
Subaru Revorg biru metalik melaju kencang meninggalkan kota Osaka. Mengambil arah ke barat, berbelok ke kiri setelah 110 meter, berbelok ke kanan 190 meter kemudian. Mobil itu terus melaju mengikuti rambu-rambu petunjuk jalan, memasuki kawasan Fuji Five Lakes di prefektur Yamanashi. Mobil mengelilingi Lake Saiko dan di sanalah Aokigahara berada. Objek wisata yang terkenal di sekitarnya adalah Bat Cave (Komoriana), Wind Cave (Fuketsu), dan Ice Cave (Hyoketsu). Ada juga Lava Cave yang berada di dekat Fuketsu. Semuanya terbentuk setelah Gunung Fuji meletus ratusan tahun silam.
Perjalanan ternyata sangat jauh. Sekitar satu jam lebih mobil mengelilingi danau yang dipunggungi bukit menghijau. Kawasan ini sangat indah dan terlihat jajaran vila mewah lengkap dengan speed boat. Setelah danau menghilang, mobil melewati jalan sepi yang dirimbuni pohon kiri dan kanannya. Sepanjang jalan itu sudah merupakan kawasan hutan Aokigahara.
Warga sekitar memberikan julukan Jukai (hutan lautan pohon) untuk hutan Aokigahara. Apabila dilihat dari ketinggian saat tertiup angin, hutan Aokigahara terlihat menyerupai gelombang ombak. Hutan yang berada di sebelah Barat Laut Gunung Fuji ini, membentang dari kota Kawaguchiko hingga desa Narizawa, Prefektur Yamanashi. Usia hutan ini diperkirakan sekitar 1.200 tahun, sedangkan luasnya mencapai 35 km persegi.
Puncak bersalju Gunung Fuji bisa terlihat dari kawasan hutan ini. Pemandangan gradasi hijau daun muda, oranye daun kering, biru langit, dan putih salju Fuji menjadi kombinasi yang indah.
Gua Narusawa dan Gua Fugaku adalah dua gua es yang ada di Hutan Aokigahara. Disebut juga sebagai Gua Es dan Gua Angin, keduanya dimanfaatkan sebagai kulkas alaminya masyarakat zaman dahulu untuk nyimpan ulat sutra dan bahan-bahan makanan. Dua gua ini memberi udara yang sejuk dan dingin sepanjang tahun tanpa harus menunggu musim dingin. Selain itu, ketika masuk ke dalam gua dan menelusuri jalurnya ada kumpulan stalaktit dan stalagmit yang indah untuk dipandang.
Area ini sangat subur. Konon, disebabkan oleh endapan lava vulkanik bermineral tinggi hasil letusan Gunung Fuji sekitar tahun 864. Dalam sejarah Jepang, letusan besar tersebut terjadi pada Era Kekaisaran Jougan. Pada masa itu, Jepang sempat dipimpin raja yang masih berusia 5 tahun.
Mobil berhenti tak jauh dari titik masuk hutan. Daerah Kawaguchiko dan area sekitarnya merupakan daerah yang sepi ( kecuali saat musim ramai wisatawan pada saat setelah sakura berkembang). Ada sebuah toko merangkap kafetaria yang menjual suvenir dan makanan di dekat pintu masuk menuju hutan. Yusa memarkirkan mobilnya di parkiran Toko. Toko itu suasananya begitu hening. Ia menyempatkan diri memesan segelas kopi.
"Kau datang seorang diri?" Tanya ibu pemilik toko, sambil meletakkan secangkir kopi pesanan Yusa.
"Terimakasih". Yusa menyeruput kopi panas yang diantar wanita paruh baya itu. "Seperti yang kau lihat, Nyonya". Jawab Yusa singkat.
"Berpikirlah dua kali jika kau ingin melakukan hal itu. Ingat, hidupmu lebih berharga dari apa pun yang ada di dunia ini". Nasehat wanita itu sambil menyentuh bahu Yusa. Ia pun berlalu meninggalkan Yusa, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Yusa tertegun mendengar penuturan wanita paruh baya yang baru saja ditemuinya itu.
