Looking For Murder

Looking For Murder
Okaa-san Sudah Pergi, Nona.



Getaran ponsel mengusik konsentrasi Keiko. Ia hanya memandangi dengan sudut matanya. Ia bernafas lega ketika telepon genggam itu berhenti bergetar. Mencoba untuk memfokuskan diri pada pekerjaannya kembali. Namun tak lama kemudian, benda pipih itu kembali mengusiknya. Tidak ingin terganggu lebih lama, Keiko memutuskan untuk meraih benda itu. Nomor yang tidak diketahui sedang melakukan panggilan suara padanya.


“Ya, halo”.


“Nona Keiko ?” Suara seorang perempuan, terdengar terisak di seberang telepon.


“Iya. Keiko di sini. Dengan siapa aku bicara?”


“Aku Hide, Nona”.


“ Hide? Ada apa dengan mu? Kenapa kau menangis?”.


“Okaa-san (Ibu), Nona”.


“Apa yang terjadi pada Okaa-san, Hide?” Keiko berusaha tenang.


“Okaas-an sudah pergi, Nona”.


“Pergi kemana?”.


Hide hanya menjawab dengan tangisan.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi, Hide?” Keiko mencoba mencerna perkataan absurd Hide.


“Okaa-san menderita sakit berat, Nona. Sudah lama. Kanker kelenjar getah bening. Sebulan terakhir penyakit beliau kambuh. Karena ketiadaan biaya, beliau memutuskan untuk melakukan rawat jalan”.


“Ya Tuhan. Kenapa tidak ada yang memberitahukan hal ini padaku? “ Keiko mengusap wajahnya dengan tangan kanan, siku tangan kirinya yang memegang ponsel bertumpu pada meja.


“Okaa-san melarang kami untuk memberitahu Nona. Beliau tidak ingin menyusahkan mu. Tadi pagi, aku menemukan beliau tidak sadarkan diri di dalam kamarnya. Kami telah memangil dokter. Kata Dokter Okaa-san telah meninggal dunia, Nona”.


“Ya Tuhan..” Mata Keiko berkaca-kaca begitu mendengar kabar yang ia peroleh dari Nona Hide.


“Aku segera ke sana. Tunggu aku.”


“Baik, Nona. Kami menunggu kedatanganmu. Berhati-hatilah berkendara”.


“Aku akan berhati-hati. Kau tidak perlu khawatir”.


Sambungan itu pun terputus. Mengusap matanya yang mulai mengembun, Keiko dengan cepat membenahi meja kerjanya. Memasukkan berkas-berkas ke dalam laci meja. Menyambar tas kerjanya dan lunch box yang ada di sudut meja. Dan bergegas keluar dari ruangannya.


“Dokter Keiko, kau mau kemana?” Sapa Sora yang melihat Keiko keluar dari ruang kerjanya dengan terburu-buru.


“Sora. Aku ada keperluan mendadak. Mungkin beberapa hari ini aku tidak masuk kerja dulu. Surat izin nanti akan aku kirimkan ke Kepala rumah sakit. Sudah ya. Aku harus segera pergi”.


“Tapi Dokter, apakah kau baik-baik saja?” Sora menahan lengan Keiko. Ia terlihat cemas melihat mata Keiko yang basah.


“I am ok, Sora. Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku” Keiko berusaha tersenyum. Kemudian ia melangkahkan kaki meninggalkan Sora. Namun, baru 2 langkah Keiko berjalan, ia membalikkan tubuhnya.


“Oh iya. Ini untukmu.” Keiko menyerahkan lunch box yang dipegangnya pada Sora.


“Buka saja. Semoga kau menyukainya ”. Keiko kemudian berlalu dengan cepat.


“Terimakasih, Dokter” Sora hanya bisa memandang kepergian Keiko sembari memeluk lunch box berbahan kayu itu.


Sepanjang jalan menuju tempat parkir, Keiko berusaha menahan tangisnya. Setengah berlari ia memasuki mobil Honda Civic FD2 type R Mugen RR, warna Milano Red (merah membara) miliknya.


Keiko menggenggam stir mobil dengan kuat. Meletakkan keningnya di atas stir, Keiko melepaskan tangisnya yang sedari tadi ia tahan. Ia sangat kehilangan Okaa-san Umeko. Wanita pengurus panti sekaligus ibu bagi Keiko. Wanita itulah yang telah membesarkannya dengan kasih sayang bersama dengan anak-anak yang lain. Wanita itu juga yang telah mendorong dan memberikan semangat padanya untuk terus menimba ilmu setinggi-tingginya.


“Maafkan aku, Okaa-san. Maafkan aku yang lalai memperhatikanmu”. Ratapnya.


Keiko sangat menyesali ketidakhadirannya di panti asuhan sebulan terakhir. Ia hanya mengirimkan uang dan bingkisan untuk penghuni panti yang biasa Keiko lakukan setiap bulannya. Keiko punya alasan sendiri, mengapa ia tidak berkunjung menemui ibu asuhnya itu. Ia tidak ingin permasalahan rumah tangganya dengan Geo diketahui oleh wanita penyayang itu. Karena Keiko menyadari bahwa ia bukan seorang pembohong ulung. Wanita itu akan sangat mudah menebak ada masalah pelik yang sedang dihadapi Keiko. Dan Keiko tidak bisa berbohong bila sudah dihadapan ibu asuhnya itu.


