
"Bundaaaa ... buruan dong, nanti Kawa telat," lelaki kecil berumur tujuh tahun itu sudah menunggu sang bunda di depan teras. Duduk di atas kursi sambil menggoyang goyangkan kakinya.
"Sayang udah ...," ujar Anwa melepaskan tangan Arkana yang masih sibuk masuk ke dalam pakaian dalamnya.
"Kawa suruh supir aja yang anter," ujar Arkana menyesap leher istrinya.
"Kamu kebiasaan, pasti pagi deh mintanya giliran malem kamu ngorok." Anwa menarik tangan Arkana lalu bangkit dari tidurnya.
"Bundaaaa," suara Saka sudah berteriak nyaring di depan pintu kamar.
"Iya, Nak ... sebentar," seru Anwa membuka daster yang ia kenakan.
"Aku ikut," ujar Arkana memakai celana panjangnya dan kaos lalu membuka pintu kamar.
"Mana Kakak?" tanya Arkana pada Saka.
"Kakak udah di depan, ayo Yah ... telat nanti, anter Saka dulu ya?"
"Anter Kawa dulu Yah ... ini hari Senin, Kawa upacara," teriak Kawa dari teras.
"Iya ... iya, tenang nanti Ayah bawa mobil dengan kecepatan penuh, let's go."
"Ayah," sapa suara lembut gadis kecil yang sedari tadi duduk di meja makan di temani si Mbak.
"Aduh, Ayah sampe lupa sama princess Ayah yang paling cantik ini." Arkana menggendong gadis kecil berumur tiga tahun itu. "Mau ikut anter Kakak?" Sekar mengangguk.
"Bundaaaa," sekali lagi suara Kawa menggelegar.
"Iya, Bunda udah siap ... ayo, kita berangkat."
Begitulah hari-hari yang di lalui keluarga kecil ini, tujuh tahun sudah umur pernikahan mereka. Di karuniai tiga orang anak yang lucu-lucu membuat hidup keluarga kecil ini sungguh terlihat sempurna. Konflik yang dihadapi pun hanya seputaran masalah anak, anak mau sekolah dimana, anak belajar seperti apa, anak harus di didik bagaimana, anak dan anak.
Perusahaan kuliner yang di kelola oleh Arkana pun berkembang dengan pesat, restoran yang dia kelola semakin hari semakin terkenal. Investasi yang ia tanam di perusahaan sepupunya, Kalla pun semakin menampakkan hasil. Hidup begitu indah ketika semua berjalan lancar sesuai keinginan.
"Anterin Kawa ya Yah ... ini udah setengah tujuh," Kawa merengek masuk ke mobil.
"Iya, Kawa lalu Saka ... tenang aja, Ayah kan pembalap." Arkana menyalakan mesin mobilnya.
Anak-anak sudah duduk rapih di kursi penumpang, mobil Pajero putih itu keluar dari halaman rumah.
"Ada tetangga baru Ar," ujar Anwa saat mereka melintas di depan rumah yang bersebelahan dengan mereka.
"Iya, udah kelar renovasinya ... udah mulai di tempati kayaknya." Arkana melihat sekilas ke sisi sebelah kirinya.
"Kemarin Kawa liat, udah pada pindah kok ... ada anaknya seumuran Kawa kayaknya Yah," kata Kawa ikut celingukan.
"Asik dong bisa di ajak maen bola di halaman," ujar Saka.
"Cewek Sak, masa diajak maen bola."
"Cewek?"
"Iya, rambutnya panjang di kepang dua," jawab Kawa.
"Cantik?"
"Saka??" Arkana dan Anwa berbarengan bersuara.
Saka selalu seperti itu jika melihat lawan jenisnya, dia sudah tahu yang mana yang cantik yang mana yang manis dan yang yang biasa saja.
"Kamu banget," ucap Anwa.
"Eh ... gak ya," jawab Arkana menarik hidung istrinya.
Butuh waktu 15 menit sampai di depan sekolah Kawa, setelah menyalami kedua orangtuanya Kawa langsung berlari ke dalam sekolah karena takut ia akan telat.
"Ngebut lagi dong Yah, Saka juga udah telat."
"Siap Bos."
"Di sekolah Saka juga ada anak baru Bun," Saka selalu lebih leluasa bercerita jika Kawa tak lagi bersama mereka.
"Seneng dong," ujar Anwa.
"Cantik loh Bun," jawab Saja santai.
"Cantik itu apa sih?" tanya Anwa pada Saka.
"Cantik itu kayak Bunda ...," jawab Saka lalu mengecup pipi Anwa.
"Makasih Sayang."
"Ayah gak di cium?"
"Saka jarang cium Ayah loh," kata Arkana.
