
Kantor kepolisian Osaka seketika geger begitu mendapat laporan dari kantor kepolisian Tokyo, perihal kematian Yusa. Komandan Hajime beserta Takagi segera bertolak ke Tokyo dengan menumpang pesawat komersial yang berangkat paling awal. Begitu tiba di Tokyo, mereka langsung menuju tempat kejadian perkara untuk mengikuti proses investigasi. Kamar hotel Prince Park tempat Yusa menginap telah di pasang garis polisi. Begitu Takagi dan Hajime tiba di lokasi, jenazah Yusa telah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan proses otopsi. Yang tertinggal hanyalah garis penanda warna putih yang membentuk tubuh korban beserta noda darah di lantai kamar.
Di jendela kaca kamar hotel, terdapat bekas lubang peluru yang berdiameter 70 mm. Dapat dipastikan bahwa Yusa merupakan sasaran tembak dari seorang penembak jitu. Mengingat korban Yusa berada di lantai 30 kamar hotelnya.
Sebelum melakukan aksinya, kemungkinan besar pelaku telah mengamati dan mempelajari tingkah laku Yusa selama beberapa hari berada di Tokyo. Di mana dia menginap dan kebiasaan apa yang ia lakukan selama berlibur. Jendela besar yang berada di kamar hotel tempat Yusa menginap, berhadapan langsung dengan menara Tokyo. Membuat penembak jitu dengan mudah membidik Yusa di bagian tubuh paling mematikan.
Sementara itu dari hasil otopsi, dokter forensik menemukan retak di tengkorak kepala bagian depan yang diakibatkan
luka tembak jarak jauh atau distant. Berbentuk putaran oval, dengan tepi tajam menonjol, dikelilingi oleh lingkaran abrasi goresan atau lecet pada kulit (kelim lecet) yang disebabkan oleh gaya dorong dari peluru. Peluru menembus batang otak yang berfungsi menghubungkan otak ke sumsum tulang belakang dan merupakan bagian dari sistem saraf pusat. Lokasinya berada di bagian bawah otak tepat di bagian belakang tengkorak. Bentuknya seperti tangkai atau batang bunga. Fungsi utamanya adalah mengatur napas dan jantung. Sehingga korban mati seketika.
Peluru 338 Lapua Magnum 8,6 x 70 mm menimbulkan pendarahan hebat lebih dari 700 ml. Peluru itu merupakan peluru rimless dengan bentuk bootleneck yang mampu melumpuhkan sasaran dan juga mempunyai kemampuan anti material yang untuk melumpuhkan peralatan militer (materiel) daripada untuk melumpuhkan pasukan / prajurit (anti personel).
Peluru jenis ini digunakan untuk senjata laras panjang berperedam SAKO TRG 42 A1 Tungsten buatan Finlandia.
Polisi menemukan proyektil peluru di dinding kamar hotel Yusa dengan kedalaman satu sentimeter.
Dari hasil penelusuran polisi, mereka menemukan lokasi yang dijadikan tempat pelaku penembakan untuk membidik targetnya. Di puncak sebuah bangunan hotel yang masih dalam proses pengerjaan berjarak 22 menit berjalan kaki dari lokasi hotel Prince Park tempat Yusa menginap. Tepatnya di Chome 1-10 Azabudai, Minato City, Tokyo 106-0041.
Polisi menemukan sebuah selongsong peluru yang tertinggal di lokasi kejadian. Selebihnya mereka tidak menemukan jejak apapun yang mengindentifikasi pelaku. Di selongsong peluru pun tidak ditemukan sidik jari pelaku. Sepertinya pelaku merupakan seorang penembak jitu (marksman, sharpshooter, atau designated marksman). Dari senjata yang digunakan pelaku, kemungkinan besar ia adalah seorang prajurit atau mantan prajurit yang memiliki kemampuan menembak jarak jauh dan pernah tergabung dalam regu infanteri.ย
Polisi Osaka bekerjasama dengan polisi Tokyo untuk mengungkap kasus yang cukup menarik perhatian ini. Mengingat korban adalah pelaku pembunuh berantai yang berada dalam pengawasan pihak berwajib.
