
September 2012, di sebuah rumah kecil di Osaka
Bunyi botol pecah, membuka kesunyian pagi itu.
Prank..
Tak lama kemudian
Plak..
"Dasar istri tidak berguna !!! Berikan aku uangmu !!!" Suara seorang pria menggema.
"Aku tidak mempunyai uang lagi!!" Jawab seorang wanita tak kalah sengit.
"Bohong !!!" Bentak sang pria.
Terdengar bunyi orang melempar sesuatu.
Duk..
"Apa yang kau lakukan, breng sek!!" Suara wanita kesakitan.
"Lepaskan tanganmu, sia lan !!" Suara pria membalas makian.
Duk !!!
"Kur ang a jar, kau!!" Hardik wanita itu kembali.
"Itulah akibatnya kalau menghalangiku. Mau ku lempar sekalian kau ke luar !!" Teriak sang pria
Hening...
"Sia lan !! Di mana kau simpan uang mu, pela cur!!" Lanjutnya
"Sudah ku bilang, aku tidak mempunyai uang, breng sek!!" Jawab wanita itu kembali
"Aku tidak percaya !!!. Hei.. berikan itu padaku !!"
"Jangan kau ambil. Itu satu-satunya peninggalan orang tuaku yang masih tersisa.!!" Rengekan sang wanita memohon.
"Masa bodoh. Sini berikan padaku, dasar *** *** !!" Jawab lelaki itu tak peduli
Plak..
Suara tamparan kembali terdengar
"Kembalikan padaku, breng sek !!" Teriak wanita itu lagi.
Terdengar bunyi pintu dibuka dan dibanting.
Langkah kaki terdengar melewati pintu kamar. Shuji Tetsuya duduk di lantai dengan menutup kedua telinganya. Langkah kaki itu semakin menjauh.
Brak .. Pintu depan dibanting dengan kuat. Merupakan tanda bahwa sang ayah telah meninggalkan rumah mereka. Setelah pria itu pergi, Shuji bergegas menuju kamar ibunya.
Kriet.. Dibukanya pintu kamar perlahan. Ruang tidur yang pengap dan gelap itu terlihat berantakan. Pakaian yang ada di lemari baju, bertebaran di lantai. Botol minuman keras tergeletak pecah di sudut ruangan.
Ibunya meringkuk di lantai dekat tempat tidur. Shuji segera berlari ke arah wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu... Kau tidak apa-apa?" Wanita itu hanya diam membisu. Matanya terlihat kosong menerawang. Rambutnya berantakan dengan wajah bekas lebam di sana sini.
"Ibu.. Bicaralah. Katakan sesuatu" Shuji mengguncang tubuh ibunya, namun wanita itu tetap diam membisu
"Ibu. Aku mohon, bicaralah.."
Dengan menguatkan tekad, Shuji mengangkat tubuh ibunya ke atas ranjang. Membaringkannya dan menutup tubuh itu dengan selimut. Dengan hati-hati, ia membersihkan pecahan botol yang berceceran di lantai kamar. Membereskan semua bekas kekacauan yang ditinggalkan ayahnya.
Shuji Tetsuya hanya seorang siswa kelas 3 di SMA Osaka, yang bisa melanjutkan sekolahnya dengan beasiswa. Ayahnya seorang pemabuk dan penjudi. Karena kegemarannya inilah kehidupan rumah tangga keluarga mereka berantakan. Entah bagaimana caranya mereka masih bisa bertahan hidup hingga saat ini.
Shuji pergi ke dapur dan melihat persediaan beras mereka yang hanya tinggal segenggam. Dengan melepaskan nafas berat, ia mengambil beras itu dan menanaknya menjadi bubur. Setelah jadi, bubur itu di masukkan ke dalam mangkuk, dan di bawanya ke kamar ibunya beserta segelas air.
"Ibu... Ini aku buatkan bubur. Ibu makan ya.." Shuji menyendok bubur panas itu dan meniupnya.
"Ibu.. Bukalah mulutmu." Bubur di dalam sendok menggantung di udara menunggu ibunya membuka mulut.
"Ibu.." Tidak ada respon apapun dari wanita itu. Perempuan itu hanya terdiam membisu dengan menatap kosong langit-langit kamar.
Shuji melihat jam di dinding kamar, telah menunjukkan pukul Pukul 8 pagi. 1 jam lagi sekolah akan di mulai. Shuji meletakkan mangkuk bubur di atas nakas.
"Ibu, aku harus ke sekolah. Buburnya nanti dimakan ya." Shuji meletakan mangkuk itu di atas nakas. Ia bergegas menuju kamar mandi, berkemas diri dan segera berangkat sekolah.
Dengan menahan lapar, Shuji berangkat sekolah. Hanya sebotol air mineral saja yang bisa ia minum untuk mengganjal perutnya yang kosong.
Melangkahkan kaki lebih lebar Shuji berangkat ke sekolah agar ia tidak terlambat sampai di kelas. Sepanjang perjalanan ke sekolah, tentu saja ia berpapas dengan teman-teman sekolahnya, tapi tak satu orangpun yang sudi menyapa dirinya. Karena ia bukanlah siswa kaya dan populer, yang menjadi idola teman-teman seusianya.
Duduk di pojok depan kelas, Shuji membuka buku, mengulang mata pelajaran yang telah lalu sambil menunggu kedatangan guru mata pelajaran. Ia sangat takut beasiswanya di cabut, jika nilai pelajarannya anjlok. Ia tidak memperdulikan aktifitas yang dilakukan teman sekelasnya yang asik bersenda gurau.
Mata pelajaran hari ini adalah sains. Bu Gina Ayumi memasuki kelas dengan anggunnya. Kelas yang semula gaduh, mendadak sunyi, begitu mendengar suara high heels beradu dengan lantai keramik kelas.
Klotak .. Klotak.. Klotak..
Aroma citrus seketika memenuhi ruang kelas. Dengan melemparkan senyuman, Bu guru Ayumi memulai kelasnya. Menerangkan materi pelajaran dan memberikan tugas. Ia sesekali berkeliling kelas, memeriksa tugas yang sedang dikerjakan para siswa. Saat berkeliling itu, diam-diam ia meninggalkan kertas di atas buku Shuji. Dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Ayumi kembali ke tempat duduknya.
***