Tidak ingin berlama-lama di toko itu, Yusa segera menghabiskan kopi yang masih tersisa separuh. Setelah membayar pesanannya, Yusa segera meninggalkan toko itu.
Yusa melangkahkan kaki memasuki hutan Aokigahara yang mempunyai pepohonan yang rata-rata memiliki tinggi sepuluh kaki. Pepohonan tersebut juga mempunyai daun-daun yang rimbun dan padat sehingga seperti membentuk kanopi.
Cahaya matahari tak sepenuhnya dapat menyinari area hutan. Alhasil hutan Aokigahara selalu erat dengan nuansa yang kelam dan damai. Aokigahara memang memiliki suasana menyeramkan secara alami. Hal ini terlihat dari pohon-pohon tinggi yang rapat, tanah yang tidak rata dan penuh lubang, dan banyaknya gua.
Kesuburan tanah, kelembapan, suhu yang dingin dan jarangnya sinar matahari membuat bebatuan dan tapak jalan di Aokigahara ditumbuhi lumut layaknya hamparan karpet hijau. Persis hutan kurcaci di film โSnow Whiteโ. Dengan pepohonan lebat dan hampir tidak ada binatang liar, Aokigahara merupakan tempat sunyi dan mencekam yang dipenuhi bebatuan dengan formasi janggal.
Yusa terus melangkahkan kaki memasuki kawasan hutan di pagi hari yang sunyi itu. Tidak ada suara apapun yang terdengar, benar-benar sunyi. Suara burung pun tidak ada. Padahal baru beberapa meter dari pintu masuk. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara rintihan dan tangisan. Menurut mitos yang beredar, itu adalah arwah-arwah yang bergentayangan di dalam hutan. Hal itu tidak membuat gentar langkah kaki Yusa. Ia terus melangkah di jalanan hiking berupa bebatuan dan terkadang tersamar. Dan setiap beberapa ratus meter Yusa dapat melihat, papan penunjuk arah dalam bahasa Jepang. Di beberapa bagian disertakan gambar dan tulisan latin yang berisi informasi konseling anti-bunuh diri. Seperti kata-kata "Merenungkan anugerah kehidupan sekaligus rasa sakit yang anda timbulkan untuk keluarga anda".
Ya. Hutan yang dimasuki oleh Yusa adalah hutan yang populer beberapa tahun terakhir sebagai lokasi bunuh diri. Hutan ini berada diurutan kedua setelah Golden Gate Bridge di San Fransisco sebagai lokasi bunuh diri dengan korban terbanyak. Sejak tahun 1988, diperkirakan 100 orang tewas di hutan ini setiap tahunnya. Pepohonan yang rimbun dan serupa membuat orang yang masuk sangat mudah untuk tersesat. Berputar-putar melewati jalan yang sama. Sehingga tidak disarankan bagi pengunjung untuk keluar dari jalur resmi yang dibuat oleh dinas pariwisata setempat. Barangkali karena tempat ini bagaikan labirin yang siap menyesatkan manusia, sangat sesuai untuk orang yang tidak ingin keluar lagi. Alkisah, hal itu dipicu oleh kemunculan Tower of Waves, novel karya Seicho Matsumoto terbitan 1961 berisi aksi bunuh diri sepasang kekasih di Hutan Aokigahara. Buku lain, The Complete Manual of Suicide (1993) karya Wataru Tsurumi, menggambarkan Aokigahara sebagai "tempat sempurna untuk meninggal dunia".
Aokigahara diyakini berhantu karena pada abad ke 19 tempat ini digunakan untuk pembuangan orang-orang yang sudah tua untuk dibiarkan mati kelaparan. Ritual ini disebut ubasute dan umum dilakukan ketika masyarakat menderita kemiskinan dan kelaparan. Roh jahat (yurei) yang bersemayam di dalam hutan ini dipercaya bisa membuat halusinasi, menuntun kepada kesesatan dan bisa meneguhkan mereka yang bimbang menjadi yakin atas keputusannya ingin bunuh diri.
