
Mengurai dekapannya, Takagi menatap intens wajah Keiko. Kedua tangannya tetap mendekap erat pinggang ramping wanita cantik itu. Degup jantung mereka berpacu dengan cepat. 2 pasang mata itu bertemu untuk saling mendalami. Mengukur berapa dalam perasaan mereka untuk saling menyayangi satu dengan yang lain.
Penelusuran itu menuntut mereka untuk lebih dekat, semakin dekat dan mendekat. Tanpa mereka sadari kedua bibir mereka bertemu dan saling mengecup lembut. Wajah Keiko bersemu merah, matanya memejam, merasakan aliran listrik jutaan volt yang bersumber dari bibir manis Takagi. Getaran itu berhenti ketika mereka saling melepaskan kecupannya. Dengan kedua kening masih bertautan, mereka saling melempar senyuman.
“Terimakasih sudah ada di samping ku saat ini” Bisik Takagi. Keiko membalasnya dengan menguntai senyum manis di bibirnya.
“Bersediakah kau untuk tetap bersama tanpa beranjak satu langkah pun dari sisiku?”
“Apakah kau sedang melamarku, Fujimaru-san?” Keiko menarik jarak di antara mereka, namun Takagi menahannya dengan menggenggam erat kedua tangan Keiko.
“Menurutmu?” Jawab Takagi tanpa melepas senyum dari wajahnya.
Keiko kembali menyusuri mata Takagi. Apakah ada kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan kejujuran dan ketulusan.
“Apakah ini tidak terlalu cepat?”.
“Kita telah sama-sama dewasa. Dan kita juga pernah merasakan sakitnya kegagalan. Aku yakin kita akan saling menyembuhkan dan menguatkan”.
“Tapi, aku belum lama bercerai”.
“Aku akan menunggu sampai kau siap”.
“Kalau lama bagaimana?”.
“Aku akan menunggu sampai hembusan nafas terakhirku”.
Mata Keiko seketika berkaca-kaca mendengar ungkapan hati Takagi. Wajahnya menunduk, merasakan keharuan yang mendalam. Ia berusaha keras agar butiran itu tidak jatuh di pipinya.
“Sayang, kemarilah” Takagi menarik Keiko ke dalam dekapannya.
Dalam pelukan Takagi, Keiko menghapus butiran air yang turun di sudut mata indahnya.
“Kenapa harus aku?” Tanya Keiko haru.
Takagi mengurai pelukannya. Ia mengusap pipi Keiko, menghapus sisa air mata yang membekas.
“Karena kau istimewa”.
Blush..
Wajah Keiko kembali memerah. Karena malu ia menundukkan wajahnya. Tidak berani menantang mata Takagi yang semakin intens menatapnya.
Tok.. tok..tok..
Kedua orang dewasa itu, bersamaan menoleh ke arah pintu masuk. Seketika melepaskan tautan tangan mereka, begitu mengetahui orang yang mengetuk pintu ruang inap itu.
Kaoru masuk ke kamar rawat Takagi sambil menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. Keiko terlihat mengusap mata kemudian menyibak rambutnya ke belakang telinga.
“Apa ada yang aku lewatkan?” Tanyanya pada Takagi.
“ Tidak ada” Jawab Takagi ketus.
“Benarkah?”
“Iya. Masa kau tidak percaya”.
“Memang. Wajahmu terlihat berbeda dengan ucapan mu”.
“Beda bagaimana?”
“Itu. Hidung mu memanjang, memperjelas kebohongan mu”.
Takagi spontan memegang hidungnya
“Hidung ku memang sudah mancung dari lahir".
“Kata siapa? Percaya diri sekali... Cih..”
“Aku memang sangat percaya diri. Kau saja yang iri dengan keberuntungan ku”.
“Aku tidak iri pada mu. Kau saja yang...”
“Excuse me.. Kenapa kalian malah bertengkar di sini?” Potong Keiko.
