Looking For Murder

Looking For Murder
Akhir Perjalanan Sang Bunga Tobita Shinchi



Selamat memperingati hari kelahiran, selamat menua stroberinya 🍓 base. Rahmat dan Rahimnya Allah semoga selalu menaungi kehidupanmu. Bab ini spesial untuk mu dari kami base bersaudara yang selalu menyayangimu. We love you Cha-Cha 🥰🥰


🍰🍰🍰


Hingga peristiwa menyeramkan itu terjadi....


Sebuah mobil berjenis wagon berwarna biru tua, tampak berjalan lambat dikawasan Tobita Shinchi pada pukul 4 dini hari. Gina Ayumi baru saja selesai melayani tamunya yang ke 10. Mantan guru mata pelajaran science di SMA Osaka itu merupakan salah satu bunga di kawasan bordir kelas bawah itu. Sudah hampir 10 menit Ayumi menunggu taksi di pinggir jalan. Karena merasa lelah menunggu, tanpa pikir panjang ia memhentikan mobil biru tua yang melaju pelan itu.


Ciiit.. mobil berhenti tepat di depan Ayumi.


“Tuan bisakah aku menumpang...” Ucapan Ayumi berhenti begitu kaca mobil diturunkan.


“Oh my God. Benarkah itu kau ?” Ayumi berseru begitu melihat siapa sang pengemudi. Tanpa rasa malu, Ayumi membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil di samping kemudi.


“Apa kabarmu, Yusa. Lama kita tidak bertemu. Kau masih ingat padaku ?”


“Tentu saja, Bu. Aku masih ingat. Aku baik, Bu Ibu Ayumi apa kabar?”


“Seperti yang kau lihat. Kau semakin tampan saja. “ Ayumi bergelayut manja lengan kiri Yusa.


“Kau tau, Yusa. Kau adalah siswa favorit ku. Sejak kelulusanmu. Tidak ada yang bisa menggantikan keperkasaan mu.”


Pria yang dipanggil dengan nama Yusa itu hanya tersenyum sinis.


“Untuk merayakan pertemuan ini, bagaimana kalau kita bermain-main sebentar.” Ayumi menggesek-gesekkan daadanya ke lengan Yusa.


“Baiklah kalau itu mau mu. Tapi aku harap kau tidak akan menyesal.”


“Tentu saja tidak. Buat apa aku menyesal.”


Yusa kemudian menjalankan mobilnya menuju ke arah pinggiran kota Osaka.


“Kau akan membawaku kemana? Kenapa lama sekali?”


“Aku akan membawa mu ke suatu tempat.“


“Sudahlah, di sini saja. Mobilmu cukup luas untuk kita.” Ayumi mengecuup leher dan pipi Yusa membuat Yusa hampir kehilangan fokus.


“Sial !!”


Yusa menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi dengan mesin mobil tetap menyala. Ayumi berpindah ke belakang mobil diikuti Yusa. Di jok penumpang bagian tengah mereka saling kecuup. Ayumi yang sudah di bakar gaairah segera menarik tubuh Yusa untuk menindihnya. Yusa dengan beringasnya merobek pakaian yang dikenakan Ayumi dan melemparnya ke sembarang arah. Ia mulai mengayun wanita yang pernah menjadi gurunya itu.


“Yusa .. Fuuuck You.. “Ayumi meneriakkan nama Yusa di sela kenikmatannya.


“Panggil namaku Sota.”


“Panggil namaku Sota !!” Sota mulai naik pitam. Sota merasa kesal, dia memberi kenikmatan pada Ayumi, nama Yusa yang diteriakkan wanita itu.


“Fuuuck you Yusa .... “


Dengan kereta miliknya yang masih berada di dalam gua milik Ayumi, Sota yang dibakar amarah membekap Ayumi. Ayumi yang kehabisan nafas tangannya menggapai-gapai meminta pertolongan. Tanpa belas kasihan Sota terus menekan wajah Ayumi dengan baju kaos yang ada di dekatnya. Sota dengan tubuhnya yang bugil tetap menindih wanita itu. Seperti ada yang memperhatikannya, refleks Sota mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil di hadapannya. Seorang wanita bule terlihat sedang mengintip jendela mobil yang berwarna gelap itu, dengan ekspresi terkejut. Merasa aksinya diketahui, wanita itu langsung pergi dengan langkah lebar.


