Looking For Murder

Looking For Murder
Jangan Lepaskan Genggaman Tanganku



Pukul 8 pagi Takagi sudah siuman. Perawat Miu yang mengecek kondisinya, segera memberitahukan pada Dokter Masao yang sedang berada di ruang kerjanya.


"Dokter, Detektif Takagi sudah siuman"


"Benarkah?" Mereka bergegas ke ruang ICU


Di Ruang ICU


"Detektif Takagi, apakah anda mendengarkan aku?"


Mata Takagi berlahan membuka. Pandangan yang awalnya buram, berangsur terang dan jelas.


"Tolong sebutkan nama anda" Tanya Masao kemudian.


"Fujimaru Takagi" Ucapnya lirih


"Anda sekarang berada di rumah sakit Universitas Osaka. Apa anda mengingat kalau anda mengalami luka tusuk?"


"Rumah sakit? Ah iya aku sedang memeriksa keadaan korban. Tiba-tiba ada sesuatu mendorong ku. Ukh.." Takagi berusaha untuk mengangkat tubuhnya.


"Berbaring saja dulu, Detektif. Saat ini anda belum sanggup untuk bangun" Ucap perawat Miu.


"Detektif. Luka dipunggung anda menembus jaringan otot dan lemak. Dan hampir mengenai jantung. Karena pergerakan yang anda lakukan membuat jaringan terbuka yang menyebabkan darah merembes. Anda kehilangan cukup banyak darah"


"Oh. Mungkin, waktu aku menghajar berandalan itu"


"Pendarahan dalam yang terjadi, sudah kami dihentikan. Jaringan otot yang robek juga sudah diperbaiki. Jika kondisi anda membaik dan dan tidak terjadi komplikasi, anda bisa pindah ke ruang rawat inap" Jelas Masao.


"Oh. Begitu. Terimakasih, Dokter"


Setelah diobservasi beberapa waktu, Takagi diperbolehkan pindah ke ruang rawat inap.


Tidak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan yang membutuhkan penanganan khusus pada luka Takagi seperti, pendarahan atau drainase yang tidak berhenti dengan tekanan langsung setelah 5 menit. Demam 38 derajat celcius atau lebih, atau menggigil kedinginan. Kemerahan atau bengkak di dalam atau di sekitar luka. Peningkatan ukuran atau kedalaman luka. Jaringan luka yang tampak berwarna kuning, putih, atau hitam. Bau busuk datang dari luka. Nanah mengalir keluar dari luka.


***


Takagi sudah menempati kamar rawat inapnya. Perawat yang baru membantunya pindah kamar, baru saja keluar.


Tok Tok Tok...


Pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Seorang wanita cantik berambut pirang, bermata biru, mengenakan dress di atas lutut dengan motif bunga-bunga masuk dengan anggunnya. Aroma bunga seketika memenuhi ruangan itu.


"Ai. Aku sangat mengkhawatirkan mu. Syukurlah kau tidak apa-apa" Ia Mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Takagi.


"Kau tau dari mana aku berada di sini?" Tanya Takagi datar


"Aku mencoba menghubungi kantormu. Karena Kau tidak mengangkat panggilanku"


"Oh. Begitu ya"


"Ai. Bagaimana rasanya, apa masih sakit ?"


"Sedikit"


"Oh iya Ai. Aku membawa buah-buahan untuk mu. Kau mau makan yang mana, biar aku kupaskan"


"Nanti saja. Aku belum ingin makan sesuatu"


"Baiklah kalau begitu" Dengan wajah kecewa Rosanne menaruh keranjang buah yang di bawanya ke atas nakas di samping tempat tidur Takagi.


Ia menyentuh tangan Takagi yang bebas dari infus, namun dengan cepat ditepis oleh Takagi.


"Rosanne aku bisa minta tolong ?"


"Ya. Boleh. Apa itu?" Dengan wajah berbinar.


"Tolong jangan kau panggil aku dengan sebutan itu lagi. Aku tidak menyukainya"


Seketika wajah Rosanne berubah murung.


"Maaf. Aku sudah terbiasa. Aku harus memanggilmu apa?"


"Panggil saja namaku"


"Baiklah kalau itu mau mu. Oh iya, pagi ini aku harus kembali ke Tokyo. Ada jadwal mengajar siang ini"


"Sebaiknya kau segera pergi. Agar kau tidak terlambat. Terimakasih kau sudah menjengukku" Takagi menaikkan selimut menutup seluruh tubuhnya, menyisakan kepala dan tangannya di luar selimut, kemudian memejamkan kedua matanya.


Merasa kehadirannya tidak diinginkan, Rosanne bangkit dari duduknya.


"Aku pergi. Semoga kau lekas sembuh" Segera berlalu meninggalkan Takagi. Ia berharap Takagi menahannya untuk beberapa saat di sampingnya. Tapi setelah ia sampai di depan pintu, harapan itu hanya tinggal harapan. Begitu Rosanne menutup pintu dari luar, Takagi membuka matanya kembali.


"Aku harap kau mengerti" Gumam Takagi


Rosanne melangkah cepat menyusuri lorong. Ia mengusap sudut matanya yang perlahan basah. Keiko yang juga ingin menjenguk Takagi, berpapasan dengan perempuan itu.


"Siapa ya? " Ia bergegas menuju kamar Takagi. Ia mengetuk pintu dan membukanya.


Dilihatnya Takagi sedang duduk di tempat tidurnya, berusaha meraih buah yang ada di nakas sambil meringis. Melihat hal itu, Keiko berinisiatif membantunya.


