
Sota yang berkepribadian agresif dan berani, kerap membuat Benjiro sakit kepala. Sikap Yusa yang berubah-ubah itu, kadang tenang, kadang murung dan terkadang suka menghancurkan dan melempar barang, membawa Benjiro untuk memeriksakan putranya kepada seorang dokter anak. Oleh dokter, Yusa disarankan untuk menemui seorang psikiater. Dengan rasa terpaksa Benjiro membawa anaknya menemui psikiater itu. Seorang psikiater muda mendiagnosis Yusa mengidap kepribadian ganda atau dissociative identity disorder*.
Dokter merekomendasikan untuk dilakukan terapi, baik dengan obat-obatan untuk mengurangi kecemasan maupun terapi, yaitu terapi kognitif, terapi keluarga, dan psikoterapi. Tentu saja Benjiro tidak terima. Lebih-lebih diagnosa itu dilakukan oleh psikiater yang masih berusia jauh di bawahnya. Karena menimbang nama baik keluarga yang akan dipertaruhkan jika orang-orang mengetahui Yusa berhubungan dengan psikiater, Benjiro memutuskan hubungannya dengan tenaga kesehatan jiwa itu.
Seiring berjalannya waktu, Yusa kerap kali menghadapi kesulitan-kesulitan karena kerap kali kehilangan waktu dan peristiwa. Maka pada saat berumur 17 tahun, Yusa memberanikan diri menemui Psikiater yang dulu telah mendiagnosanya, dokter Tamaki Saito. Setelah beberapa kali pertemuan, tiap pertemuan ada kalanya Sota yang menggantikan Yusa datang ke psikiater. Sota yang datang menggunakan baju kaus dengan jaket kulit hitam. Dipadu dengan kalung besi putih melingkar di lehernya. Mengenakan jeans robek di kedua lutut dengan sepatu sneaker sebagai alas kakinya. Masuk ke ruangan dokter Saito dengan gaya seenaknya. Untuk menggali informasi dari Sota, dokter Saito harus banyak bersabar. Sota yang agresif dan mudah marah, kerap membanting barang-barang yang ada di ruangan dokter jika ia diminta menceritakan perasaannya pada hari itu.
Ada kalanya Ren yang datang menemui dokter Saito. Ren lah yang banyak menceritakan perihal trauma-trauma yang dialami Yusa. Kesulitan-kesulitan yang Yusa hadapi dalam kehidupannya. Dengan sikap ragu-ragu, pesimis dan rasa tidak berharga dalam dirinya.
Dari sikap dan tutur katanya, dokter Saito melihat Ren sebagai pribadi yang cerdas, sopan, dan penuh percaya diri. Ren mengatakan kepada dokter, bahwa ia adalah anak orang terpelajar yang berasal dari Tokyo, yang datang dari keluarga besar yang bahagia. Ayah, ibu, dan saudara-saudaranya berjumlah banyak sekali. Ia sudah tidak berjumpa dengan keluarganya selama bertahun-tahun. Ia datang memiliki misi mulia yaitu untuk membantu Yusa. Kedua orang tuanya sangat mendukung apa yang Ren lakukan. Ayah dan ibunya akan menjemput jika tugasnya telah selesai dan mereka akan bersama-sama lagi.
Ren menggambarkan Sota sebagai pribadi yang agresif dan destruktif. Sota merupakan penggambaran kemarahan-kemarahan yang terpendam pada diri Yusa atas kekecewaannya pada keluarga terutama ayah dan ibunya. Kebencian yang mendalam terhadap sosok perempuan yang disebabkan oleh ibunya yang tidak pernah mengulurkan tangan untuk membelai dan memeluknya.
Pada pertemuan di bulan ke tiga, dokter Tamaki Saito mengajak Yusa bertemu dengan pribadi – pribadi yang lain dengan cara hipnoterapi. Agar Yusa mengenal mereka yang selama ini sering mencuri waktu-waktunya. Dengan hipnoterapi itu juga, dokter Saito ingin menyamakan usia mereka bertiga. Sota yang baru datang ketika Yusa berusia 7 tahun, dan Ren yang datang terlebih dahulu ketika Yusa berusia 4 tahun, dengan hipnoterapi bisa berusia sama dengan Yusa.
Dengan hipnoterapi ini ingatan-ingatan mereka, juga menjadi ingatan-ingatan Yusa.
“Yusa aku meminta kesediaan anda untuk melakukan hipnoterapi. Aku kira akan banyak membantu jika kita menggunakan hipnotis.”
“Aku bersedia.” Yusa menjawab dengan tenang.
Dalam keadaan yang nyaman. Di kantor dokter Tamaki Saito yang aman bagaikan kandungan ibu, dalam buaian pengaruh hipnotis, Yusa kembali ke masa lalu. Pribadi-pribadi yang lain bergerak mundur, maju – maju sedemikian rupa sehingga tahap demi tahap mereka dapat mencapai usia Yusa. Dokter Saito mengetahui bahwa kesatuan akan mudah untuk dicapai jika mereka semua seumur Yusa. Kehadiran mereka begitu menyatu dengan trauma-trauma di masa lalu dan ketidakdewasaan dalam keseluruhan kepribadian sehingga tidak memungkinkan pemersatuan. Secara alamiah dokter Saito memulai dari Sota yang berusia 11 tahun.
“Apa kabar?” tanya dokter setelah memanggil Sota dalam salah satu acara hipnotis yang pertama. “Anda baik-baik saja?”
“Ya”.
“Anda berumur 11 tahun. Apakah anda mau bertambah besar?”
