Looking For Murder

Looking For Murder
Ā, Omo Yo



"A a a apa yang telah kau lakukan pada Ayahku !!" Teriak Yusa tiba-tiba.


"Bukan apa-apa. Aku hanya menidurkannya". Jawab Sota santai.


Yusa berjalan ke arah ayahnya. Ia memegang kening sang ayah yang dirasakannya tidak panas.


"Ayah. Ayah ." Panggil Yusa. Benjiro bergeming. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut pria paruh baya itu. Matanya terpejam dengan kepala menunduk. Benjiro duduk ditopang tali yang mengikat tubuhnya di kursi. Yusa mulai khawatir. Tanpa sengaja matanya melihat sedikit lebam di leher belakang sang ayah.


"Kau memukulnya?" Tanya Yusa.


"Sudah aku katakan, aku hanya membuat dia tertidur !! Kau ini cerewet sekali". Jawab Sota kesal.


"Apa yang telah Ayahku lakukan sehingga kau menidurkannya?" Tanya Yusa lagi.


"Dia mencampuri sesuatu yang bukan menjadi urusannya". Jawab Sota ketus. Yusa hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban dari Sota. Kemudian


Yusa memandang ke sebelah kanannya. Di dapatinya Hikari sedang memandang nya dengan ekspresi tak terbaca. Mukanya memerah. Darah mulai merembes di sela kunai yang menancap di paha kanannya.


"Hi-chan !! Apa yang terjadi padamu ?". Tanya Yusa khawatir.


"Kenapa kau memanggilnya adik? Apa kau tidak tau kalau dia sangat benci dengan panggilan itu ? Baginya kau bukan seorang kakak yang jadi panutan, tapi seorang adik kecil yang selalu menyusahkan. Ha ha ha !!" Ejek Sota.


"Hi-Chan. Jawab aku, kau kenapa?" Yusa mengabaikan perkataan Sota.


"Dia tidak akan menjawab pertanyaan konyol mu itu, Yusa !!" Ucap Sota kemudian.


"Kau bisa tidak menutup mulut siaalan mu itu, Sota !!" Yusa mulai kesal dengan setiap perkataan Sota.


"Heiii !! Kau sudah mulai kurang ajar ya pada ku !!" Hardik Sota.


"Sota. Aku mohon. Aku sudah lelah dengan semua ulah mu. Setiap kau membuat kekacauan, aku yang selalu harus membereskannya. Aku lelah Sota !! "


" Kau pikir aku tidak lelah harus menanggung semua masalahmu? Aku yang selalu ada di saat-saat sulit dalam hidupmu. Kau hanya menyelesaikan sisanya. Itu saja kau sudah mengeluh. Dasar manusia tidak berguna!!"


"Hentikan !! Sampai kapan kau akan memanggilku dengan sebutan itu !!"


"Sampai kau benar-benar tidak menyusahkan aku lagi !!"


"Aku tidak pernah memintamu untuk mencampuri semua urusanku !!"


"Kau tau, semua masalahmu menjadi urusanku. Kelemahanmu merupakan penghinaan bagiku. Kalau kau masih seperti itu terus lebih baik kau tidak usah hadir lagi di dunia ini !!"


"Maksud mu apa?"


"Apa ucapanku masih tidak kau pahami? Dasar boodoh !!"


"Baiklah kalau itu memang mau mu. Aku mati kau juga mati !!"


Tiba-tiba Yusa berlari menuju pintu dan keluar dari kamar itu.


" Hei.. Kau mau kemana!! " Bentak Sota.


Tanpa memperdulikan ucapan Sota, Yusa terus berlari, menuju pintu belakang. Di balik pintu itu terdapat 2 buah mobil. 1 buah SUV Lexus NX 300 dan 1 buah Subaru Revorg. Yusa menaiki mobil Subaru Revorg biru metalik miliknya, menyalakan mobil itu dan mengendarainya dengan kencang. Mobil itu menabrak pintu pagar belakang rumah. Melaju menyusuri jalan kecil menembus malam dan menghilang di kegelapan.


Tak beberapa lama kemudian 2 buah mobil polisi memasuki halaman rumah. Takagi beserta Kaoru turun dari dalam mobil disusul 2 rekannya yang lain di mobil yang berbeda.


"Ini properti milik Tuan Benjiro". Ucap Takagi yang berdiri di samping mobilnya sambil memandangi pintu depan rumah yang terlihat terbuka. Takagi berjalan menuju ke sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat ia berada.


"Sepertinya pengendara mobil ini belum lama tiba. Mesin mobil masih terasa hangat, Detektif" Ucap Kaoru kemudian.


"Kalian berdua berjaga di sini. Aku dan Kaoru akan masuk ke dalam. Kalau terjadi apa-apa kalian cepat hubungi kantor pusat".


