Looking For Murder

Looking For Murder
Tolong Berikan Keadilan Untuk Cucuku



Osaka Bay Wheel Apartement


Takagi memasuki unit 110 milik Cho Katou. Ia ingin mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Apartemen yang di dominasi warna kayu itu masih tampak bersih walaupun sudah beberapa hari ditinggal pemiliknya. Apartemen itu tidak terlalu besar. Hanya ada 1 kamar tidur, ruang tamu kecil dengan sebuah sofa panjang, dapur kecil, bak mandi dan pancuran, serta balkon yang memberikan pemandangan indah teluk Osaka.



Takagi masuk ke kamar Cho, di nakas tempat tidur ada pigura yang membingkai sebuah foto. Foto Cho dan seorang wanita tua yang berusia lanjut. Takagi membuka laci nakas di bawah foto. Di dalamnya terdapat sebuah buku diary dan beberapa tagihan rumah Sakit.


" Siapa yang sakit?" Gumam nya.


Tagihan dari rumah Sakit Ikeda atas nama pasien Akane.


"Tagihan yang tidak sedikit. Sebenarnya ada hubungan apa Cho dengan Akane ?"


Takagi membuka lembar demi lembar buku harian itu. Diary itu berkisah, tentang Cho kecil yang hidup sebatang kara ditinggal pergi kedua orang tuanya untuk selama-lamanya. Kedua orang tua Cho meninggal dunia akibat bus yang mereka tumpangi untuk berangkat bekerja mengalami kecelakaan. Kedua orang tua cho adalah buruh pabrik sebuah perusahaan elektronik.


Ketika bekerja, mereka mempercayakan pengasuhan Cho kecil kepada sang nenek, ibu dari ayah Cho. Sejak kepergian kedua orang tuanya, nenek lah yang harus membanting tulang untuk membesarkan Cho. Nenek Cho tanpa kenal lelah berkerja membuat roti dan menitipkannya ke kedai-kedai sekitar rumah mereka, agar mereka bisa bertahan hidup. Di usia yang sudah senja itu nenek Cho di diagnosa dokter terkena penyakit demensia. Semakin lama penyakit itu semakin parah. Pernah pada suatu ketika, Cho muda pulang bekerja, ia tidak menemukan nenek nya di rumah. Alangkah paniknya Cho. Ia berkeliling mencari keberadaan sang nenek. Nasib baik masih berpihak padanya. Nenek nya di temukan oleh seorang pria baik hati yang mengantarkannya ke pos polisi terdekat.


Tak ingin peristiwa itu terulang lagi, Cho menitipkan dan mempercayakan perawatan nenek nya ke rumah sakit. Karena gajinya sebagai pelayan mini market yang tentu saja tidak bisa menutupi besarnya tagihan perawatan nenek, Cho dengan terpaksa banting stir bekerja sebagai wanita malam. Untuk menutupi aibnya, Cho menjual rumah peninggalan kedua orang tuanya dan memilih tinggal di apartemen sederhana yang jauh dari rumah nya dulu.


Atas rekomendasi seorang temannya, Cho bisa bekerja di HK Club Q. Begitulah hari-hari yang dijalani Cho sebagai pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Sampai suatu ketika di awal tahun 2019, ia bertemu dengan seorang bule yang menurutnya sangat baik. Mengetahui sulitnya Cho menjalani hidup, lelaki itu selalu memberi tips lebih kepada nya. Sampai pada suatu malam, setelah mereka memadu kasih, lelaki itu melamarnya. Ia menjanjikan kehidupan yang layak bagi Cho. Dan berjanji akan menanggung biaya pengobatan neneknya. Ajakan itu bagai oase di dalam kehidupan Cho. Namun sayang, lelaki itu telah beristri. Cho berada dalam dilema. Ia tidak menolak dan juga menerima. Ia meminta waktu untuk berfikir dan memutuskan langkah terbaik bagi hidupnya.


Sampai di sini, Takagi mengambil nafas panjang.


" Tak mungkin pria itu yang membunuh Cho. Dia telah melamarnya. Ketiga pria yang terakhir memakai jasa Cho begitu terkejut mengetahui Cho telah pergi dengan cara yang mengenaskan. Siapa yang telah tega membunuh wanita yang sangat menyayangi neneknya ini?"


" Akane. Apakah itu nama nenek Cho?"


Takagi bergegas menutup diary itu dan menyelipkan beberapa tagihan rumah sakit di sela-sela lembaran buku. Dan beranjak pergi dari tempat itu.


Rumah sakit Ikeda


Krieet.. Pintu kamar rawat inap itu terbuka. Seorang perawat dan seorang petugas polisi menemukan penghuni kamar 321 itu sedang duduk di atas tempat tidurnya menghadap ke jendela kamar.


" Nona Cho rajin berkunjung?'


"Setiap hari, Pak. Menjelang makan siang, Nona Cho pasti sudah sampai ke sini dan baru pergi sekitar pukul 4 sore"


" Soal biaya perawatan Akane-sama bagaimana?"


"Nona Cho sudah melunasinya sampai bulan depan, Pak. Kami masih memberikan pelayanan terbaik yang bisa kami berikan"


"Oh begitu. Bolehkah aku berbicara dengan nya?"


"Silahkan, Pak. Aku akan mengawasi dari sini"


"Baiklah. Terimakasih"


Takagi berjalan berlahan menuju tempat Akane berada. Ia menarik kursi yang ada di dekat brankar pasien itu.


"Selamat siang, Nyonya. Aku Fujimaru Takagi. Temannya cucu anda Nona Cho. Apa kabar anda hari ini?"


Tidak ada jawaban apapun dari Akane. Menoleh pun dia tidak.


"Nyonya, aku datang untuk memberitahukan kepada anda, bahwa Nona Cho saat ini belum dapat menemui anda. Dia harus bekerja ke luar kota. Dia menitipkan salamnya kepada saya untuk anda"


Nenek Akane tidak bereaksi apa pun. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba air di kedua mata wanita tua itu menetes.


"Kau jangan membohongi ku, aku tau kalau cucu ku sudah tiada " Ujarnya seraya menghapus air matanya.


"Cucu ku datang dalam mimpiku dengan banyak darah di tubuhnya. Ia tidak berbicara, hanya menangis seolah meminta tolong. Tuan, tolong berikan keadilan untuk cucu kesayanganku" Seraya menatap Takagi penuh harap.


Takagi diam tak dapat berkata-kata. Hanya genggaman tangannya pada tangan renta itu seolah-olah berkata " I do my best".