
Yana melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan kamar panas Benjiro. Di depan pintu lift yang terbuka, ada dua orang staf hotel yang telah menunggunya sambil membungkuk badan begitu Yana mendekat. Tanpa mempedulikan kedua orang karyawan hotel itu, Yana masuk ke dalam lift. Sebenarnya siapa Yana, sehingga pekerja hotel begitu hormat padanya.
Ya .. Tanpa Benjiro ketahui, Yana adalah pemilik hotel tempat ia menginap. Atas bantuan Teramae, Yana banyak mengakusisi¹ hotel-hotel yang nyaris bangkrut atau yang memiliki masalah pelik dengan keuangan. Teramae teman kecil sekaligus pengacara Yana dan belakangan ditunjuk menjadi pengacara keluarganya itu, banyak memiliki kenalan orang-orang dikalangan pengusaha. Keuntungan demi keuntungan yang menjadi haknya, diperoleh dari Benjiro Corp berserta anak perusahaannya, ia alokasikan pada banyak cabang bisnis. Salah satunya dalam bidang perhotelan.
Begitu lift yang membawa Yana tiba di lantai satu, ia bergegas menuju mobilnya yang telah menunggu di depan hotel. Yana membuka pintu penumpang samping kemudi dan membawa tubuhnya masuk ke dalam.
“Jalan.” Perintah Yana pada Shuji yang duduk di belakang kemudi.
“Baik, Nyonya.” Shuji segera menyalakan mobil dan meninggalkan hotel bintang empat itu.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada kata yang terucap dari bibir Yana. Berkali-kali Shuji melirik Yana, berharap wanita itu menatap padanya. Namun Yana tetap terdiam di joknya dengan siku tangan kiri bertumpu pada pintu sambil mengurut pelipisnya dengan mata terpejam. Tidak sanggup menahan gejolak di dadanya, Shuji akhirnya memberanikan diri memecah kesunyian di antara mereka.
“Nyonya, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kau menangis ketika mendapat panggilan telepon dari seseorang. Setelah itu bergegas ke hotel. Apa yang kau lakukan di dalam sana?”
Membuka matanya, Yana melirik ke arah Shuji. “Oh, Baby. Maafkan aku. Kau tentunya bingung dengan situasi ini.” Yana mengusap pipi Shuji dengan telapak tangan kanannya.
Yana menarik nafas dalam-dalam. Menenangkan kecamuk yang ada dalam dirinya. Beberapa menit kemudian bibir wanita itu mengucapkan kata demi kata dengan suara pelan.
“Putraku tewas ditembak orang tak dikenal di kamar hotelnya.” Wajahnya tertunduk. Kemudian dia melanjutkan ucapannya. “Mungkin saat ini kepolisian di sana sedang melakukan investigasi. Aku berencana terbang ke Tokyo bersama Teramae. Perihal apa yang aku lakukan di hotel tadi, tidak bisa aku katakan saat ini. Aku saat ini sedang tidak ingin membahas hal itu.”
Shuji ingin melanjutkan ucapannya. Namun terhenti dengan bunyi ponselnya yang berdering. Dengan tangan kirinya, Shuji mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Memandang layar ponselnya sebentar, kemudian Shuji menyentuh tombol hijau.
“Ya Tuan. Nyonya ada di sampingku. Sebentar.” Shuji menyodorkan ponselnya pada Yana. “Tuan Teramae, Nyonya.”
“Oh Teramae. Aku baru saja ingin menghubungimu.” Ucap Yana begitu layar ponsel menyentuh telinganya. “Terimakasih Teramae. Untuk itu aku ingin kau menemaniku ke sana. Tolong kau urus penerbangan kita secepatnya ke Tokyo. Iya untuk kita berdua.” Yana diam sejenak. Mendengarkan perkataan pengacaranya di ujung telepon membuat rahangnya mengeras. “Aku tidak ingin pergi bersamanya. Aku baru saja menangkap basah dia bersama wanita sialan itu. Alah... Masa kau tidak tahu. Siapa lagi kalau bukan Clarisha model tak tau terimakasih. “ Ucap Yana dengan nada naik satu oktaf.
Chiiiit.. tiba-tiba mobil yang dikendarai Shuji berhenti mendadak. Wajahnya menatap Yana dengan sorot mata terkejut. Tubuh Yana terdorong ke depan. Kemudian terhempas ke belakang karena tertahan oleh sabuk pengaman. Dengan ponsel yang masih berada dalam genggamannya, padangan matanya bertemu dengan iris mata kecoklatan milik Shuji.
“Baby, ada apa?”
Gelagapan Shuji menjawab pertanyaan Yana. “Ma..Maafkan aku Nyonya. Tadi aku seperti melihat kucing sedang melintas.”
“Kau menabraknya?”
“Tidak Nyonya. Sepertinya aku salah liat.”
“Ohh ya sudah. Ayo jalan.“
“Baik Nyonya.” Shuji kemudian menarik persneling dan mulai melajukan kendaraannya.
“Ya Teramae. Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit terkejut.” Teramae menanyakan kondisi Yana saat dia masih dalam sambungan telepon, ia mendengar suara rem mobil diinjak mendadak. Tak berapa lama kemudian Yana mengakhiri panggilan telepon itu, dan meletakkan ponsel milik Shuji di atas dashboard mobil.
“Ada apa denganmu, Baby? Kau hampir saja membunuhku.”
“Ya sudah. Lain kali hati-hati. Bawalah mobil dengan cepat dan aman. Aku harus segera sampai di rumah."
“Baik Nyonya.”