Yusa memasuki hutan lebih dalam. Sekitar satu kilometer dari gua, adalah bagian hutan yang tidak terjamah. Ia melewati tengkorak dan beberapa tubuh yang mulai membusuk, tergantung di pohon besar. Tali bergantungan, dan botol pil, menunjukkan bagaimana cara mereka bunuh diri. Sisa-sisa sepatu, pakaian, dan benda peninggalan orang yang telah meninggal pun banyak bertebaran di beberapa titik. Banyak pula tali atau selotip yang ditempel di pohon, untuk menandai jalanan yang sudah dilewati jika mereka yang ingin bunuh diri urung melakukannya.
Hutan ini memiliki aura kelam, yang membuat orang merasa tertekan. Seperti menularkan keputusasaan orang-orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya di sana. Tiba di balik sebuah pohon besar yang bercabang, Yusa menghentikan langkahnya. Ia memanjat pohon tinggi itu. Mencapai ranting yang cukup kokoh. Ia duduk di atas pangkal ranting. Kemudian mengambil tali yang ia selipkan dibelakang bajunya dengan tangan kanan. Mengikatkan dengan kuat tali itu pada ranting dan membuat simpul gantung di ujung tali yang lain. Yusa memasukkan kepalanya pada simpulan itu. Begitu tali menggantung di lehernya, Yusa menarik nafas kasar dan menghembuskannya kembali. Pada tarikan nafas yang kedua, Yusa melompat dari atas pohon.
"Akhhh.. " Tali menjerat leher Yusa.
" Apa yang kau lakukan, bodoh !!" Hardik Sota.
Tubuh Yusa menggantung, tali sudah mengikat leher dan kaki tak menyentuh tanah. Gaya gravitasi yang sangat kuat, menarik tubuh yang tertahan tali. Lehernya tercekik dan tak bisa bernapas. Yusa merasakan sakitnya tercekik, nyeri yang luar biasa menjalar ke tengkuk dan dada. Matanya melotot dan terasa perih karena tekanan.
Sota menahan dengan sekuat tenaga tali yang menjerat leher dengan tangannya. Ia mendorong kuat tubuh Yusa ke belakang hingga tubuhnya menghantam pohon. Beruntung, tali yang di simpulkan Yusa di ranting terlepas. Yusa ambruk ke tanah dengan posisi terduduk di antara akar pohon yang besar.
"Uhuk .. Uhuk... " Yusa terbatuk-batuk. Tubuhnya bereaksi cepat mengambil pasokan oksigen yang berkurang dari dalam tubuh.
Dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah jasad jatuh dari atas pohon tepat di atas kepala Yusa. Tubuh yang jatuh itu tanpa kepala. Tak lama kemudian sebuah tengkorak manusia yang dipenuhi belatung ikut jatuh dan menggelinding tak jauh dari tempat itu. Yusa menjerit histeris, begitu menyadari mayat berbelatung tanpa kepala telah menindihnya. Pandangan Yusa tiba-tiba gelap. Ia seketika tak sadarkan diri.
"Cih. Dasar manusia lemah. Ingin bunuh diri, tapi ditindih orang mati langsung pingsan. Benar-benar tidak punya harga diri". Umpat Sota.
Sota menyingkirkan jasad tanpa kepala itu yang juga menindih tubuhnya. Ia berdiri mengibaskan belatung yang menempel di pakaiannya. Sota memandang ke sekeliling hutan. Memastikan jalan keluar yang akan dia tempuh.
"Ayo kita pergi dari sini. Semoga aku masih mengingat jalan yang tadi kau ambil". Ujar Sota mantab.
...****************...
Bab ini agak panjang. Mau aku bagi 2 tadinya, tapi aku rasa gak dapat feel nya. Ya sudahlah, apa adanya. Horor gak sih ๐คญ ? Gak kan...๐๐๐