Looking For Murder

Looking For Murder
Tokyo Tower I'M In Love 2



Di bagian dasar menara yang merupakan kompleks empat lantai, Yusa menemukan deretan pertokoan elit dan restoran-restoran modern. Harga hidangannya tentu saja lebih mahal daripada restoran biasa, sama seperti tempat bersantap di destinasi wisata lain di seluruh dunia. Meski demikian, Yusa merasa sesekali tidak ada salahnya merasakan pengalaman wisata kuliner di tower kebanggaan warga Jepang ini. Menu paling populernya adalah steak seberat 333 gram dan hamburger. Nama menu ini memang diambil dari ketinggian Tokyo Tower yang mencapai 333 meter. Selain itu juga ia menemukan brand-brand makanan dan minuman lain yang terkenal di food court ini, salah satunya es krim Baskin Robbins. Menu tradisional juga tersedia di sini. Ramen menjadi salah satu pilihan terbaik yang direkomendasikan.


Setelah makan, Yusa menyempatkan diri belanja oleh-oleh souvenir atau barang-barang unik lainnya. Ia singgah di kawasan Foot Town. Lokasinya tepat di bagian bawah Tokyo Tower dan di sini terdapat deretan gerai oleh-oleh, souvenir, dan cafe. Atraksi wisata yang terbilang unik di sini adalah aquarium besar yang menampung lebih dari 900 jenis ikan langka.



Setelah puas menjelajah Foot Town, sekarang saatnya Yusa berkunjung ke Taman hiburan One Piece yang bisa dibilang cukup baru. Selain melihat-lihat galeri yang menampilkan goresan asli penulis One Piece, komikus Oda Eiichiro, ia juga bisa menonton live action show eksklusif “Phantom”. Dengan harga tiket ¥3.200 (Dewasa), ¥2.700 (13-18 tahun), ¥1.600 (4-12 tahun).



Keesokan harinya Yusa mengunjungi kuil-kuil indah di sekitar Tokyo Tower, seperti Kuil Zojoji, Kuil Atago, dan Shiba Toshogu. Didirikan pada tahun 1393, Kuil Zojoji dan Tokyo Tower seolah menunjukkan paduan yang harmonis antara nuansa tradisional dan atmosfer kehidupan modern. Para fotografer kerap hunting foto ikonik yang menampilkan menara Tokyo berdiri menjulang di belakang kuil ini.


Selanjutnya Yusa mendaki anak tangga curam di Kuil Atago-jinja, hingga mencapai puncak bukit yang menawarkan pemandangan kota Tokyo. Alternatif lainnya adalah jalan-jalan di “Metropolitan Shiba Park” dan “Minato Ward Shiba Park” yang merupakan bagian dari Kuil Shiba Toshogu.


Waktu-waktu yang melelahkan namun menyenangkan, Yusa habiskan selama beberapa hari ini. Saat malam hari pun ia kerap menghabiskan waktunya menyaksikan lampu hias yang menyinari Tokyo Tower menyala mulai dari tenggelamnya matahari sampai pukul 24.00. Biasanya lampu yang digunakan berwarna jingga. Tapi, pada saat dilaksanakannya event, hiasan warna-warni yang langka, seperti warna pelangi, pink, dan lainnya menghiasi menara. Pada pukul 24.00, lampu akan dipadamkan. Konon, pasangan yang melihat saat lampu tersebut padam akan menjadi bahagia. Oleh karena itu, banyak pasangan terlihat berkumpul di bawah Tokyo Tower untuk melihat saat-saat pemadaman lampu pada jam tersebut.


Pada kesempatan lain, ia menikmati live music di Club333 yang berada di lantai 1 observatorium utama. Di sana Yusa menikmati musik sambil melihat pemandangan malam Metropolitan Tokyo. Selain diadakan pertunjukan langsung dan acara musik Jazz, di sini juga diadakan perekaman terbuka siaran radio.



Malam ini, Yusa ingin menikmati Tokyo Tower di kamar hotelnya. Masih dengan mengenakan bathrobe Yusa duduk di sofa yang menghadap ke jendela besar sambil menikmati segelas susu hangat. Sebentar lagi makan malamnya akan tiba. Ia telah memesan dan meminta pihak hotel untuk mengantarkan hidangan malamnya ke kamar.


Tut tut tut tut..


Ponsel Yusa yang berada di atas meja berbunyi. Di layar ponsel tertera nama dokter Tamaki Saito yang menghubunginya. Ya, dokter yang dahulu pernah merawat Yusa, dipercaya oleh negara untuk melanjutkan perawatan pada Yusa sesuai dengan putusan pengadilan. Setelah dinyatakan stabil, dokter mengizinkan Yusa untuk berpergian sebagai salah satu proses terapinya. Kepergian Yusa tentu saja tetap dalam pengawasan pihak berwajib. Yusa dibekali gelang GPS yang dipasang di kaki kirinya. Di manapun Yusa berada, ia akan terus terhubung dengan aparat penegak hukum.


“Halo Dokter.” Yusa mengangkat panggilan video dari dokter Tamaki.


“Halo juga Yusa. Bagaimana kabarmu hari ini?”


“Kabarku baik, Dok. Tapi agak sedikit lelah.”


“Oh ya ? Apa saja kegiatanmu hari ini?”


“Aku berkeliling Kuil Zojoji, Kuil Atago, dan Kuil Shiba Toshogu. “


“Wah pasti sangat menyenangkan. Sweety mu apa kabarnya?”


“Dia cantik sekali, Dok. Kau bisa lihat kan?” Yusa berdiri di depan kaca besar unitnya sambil menghadapkan kamera ponselnya pada menara Tokyo yang bersinar terang.


“Benarkah dokter?”


“Hu um."


"Mungkin aku sedang jatuh cinta dengan dia." Yusa memandang kembali menara Tokyo dengan mata berbinar.


"Aku ikut bahagia jika kau merasa bahagia."


"Terimakasih, Dokter."


"Oh ya kau sudah makan malam?"


“Belum, Dok. Sebentar lagi mungkin makananku diantar. Aku sudah memesan layanan kamar.”


“Oh begitu. Besok kau jadi kembali ke Osaka?”


“Jadi, Dok. Ibu sudah memesan tiket kereta jam 10 pagi.”


“Baiklah. Selamat menikmati makan malam mu. Jangan lupa obatmu diminum.”


“Baik, Dok.”


Dokter Tamaki yang ingin menutup panggilan videonya tiba-tiba berubah pias. Ia melihat cahaya merah menyala mengarah ke kening Yusa. "Yusa apa itu?”


“Apa, Dok?”


“Yusa. Menjauh dari jendela. Sekarang!!” Teriak dokter Tamaki Saito.


Bruk.. belum sempat Yusa merespon ucapan dokter Tamaki, ia sudah ambruk ke ke lantai dengan kepala tertembus peluru tepat di antara kedua matanya yang terbuka.


“Yusaaaa.... !!! “ Dokter Tamaki Saito berteriak di seberang telepon. Ponsel dalam genggaman Yusa terlepas dari tangannya, jatuh tak jauh dari tubuh kaku Yusa.


“Yusa.. Halo... Apakah kau masih di sana?” Tak ada jawaban apapun dari pria yang masih dalam perawatannya itu. Tak ingin membuang waktu. Dokter Tamaki Saito segera menghubungi polisi Tokyo dan manajemen hotel tempat Yusa menginap. Begitu polisi tiba, management hotel segera membuka pintu kamar Yusa. Garis polisi segera di pasang. Yusa ditemukan telah meninggal dunia dengan luka tembak di keningnya.


...****************...