Kemudian mereka larut dalam diam. Tenggelam dengan pikiran masing-masing. Sambil berkendara, Shuji diliputi tanya yang besar. Ketika Nyonya Yana menyebutkan nama seseorang yang mirip dengan wanita dari masa lalunya. Apakah orang yang sama? Shuji tidak ingin memuaskan rasa penasarannya dengan terburu-buru. Menanyakan hal itu pada Yana jelas-jelas akan menimbulkan kecurigaan. Hal itu akan menambah masalah baru. Shuji tidak tahu bagaimana reaksi Yana apabila dia menanyakan hal itu. Dan Shuji belum siap dengan resikonya. Ia memutuskan akan menyelidiki sendiri dengan hati-hati.
💐💐💐
Yana bersama dengan Teramae telah berada dalam private jet sewaan menuju Tokyo. Di rencanakan mereka akan tiba di ibukota negara Jepang itu satu jam ke depan. Di seat terdepan, Yana dan Teramae duduk tanpa bersuara. Mengenakan blus hitam dan rok selutut dengan warna senada Yana terlihat cantik elegan walaupun dengan wajah yang dirundung duka. Teramae yang duduk di samping Yana, tampil dengan stelan jas warna senada dengan Yana.
“Setelah pemakaman Yusa, tolong kau urus perpisahanku dengan Nobou.” Ucap Yana, memecah keheningan di antara mereka. Ia berkata tanpa menoleh pada teman kecilnya itu. Teramae yang sedang fokus dengan tabletnya, seketika menoleh pada Yana dengan ekspresi tak percaya.
“Kenapa kau memandangku seperti itu? “
“Tidak. Bukan apa-apa.” Teramae refleks menggelengkan kepalanya. “Apa yang menyebabkan kau berubah pikiran?”
“Entahlah. Mungkin kematian putraku.”
“Hmmm..” Teramae melepaskan kacamata yang dikenakannya sambil menghela nafas kasar. “Apakah kau masih berfikir bahwa kematian Yusa adalah salah satu dari kutukan hidup mu?”
“Entahlah. Aku tidak tahu, Teramae.”
“Kalau kau menceraikan Nobou, apa kau tidak takut, ramalan itu akan menjadi kenyataan?”
“Aku malah ragu, apakah ramalan itu benar adanya."
“Kenapa kau berfikir begitu?”
“Diramalan itu, mengatakan bahwa aku akan sukses jika bersama dengan seorang pria yang banyak di kelilingi oleh wanita-wanita. Kehidupan ku akan sempurna dan bahagia. Tapi mengapa, tidak ada kebahagiaan sama sekali dalam hidupku setelah kesuksesan aku raih.”
“Yana..” Teramae memandang lekat wajah Yana. “ Pernahkah kau berfikir bahwa kau salah orang? Pernahkah terlintas dalam benakmu, bahwa pria yang dimaksud oleh ramalan itu bukan, Nobou-san?”
Yana terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari tatapan Teramae. Pertanyaan yang diucapkan pria itu menyentil kesadarannya. Selama ini pria yang selalu mendampinginya, memberikan saran-saran dalam hal bisnis adalah Teramae. Teramae yang notabenenya anak sahabat sang ayah, memiliki darah bisnis dari ayahnya yang juga seorang pengusaha sukses. Teramae muda yang lebih menyukai dunia hukum, memilih profesi sebagai pengacara ketimbang pengusaha. Namun, darah bisnis yang begitu kental dari dalam dirinyalah yang banyak membantu Yana. Setahu Yana, Teramae juga banyak di kelilingi oleh wanita-wanita cantik. Tapi sedikitpun pria itu tidak pernah tergoda. Teramae masih membujang sampai saat ini. Yana bukan tidak tahu, betapa besar rasa sayang Teramae padanya. Mati-matian pria itu berusaha mencegahnya menikah dengan Benjiro. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Yana telah memutuskan menikahi pria bendot itu. Teramae tetap menghormati keputusan Yana. Namun, rasa cintanya yang begitu besar pada Yana, tidak membuat pria itu meninggalkan dirinya. Ia menekan rasa sakit dalam hatinya dengan tetap berada di sisi Yana. Selalu ada saat Yana membutuhkannya. Begitu juga ketika Yana berada dalam tekanan batin hebat. Saat ia harus berlapang dada dengan kelakuan suaminya yang suka jajan. Berkali-kali Teramae meminta Yana untuk berfikir ulang tentang pernikahan mereka. Pun, ketika Yana memilih melakukan hal serupa yang Benjiro lakukan, bermain dengan pria muda, Teramae pernah berkata padanya, “Apakah dengan meniru apa yang suamimu lakukan, akan membuatmu bahagia?”. Saat itu Yana berdalih ia ingin membuat suaminya sakit hati. Namun apa. Semua yang ia lakukan tidak sedikitpun menarik perhatian Benjiro. Pria paruh baya itu tidak sedikitpun menunjukkan kecemburuan, malah semakin menjadi dan jarang pulang ke rumah.
Yana kembali memalingkan wajahnya. Menatap Teramae yang tidak lepas memandangnya dengan tatapan teduh.
Seketika Yana tersentak. "Oh Tuhan. Apakah pria dalam ramalan itu Teramae?"
...****************...
Akusisi adalah pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor dimana membeli sebagian besar atau seluruh saham perusahaan lain dengan tujuan untuk mengambil kendali. Tujuan utama mengapa perusahaan bergabung dengan perusahaan lain atau melakukan akuisisi karena perusahaan akan mencapai pertumbuhan lebih cepat daripada harus membangun unit usaha sendiri selain di samping motif ekonomi yang lain yaitu mendapat keuntungan. (Sumber: Atuk Geleng-geleng)