
Dengan mengenakan kaca mata hitam menutupi matanya yang bengkak, Rossane berjalan menyusuri jalan Namba, membawa gemuruh di dadanya. Jalan yang penuh sesak dengan bar dan club malam. Namba adalah rumah bagi beberapa club¹dan bar¹ternama. Langkahnya terhenti di depan bar ChicaIchi. Walau ragu, Rosanne membawa dirinya memasuki bar itu. Bersembunyi di bawah jalan tol, bar bawah tanah yang nyaman ini penuh dengan pelanggan tetap dan selalu menjadi lingkungan yang ramah bagi pendatang baru. ChicaIchi dikenal sebagai bar gaijin. Bar yang di penuhi oleh turis dan bartender serta staf berbahasa Inggris.
Suasana bar masih sepi. Maklumlah waktu itu masih pukul 5 sore. Suasana yang nyaman menurut Rosanne. Tepat sekali untuk dirinya yang ingin menyendiri. Mengambil tempat duduk di pojok meja bartender, Rosanne memesan cocktail² dan burger untuk mengisi perutnya yang kosong. Seorang staf datang mengantarkan burger pesanannya. Dan tak lama kemudian, bartender pun mengantarkan minuman miliknya.
Tanpa terasa Rosanne menghabiskan waktu berjam-jam di bar itu. Berbincang bersama bartender yang ramah, menemaninya sembari melayani pesanan pelanggan lain. Rosanne tidak menyesali kedatangannya ke club itu. Memiliki teman ngobrol yang menyenangkan, ternyata membuat hatinya sedikit terhibur.
Hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Seorang pria berdarah Eropa tinggi dan besar memasuki bar. Ia menghampiri meja bartender dan memesan segelas martini ³ Sambil menyesap minumannya, pria itu memendarkan pandangannya ke sekeliling bar. Pandangannya terhenti di ujung meja bar. Seorang wanita cantik berambut pirang terlihat menundukkan kepala ke atas meja.
“ Excuse me.”
“Ya Tuan. Ada yang bisa aku bantu?”
“Wanita yang ada di sana itu siapa?” Tanya pria itu pada bartender yang sedang meracik minuman.
“Yang mana, Tuan?”
“Itu..” Pria itu menunjuk dengan pandangannya. Sang bartender pun mengikuti gerakan mata pelanggannya.
“Oh itu. Itu Nona Rosanne, Tuan.”
“Sudah lama dia di sana?”
“Cukup untuk menghabiskan 3 gelas cocktail dan dua paket burger king.”
“Wow." Pria itu tampak berfikir. "Apakah dia sendirian?”
“Iya, Tuan.”
“Baiklah. Terimakasih.”
“Sama-sama, Tuan.” Bartender itu pun melanjutkan pekerjaannya.
Merasa mempunyai teman seperjuangan dalam kesendirian, pria itu mendekati Rosanne sambil membawa gelas minumannya.
“Hai.. Boleh aku duduk di sini?” Dengan ramah pria itu menyapa Rosanne yang masih setia dengan posisi duduknya. Ia kemudian meletakan gelas martininya di atas meja bar dan mendudukkan bokoongnya di kursi yang ada di samping Rosanne. Mendengar suara pria di dekatnya, Rosanne mengangkat kepalanya yang terasa berat.
“Ai... ?” Rosanne mengerjap-ngerjapkan mata. “Benarkah itu kau?” Merasa pandangannya tidak salah, wanita itu langsung menghambur ke pelukan pria itu. Hampir saja mereka jatuh, jika pria itu tidak dengan sigap mendekap tubuh Rosanne yang tiba-tiba memeluknya.
“Aku senang sekali, Ai. “
“Maaf Nona, anda mungkin salah orang.”
“ Bertahun-tahun kita hidup bersama, aku sangat mengenal dirimu dan aroma tubuhmu, Ai.” Rosanne merangkul tubuh pria itu dengan mesra.
“Nona, anda sedang mabuk. Sebaiknya anda pulang. Adakah seseorang yang bisa dihubungi untuk menjemputmu?”
“Aku ingin pulang bersamamu, Ai. Bawalah aku pergi .” Bisik Rosanne. Sejurus kemudian wanita itu mengulum telinga pria asing itu.
“Hei, Nona. Apa yang kau lakukan?” Pria itu mengusap telinganya yang terasa geli.
“Ai. Aku sangat merindukanmu.” Tangan jahil Rosanne menyentuh bibir sang pria. Wajah mereka sangat dekat.
“Kemana? Aku tidak tahu di mana dia tinggal.”
“Terserah Tuan saja.” Jawab Bruce sambil cengengesan. “Malam ini anda mendapatkan Jackpot, Tuan.” Lanjutnya kemudian.
“Adakah hotel di dekat sini?”
“Agak jauh, Tuan. Kau tentunya harus naik dahulu ke ruas jalan. Sepanjang jalan Namba ada banyak hotel.“
“Aduh. Membawa wanita mabuk untuk mencari hotel, sungguh sangat merepotkan.”
“Kalau Tuan mau, bar ini punya kamar untuk keadaan darurat. Tidak sebagus kamar hotel, memang. Tapi cukup nyaman untuk ditempati.
“Ya sudah. Aku ambil itu saja.”