"Kau mau yang mana?"


"Apel itu menggodaku. Aku ingin memakannya"


"Pisaunya tidak ada"


"Ada. Coba cari diantara buah-buah itu. Pasti Rosanne membawanya serta"


Keiko mengikuti arahan Takagi. Ia menemukan benda yang dicarinya. Kemudian ia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur dan mulai mengupas buah itu.


"Tadi aku berpapasan dengan seorang wanita gaikokujin*" Sambil mengupas kulit apel lalu memotong buah merah itu, dan memberikan potongan kecil pada pria itu.


"Oh. Rosanne. Dia datang mengunjungiku"


"Rosanne?"


"Mantan istriku?"


"Oh.. Aku tadi melihat dia keluar ruangan mu dengan mata yang basah"


"Benarkah? Aku hanya mengusirnya secara halus. Mungkin itu yang membuat dia sedih"


"Hmm. Begitu ya.." Tanpa menghentikan kegiatannya mengupas apel


"Kau baru datang?" Tanya Takagi mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Tadi sempat mampir sebentar ke ruanganku, memeriksa beberapa berkas. Aku ada berita bagus"


"Berita apa?" Tanya Takagi penasaran


"Hasil tes DNA Nona Ayumi sudah keluar. Hasinya seperti dugaan kita"


"Hasilnya bagaimana?"


"DNA yang tertinggal di tubuh Nona Ayumi, identik dengan DNA yang ada di tubuh Nona Cho. Nanti aku akan menyerahkan laporannya padamu"


"Sudah ada sedikit petunjuk. Aku sudah tidak sabar untuk segera mencari pelakunya" Kata Takagi geram"


"Makanya kau harus segera sembuh. Biar bisa cepat keluar dari sini"


"Aku juga berharap begitu"


Tok.. Tok..Tok..


"Selamat pagi, bagaimana keadaan mu Detektif?" Tanya Kaoru yang tiba-tiba masuk.


"Seperti yang kau lihat, Letnan. Aku masih hidup. Kau datang membawa kabar apa?"


Kaoru berdiri di sisi lain tempat tidur Takagi.


"Pelaku percobaan pemerkosaan tadi malam adalah kekasih korban. Mereka berandalan yang suka mabuk-mabukan. Korban ternyata dipaksa minum minuman keras dengan dalih kalah dalam bermain batu gunting kertas. Setelah bangun tadi, korban menghubungi orang tuanya. Kau tau siapa orang tua perempuan itu?


"Siapa? Apakah aku mengenalnya?


" Hum. Satoshi Nomura"


"Jadi perempuan itu anak Satoshi Nomura?"


"Yes"


"Astaga. Kenapa bisa ayahnya membiarkan anaknya bergaul dengan orang seperti itu?"


"Siapa Satoshi Nomura?" Tanya Keiko


"Salah satu petinggi Yakuza di Osaka"


"Astaga..." Keiko sama terkejutnya dengan Takagi.


"Tuan Nomura meminta untuk bertemu denganmu. Apa kau bersedia menemuinya?" Tanya Kaoru selanjutnya.


Takagi tampak berfikir sejenak, ia memandang Keiko untuk meminta pendapat.


"Terserah kau saja" Jawab Keiko.


"Ya sudah. Biarkan dia masuk. Aku mau tau apa yang akan dia ucapkan "


"Kalau begitu aku keluar dulu" Keiko bangkit dari duduknya.


"Kau di sini saja. Temani aku" Takagi menahan Keiko dengan menggenggam pergelangan tangan wanita itu, menampilkan ekspresi memohon.


Seketika tubuh Keiko membeku. Detak jantungnya bekerja lebih cepat. Sentuhan tangan Takagi mengalirkan getaran di seluruh tubuhnya.


"Hem.. Baiklah aku akan panggilkan Tuan Satoshi " Kaoru bergegas keluar kamar.


"Detektif a... Aku.." Lidah Keiko tiba-tiba terasa kelu.


"Stt..Tidak akan ada yang terjadi padamu. Percayalah padaku. Kau cukup duduk di sampingku. Jangan lepaskan genggaman tanganku" Takagi menggenggam tangan Keiko. Ia tersenyum melihat Keiko yang salah tingkah.


***


*Orang asing yang berasal dari barat, seperti benua Eropa dan Amerika disebut sebagai gaijin. Sementara semua orang asing yang terdapat di Jepang, baik yang berasal dari Barat atau negara di Asia disebut sebagai gaikokujin. Pengertian kedua istilah tersebut diperjelas dengan beberapa tinjauan seperti berikut ini :


Perbedaan istilah gaijin dan gaikokujin berdasarkan konteksnya dibedakan pada penggunaan huruf kanji. Pada kata gaijin, gai berarti asing, dan jin berarti orang. Dengan demikian menggunakan 2 huruf kanji. Sementara kata gaikokujin, gai berarti asing, koku berarti negara, dan jin berarti manusia. Berdasarkan konteksnya tersebut menggunakan 3 huruf kanji.


Bagi warga negara Jepang, menggunakan kata gaijin, merupakan kata-kata slang modern. Dengan demikian, warga negara Jepang modern menganggapnya sesuatu yang lumrah diucapkan. Namun bagi sebagian orang, kata tersebut merupakan sebuah kata yang tidak sopan. Pasalnya, asing sama dengan alien atau makhluk luar angkasa. Maka dari itu, ketika era Meiji terdapat istilah gaikokujin, sebagai istilah yang lebih halus untuk diucapkan (Atuk Google).