
Seorang diri di halte, di depan Aokigahara, angin dingin menusuk hingga ke tulang. Yusa menjadi panik. Apalagi saat tahu bahwa toko satu-satunya di situ sudah tutup. Ia sempat berpikir untuk minta tumpangan mobil yang lewat.
Yusa semakin kedinginan dan tiba-tiba merasa pusing dan mual, hingga akhirnya muntah. Sebuah mobil berjenis sedan tiba-tiba berhenti di depan Yusa. Pengemudi mobil itu membuka pintu dan turun dengan tergesa-gesa.
“Tuan muda. Ya Tuhan ini benar Tuan muda Yusa. Tuan baik-baik saja?” Pria itu memandang dengan takjub tubuh Yusa dari ujung rambut hingga ujung kaki berkali-kali.
Yusa yang habis mengeluarkan seluruh sisa isi dalam perutnya dalam keadaan menunduk, bangkit dengan menyipitkan mata sambil menyapu mulutnya dengan tangan.
“Kau siapa? Apakah aku mengenalmu?”
“Aku Dai, Tuan. Tentu saja anda tidak mengenalku. Aku adalah orang suruhan Nyonya Yana Nobou. Dua bulan ini aku terus mencari mu. Kedua orang tua Tuan sangat khawatir atas keselamatan Tuan. Setiap hari mereka menunggu kabar baik dari ku.”
“ Dua bulan?”
“ Iya Tuan. Tuan menghilang selama dua bulan.” Yusa termangu mendengar penuturan Dai.
“Ayo Tuan masuk ke dalam mobilku.” Dai membuka pintu mobil di samping kemudi.
“Ayo Tuan. Masuklah. Kita segera pergi dari sini.”
Yusa masuk ke dalam mobil Dai dengan ragu-ragu. Namun ia merasa lega. Bisa segera pergi dari tempat itu. Rasanya seperti mendapat lotere, begitu sangat menggembirakan. Ia menenangkan diri di dalam hangatnya mobil milik Dai. Mengeluarkan obat sakit kepala dari dalam dompet dan meminumnya. Sungguh pengalaman yang aneh. Mungkin Yusa paranoid, tetapi Aokigahara begitu suram. Seperti menularkan keputusasaan orang-orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya di sana.
“Kalau Nyonya mengetahui keberadaan Tuan, pasti dia senang sekali.” Yusa hanya diam membisu. Di sudut hatinya yang paling dalam, Yusa berharap apa yang dikatakan Dai benar adanya. Bahwa kedua orang tuanya mengkhawatirkan dirinya. Dai kemudian mengambil ponsel dari dalam kantong jaketnya dan melakukan panggilan telepon pada Yana.
“Halo Nyonya, ...” Dai melaporkan hasil kerjanya pada Yana. Di seberang telepon terdengar suara Yana terkejut bahagia. Ia meminta Dai membawa Yusa ke kediamannya. Karena Yusa sudah masuk dalam daftar pencarian orang. Yana tidak ingin keberadaan Yusa diketahui polisi yang terus memperhatikan gerak-gerik para penghuni rumah sampai Yusa ditemukan.
Setelah mendapat perintah untuk membawa Yusa ke rumahnya, Dai menyalakan mesin mobil dan mengarah ke pinggir kota Osaka di mana rumah kecilnya berada.
Begitu mendapat kabar dari orang suruhannya, Yana yang sedang berada di ruang kerjanya bergegas keluar. Dengan sangat hati-hati pergi meninggalkan kantornya. Ia tidak ingin membuat polisi yang senantiasa mengawasi keluarga mereka curiga. Yana pulang ke rumahnya ketika waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Ia bergegas mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana jeans dan sebuah topi. Yana keluar dari rumahnya melalui pintu belakang dengan mengendarai mobil yang berbeda. Kali ini Yana sangat berterima kasih dengan suaminya, yang telah mendesain rumah dengan meletakkan garasi mobil mereka di belakang rumah. Sehingga ia bisa keluar tanpa di ketahui polisi yang mengawasi mereka. Suami? Yana melupakan untuk memberi kabar baik ini pada Benjiro, suaminya. Ah, salah. Bukan melupakan. Lebih tepatnya menunda. Tadi siang ia sempat bertukar kabar dengan lelaki yang masih berstatus suaminya itu, bahwa malam ini pria itu akan menghabiskan waktunya bersama Clarisha. Sejak kejadian di rumah sakit tempo hari ketika ia dan Benjiro terlibat percakapan serius (bab 67) ditambah lagi dengan kejadian yang menimpa Yusa, mereka semakin sering berkirim kabar. Mereka berdua sedang berusaha menerima dan memahami situasi yang sedang keluarga mereka hadapi.
