Looking For Murder

Looking For Murder
Fumiko Sora 2



Flashback


Sejak kecil Sora yang senang belajar, kerap mendapat prestasi di sekolah. Tidak mengherankan jika ia mendapat beasiswa pendidikan dari Universitas California, San Fransisco. Keinginannya untuk terus bersekolah ditentang keras ibunya. Untung ada sang ayah yang selalu mendukung cita-cita Sora. Ketika Sora baru menempuh pendidikan semester kedua perkuliahannya, ayah Sora Fumiko Sada meninggal dunia. Namun beberapa hari sebelum wafat, Sada sempat menelepon Sora memberikan pesan kalau apapun yang terjadi, Sora harus menyelesaikan studinya. Sada pun sempat mengirimkan sejumlah uang pada Sora tanpa sepengetahuan sang ibu. Uang dari ayahnya inilah yang disimpan oleh Sora dan digunakan untuk bertahan hidup setelah lulus kuliah.


Masih segar dalam ingatan Sora, waktu itu 2 tahun yang lalu, ketika ia belum lama kembali ke Jepang setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas California, San Fransisco jurusan Patologi Forensik. Dan ia baru setahun bekerja di rumah sakit Universitas Osaka. Sora yang tidak ingin serumah dengan sang ibu, memilih tinggal di apartemen kecil, dimana kamar tidur, ruang tengah, dan dapur menyatu dalam satu. Karena apartemen Sora letaknya cukup jauh dari kediaman ibunya, membuat mereka jarang bertemu, ditambah lagi dengan kesibukan Sora di rumah sakit.


Ketika sedang bekerja, Sora mendapat panggilan telepon dari ibunya. Entah sudah ke berapa kali, Nyonya Nori terus mendesak Sora untuk menikah. Dengan enggan Sora mengangkat panggilan itu. Seperti yang sudah ia duga, ibunya membahas masalah pernikahan dan perjodohan. Ia mengatakan sudah mengatur kencan buta dengan seorang anak kenalannya.


“Ibu sudah berapa kali aku bilang, aku tidak mau dijodoh-jodohkan seperti ini. Aku kan baru setahun bekerja. Aku belum ada pikiran untuk menikah, Bu.”


“Setelah menikah kau kan tetap bisa bekerja. Lagi pula kalau kau jadi dengan orang ini, kau tidak perlu capek-capek bekerja. Orang yang akan Ibu kenalkan padamu ini, bukan orang sembarangan.”


“Ibu.. Aku tidak mau kalau Ibu sampai menjodohkan aku.”


“Sudah jangan banyak alasan. Kau harus berjumpa dengan pria ini. Ibu sudah atur kencan buta untuk mu. Malam ini kau harus dandan yang cantik. Kau datang ke alamat restoran yang akan Ibu kirim. Awas saja kalau sampai tidak datang.”


“Tapi Bu...”


Nyonya Nori memutus panggilan telepon itu secara sepihak. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel Sora. Sebuah alamat restoran dikirimkan Nyonya Nori. “Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan.” Cukup lama Sora berada dalam kebingungan. Sifat sang ibu yang suka memaksakan keinginannya membuat Sora tidak dapat berbuat apa-apa.


“Ya sudahlah. Cuma kencan buta. Datang, basa basi, lalu pulang. Rencana yang sempurna.” Akhirnya Sora menyerah dan mengalah dengan keinginan ibunya.


Dengan mengenakan blus warna maroon, rok warna senada, Sora datang ke alamat restoran yang dikirimkan ibunya. Dengan menaiki taksi Sora tiba di restoran yang tertera di alamat. Sebuah tempat makan berkelas menjadi pilihan pria itu untuk kencan mereka. Suatu opsi yang berlebihan menurut Sora untuk kencan buta pertama.


Seorang pria dengan stelan formal telah menunggu Sora. Pria yang dikenalkan ibunya itu bernama Billy Takasimura seorang anak konglomerat pewaris tunggal perusahaan menyedia jasa pengiriman barang ekspor impor. Ternyata sebelum Sora datang ia telah memesan makanan western yang Sora taksir harganya tidak murah.