"Ayah udah sering di cium Bunda, Saka sering liat."
Mata Anwa dan Arkana saling tatap.
"Cekar juga liat," ujar Sekar yang duduk di pangkuan Anwa.
"Masa? dimana? kan biasa kalo Ayah cium Bunda atau Bunda cium Ayah," kata Arkana.
"Saka pernah liat waktu malem-malem di kamar Ayah, bukan pas Ayah mau berangkat kerja."
"Astaga," Anwa menangkup mulutnya dengan tangannya lalu matanya memejam menahan malu.
"Cekar juga liat."
"Aduh ... kan Sekar udah bobok," Arkana menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Cekar bangun ... abis belicik,"
"Ya ampun," Anwa semakin membuang pandangannya keluar jendela.
"Saka udah sampe ... ayo turun, itu di tunggu sama ibu guru," ucap Arkana mengalihkan pembicaraan.
Lelaki kecil umur lima tahun itu pun berpamitan lalu berlari turun tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Sekar, kalo boboknya belajar bobok sendiri mau?" tanya Arkana lalu menatap Anwa.
"Gak."
"Kok gak?"
"Nanti Ayah sama Bunda seneng kalo gak bobok sama Cekar," ujarnya cemberut.
"Siapa bilang, nanti sebelum Sekar bobok Ayah dongengin kayak biasa, terus di temenin juga sama Bunda."
"Tapi Cekar maunya di beliin makeup an yang baru ya Ayah, cama mejanya yang kayak di yutub itu," rengeknya.
"Make up?"
"Iya, yang kemaren itu udah rucak ... cama yang buat kuku Cekar biar cantik kayak princess ... ya Ayah," rayunya dan Arkana hanya bisa mengangguk.
"Kamu dulu waktu kecil begitu gak sih Sayang?"
"Gak ... aku gak ada makeup an kayak gitu," Anwa terkekeh.
Mobil kembali terparkir di halaman rumah mereka. Sekar sudah berlari masuk ke dalam rumah memanggil si Mbak agar memandikannya.
"Lanjut yang tadi yuk, mau?" tanya Arkana saat mereka sudah masuk kembali ke dalam kamar.
"Aku mau mandi," jawab Anwa kembali melepaskan pakaiannya dan berjalan tanpa sehelai benangpun menuju kamar mandi.
"Aku ikut," ujar Arkana menyusul istrinya masuk ke dalam.
Anwa sedang menggosok giginya di depan wastafel menghadap kaca dengan bagian tubuh polos, dada nya ikut bergerak saat ia menggosok giginya.
Arkana masuk memeluk wanita itu dari belakang, menangkup dada Anwa yang selalu menjadi tempat favoritnya. Arkana sudah menyusuri leher jenjang istrinya, sementara tangannya meremat dada Anwa.
Anwa sedikit membungkuk saat ia harus berkumur, sedangkan Arkana mencuri kesempatan itu untuk memanjakan benda kesayangannya dari belakang tubuh Anwa. Ia lebarkan sedikit kaki Anwa mengecupi pundak mulus istrinya, sementara satu tangan sudah turun ke bawah menuju cekungan yang lembab yang menjadi tempat dimana ia melepaskan segalanya.
"Sayang," Anwa mulai mendesah ketika ia merasai milik Arkana mulai memasuki tubuhnya.
"Liat aku Sayang," ujar Arkana melihat wajah Anwa yang mulai sendu dari kaca.
"Ah ... Sayang." Anwa menggigit bibir bawahnya menahan ******* kenikmatan.
Arkana terus memompa, dari pelan hingga tempo yang semakin cepat. Erangan Arkana semakin terdengar, cengkraman tangan Arkana pada pinggul Anwa pun semakin erat hingga saat mereka mendapati pelepasan bersama.
Arkana memutar kembali tubuh Anwa yang sudah mulai terkulai, dia kembali menyesap bibir tebal istrinya itu, permainan belitan lidah kembali meningkatkan adrenalin di bawah sana. Arkana menyusuri leher hingga ke dada sang istri, ia memilin satu dada dengan tangannya sementara satu dada lagi sudah di nikmati dengan kecupan dan sesapan. Anwa menikmati sentuhan suaminya, rambut Arkana tak ayal jadi sasaran tangan Anwa. ******* Anwa kembali terdengar.
"Sayang ... aku gak tahan, sekarang ya," pinta Anwa.
"Lagi?" Dan Anwa mengangguk pasrah.
"Bundaaaa ... Bunda mandinya lama banget ciiih," suara gadis kecil itu pun membuyarkan segalanya.
***kangeeen kaaaan???? aku juga kangen sama mereka 😘 spesial part buat kalian yang kangen sama Ar dan Wawa 😍
Chida ❤️***