Looking For Murder

Looking For Murder
Shinkansen



Hotel International Port Vita, Osaka


Pagi sudah menjelang. Tetapi matahari belum menampakkan sinarnya. Embun pagi pun masih setia bermain di atas dedaunan dan kuncup bunga-bunga yang belum mekar. Jalanan kota Osaka pun masih sepi pada subuh dinihari itu. Kenta baru saja tiba di hotel tempat ia bekerja. Ia segera menuju loker untuk mengganti pakaian dengan seragam kebesarannya. Turun dari Loker, ia langsung menuju dapur untuk membantu semua yang diperlukan dalam menyajikan makan pagi para tamu hotel. Kenta melihat Yusa sudah berada di dapur sedang sibuk dengan tugas-tugasnya mengumpulkan peralatan makan yang akan digunakan tamu hotel. Kenta menyempatkan diri menyapa sahabat karibnya itu. Ia mendekati Yusa yang sedang berada di tempat cuci piring.


“Hai Bro. Cepat sekali kau datang”. Kenta menyenggol tubuh Yusa dengan bahu kirinya.


Yusa yang disapa dan disenggol Kenta hanya diam tanpa menghentikan aktivitasnya. Ia tidak menoleh sedikitpun pada Kenta. Kenta yang melihat Yusa tak bereaksi atas sapaannya, hanya bisa diam dan langsung pergi melanjutkan tugasnya. Kenta kemudian menyibukkan diri menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak chef untuk sarapan para tamu hotel. Sesekali ia mencuri pandang pada Yusa yang terus bekerja dengan ekspresi datar. Tangannya terlihat sangat cekatan dan terampil.


Kenta mengenal Yusa waktu mereka sama-sama menempuh pendidikan culinary. Yusa yang Kenta kenal adalah seorang pria yang ramah, dan baik hati. Bila ia bekerja, senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.


“Apakah Yusa sedang sakit? Apakah Yusa sedang ada masalah ?”


Beragam pertanyaan muncul di kepala Kenta.


***


Sementara itu di hotel yang sama, di lantai yang berbeda, tepatnya di lantai 10 kamar 220, Clarisha baru saja selesai mandi. Ia keluar dari dalam toilet dengan hanya mengenakan handuk sebatas dada. Paha dan kaki jenjangnya terekspos dengan sempurna. Rambutnya digulung ke atas dengan handuk kecil. Benjiro yang sedang menunggu Clarisha dengan ponsel di tangannya, menelan ludahnya dengan kasar. Pria paruh baya itu telah berpakaian rapi dengan jas dan dasi lengkap.


“Sayang, kau jangan menggodaku”. Ucap Benjiro sambil berjalan mendekati gadis berambut sebahu itu.



Clarisha hanya tertawa begitu Benjiro mendekap pinggang rampingnya dengan posesif. Pria itu mendekatkan wajahnya di ceruk leher wanita itu dan mengecuupnya lembut.


“Kau wangi sekali. Hemm..”. Tangan kiri Benjiro melepas gulungan handuk yang menutupi rambut gadis itu.


“Tuan, nanti aku bisa terlambat”. Ucap Clarisha menahan rasa hangat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Salah mu sendiri kenapa kau keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk”.


Tangan nakal Benjiro dengan cepat menarik lilitan handuk di dada Clarisha, dan melempar handuk itu ke sembarang tempat.


“Tuan. Aku baru selesai mandi”. Rengek Clarisha manja.


“Aku janji, ini hanya sebentar. Kau telah membangunkan ular tidur, cantik”. Benjiro membeekap bibir ranum Clarisha sambil menuntun wanita itu ke tempat tidur yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Mendorong pelan tubuh gadis itu hingga jatuh teleentang di atas ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah. Ia pun melepas ciuuumannya. Dengan cepat Benjiro membuka sabuk dan celananya hanya sampai batas lutut. Kemudian ia berdiri di antara kedua kaki Clarisha.


“Kau lihat ini. Dia sudah berdiri. Aku bisa kewalahan nanti kalau dia tidak segera dijinakkan”.


“Ah. Kenapa kau tidak ada lelahnya, Tuan. Sudah berapa babak kita bermain dari tadi malam”.


“Entahlah, Aku tidak sempat menghitungnya, sayang”.


“Jangan lama-lama. Aku tidak mau terlambat sampai di lokasi syuting”.


“Iya. Ini tidak akan lama”.


“Kau sudah basaah ternyata”. Benjiro tertawa.


“Jangan menertawakan aku”. Dengan muka cemberut.


“Tidak. Aku tidak menertawakan mu. Tubuh mu bereaksi berbeda dengan ucapanmu”. Sambil mengulum senyuman.


“Ayo. Cepat lakukan, Tuan”.


“Kau sendiri yang jadi tidak sabar”.


“Ayo cepat, Tuan. Lakukan saja”.


“Bersiaplah, kereta Shinkansen* segera meluncur”.


Benjiro mengayun perlahan keretanya, semakin lama semakin cepat. Seluruh tubuh Clarisha berguncang mengikuti ayunan yang dilakukan Benjiro. Wanita muda itu pun mendesaaah mengiringi kecepatan ayunan kereta Benjiro. Tidak sampai 5 menit, kereta ekspres itupun berhenti berguncang. Memuntahkan muatannya di atas stasiun bawah tanah milik Clarisha.


Benjiro mengeraang puas. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Clarisha.


“Terimakasih sayang. Aku lega sekali”.


“Shinkansenmu ternyata cepat sekali, Tuan”. Clarisha bangkit dari tidurnya. Ia mengambil handuk yang sudah mendarat sempurna di depan pintu kamar mandi.


"Sesuai dengan permintaanmu, sayang".


“Tuan aku harus bergegas, kalau tidak ingin terlambat ke lokasi syuting”.


“Mandilah dengan cepat. Aku akan pesan makanan. Nanti kau sarapan di dalam mobil saja”. Benjiro pun bangkit dari tempat tidur. Ia mengenakan kembali pakaian bawahnya yang terbuka.


“Baiklah Tuan. Tapi setelah aku mandi, kau jangan ajak aku bermain-main lagi. Aku benar-benar akan terlambat.”


“Tidak. Kau tenang saja. Aku akan keluar kamar. Kalau kau selesai berpakaian, segera ke mobil. Aku tunggu di sana”.


“Baiklah Tuan”. Clarisha masuk ke dalam toilet kembali.


Setelah pintu kamar mandi tertutup, Benjiro segara keluar dari kamar itu. Ia menuju restoran dan memesan 2 paket sarapan take away.


...****************...


Ada yang masih ingat siapa Benjiro dan Clarisha?.. 🏃🏃🏃


* Shinkansen (新幹線, juga sering disebut dengan nama kereta peluru) adalah kereta kecepatan tinggi yang beroperasi terutama di Jepang. Pemakaian pertama dari Shinkansen adalah pada tahun 1963. Generasi pertama dari Shinkansen dapat melaju hingga kecepatan 210 km/jam dengan komponen kendali traksi pengubah sadap yang dibantu dengan transformator, diode dan motor arus searah. Generasi selanjutnya menerapkan sistem penggerak dengan penyearah terkendali silikon dan teknologi elektronika daya dan mikroprosesor. Pada perkembangan berikutnya digunakan teknologi inverter kecepatan dan frekuensi berubah-ubah VVVF dengan penggerak berupa motor traksi tersebar. Tiap seri Shinkansen mempunyai kecepatan yang berbeda dan bervariasi sesuai dengan jaringan transportasi yang dilayani. Kecepatan maksimum generasi Shinkansen mencapai 350 km/jam.