
Cumbuan lelaki itu semakin liar. Daaadaaanya di remas dengan begitu buasnya oleh pria itu. Nafas pria itu terdengar semakin memburu. Hingga Clarisha merasakan sebuah benda keras dan panjang memaksa masuk ke dalam mulutnya. Rambutnya diremas sedemikian rupa. Kepalanya dipaksa mengikuti ayunan tangan pria itu yang mencengkram rambutnya dengan kuat. Kulit kepalanya seperti hendak terlepas dari tempatnya. Cukup lama ayunan itu terjadi. Clarisha merasakan perih dan kebas di sekitar bibir dan rongga mulutnya. Hingga saat itu tiba, benda keras dan panjang itu mengeluarkan cairan kental yang beraroma khas. Cairan itu sangat banyak. Sebagian menetes dari rongga mulutnya.
“Telan !!”. Perintah pria itu. Kedua tangannya menahan kepalanya. Satu tangan di atas kepalanya, tangan yang lain di bawah dagu, menekan dengan kuat. Mau tak mau Clarisha menelan cairan itu. Perutnya terasa mual. Ingin rasanya ia memuntahkan cairan itu, namun sekuat tenaga ia menahannya.
“Bagus”. Pria itu tertawa terbahak-bahak.
Ia menepuk pelan pipi Clarisha. Wanita itu pikir siksaan untuknya hari itu akan berakhir. Tetapi, ternyata tidak. Pria itu membuka tali yang mengikat kedua kaki Clarisha. Menarik Clarisha untuk berdiri. Pria itu kemudian merangkul pundaknya. Menuntunnya berjalan ke suatu tempat.
"Ayo jalan".
Clarisha yang matanya ditutup, berjalan tertatih-tatih di dalam kegelapan. Terdengar suara pintu dibuka. Udara dingin pun terasa di kulit. Clarisha bisa menebak ia di bawa ke kamar mandi.
“Ya Tuhan. Apa lagi yang akan dia lakukan padaku”.
“ Kau duduk di sini”. Pria itu mendudukkan Clarisha di sebuah bangku kayu.
“Kau kotor sekali. Saatnya mandi”. Pria itu melucuti seluruh pakaian Clarisha tanpa kecuali. Hingga ia merasakan udara dingin menembus kulitnya yang polos.
Tanpa membuka penutup mata Clarisha, pria itu menyiramkan air shower ke tubuhnya. Mengusapkan sampo ke rambut dan sabun keseluruhan tubuh wanita itu. Tiba di daaadaanya, pria itu mereeemas dan bermain-main di sana cukup lama. Tangan besar itu terus meraba sampai ke bagian bawah perutnya. Memasukkan 2 jarinya yang besar ke dalam inti milik Clarisha. Mengacak-ngacak dengan buas. Clarisha memejamkan kedua matanya. Menahan rasa sakit di inti tubuhnya. Setelah puas, jari besar itu keluar dari sana.
“Berdiri !!” Perintah pria itu. Clarisha mengikuti tanpa banyak bicara. Pria itu menuntun Clarisha menghadap dinding. Benda keras dan panjang itu, kembali memasuki Clarisha. Kali ini di bagian intinya. Pria itu mengayun tanpa kenal lelah. Berkali-kali. Di sudut kamar mandi, di bak mandi, di lantai kamar mandi. Tubuh Clarisha terasa remuk. Entah sudah berapa lama, aktivitas itu berhenti dengan pencapaian ******* berkali-kali dari pria itu. Membuang cairannya ke tubuh Clarisha. Pria itu pun memandikan Clarisha sekali lagi. Barangkali karena merasa lelah, ia mengajak Clarisha keluar dari dalam ruangan itu, memasangkan pakaian bersih untuk Clarisha, dan menyisir rambut perempuan itu dengan telaten. Pria itu kemudian menuntun Clarisha ke ruangan lain. Mendudukkannya di sebuah bangku yang agak tinggi.
“Buka mulutmu”.
Dengan patuh, Clarisha membuka mulutnya. Pria itu menyuapi Clarisha dengan sabarnya. Mie ramen yang dimasak pria itu, sedikit pedas. Tapi rasanya lumayan. Cabe yang dibubuhkan ke dalam ramen itu, membuat bibirnya yang lecet terasa sedikit perih. Clarisha tidak ingin mengeluh. Ia berusaha untuk menahannya.
Selesai makan, pria itu menuntun Clarisha kembali ke ruang lembab itu. Memasang kan kembali pengikat di kedua kaki Clarisha. Ia bisa bernafas lega ketika pria itu meninggalkannya sendiri. Clarisha meringkuk di atas kasur tipis tanpa dipan yang di sediakan pria itu. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Dengan tangan yang diikat ke belakang hanya memungkinkan ia untuk berbaring menyamping.
***
Sementara itu Hikari baru saja tiba di Minami-Temma Park. Ia keluar dari dalam mobil, menyusuri jalur pedestarian yang disediakan pemerintah kota. Mencari titik lokasi tempat syuting tadi siang. Setelah itu ia juga memperhatikan setiap tiang yang ada di sekitar tempat itu. Setelah menemukan apa yang ia cari, Hikari bergegas kembali ke dalam mobilnya. Ia mengambil tas yang ada di jok penumpang baris kedua. Mengeluarkan laptop dari dalam tas itu. Tak lama kemudian dia mengutak-atik komputer jinjing itu. Tak membutuhkan waktu lama, layar laptop menampilkan gambar bergerak yang ia inginkan.
"Mitsuketa !! (Aku mendapatkan mu)". Dengan wajah menyeringai.
...****************...
Hikari baru saja melakukan peretasan cctv milik kepolisian yang ada di daerah itu pemirsah...🏃🏃🏃