Selama kencan, pria itu berusaha menampilkan dirinya agar terlihat luar biasa di mata Sora. Membicarakan diri sendiri dan kekayaan orang tuanya. Sora hanya banyak diam dan mendengarkan semua apa yang diucapkan Billy. Seorang pria yang sangat jauh dari tipenya.


“Apa yang Ibu pikirkan ketika mengatur kencan buta ku dengan pria yang 'sempurna ini' ."


Tak ingin berlama-lama di sana, Sora berusaha menyelesaikan makannya dengan cepat. Dengan alasan lelah dan besok harus bekerja pagi-pagi sekali, Sora izin pamit pada Billy.


Billy bersikeras mengantarkan Sora pulang. Walau Sora berkali-kali menolak. Hati kecil Sora sudah merasa ada sesuatu yang pria itu inginkan darinya, setelah mengeluarkan uang tidak sedikit untuk makan malam mereka. Karena tidak ada yang gratis di dunia ini. Dengan amat sangat terpaksa Sora mengizinkan Billy mengantarkannya pulang.


“Makanan di restoran tadi adalah makanan favorit ku. Minimal seminggu sekali aku selalu ke sana.” Ucap Billy ketika di dalam mobil. “Apartemen mu belok kiri kan?”


“Bukan. Belok kanan setelah itu ke kiri.“


Mobil mengikuti arahan Sora. Mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen studio tipe 21. Begitu Sora turun dari mobil...


“Tidak ada."


“Aduh. Bagaimana ini.”


“Kau bisa gunakan toilet di apartemen ku. Ayo..” Sora segera membawa Billy ke unitnya. Dengan tergesa-gesa Sora membuka pintu apartemennya."Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku mengajaknya masuk kediaman ku?" Ada perasaan menyesal di hati Sora.


“Toiletnya di sana." Sora menunjukkan arah letak toilet di apartemennya.


“Terimakasih.” Billy segera menuju toilet satu-satunya di apartemen kecil Sora.


Begitu Billy masuk ke dalam toilet, Sora merasakan suatu yang janggal. Perkataan Billy yang mengatakan bahwa makanan tadi merupakan makanan favoritnya dan alergi seafood yang baru saja ia alami merupakan suatu yang bertolak belakang. Di tengah kebingungan Sora, pria itu tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Ia menekan Sora ke dinding.


“Apa yang kau lakukan ?!"


“Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar." Billy mendekap tubuh Sora dengan kuat dari belakang. Tangan kanannya mencengkram wajah Sora dan memalingkan ke arahnya. Dengan paksa ia menciiiuuum biibir Sora.


“Hmmpp.. Hei. Lepaskan !!”. Sora meronta. Ia menjauhkan tubuhnya menahan biibir Billy agar tidak terus menciiiuminya.


“Apa-apaan ini. Apa yang telah kau lakukan?! Apa kau tau, aku bisa mela..” Belum selesai Sora berkata, Billy mencengkram kedua bahu Sora mendorongnya ke arah tempat tidur yang berada tak jauh dari tempat Sora berdiri.


“Akhh...!!”


Sora terhempas ke tempat tidur. Kedua tangannya di cengkraman dan ditekan Billy dengan kuat ke arah atas kepala Sora dengan tangan kanannya. Tubuh Billy menekan Sora.


“Apa-apaan ini..”


“Sststst... Kamu dan Fuji kan kakak beradik. Fuji itu anak yang bebas. Kamu tau aku pernah merasakan daaada dan boookongnya yang besar. (Fuji pernah muncul pada bab Geoffrey Lafayette). Aku bisa menyimpulkan kau tidak jauh beda dengannya. Bahkan mungkin kau lebih parah.” Tangan kiri Billy yang bebas membuka kancing baju Sora satu persatu.


“Hentikan !! Kau sudah gila ya...”


“Kau berteriak begini lebih terlihat menarik dari pada diam seperti di restoran tadi. Biar ku tebak, sudah berapa pria jatuh dalam pelukanmu." Billy menyentuh dagu Sora. Wajahnya mendekat. Sora bisa merasakan hembusan nafas di wajahnya. Billy Bersiap untuk menciiiumnya lagi..


Tiba-tiba....


***


Apa hayoo ?? Nungguin ya...🤭. Kabur ahh.. 🏃🏃🏃🏃