Looking For Murder

Looking For Murder
Shuji Tetsuya, Sepertinya Aku Pernah Mendengar Nama itu



Kaoru bersandar di samping pintu kamar rawat Takagi. Adegan romantis sekaligus mengharukan yang baru saja ia saksikan, menumbuhkan harapan di hatinya. Semoga hubungan mereka berlanjut ke arah yang lebih serius. Hati Kaoru sangat bahagia. Di tambah dengan kesediaan sang paman mengabulkan permohonannya waktu itu. Semesta seakan merestui niat baiknya, dengan membukakan jalan yang lebar. Siapa sangka perempuan muda yang ditolong Takagi adalah anak paman Satoshi Nomura yang notabenenya adalah sepupunya sendiri.


Kaoru memilih meninggalkan tempat itu. Memberikan jeda kepada mereka berdua untuk saling mengenal lebih jauh. Ketika tiba di persimpangan lorong, Kaoru hampir saja di tabrak brankar kosong yang tiba-tiba berbelok ke arahnya.


"Aits.. . Hati-hati. Kau hampir mengenaiku"


"Maafkan aku Onii-san (Abang/Mas), aku terburu-buru" Pria yang mengenakan pakaian putih itu membungkuk di hadapan Kaoru.


"Ya sudah. Tidak apa-apa. Lain kali berhati-hatilah"


"Terimakasih Onii-san. Aku akan lebih berhati-hati"


Orang itu pun berlalu dari hadapan Kaoru. Kaoru menepikan tubuhnya ke dinding. Memberikan jalan ke pada perawat itu untuk menjalankan tugasnya. Ketika lelaki itu melewati Kaoru, tanpa sengaja matanya menangkap name tag yang terdapat di dada kanan pria itu.


"Shuji Tetsuya ?" Gumamnya. Matanya mengikuti arah pria itu menjauh.


"Sepertinya nama itu familiar. Di mana aku pernah mendengar nama itu ya? " Kaoru termangu sambil berfikir.


"Oji-san (Paman), kau menghalangi jalanku"


Kaoru refleks memutar tubuhnya. Didapatinya seorang anak lelaki yang duduk di atas kursi roda kira-kira berusia 7 tahun, memandanginya dengan wajah marah. Kaoru berjongkok menyamakan posisinya dengan anak itu.


" Halo, aku Usui Kaoru. Namamu siapa?"


"Aku sedang tidak ingin berkenalan, Oji-san (Paman). Sebaiknya kau minggir, aku sedang terburu-buru" Ia bersidekap di hadapan Kaoru.


"Oww. Baiklah kalau itu mau mu, Buddy" Kaoru berdiri dan berniat memberi anak laki-laki itu jalan.


Tiba-tiba seorang wanita berteriak dan berjalan terburu-buru ke arah mereka.


"Chio.. Chio.. Kembali Nak..!!"


Anak lelaki itu buru-buru mengayuh kursi rodanya. Dengan sigap Kaoru menahan kursi roda itu, sehingga ia tidak bisa melarikan diri.


"Oji-san, lepaskan !!!" Teriak anak lelaki itu dengan marah.


"Terima kasih Tuan. Maafkan anakku yang telah merepotkan anda" Ucap sang wanita dengan nafas memburu.


"Iya Tuan. Namaku Daisuke Hinata, ini putraku Masashi Chio"


"Aku Usui Kaoru, Nyonya. Sebenarnya apa yang telah terjadi?"


"Ada sedikit masalah keluarga, Tuan. Maaf aku tidak bisa menceritakannya pada anda"


"Baiklah kalau begitu" Kaoru kemudian berjongkok memposisikan dirinya sejajar kembali dengan anak lelaki itu.


"Paman harap kau lekas sembuh. Jangan diulangi lagi. Kasian Ibumu. Ok. Buddy? " Kaoru mengacak rambut anak itu yang masih memasang wajah cemberut, tanpa mau memandang Kaoru.


"Kalau begitu kami kembali kamar dulu, Tuan"


"Silahkan Nyonya". Wanita itu mendorong kursi roda menjauh dari tempat itu.


Kaoru melanjutkan langkahkan kakinya menuju kantin, yang berada di lantai atas. Ia menaiki lift untuk menuju ke sana. Kantin yang cukup luas itu, miliki sistem pelayanan self service.


Kaoru memilih Double curry rice bento dan teh hijicha. Mengambil tempat duduk di sudut ruangan, Kaoru membawa makanannya.



Double curry rice bento dengan nasi putih disiram kuah kari ala Jepang. Dilengkapi dengan telur tamagoyaki, mentimun kyuri, tomat ceri, dan takoyaki.


Semerbak aroma kari Jepang yang otentik langsung tercium oleh hidung. Sejenak Kaoru pelupakan tugas-tugasnya. Ia menikmati rasa kari yang kuat di dalam bento. Dengan cacahan wortel dan bawang bombai, kuah kari kental yang disiram ke atas nasi memberikan tambahan rasa yang gurih, kaya rempah, dan sedikit manis. Tamagoyaki yang lembut ditambah lagi sayuran mentimun dan tomat segar membuat makan jadi lebih nikmat. Rasa kari yang kuat juga dapat dirasakan ketika menyantap takoyaki. Camilan bola-bola tersebut diberi topping mayonaise, pasta kari, potongan wortel, serta jagung yang cukup banyak. Topping yang melimpah ini mampu melengkapi rasa takoyaki renyah isi gurita yang sederhana. Minuman teh hojicha yang di pilihnya terasa menyegarkan dan creamy. Perpaduan rasa pahit ala teh hijau panggang hojicha dengan manis dari milk tea.


Kaoru menikmati makan siangnya dengan lahap. Merupakan suatu kejutan, di kantin rumah sakit ia bisa merasakan sensasi makan berlipat ganda. Perpaduan nasi dan takoyaki kari.


Sambil menghabiskan makanannya, Kaoru menyapu pandanganya ke seluruh ruangan. Kantin itu berlahan mulai ramai, karena saat itu sudah menunjukkan jam makan siang. Di pintu masuk kantin, ia menemukan orang yang tadi hampir menabraknya dengan brankar kosong yang di dorongnya.


"Shuji Tetsuya, siapa sebenarnya kau...?"


***


Note : Urutan cara penulisan dan penyebutan nama orang Jepang dalam huruf kanji adalah nama marga terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan nama pemberian. Seperti telah kita ketahui cara penulisan nama orang di negara Eropa bahkan Indonesia dalam huruf alphabet umumnya dimulai dengan nama pemberian berada di urutan depan dan kemudian nama marga ditempatkan belakangan setelah nama pemberian. Akan tetapi urutan cara penulisan nama orang Jepang dalam huruf alphabet atau Romaji, adalah sama dengan huruf kanji, hanya semua huruf di nama marga ditulis dalam huruf besar/kapital.


Misalnya Takagi Fujimaru. Fujimaru adalah nama marga. Takagi adalah nama pemberian. Kalau berkenalan menyebutkan nama keluarga lebih dahulu baru diikuti nama diri.