Mengambil jeda untuk dirinya sendiri, di dalam mobil Keiko menumpahkan semua sesak di dadanya. Air matanya tumpah membasahi pipi. Matanya sembab. Sungguh kehilangan yang teramat sangat yang ia dirasakan.


Dengan keadaan masih terisak, Keiko melajukan mobilnya perlahan. Sepanjang perjalanan menuju panti, air matanya tak kunjung berhenti. Keiko mengusap air mata yang terus membasahi pipinya, sambil terus melajukan kendaraannya. Mengendarai mobil di padatnya lalu lintas kota Osaka sembari menangis, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.


Setelah berjuang untuk tiba di panti dengan selamat, Keiko disambut oleh Hide yang telah menunggunya di depan pintu. Mereka berpelukan begitu Keiko turun dari dalam mobil.


“Akhirnya kau datang, Nona”


“Aku sudah berusaha secepatnya”. Keiko mengusap matanya yang basah.


“Tidak apa-apa, yang penting kau sudah di sini”


“Di mana Okaa-san”.


“Ayo. Kita ke dalam” Hide membimbing Keiko menuju tempat persemayaman yang terletak di aula panti.


Susana aula terlihat ramai. Para pelayat yang datang berbaris rapi, silih berganti melakukan penghormatan. Begitu gilirannya tiba, Keiko bersimpuh di depan peti jenazah Umeko. Tangisnya pecah kembali. Rasa bersalah menyeruak di hatinya.


“Nona, kuatkan hatimu. Okaa-san sudah tenang. Beliau sudah tidak merasakan sakit lagi. Ikhlaskan kepergiannya". Hide memeluk dan menepuk lembut pundak Keiko.


"Ayo ganti pakaianmu dulu. Setelah itu kita lakukan penghormatan terakhir” Ucap Hide kemudian.


Setelah mengganti pakaiannya dengan serba hitam, pinjaman dari Hide, mereka kemudian melakukan upacara pemakaman kecil. Yang hanya dihadiri oleh keluarga, kerabat dan teman-teman mendiang. Mereka berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir pada wanita yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk merawat anak-anak panti asuhan itu. Biksu Buddha* kemudian membacakan kitab Sutra dan mempersembahkan dupa di hadapan jenazah mendiang. Kemudian dilanjutkan dengan upacara kremasi. Setelah dikremasi, abu Umeko yang dimasukkan ke dalam pasu, mereka bawa kembali ke panti. Di letakkan berdampingan dengan foto mendiang di ruang persemayaman.


Keiko menghabiskan beberapa hari masa dukanya di panti asuhan. Bersama orang-orang yang sudah ia anggap sebagai keluarganya. Mereka saling menghibur dan menguatkan.


***


*Pada zaman sekarang, hampir 90% orang Jepang dimakamkan dalam ritual agama Buddha. Upacara dilaksanakan secara agama Buddha karena menurut agama Shinto, kematian adalah sesuatu yang tidak baik. Dalam pandangan Shinto, kehidupan dianggap sebagai sesuatu yang baik dan kematian adalah sesuatu yang kotor. Mereka juga beranggapan bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak normal atau tidak beruntung. Pandangan inilah yang menyebabkan para pendeta Shinto hanya mengabdikan dirinya untuk melayani Kami 神 (Tuhan), dan melakukan sesuatu yang bersih, serta tidak melibatkan dirinya dalam kegiatan upacara kematian atau pemakaman. Bagi mereka sendiri, pelaksanaan ritual keagamaan diluar memuja kami 神 adalah diluar tanggung jawab kuil dan pendeta. Dan dalam upacara kematian, Obosan pendeta Buddha selalu dianggap sebagai penanggung jawab upacara kematian.


Jepang memang memahami agama tidak seserius penganut agama lain, semisal Islam atau Kristen. Orang Jepang dengan enteng bisa datang ke Jinja (tempat ibadah agama Shinto) atau Tera (tempat ibadah agama Budha), atau bahkan gereja untuk beribadah.


Nyaris semua aktivitas beragama di Jepang bersandar pada ide genze riyaku. Tidak peduli Buddha atau Shinto. Genze riyaku adalah praktek beragama, beribadah, berdoa orang Jepang yang lebih ditujukan demi keuntungan duniawi. Orang Jepang biasa datang ke Jinja atau Tera untuk berdoa agar lulus ujian, mendapatkan kenaikan jabatan, mendapatkan kesuksesan usaha, mendapat kesembuhan dari sakit, mendapatkan pasangan hidup yang tepat, dijauhkan dari kecelakaan di jalan raya, dijauhkan dari bencana, atau dibukakan pintu rezeki.


Sekedar tambahan, orang Jepang terbiasa melakukan upacara kelahiran anak secara Shinto, menikah secara Shinto atau Kristen, dan melakukan upacara pemakaman secara Buddha.