Begitu tiba di kediaman Dai, yang terletak di pinggir kota Osaka, Yana turun dengan terburu-buru. Ia mengetuk pintu dengan cepat, memaksa penghuni rumah berlari menujunya. Langkah kaki lebar terdengar dari dalam rumah.
“Sebentar.” Ucap pemilik rumah. Begitu pintu terbuka, Yana menerobos masuk. Ia mendapati putranya sedang duduk di depan sebuah meja makan.
“Ibu?” Yusa meletakkan peralatan makan yang dipegangnya, menyambut kedatangan ibunya yang menghambur ke pelukannya.
“Dari mana saja kau, Nak?”
"Dasar anak boodoh. Jalan-jalan kenapa ke dalam hutan angker. Apa tidak ada tempat lain yang lebih menyenangkan?"
"Di hutan itu juga menyenangkan, Bu. Di sana sangat tenang dan damai. Jauh dari hingar-bingar kehidupan."
"Kenapa lama sekali jalan-jalannya, sampai dua bulan ?"
"Aku sedikit tersesat, Bu. Tapi untung ada seorang biksu yang menolongku keluar dari sana."
"Biksu? Mana ada Biksu main-main di dalam hutan. Jangan becanda. Kau ini..."
"Benar, Bu. Aku serius."
"Yusa sayang. Tidak ada seorangpun yang melihat seorang biksu di berbagai sudut hutan lautan pohon. Menurut berita yang Ibu ketahui, hal ini juga pernah terjadi pada sepasang kekasih asal Amerika yang mengalami hal yang sama. Warga setempat mempercayai biksu tersebut sebagai jelmaan roh suci yang mencegah orang-orang untuk bunuh diri dan mengembalikannya pulang. Apa jangan-jangan kau memang berniat untuk bunuh diri?"
"Tidak, Bu. Mana ada cerita seperti itu."
"Kau harus berjanji pada Ibu, tidak akan mengulangi hal itu lagi."
"Ibu. Aku tidak apa-apa. Aku sudah kembali, Ibu tidak usah khawatir.”
Di tengah suasana haru itu, tiba-tiba sejumlah polisi merangsek masuk. Menodongkan pistol ke arah ibu dan anak itu. “Polisi..!!! Angkat tangan !!!” Beberapa personil polisi bergerak menuju Yusa. Memisahkan pelukan Yana pada putranya.
“Apa-apaan ini..” Nyonya Yana berteriak. Yusa diborgol dengan tangan ke belakang.
“ Mulai sekarang anda berhak untuk tetap diam. Anda berhak untuk berbicara pada penasehat hukum. Apapun yang anda katakan saat ini dapat digunakan untuk melawan anda di pengadilan. “ Takagi mengucapkan hak tersangka sembari rekan-rekannya mengamankan Yusa.
“Yusa tidak bersalah !!” Nyonya Yana histeris sambil terus berusaha menarik polisi yang menggiring Yusa keluar dari rumah itu. Yusa hanya bisa pasrah. Tidak ada perlawanan sedikitpun darinya. Polisi berbadan besar menggiringnya memasuki mobil patroli.
“Silahkan anda jelaskan nanti di pengadilan. Apa yang anda lakukan saat ini bisa kami gunakan menjadi bukti yang makin memperberat tersangka. Jadi mohon kerja samanya.” Ucapan tegas Takagi cukup membuat Yana tak bisa berbuat apa-apa lagi. Usahanya menyembunyikan Yusa ternyata sia-sia. Dialah yang menggiring polisi untuk datang ke tempat itu.
👮👮👮
Yana Yana.. Makanya banyak baca koran biar pintar. Jangan ngitungin bulu mulu.. 🙃