“Sebentar Tuan aku panggilkan seorang staf untuk mengantarmu.” Bruce menuju telepon interkom yang terletak di sudut tersembunyi meja barnya dan melakukan panggilan. Tak berapa lama kemudian seorang staf datang. Staf pria itu memandu menuju kamar yang ada di belakang bar. Mereka masuk melewati pintu yang ada di samping meja bar. Melewati lorong sempit yang cukup untuk dilewati oleh dua orang. Ternyata di sepanjang lorong ada kamar-kamar yang memang sengaja disediakan oleh pengelola bar, untuk pelanggan mereka yang sangat mabuk dan tidak bisa pulang sendiri. Tentu saja ada harga yang harus dibayarkan untuk layanan itu.
Mereka berhenti di kamar ketiga. Staf tersebut membuka pintu kamar. Dan mempersilahkan mereka masuk. Sebuah kamar yang tidak terlalu besar dengan sebuah kasur king size tanpa tempat tidur, terletak di lantai kamar. Di samping tempat tidur ada sebuah nakas mini dengan lampu tidur diatasnya. Pengelola tak lupa meletakkan kulkas mini disudut ruangan. Di Kamar itu juga disediakan toilet kecil yang dilengkapi dengan shower.
Begitu mereka masuk, Rosanne mendorong pria yang entah siapa namanya itu ke kasur. Begitu pria itu ambruk, dengan cepat Rosanne naik ke atas tubuh prianya. Dengan ganasnya ia langsung menerkam sang pria.
“Astaga. “ Staf bar segera meninggalkan kamar itu dengan wajah memerah.
🥀🥀🥀
Hari sudah berganti. Matahari pun sudah tinggi. Disaat bayangan sudah tidak condong ke manapun, Rosanne menggeliat dari balik selimut. Tangannya tanpa sengaja menyentuh seseorang yang ada di sampingnya. Refleks tubuhnya memeluk orang itu. Meraba daada yang ditumbuhi rambut yang lebat, Rosanne seketika tersentak dan membuka matanya.
“Astaga. Apa yang telah terjadi? Siapa dia? Aku di mana?” Matanya membulat sempurna begitu mendapati dirinya tanpa sehelai benang pun, bersama pria asing yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
Memijat-mijat kepalanya yang terasa pusing, Rosanne berusaha mengingat kejadian yang telah terjadi tadi malam. Namun semakin ia berusaha mengingat, semakin berdenyut kepalanya. Memilih mengabaikan apa yang telah terjadi, Rossane segera mengenakan pakaiannya kembali. Ia harus segera pergi dari sana, sebelum pria asing itu bangun. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan pria satu malamnya itu. Toh, mereka tidak akan bertemu lagi. Apapun yang terjadi tadi malam, mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Dalam hal ini tidak ada pihak yang dirugikan. Namun, hal paling penting yang Rosanne lupakan, bagaimana ia dengan ganasnya menggagahi pria yang dia sangka mantan suaminya itu. Dia juga telah menolak ketika pria itu hendak memakai pengaman. Dengan alasan ingin mengandung buah cinta mereka. Begitu besar keinginannya itu, Rosanne membuat pria yang ada di bawahnya itu, orgaasme berkali-kali.
Tanpa meninggalkan pesan apapun, Rosanne meninggalkan kamar bar itu. Ia segera menuju hotel tempat ia menginap selama di Osaka. Setelah mandi dan berganti pakaian dengan cepat, ia segera meninggalkan kota yang dikenal sebagai dapur nasionalnya⁴ Jepang, menuju Tokyo.
...****************...
¹ Club memudahkan tamu untuk mendapatkan semua kebutuhannya untuk menghabiskan malam. Biasanya sore hingga malam hari tamu akan mengunjungi cafe di club tersebut untuk makan, kemudian lebih malam lagi mereka akan berkunjung ke karaoke. Setelah lewat tengah malam, mereka akan menyambangi diskotek. Jadi konsepnya itu ada paling tidak tiga layanan dalam satu bangunan.
Bar itu mirip seperti kafe, tapi menjual minuman beralkohol. Biasanya anak-anak muda pergi ke bar untuk nongkrong dan sebagainya. Tamu-tamu yang berkunjung ke bar biasanya berpakaian santai dan dapat dengan bebas memesan minumannya sendiri kepada para bartender.
² Cocktail adalah minuman beralkohol yang dicampur dengan minuman atau bahan-bahan lain yang beraroma. Sebelum disajikan dalam gelas khusus koktail, minuman ini diaduk atau diguncang-guncang supaya bahan-bahannya tercampur.
³ Martini adalah minuman koktail yang dibuat dengan gin dengan vermouth yang tidak manis (dry) lalu dihias dengan buah zaitun. Martini pertama kali dibuat sekitar tahun 1862 dan ketika itu minuman ini dikenal dengan nama Martinez. Saat itu, Martinez dibuat dengan mencampurkan 4 bagian vermouth merah yang manis dengan 1 bagian gin lalu dihias dengan buah ceri. Minuman tersebut pun berkembang dan vermouth merah manis kemudian digantikan dengan vermouth putih yang tidak manis. Perbandingan vermouth dengan gin yang tadinya 4:1 menjadi 1:1 dan hiasannya pun diganti dari buah ceri menjadi buah zaitun. Martini modern telah berkembang dan memiliki beberapa variasi, diantaranya adalah vodka martini yang mengganti gin dengan vodka dan dessert martini yang tidak menggunakan vermouth.
⁴ Kota Osaka dikenal dengan julukan “Dapur Nasional”. Memang kota ini menjadi pusatnya perdagangan beras selama periode Edo, dan pada hari ini pun menjadi lokasi terbesar untuk berwisata kuliner, dan okonomiyaki adalah hidangan paling terkenal di Osaka