Looking For Murder

Looking For Murder
Sora Kepanasan, Kaoru Menang Banyak



Mobil terus melaju melalui jalan kecil di antara deretan toko-toko. Sepertinya mereka sengaja berputar-putar menghindari kemungkinan diikuti oleh seseorang. Mobil itu kemudian terlihat menuju pelabuhan. Di antara deretan peti kemas, roda-roda mobil bergulir pelan. Berhenti tak lama kemudian di depan sebuah bangunan yang letaknya agak terpencil. Sora diturunkan dengan paksa dari mobil. Ia di giring memasuki bangunan yang tidak terlalu besar itu.


"Lepaskan !! Aku bisa jalan sendiri !!" Sora menghempaskan pegangan tangan seorang pria yang menggunakan penutup mata bajak laut (eye patch), dari lengannya. Sambil menyilangkan tas di tubuhnya, Sora melangkah masuk ke dalam bangunan itu. Tanpa ke empat pria itu sadari, ponsel Sora yang berada di dalam tas tetap menyala dan terhubung dengan dokter Keiko yang meneruskannya dengan Takagi yang berada di kantor polisi.


Di dalam bangunan yang merupakan kantor dari perusahaan penyedia layanan ekspor impor itu ternyata telah menunggu seorang pria berjas hitam berdasi merah. Pria berwajah angkuh itu duduk di atas sebuah kursi eksekutif high-end berwarna hitam. Ia tersenyum puas melihat hasil kerja orang suruhannya.


"Kerja bagus !! Kalian memang bisa diandalkan."


"Terimakasih Tuan."


Ke empat pria itu membungkukkan badan di hadapan pria berwajah congkak itu.


"Kau !!!" Mata Sora membulat sempurna. Tangannya mengepal menahan marah.Tubuhnya bergetar. Keringat dingin keluar dari sela pori-porinya. Sekuat tenaga Sora berusaha menenangkan dirinya. Pria yang telah menjungkirbalikkan hidupnya dua tahun yang lalu, sekarang berada di hadapannya.


"Halo sayang, kita jumpa lagi. Ternyata kau tidak melupakanku." Pria itu berkata tanpa berdiri dari duduknya.


"Apa maksud mu membawaku ke sini !!?" Masih dengan tangan mengepal dan tubuh bergetar.


"Tentu saja karena aku merindukanmu. Dan aku yakin kau pun pasti sangat merindukanku."


"Cih.. Percaya diri sekali anda !!!"


"Tentu saja. Tidak ada seorang pun yang bisa menolak pesona seorang Billy Takasimura." Ucapnya angkuh.


Billy bangkit dari duduknya. Ia mendekati Sora yang berada di hadapannya dengan langkah yang sedikit aneh. Melihat kenyataan itu, Sora merasa mendapat sedikit kekuatan.


"Ada apa dengan selaangkaangan mu, Tuan Billy yang terhormat? Apakah dia tidak bisa lagi kau banggakan ?"


"Oh. Dia baik-baik saja. Dia titip salam padamu." Billy menyentuh pipi Sora dengan jari telunjuknya. Namun cepat di tepis Sora, kasar.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu !!"


"Oww .. Kamu masih saja galak seperti anjing Herder peliharaan ku." Billy melangkah pelan mengelilingi Sora.


"Apa maumu !! "


"Kau tanya apa mauku? Baik, aku katakan apa yang aku inginkan." Billy menghentikan langkah kakinya di hadapan Sora. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Sora. Sora bisa merasakan hembusan nafas Billy menerpa wajahnya. Tubuhnya menegang, bergetar dan berkeringat. Bayangan peristiwa dua tahun yang lalu kembali berputar di pelupuk matanya.


"Aku hanya ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Dua tahun aku menderita akibat ulahmu dan pacar lesbian mu itu." Billy berkata dengan suara pelan. "Lucuti seluruh pakaiannya kemudian ikat pelacur itu !!" Billy berkata sambil melangkah menjauh dari Sora.


"Baik Tuan." Dua orang pria mendekati Sora. Memegang kedua tangannya. Seorang pria lain melepas paksa pakaian yang Sora kenakan. Tas milik Sora mereka lemparkan ke sudut ruangan.


"Apa yang kalian lakukan, brengsek!!" Sora meronta-ronta memberikan perlawanan sekuatnya. Namun kekuatannya kalah telak dengan ketiga orang pria itu.


Mereka mengikat tubuh Sora di atas sebuah kursi. Mulut Sora disumpal dengan kain. Tangannya diikat ke belakang. Kedua kaki Sora diikat pada kaki kursi.


"Kau memang cantik." Billy memandangi tubuh polos Sora dengan tatapan liar.


"Mmmppp ... " Sora masih berusaha meronta di kursi tempat ia ditawan. Udara malam yang dingin menerpa tubuhnya yang tanpa busana, terasa menusuk hingga ke tulang. Seorang pria membawa sebuah botol minuman. Ia membuka penutup mulut Sora dan memaksa Sora menenggak minuman itu sampai habis. Sora terengah-engah menelan cairan aneh yang di paksa masuk ke tubuhnya. Sora yakin, dalam cairan yang ia telan itu, ada obat perangsang dosis tinggi di dalamnya.


"Matilah aku kali ini." Sora hanya bisa pasrah. Sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Berlahan namun pasti, rasa hangat menjalar di sekujur tubuh Sora. Tatapannya mulai sayu. Gaairah mulai membakar seluruh tubuh Sora. Rasa itu semakin menyiksa meminta pelampiasan. Tubuh Sora menggeliat memohon seseorang menyentuhnya. Billy menatap Sora dengan puas.