“Tentu saja. Aku ingin menjadi dewasa dan bisa menyetir sendiri. “
“Apa yang akan kau lakukan dengan menyetir sendiri?”
“Aku ingin berjalan-jalan kemana pun aku ingin.”
“Baiklah. Karena kau akan mulai tumbuh menjadi besar, sekarang adakah yang ingin kau tanyakan padaku sebelum menjadi besar?”
“Apakah setelah besar aku bisa mendapat SIM sendiri?”
“Tentu saja.”
“Apakah setelah besar tidak ada yang akan menyakiti ku lagi ?”
“Tentu. Setelah dewasa kau akan bisa membela diri mu sendiri dan tumbuh menjadi pria yang kuat dan berani.” Dan dengan suara penuh tekanan ia menambahkan “ Tidak ada seorang pun yang akan menyakitimu.”
Kemudian Dokter Saito memanggil Ren.
“Apakah kita akan melakukannya, Ren?”
Hanya ada kesunyian semata. Ahli psikoanalisis** itu berfikir sejenak, kemudian ia mencoba cara lain.
“Ren. Anda satu-satunya yang mengetahui tentang segalanya. Anda adalah gudang kekuatan positif yang ada dalam campuran perasaan Yusa. Bukankah anda sebaiknya berusia sama dengan dia, karena anda mempunyai ingatan tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi selama bertahun-tahun dalam diri Yusa, yang menyebabkan Yusa berusia lebih dari anda. Bukankah itu adil?"
“Membuat umur anda sama dengannya, akan sangat memudahkan dia.” Dokter menerangkan. “Kita lakukan?”
Ren menjawab pelan, “ Andalah dokternya”.
Kemudian, ketika pasien masih berada dalam pengaruh hipnotis, dokter bertanya “ Apakah semua hadir?”
“Tentu.” jawab Sota.
“Kalian semua akan bertambah usia. Kalian akan terus bertambah usia. 15 menit dari sekarang anda semua akan berusia 17 tahun tiga bulan.” Kemudian dia meneruskan usaha sugestinya yang merupakan bagian dari terapi. Ia mengulang dan mengulang lagi. Suaranya berirama menyusun mantra yang memberi pengaruh hipnotis. “ Anda sedang bertambah umur, bertambah, bertambah. Dalam 6 menit lagi anda akan berusia 17 tahun tiga bulan.”
Detik-detik berlalu. Menit- menit lewat. Sambil menunggu, dokter Saito tidak mengetahui bahwa sedang terjadi perubahan yang tiba-tiba merupakan arus yang kuat yang mengaliri aliran indera dan saraf ke 2 pribadi pasien itu.
Pasien tampak tenang. Akhirnya dokter mengatakan, " Kalian semua sudah berusia 17 tahun tiga bulan. Dan tidak ada yang bisa menjadi lebih muda lagi. Kalau kalian terbangun, kalian sekarang berusia 17 tahun 3 bulan. Kalian semua akan seusia. Sekarang kalian sudah boleh bangun. Satu. Kalian akan bangun, dua, dua, dua sekarang bangunlah. Tiga.”
Yusa membuka matanya. Ia dan dokter saling berpandangan.
“Bagaimana perasaan anda?”
“Lebih tenang.” Bisik Yusa. Kemudian ia menambahkan. “ Sekarang saya bisa punya banyak waktu yang bisa saya gunakan dan yang lain juga bisa mengunakannya."
“Tepat sekali. Sekarang pulanglah. Dan anda akan menghadapi hari yang menyenangkan. Kita akan jumpa lagi besok pagi."
Melalui peningkatan usia yang dilakukan dengan acara hipnotis, dokter Saito berharap akan menjadi pondasi untuk mendirikan bangunan integritas. Membuka ke arah Yusa yang asli dan kearah penyembuhannya.
🎏🎏🎏
*Kepribadian ganda adalah kondisi ketika seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Kepribadian ganda disebut juga gangguan identitas disosiatif. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh pengalaman traumatis yang terjadi berulang di masa kanak-kanak. Kepribadian ganda atau dissociative identity disorder (DID) sering kali disamakan dengan skizofrenia, padahal sebenarnya kedua kondisi ini berbeda. Skizofrenia dapat menimbulkan gejala yang memengaruhi pemikiran, perilaku, dan perasaan penderitanya, tetapi tidak memiliki banyak kepribadian seperti pada penderita DID.
Penyebab kepribadian ganda belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat pengalaman traumatis yang berulang di masa kanak-kanak. Pengalaman traumatis tersebut bisa berupa:
🥎 Kekerasan emosional dalam bentuk verbal atau fisik.
🥎 Pelecehan atau kekerasan seksual.
🥎 Pola asuh orang tua yang membuat anak merasa takut.
🥎 Peristiwa tertentu, seperti bencana alam atau peperangan.
🥎 Penculikan atau penyiksaan.
🥎 Kepribadian ganda rentan terjadi pada orang yang keluarganya memiliki riwayat kepribadian.
Pengalaman yang traumatis, sehingga mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) membentuk pribadi-pribadi baru untuk melindungi individu asli.
Defense Mechanism merupakan bentuk respons yang secara tidak sadar dilakukan, digunakan untuk melindungi diri dari perasaan kecemasan, digunakan untuk meningkatkan self-esteem (harga diri) dan hal-hal yang tidak ingin mereka pikirkan atau tangani.
**psikoanalisis secara umum berarti suatu pandangan tentang manusia, dimana ketidaksadaran memegang peranan sentral. Psikoanalisa memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Konflik timbul dari adanya dorongan-dorongan yang saling bertentangan, baik dari dorongan yang di sadari atau tidak disadari.