
Bab ini masih alur mundur-mundur cantik, ya... Happy reading all...
🗻🗻🗻
Begitupun yang terjadi dengan Cho Katou. Ia hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Sota yang sangat membenci wanita, mencari korbannya secara acak. Memilih wanita malam sebagai pelampiasan amarahnya karena mereka adalah objek yang paling masuk akal. Menurutnya, keberadaan mereka yang secara normatif menjadi “sampah” di masyarakat, tidak akan menjadi masalah besar jika sesuatu hal buruk menimpa mereka. Cho yang malang, meninggal di tempat setelah memberontak akibat bekapan paksa yang diterimanya. Cho yang sudah tidak bernyawa, digagahi berkali-kali kemudian tubuhnya dipotong sedemikian rupa menjadi 10 bagian.
Sedangkan Adriana yang malam itu dalam keadaan dipengaruhi minuman keras, meninggalkan Shuji dengan terburu-buru, setelah mereka berhubungan disela toko. Ia menghentikan mobil yang Sota kendarai. Tanpa melihat terlebih dahulu siapa pengemudi mobil, ia menaiki mobil Sota dan meminta pria itu membawanya pergi.
“Terimakasih atas tumpangannya.” Ucap Adriana seraya menatap sang pengemudi.
“Tidak masalah.” Sota tersenyum sambil terus mengemudi.
“Apakah sebelumnya kita pernah bertemu? Wajahmu sepertinya familiar bagiku.”
“Aku rasa tidak. Wajahku memang wajah orang kebanyakan di Jepang.”
“Hmm begitu ya. Namaku Adriana. Dan kau..."
"Fukushi Sota. Panggil saja Sota."
"Baiklah Sota. Sekali lagi terimakasih kau telah mengizinkan aku naik ke mobilmu."
“Bukan masalah besar Nona. Sekarang aku harus mengantar Nona kemana?” Tanya Sota kemudian.
“Bawa aku pergi jauh. Aku sedang tidak ingin pulang.” Adriana memijit kepalanya yang agak pusing.
“Apakah Nona sedang bertengkar dengan kekasih Nona?”
“Aku tidak punya kekasih. Aku hanya sedang tidak ingin pulang.“
"Aku melihat seorang pria keluar dengan tergesa-gesa dari samping gedung itu. Kelihatannya dia sedang mencari seseorang." Ucap Sota sambil melirik kaca spion yang ada di tengah mobil. Adriana mengikuti pandangan Sota ke spion mobil, kemudian dia memutar tubuhnya melihat pria yang dimaksud Sota. Terlihat Shuji yang berjalan agak sempoyongan, sedang kebingungan mencari keberadaannya. Tak lama kemudian ponsel di saku jaket kulitnya berbunyi. Dengan cepat Adriana mengambil kemudian menonaktifkan benda pipih itu. Semua yang dilakukan Adriana tidak lepas dari pengamatan Sota.
"Jadi tebakanku benar, Nona?"
"Tebakan yang mana?"
"Kau sedang bertengkar dengan kekasih mu."
"Dia bukan kekasihku."Jawab Adriana singkat.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kita menuju kemana?"
"Aku tidak punya tujuan lain. Aku tidak tahu."
“Hmm... Apakah kau mau melihat gunung Fuji?” Sota menawarkan pilihannya pada Adriana.
“Itu tempat yang indah. Tapi terlalu jauh dari sini. Apakah tidak merepotkan?”
“Tidak masalah. Nanti kita bisa singgah di rumah peristirahatan yang ada di kaki gunung.”
“Baiklah kalau begitu.”
"Kalau Nona lelah, istirahat saja. Perjalanan akan panjang. Kalau sudah sampai, aku akan membangunkan mu."
"Baiklah. Terimakasih, kepalaku memang sedikit pusing."
Sota yang sangat menyukai mengemudi, membawa Adriana menuju gunung Fuji. Ia menyetir tanpa henti selama 6 jam.
Menjelang fajar, mereka tiba di sana.
Sota mengajak Adriana beristirahat di rumah peristirahatan yang ada di kaki gunung. Rumah kosong bergaya Jepang klasik yang telah lama ditinggal penghuninya. Pemilik asli rumah itu telah meninggal dunia. Ia tidak memiliki keturunan untuk meneruskan merawat rumah itu. Jadilah rumah itu tidak ada yang menunggu dan merawatnya.
"Ini rumah siapa?"
"Rumah saudaraku."
"Tidak apa. Mereka sedang ke luar kota."
Sota berbohong pada Adriana. Pemilik rumah tidak ada hubungan kekerabatan apapun dengan keluarga Benjiro. Sejak Adriana menyetop mobilnya tadi, dia sudah mengetahui kalau Adriana adalah wanita yang menabrak Yusa di acara prom night dan juga orang yang sama yang mengintip aksinya ketika bersama Ayumi. Sota sangat beruntung karena Adriana melupakannya.
"Silahkan Nona istirahat di mana saja. Di dalam kamar juga boleh. Rumah ini memiliki banyak kamar. Pilih kamar yang Nona inginkan. Anggap seperti rumah sendiri."