"Siap, Detektif" Ucap 2 orang petugas polisi.


"Kaoru, ayo. Berhati-hatilah. Kita tidak tau apa yang telah terjadi di dalam rumah."


"Siap, Detektif ".


Mereka berjalan masuk menuju rumah dengan revolver di tangan masing-masing dalam posisi siap sedia.


Tiba di teras rumah, mereka menyandarkan tubuh di dinding, di samping kiri dan kanan pintu yang terbuka sambil mengintip ke dalam rumah. Dari tempat ia berdiri, Takagi bisa melihat ruang tamu yang besar itu dalam keadaan sepi. Takagi memberi kode pada Kaoru untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Di dalam ruang tamu terdapat 1 set sofa mewah berwarna coklat muda dengan kaki kursi berwarna emas. Di dinding ruangan terdapat beberapa buah lukisan abstrak. Ruang tamu itu di hiasi lampu kristal yang cantik dan mewah. Di sudut ruang tamu, ada tangga marmer yang membawa ke lantai atas. Takagi memberi kode ke pada Kaoru untuk naik ke lantai 2. Sementara itu Takagi menyisir lantai 1.


Begitu Kaoru naik ke lantai dua, Takagi dengan teliti dan hati-hati menyisir ruang tamu. Di belakang ruang tamu ada pintu menuju dapur. Di lantai dapur Takagi menemukan sebuah pena berwarna hitam tergeletak di bawa kaki meja dapur. Dengan menggunakan sapu tangan yang diambil dari saku celananya, Takagi mengambil alat tulis dengan tinta itu. Di body pena terukir dengan tinta emas nama Nobou Benjiro. Takagi membungkus pena itu dengan sapu tangan dan memasukkannya dalam saku jas atas sebelah dalam. Ia melanjutkan tugasnya kembali menyusuri dapur. Tanpa sengaja matanya melihat ada lorong di belakang dapur yang letaknya agak tersembunyi. Dengan penuh hati-hati, Takagi melangkah menyusuri lorong itu. Terlihat sebuah cahaya datang dari dalam ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Takagi menyandarkan tubuhnya ke dinding sejajar dengan ruangan itu, ia melangkahkan kaki perlahan. Dengan revolver tetap dalam genggamannya, Takagi mendorong sedikit pintu itu dengan ujung sepatunya. Pintu pun terbuka agak lebar.


"Ā, omo yo (Ya Tuhan) !!". Gumam Takagi dalam hati. Betapa terkejutnya Takagi melihat 2 orang wanita dan 1 orang pria dalam keadaan terikat. Keadaan mereka bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Sebelum menuju ke 3 orang itu, Takagi memeriksa keadaan sekitar kamar. Ia juga memeriksa kamar mandi yang ada di kamar itu.


"Tuan, tolong lihat keadaan Ayahku". Suara lemah seorang wanita yang terikat di kursi dengan kunai menancap di paha kanannya.


Takagi mendekati wanita itu.


"Nona, anda tidak apa-apa?"


" Aku baik-baik saja, Tuan. Tolong lihat Ayahku".


"Namamu siapa, Nona?"


"Aku Hikari Nobou. Itu Ayahku Benjiro Nobou".


"Baiklah. Sebentar". Takagi menuju pria yang dimaksud Hikari. Memeriksa denyut nadi dan hembusan nafas pria itu.


" Dia hanya pingsan, Nona".


"Syukurlah". Ucap Hikari lega.


Takagi memalingkan wajahnya ke arah wanita yang ada di sudut ruangan yang sedang meringkuk ketakutan dengan tangan dan kaki terikat dan mata tertutup. Perlahan ia menuju wanita itu dan berjongkok begitu berada beberapa langkah dari hadapan wanita itu. Begitu mendengar langkah kaki yang mendekatinya, wanita itu menggerakkan tubuhnya berusaha menjauh.


"Nona jangan takut. Aku Detektif Takagi. Sekarang kau aman."


"Benarkah kau seorang polisi ?"


"Benar. Bisakah kau menyebutkan namamu?"


"Clarisha. Namaku Clarisha".


"Baik Nona Clarisha, aku akan membuka penutup matamu".


Dengan hati-hati Takagi membuka kain penutup mata Clarisha. Begitu dibuka terlihat raut lega terpancar dari mata Clarisha. Clarisha terlihat berantakan. Takagi yakin telah terjadi hal buruk pada wanita itu. Ia menunda rasa ingin tahunya dengan memanggil rekan-rekannya dan menghubungi kantor kepolisian untuk meminta bantuan tambahan personil, ambulans dan paramedis.


...****************...


Maaf menunggu lama. Semoga bab ini tidak mengecewakan. Terimakasih untuk semua do'a. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan kebaikan.


Terima masih di sini bersamaku. Love u all. 🥰