukuman yang akan ia terima karena telah meretas CCTV milik kepolisian.
“Kenapa kau mau saja menuruti keinginan Ayahmu !!” Nada suara Yana naik beberapa oktaf. Rasa kantuknya mendadak hilang.
“Ayah mengancam akan menendang ku ke jalanan, Bu. Aku terpaksa melakukannya”.
“Cihh. Hanya demi melindungi pelaacur itu, bisa-bisanya dia mengancam mu begitu. Kau tenang saja. Aku akan menghubungi pengacara Teramae. Dia akan mengurus semuanya”.
“Cepat hubungi dia, Bu “.
“Kau ini bagaimana. Sekarang masih pukul 5 pagi. Nanti saja aku meneleponnya”.
“Ibu. Di Jepang saat ini sudah pukul 10 pagi”.
“Astaga. Baiklah Ibu segera menelepon nya”.
“Ibu, cepatlah pulang". Dengan nada memohon.
“Setelah semua urusanku selesai, aku akan segera pulang. Secepatnya. Kau tenang ya. Aku telepon Teramae dahulu".
“Baiklah, Bu. Aku menunggu mu di sini”.
“Nyonya masih lama kah?” Shuji memeluk tubuh Yana dari belakang dan meletakkan dagunya di ceruk leher Yana.
“Sebentar, Baby. Aku hubungi orangku di Jepang “.
Sementara Yana menghubungi orang suruhannya di Jepang, Shuji sibuk menghujani punggung polos Yana dengan kecupan.
“Baby, sebentar. Kau nakal sekali ya ..”
“Cepatlah Nyonya..".
“Ya sebentar”. Begitu panggilan tersambung, Yana langsung memberondongi orang suruhannya itu dengan makian.
“Maafkan aku Nyonya, seseorang telah menjemput Clarisha sebelum aku. Tuan Benjiro dan Nona Hikari mengejar orang itu beberapa jam kemudian. Menurut berita yang aku dengar, pria itu telah melukai Nona Hikari. Tapi polisi berhasil menemukan mereka”.
“Kau memang bodoh. Kenapa bisa didahului orang lain !!”
“ Ketika aku ke lokasi wanita itu telah pergi. Aku pikir yang menjemput Tuan Benjiro, karena memakai salah satu mobil pribadi milik Tuan”.
“Siapa orang yang melakukan itu”.
“Tuan muda Yusa, Nyonya”.
“Bagaimana mungkin dia melakukannya. Yusa tidak akan seberani itu. Itu bukan Yusa !!"
“Aku mengikutinya sampai ke rumah besar milik keluarga Tuan Benjiro. Itu benar Tuan muda Yusa”.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Aku sudah mencoba menghubungi Nyonya, tapi ponsel Nyonya tidak dapat dihubungi”.
“Astaga. Waktu itu ponselku tidak aktif, aku dalam perjalanan ke Dubai. Aku akan segera kembali ke Osaka. Kau cari di mana keberadaan putraku. Aku tunggu kabar dari mu”.
“Kapan Nyonya tiba di Jepang “.
“Secepatnya. Lakukan saja apa yang aku perintahkan”.
“Baik, Nyonya”.
Panggilan suara itu pun terputus.
“Kenapa pelacur itu tidak mati saja !!” Yana menggeram kesal.
Ia melempar ponsel nya ke sembarang arah. Benda malang itu mendarat di sudut kamar dengan kondisi menyedihkan.
“Apa yang telah terjadi”.
“Seseorang yang mirip putra ku telah menculik Clarisha. Memperkosa wanita itu. Dan melukai putri ku. Kalau si bodoh itu bergerak cepat, putri ku tidak akan menjadi korban. Sekarang putraku akan menjadi tersangka. Nama baik keluargaku sedang dipertaruhkan saat ini. ”
“Nyonya, semua akan baik-baik saja. Tenanglah. Nanti kesehatanmu terganggu”. Shuji mendekap erat tubuh Yana. Ia menciumi belakang leher wanita itu. Menggigit kecil telinga Yana. Yana mendesah. Amarahnya mereda berlahan berganti dengan hasrat yang menggebu.
“Kau memang paling bisa meredakan ku”. Yana memutar tubuhnya menghadap ke Shuji.
“Sudah berapa kali aku bilang, kalau kita sedang berdua begini, panggil namaku saja. Aku sangat menyukai kau meneriakkan namaku ketika di atasku”.
“Baiklah Yana, as you wish dear”.
Yana tersenyum senang. Ia menempelkan bibirnya ke bibir milik Shuji. Mengecup bibir lelaki muda itu dengan sepenuh hati. Shuji meraup wajah Yana dengan kedua tangannya. Membalas kecuupan Yana dengan ciuuman yang dalam dan penuh gairah. Maka terjadilah apa yang mereka inginkan..
...****************...