Looking For Murder

Looking For Murder
Sota, Tolong....



Beberapa jam sebelumnya


Pagi itu setelah mandi untuk kedua kalinya, Clarisha segera berpakaian dan berdandan secukupnya. Ponselnya yang terletak di atas meja rias, berbunyi. Managernya Kimi yang melakukan panggilan suara. Tanpa menunggu waktu lama, Clarisha mengangkat panggilan itu.


“Halo Kimi”.


“Cla, kau di mana?”


“Masih di hotel”.


“Astaga. Apa yang kau lakukan di sana? 1 jam lagi kau harus sampai di sini. Sutradara Izanaki bisa marah besar jika kau sampai terlambat".


“Iya. Iya. Aku sudah selesai berdandan. Setelah ini langsung ke lokasi. Minami-Temma park kan?”


“Iya. Cepatlah”.


Setelah memutuskan panggilan telepon, Clarisha segera menyambar tasnya dan bergegas keluar kamar hotel. Dengan langkah lebar ia menuju lift yang membawa ke basemen hotel, di mana Benjiro sedang menunggunya.


Begitu lift berhenti di basemen, Clarisha mengambil ponsel dari dalam tasnya, ia melakukan panggilan suara pada kekasih hatinya.


“Halo sayang. Aku sudah di basemen, kau di mana?”


“Oh. Kau sudah tiba. Sebentar”. Benjiro keluar dari dalam mobil, ia kemudian melambaikan tangannya.


“Ok. Aku melihatmu”. Clarisha segera menutup panggilan teleponnya, dan berlari menuju Benjiro yang menunggunya di samping mobil.


“Ayo sayang, masuklah”. Benjiro memberi jalan pada Clarisha untuk masuk ke baris kedua dalam mobil. Setelah Clarisha masuk, ia pun ikut masuk ke dalam mobil.


“Jalan”. Perintah Benjiro pada supirnya.


“Baik Tuan”. Dengan posisi tetap menghadap ke depan, supir Benjiro segera menjalankan tugasnya. Mobil yang membawa mereka ke lokasi syuting, melaju dengan kecepatan sedang.


“Sayang, ini sarapanmu, makanlah dulu”. Benjiro menyodorkan paper bowl yang bertuliskan Hotel International Port Vita.


“Kau membeli apa, sayang?”. Ia membuka penutup mangkok yang terbuat dari kertas itu.


“Kata pelayan resto namanya Detox.


Hidangan penuh warna yang dirancang oleh pelopor makanan okara (bubur kedelai), Marie Remura. Di buat dari, bakso buatan sendiri, okara, tomat ceri, jamur maitake, edamame, paprika, brokoli, krim, peterseli, nasi merah, sup detoks khusus”.



“Wah. Kau seperti sales rumah makan, sampai menghafalnya begitu detai sayang”. Kata Clarisha tertawa kecil.


“Ingatanku sangat kuat sayang. Walau usiaku sudah banyak, tapi dengan hanya sekali melihat dan mendengarkan, aku sudah bisa mengingat dengan tepat setiap detailnya”.


“Pantas saja kau sukses dalam meniti karir “.


“Aku anggap itu pujian buat ku”. Benjiro tersenyum senang. “Makanlah. Bagaimana rasanya?”


Clarisha menyendok dan menyeruput bubur kedelai itu. “Hmm. Rasanya enak sekali. Aku harap ini tidak membuat tubuhku membengkak”.


“Tidak sayang. Semangkuk bubur kedelai itu, cukup untuk bekal energimu untuk memulai hari. Kau tidak akan menjadi gemuk hanya karena makan semangkuk bubur kedelai, sayang”.


“Baiklah. Aku harap perkataan mu itu benar”. Sambil terus melanjutkan makannya.


Benjiro mengacak rambut Clarisha dengan sayang.


21 menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi, tiba di lokasi syuting. Sebelum turun, Benjiro memeluk pinggang Clarisha erat. Ia mendaratkan ciuumaan di biibir wanita itu.


“Nanti aku jemput, ya. Kau selesai jam berapa?”


“Paling siang sudah selesai. Tinggal take terakhir saja.”


“Baiklah. Aku akan menjemputmu. Setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat”.


“Kau mau mengajak ku kemana?”


“Kalau aku beri tahu sekarang, bukan kejutan namanya”.


“Baiklah sayang, terserah kau saja”. Ia membalas kecuupan dari Benjiro. Kemudian melepaskan pelukan pria itu. Clarisha pun keluar dari dalam mobil. Manager nya Kimi segera datang menghampirinya.


“Syukurlah kau tiba tepat waktu. Hayoo cepat kita ganti kostum mu”.


Clarisha mengikuti pria melambai itu untuk mengganti pakaian.


Lewat tengah hari, Clarisha baru selesai take adegan terakhirnya. Seorang kru film kemudian mendatanginya. Ia memberitahukan kalau seseorang datang ingin menemuinya. Clarisha pun pergi menemui orang itu. Seorang pria dengan menggunakan jas hitam dengan kacamata warna senada.


“Anda mencari ku?”


Pria itu membungkuk memberi hormat.


“Nona aku di utus Tuan Benjiro untuk menjemput Nona”.


“Kau siapa?”


“Aku Sota, Nona. Tuan Benjiro sedang menunggu Nona di suatu tempat”.


“Kenapa Tuan Benjiro tidak mengatakan hal ini padaku? Tadi pagi ia mengatakan akan menjemput ku".


“Tuan masih sibuk mempersiapkan kejutan mu, Nona”.


“Sebentar aku telepon Tuan Benjiro dahulu”. Clarisha mencoba menghubungi Benjiro. Sudah berapa kali tetapi ponsel Benjiro tidak dapat di hubungi. “Ponselnya tidak aktif”.


“Aku sudah mengatakan padamu, kalau Tuan sedang sibuk. Ayolah Nona. Nanti Tuan bisa marah besar padaku”.


“Baiklah. Tunggu sebentar”. Clarisha pun pamit pada sutradara dan manager nya. Ia mengikuti pria yang bernama Sota itu, masuk ke dalam mobil.


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba ada asap yang memenuhi ruangan dalam mobil.


“Sota, apa ini. Uhuk uhuk uhuk”.


Clarisha terbatuk-batuk begitu asap memasuki paru-parunya.


“Sota tolong..” Tak membutuhkan waktu lama, Clarisha terkapar tidak sadarkan diri.


Hingga ia terbangun telah berada di dalam


ruang gelap dan pengap.


...****************...