"Sota. Rumah ini agak menyeramkan, ya?" Adriana masuk dengan langkah ragu ke dalam rumah.
"Menyeramkan bagaimana?"
"Sepertinya telah lama tidak ditempati. Ada debu di mana-mana."
"Iya. Mereka lama tidak pulang. Rumah ini tidak ada yang merawat. Nona mau istirahat atau mau sarapan dulu ?" Sota mengalihkan pembicaraan.
"Sarapan? Aku tidak melihat ada bahan makanan di rumah ini."
"Aku membawa mie instan di mobilku. Sebentar, aku akan menyiapkan sarapan buat kita makan." Sota menyalakan kayu bakar yang telah ada di dapur rumah itu.
"Kamar mandinya di mana?"
"Di lorong sebelah sana, paling ujung."
"Baiklah. Terimakasih." Adriana menuju arah yang Sota tunjuk. Begitu tiba di ujung lorong di depan sebuah ruangan yang tertutup, Adriana menggeser pintu itu. Sebuah kamar mandi bergaya Jepang klasik menyambutnya. Di dalam kamar mandi, ada sebuah bak mandi bulat yang terbuat dari kayu. Tercium aroma amis dari dalam bak. Adriana berjalan berlahan menuju bak mandi, tapi ia tidak menemukan apa-apa. Bak itu dalam keadaan kosong. Tidak ada setetes air pun di sana. Adriana melanjutkan tujuannya untuk ke toilet. Tiba-tiba bulu kuduknya terasa berdiri. Seperti ada hawa dingin lewat di belakangnya. Tak lama kemudian terdengar suara orang berbisik di dekat telinganya. Adriana mempercepat keinginannya untuk buang air kecil. Setelah itu dia bergegas keluar dari sana dengan terburu-buru. Setengah berlari ia menuju tempat Sota berada.
"Ada apa?" Ucap Sota heran.
"Kita sebaiknya segera keluar dari tempat ini."
"Kenapa?"
"Seperti ada sesuatu yang aneh di rumah ini."
"Aneh bagaimana?"
"Rumah ini ada penghuninya." Wajah Adriana tampak pucat.
"Nona minum dulu." Sota menyodorkan segelas air madu hangat. "Minumlah."
Dengan tangan bergetar Adriana meneguk air madu hangat yang disajikan Sota.
"Barangkali karena kelelahan, Nona membayangkan yang tidak tidak. Ini makanlah." Sota menyodorkan semangkuk mie instan panas. "Setelah makan, kita akan pulang. Segeralah makan. Kalau dingin rasanya tidak enak lagi."
"Baiklah." Adriana menerima mie instan kuah yang disodorkan Sota. Kemudian menyeruputnya perlahan.
20 menit berlalu. Setelah makan, Adriana tampak tenang. Wajahnya yang pucat sudah terlihat lebih cerah.
"Kenapa rasanya panas sekali." Adriana melepas jaket kulit yang dikenakannya. Meninggalkan pakaian tanpa lengan yang berada di dalam jaket.
"Kenapa ? Apakah kau demam?" Sota meraba kening Adriana yang duduk di sampingnya. Adriana memejamkan matanya menikmati sentuhan Sota.
"Kenapa rasanya nyaman sekali?" Wanita itu menahan tangan Sota dan meletakkannya di pipinya. Mengecup telapak tangan itu. Ia menatap kedua mata tak berjarak di depannya. Adriana menemukan rasa yang sama dari mata milik Sota. Gaiirah yang menggebu-gebu. Adriana mengetahui kalau mereka saling menginginkan. Ia memandang bibir Sota yang begitu menggoda di matanya. Adriana tidak dapat menahan keinginannya untuk menyentuh bibir itu dengan jarinya.
"Ich möchte dich wirklich küssen (aku ingin sekali menciummu)." Bisik Adriana. Sota mendekat. Tangannya yang lain meraih pinggang Adriana. Meraba punggung wanita itu dari balik tank topnya. Sota membuka bibirnya mengecuup bibir milik Adriana. Kecuupan demi kecuupan semakin lama semakin menuntut. Ketika bibir lihai Sota menuruni rahangnya, mengecuup dan meninggalkan tanda di leher jenjang Adriana. Jari jemari Sota menyusup melewati pusar Adriana, mengusap perut dan naik ke atasnya. Telapak tangan Sota sangat pas sekali begitu berada di atas gunung Fuji milik Adriana.
"Sota.. Aaahh."
Dalam cuaca yang dingin di bawah kaki gunung Fuji, Sota membawa Adriana ke awan. Puluhan kali Adriana berteriak puas. Untuk memuaskan fantasi seeksuualnya yang liar, Sota mengikat tangan Adriana. Mereka melakukannya lagi, lagi dan lagi.
2 hari kemudian Yusa terbangun. Dia menemukan tubuhnya tanpa busana berada di kamar, dalam sebuah rumah yang berada di hutan, dekat kaki gunung Fuji. Yusa yang tidak mengerti apa yang telah terjadi, bergegas pergi dari tempat itu dengan tubuh yang terasa remuk redam. Meninggalkan Adriana di kamar mandi, yang bermandikan darah.
...****************...