“Orang ini yang cari gara-gara, Dokter” Jawab Takagi.
“Yang cari gara-gara siapa? Aku kan cuma bertanya. Dan kau menjawab pertanyaan ku dengan kebohongan” Balas Kaoru.
“Siapa yang berbohong? Kau datang dengan tiba-tiba, kemudian melakukan tuduhan yang tidak berdasar”.
“Tuduhan bagaimana? Kenyataannya memang begitu kan?”.
“Stopped..!! Kalian berdua seperti anak kecil. Aku lelah mendengar keributan kalian yang tidak jelas. Aku pergi saja. Silahkan lanjutkan pertengkaran kalian..!!” Keiko melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
“Sayang. Jangan pergi..!!” Rengek Takagi
“Sayang ? Buahahahaha..!!” Kaoru tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dan rengekan Takagi yang sangat kekanak-kanakan itu.
“Iss.. “ Takagi kesal dengan reaksi menyebalkan yang Kaoru tujukan padanya.
Wajah Keiko seketika memerah. Ia melanjutkan langkah kakinya.
“Sayang. Jangan marah. Aku sedang sakit. Dan aku tidak bisa mengejar mu. Kembalilah, aku mohon”.
Keiko membalikkan tubuhnya
“Aku tidak marah, Fujimaru-san. Pekerjaan menunggu ku. Nanti aku kembali lagi”.
“Baiklah. Tapi janji ya, kau akan cepat kembali”.
“Iya”.
“Hati-hati di jalan”.
“Cih... “ cela Kaoru sambil memutar bola matanya.
Dengan senyuman Keiko menjawab permintaan Takagi. Segera ia meninggalkan tempat itu dengan wajah yang memerah. Ia harus segera pergi, memberikan waktu kepada dirinya agar bisa mencerna dengan baik, apa yang baru saja terjadi di antara mereka berdua. Bergegas ia menuju ruangannya sambil menyentuh kedua bibirnya. Senyumnya mengembang membayangkan manis dan lembutnya Takagi mengecupnya tadi.
“Hei. Bantu aku, sialan”.
“Iya. Bisa tidak minta tolongnya dengan cara yang baik?”
“Kau itu sangat menyebalkan”.
Dengan muka yang dibuat kesal, Kaoru membantu Takagi menyamankan posisinya di atas tempat tidur.
“So, ada yang lagi bahagia hari ini” Kaoru duduk di kursi yang ada di samping bankar Takagi.
“Hum.. “.
“Diterima?”
“Belum”.
“Tapi kelihatannya akan diterima itu” Kaoru tersenyum simpul.
“Semoga”.
“Oh. Iya. Aku ada berita terbaru”.
“Berita apa?”.
“Dari hasil penelusuran tim cyber dan digital forensik, ternyata orang terakhir yang menghubungi Adriana melalui sambungan telepon portable adalah seorang lelaki yang bernama Shuji Tetsuya. Dan kau tau kalau aku baru saja bertemu dengannya”.
“Di sini?”
“Yes exactly. Dia bekerja sebagai perawat UGD".
“ Kenapa kebetulan sekali. Sebentar, sepertinya aku pernah mendengar nama itu” Takagi berfikir sejenak. “ Oh iya, bukankah dia salah satu korban mendiang Nona Ayumi?”
“Iya benar. Kau kan pernah melaporkan hasil penyelidikan mu ke SMA Osaka waktu itu”.
“Terus apa isi percakapan mereka?”
“Mereka berjanji bertemu di Bar Nayuta, untuk bersenang-senang”.
Kaoru juga menceritakan pada Takagi perihal percakapannya dengan Sora di kantin tadi.
“Aku berencana akan ke sana untuk memeriksa cctv dan meminta keterangan saksi-saksi".
“Lakukanlah”.
“Siap. Laksanakan” Kaoru segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang rawat Takagi.
“Jangan lupa tutup pintunya”.
“Siap komandan”.
***