Dengan perasaan geram Sota membuka pintu mobil dan menyembulkan kepalanya sambil berteriak “Hey You !!” Namun wanita itu sudah pergi menjauh. Dengan membanting pintu mobil dan mengenakan pakaiannya kembali, Sota melompat ke jok kemudi dan menjalankan mobilnya mengejar wanita berkulit pucat itu. Melajukan mobilnya berlahan, Sota mengikuti arah wanita penguntit itu berlari.


“Brengsek..!!” Tidak menemukan wanita incarannya, Sota mengarahkan kendaraan nya ke rumah besar keluarga Benjiro yang terletak di pinggir kota Osaka. Ia membawa tubuh yang sudah tidak bergerak itu, ke kamar belakang dapur dan melanjutkan aksinya yang tertunda. Khawatir Ayumi bangun kembali, Sota membungkus kepala Ayumi dengan plastik warna hitam diikat dengan tali berwarna kuning.


Beberapa jam kemudian, Yusa terbangun dari tidurnya sambil memijit pelipisnya. Kepalanya terasa berat. Tubuhnya merasakan dingin dari hembusan penyejuk ruangan yang menyala. Matanya refleks memandang tubuhnya di ikuti oleh tangannya yang meraba dadanya.


Yusa harus menerima kenyataan, ia terbangun dengan tubuh tanpa sehelai benang pun yang melekat di sana.


“Sial. Terjadi lagi.”


Tubuhnya terasa lengket dan bau. Tak jauh dari tempat ia berada ada sesosok wanita tanpa busana terbaring tak bernyawa dengan kepala bersampul plastik warna hitam dengan diikat tali plastik berwarna kuning.


Yusa duduk di tepi ranjangnya, sambil menatap nanar sosok kaku yang ada di hadapannya. Mengambil gelas yang ada tak jauh dari matrasnya dan melemparnya kearah dinding.


“Kau yang berbuat, aku yang harus menanggung akibatnya !!”


Prang.. Kepingan gelas bertebaran ke mana-mana. Beberapa serpihan jatuh tak jauh dari tubuh kaku itu. Entah jenazah siapa lagi kali ini. Yusa tak ingin mencari tahu. Ini bukan kali pertama Yusa terbangun dengan kondisi yang sama. Beberapa hari sebelumnya, hal itu juga terjadi. Yusa terbangun dengan tubuh bugil berlumuran darah. Ia menemukan jasad wanita yang telah di potong berada dalam kantong. Karena panik Yusa membawa jenazah wanita itu dan meninggalkannya di taman minoo.


Yusa melangkah pelan ke arah jenazah. Di pandanginya tubuh polos wanita malang itu. Entah peristiwa apa yang telah terjadi padanya. Diambilnya kepingan gelas yang lebih besar dengan tangan kanannya.


“Aku sudah tidak sanggup lagi...”


Cessss ... Yusa menggoreskan serpihan gelas itu ke pergelangan tangan kirinya. Darah mengalir dengan deras.


Bruk..


Yusa ambruk ke lantai begitu melihat darah keluar dari pergelangan tangannya yang tergores. Beberapa detik kemudian, tiba-tiba mata itu membuka dengan sempurna.


Dengan sekuat tenaga tubuh lemah itu meraih tempat tidur. Ditariknya kain penutup kasur dan merobeknya. Sobekan itu dililitkan pada luka menganga di pergelangan tangan kirinya.


“Sialan. Hampir saja kau membunuhku.” Umpat Sota.


Dengan sisa tenaganya, Sota membawa jenazah itu dan membuangnya di tempat sampah ketika ia menuju apartemen Yusa. Begitulah akhirnya Yusa di temukan oleh keamanan apartemen yang kemudian melaporkannya pada sang adik Hikari (kalau tidak salah ada di bab 37).


...****************...