Pria itu mendekat. Ia mengecuup sedikit leher Sora. Sora mendeesaah, berharap Billy melakukan hal lebih padanya.


"Kau yang dulu dengan sombongnya menolak ku, sekarang memohon aku untuk menyentuh mu." Billy berkata dengan senyuman sinis.


"Kau tahu bagaimana tersiksanya aku ? Akibat perbuatanmu dan kekasih mu itu, aku hanya bisa memandang wanita telaanjang di hadapan ku tanpa bisa melakukan apa-apa !!" Billy berkata dengan menggeretakkan giginya.


"Kau akan merasakan apa yang aku rasakan."


Billy memperlihatkan benda keras menyerupai shinkansen para lelaki yang terbuat dari kayu itu. Billy berjongkok. Ia memainkan benda yang ada di tangannya ke tubuh Sora. Benda itu menyentuh kulit Sora dari kepala hingga bagian inti tubuhnya. Sora yang sudah dalam pengaruh obat peraangsang, merasakan siksaan yang teramat sangat.


"Kau menginginkannya bukan?" Sora mengangguk sambil menggigit bibirnya. "Benda ini akan mewakili ku." Billy mengarahkan benda jadi-jadian itu ke arah aset berharga milik Sora. Memain-mainkan di area itu. Ketika Billy hendak masukkannya ke inti Sora, tiba-tiba pintu ruangan itu didobrak dengan paksa.


"Polisi !!!"


Sejumlah polisi merangsak masuk dengan menodongkan revolver. Dengan cepat mereka meringkus Billy dan kawanannya yang tidak sempat melakukan perlawanan.


"Astaga. Sora !!" Kaoru membuka jas yang ia kenakan. Menutupkannya ke tubuh Sora yang masih terikat di kursi. Bergegas Kaoru membuka semua ikatan yang membelenggu Sora.


"Kaoru tolong aku.." Sora berkata pelan dengan tatapan memohon.


"Aku di sini. Kau sudah aman. Tenanglah."


Sora menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kaoru tidak mengerti maksud ucapannya. Tanpa pikir panjang, Sora membungkam mulut Kaoru dengan bibirnya. Meluumaatnya dengan rakus. Polisi yang hadir di sana, terdiam tak dapat berkata-kata.


"Mmmmpp.. Apa yang kau lakukan?" Kaoru melepaskan paksa ciuuman Sora padanya. Tetapi Sora meronta menginginkan bibir Kaoru kembali. Dengan sekuat tenaga Kaoru menahan wajah Sora dengan telapak tangannya.


"Ada yang bisa menjelaskan situasi ini?" Tanya Kaoru pada para tersangka yang diam tertunduk dengan tangan diborgol.


"Hei, jawab !!" Seorang petugas polisi menendang tungkai salah seorang tersangka.


"Aduhh... !!" Pria itu melompat-lompat menahan sakit di kaki kirinya. "Boss Billy memerintahkan untuk memberikan obat perangsang dosis tinggi pada wanita itu. Jika tidak mendapat pelampiasan, dia bisa mati."


"Astaga .. "


"Lakukan Letnan. Kami akan menunggu di luar." Ucap seorang petugas polisi sambil tersenyum.


"Apakah tidak ada cara lain?"


"Tidak ada, Pak. Boss Billy tidak memesan penawarnya." Kaoru mengusap kasar wajahnya.


"Ayo keluar. Biarkan Letnan melakukan tugasnya."


"Letnan Kaoru menang banyak. Aku juga mau." Timpal petugas polisi yang lain.


"Huss. Lakukan sesuai dengan kapasitasmu sebagai bawahan. Ayo keluar." Para petugas polisi bergegas keluar dari ruangan itu sambil menggiring ke lima tersangka menuju mobil patroli yang terparkir agak jauh dari bangunan itu.


Sepeninggal rekan-rekannya, Kaoru memandang iba Sora yang meronta-ronta dengan tatapan memohon padanya. Apakah tugas darurat yang dilakukannya kali ini atas perintah detektif Takagi yang masih sibuk menangani kasus Yusa, membuatnya kehilangan keperjaakaan?


Sora yang sudah tidak sabar, membungkam bibir Kaoru kembali, sambil melucuti seluruh pakaian pria itu. Kaoru pasrah menerima semua perlakuan Sora padanya. Demi kemanusiaan atau entah demi apa, Kaoru pun tidak tahu. Satu jam lebih mereka bergumul di dalam ruangan tertutup itu. Desaahan dan eraangan Sora sayup-sayup terdengar hingga radius beberapa ratus meter. Pergulatan itu baru berhenti ketika uap air turun berubah menjadi cair dalam bentuk embun yang menempel di dedaunan. Kaoru keluar dari ruangan itu dengan membopong tubuh Sora yang sudah terlihat tenang dan lemas. Tanda bekas perjuangan mereka, tertinggal di masing-masing tubuh keduanya. Kaoru meletakkan Sora di jok belakang mobilnya dalam keadaan berbaring.


"Jalan." Ucap Kaoru tanpa memandang rekan sejawatnya yang tersenyum penuh arti di belakang kemudi.


"Siap Letnan."


Rombongan mobil polisi yang membawa para tersangka meninggalkan pelabuhan menuju kantor Kepolisian Osaka. Sedangkan mobil Kaoru menuju rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan medis terhadap Sora.


...****************...