Yang menjadi pertanyaan siapa pelaku dan apa motif dari pelaku melakukan perbuatannya itu ? Bila dilihat dari profil korban Yusa, kemungkinan besar pelaku adalah orang-orang yang pernah menjadi korban atau keluarga korban yang tidak puas dengan keputusan pengadilan.
๐๐๐
Kring.. Kring.. Kring..
โYa.โ
โAkan aku kirim, begitu polisi mengeluarkan pernyataan resmi mengenai kematian si brengseek itu.โ
โBaik Tuan. Aku pastikan saat ini dia sudah pergi ke neraka.โ
โHa ha ha.. aku percaya padamu. Tapi aku butuh bukti yang pasti. Kau tenang saja. Aku tidak akan mengingkari janji. Aku akan membayar mu sesuai dengan perjanjian awal kita.โ
โBaik. Aku tunggu kabar baik dari mu.โ
โOh. Ya. Saat ini juga kau harus segera pergi dari negara ini. Aku tak mau polisi mengendus keberadaan mu.โ
โKau tenang saja, Tuan. Aku seorang profesional. Aku jamin mereka tidak akan menemukanku.โ
Tut ... Tut .... Tut ...
Setelah panggilan suara itu terputus, pria tersebut menyimpan ponsel ke dalam saku celananya. Menggenggam besi pembatas balkon, pria yang berusia 40 an itu tersenyum lebar memandang ke arah langit Jepang yang bertabur bintang.
โ Sayang. Bahagialah kau di sana. Aku telah membalaskan dendammu padanya. Tunggulah aku di pintu surga.โ
...****************...
Note author kacang :
Sering kali dianggap sama sniper dengan penembak jitu. Ternyata memiliki perbedaan yang mencolok.
Penembak jitu sebenarnya memiliki istilah marksman atau designated marksman, yaitu seseorang yang tugasnya menembak secara tepat dengan menggunakan tipe senapan tertentu. Sedangkan sniper umumnya disebut dengan penembak runduk dalam istilah Indonesia. Sniper juga sudah terlatih dalam kamuflase sedangkan penembak jitu tidak dilatih untuk itu. Biasanya penembak jitu berada dalam suatu regu infanteri karena diperlukan untuk pertempuran jarak menengah. Sniper merupakan bagian terpisah dari regu infanteri, yang juga berfungsi sebagai pengintai dan memberikan informasi lapangan yang sangat berharga, sniper juga memiliki efek psikologis terhadap musuh. Sedangkan penembak jitu tidak memakai kamuflase, dan perannya adalah untuk memperpanjang jarak jangkauan pada tingkat regu. Senapan yang digunakan memang lebih jauh jangkauannya dengan senapan serbu, namun tidak lebih jauh dari senapan yang digunakan oleh sniper. Penembak jitu dapat menjangkau target hingga sejauh 800 meter, sedangkan sniper bisa menjangkau dari 1.000 meter hingga 1.500 meter. Ini dikarenakan sniper pada umumnya menggunakan senapan runduk bolt-action khusus, sedangkan penembak jitu menggunakan senapan semi otomatis, yang biasanya berupa senapan tempur atau senapan serbu yang dimodifikasi dan ditambah teleskop.
Sniper telah mendapatkan pelatihan khusus untuk menguasai teknik bersembunyi, pemakaian kamuflase, keahlian pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Ini membuat sniper memiliki peran strategis yang tidak dimiliki penembak jitu. Penembak jitu dipasang pada tingkat regu, sedangkan sniper pada tingkat batalyon dan tingkat kompi.
Sniper dalam operasi militer secara umum, tujuannya adalah mengurangi kemampuan tempur musuh dengan cara membunuh sasaran yang bernilai tinggi, seperti perwira.
Di kepolisian biasanya menurunkan sniper dalam penanganan skenario penyanderaan. Mereka dilatih untuk menembak sebagai pilihan terakhir, hanya jika nyawa sandera terancam langsung. Sniper polisi biasanya beroperasi dalam jarak yang lebih dekat dari pada sniper militer. Itulah mengapa sniper polisi tujuannya adalah untuk melumpuhkan musuh bukan membunuh musuh.
Source : Atuk Geleng-geleng