Kiss Me

Kiss Me
I Miss You Already



Empat bulan berlalu,


Setelah memutuskan me resign kan diri dari perusahaan yang selama ini adalah cita-citanya mengejar karier, Anwa memilih untuk fokus merawat Arkana dan usaha Arkana yang sempat hanya di handle oleh Ria, orang kepercayaan Arkana.


Lucu bukan, Ria yang selama ini menjadi alasannya untuk cemburu pada Arkana malah menjadi sahabat bahkan rekan kerjanya dalam mengembangkan usaha suaminya yang masih tertidur panjang dalam koma.


Hari ini Anwa datang kembali ke rumah sakit tempat dimana sudah seperti rumah kedua baginya. Perutnya sudah membuncit, meski tubuhnya tak terlihat banyak perubahan, kehamilannya masuk tujuh bulan, Anwa patut bersyukur anak yang ia kandung sangat sehat dan sangat mengerti kondisi orang tuanya.


"Ar ...," ujarnya membuka pintu ruangan suaminya, di sana sudah ada Mama Cha Cha yang selalu bertugas menggantikan Anwa jika Anwa sedang mengurus usaha suaminya.


"Ah, Mama ... Mama sudah makan? ini Anwa bawa nasi rawon, tadi chef di restoran bikin beberapa menu untuk Anwa makan di sini," ujarnya mengeluarkan beberapa styrofoam berisi nasi rawon, roti bakar, beberapa ayam goreng serta nasi.


"Iya nanti Mama makan ... Wa, Mama liat tadi pagi susu kamu belum di minum, kenapa? mual?" tanya Mama mertua itu.


"Gak sempat Ma, tadi Anwa buat aja tapi lupa minum, nanti Anwa minum ... Mama taruh di kulkas?"


"Iya Mama taruh di sana, kamu jadi sore nanti cek kandungan? biar Mama temenin lagi ... Arkana biar sama Annaya sebentar."


Anwa mengangguk, mengunyah potongan roti bakar. Hari ini jadwalnya untuk memeriksa kandungan dan seperti biasa mama mertuanya lah yang selalu menemani.


"Bunda besok ke sini Ma, biar gantian sama Mama buat jaga Arkana, Mama biar istirahat dulu lah." Anwa berjalan mendekati suaminya.


"Kasian bunda kamu, setiap bulan pasti kesini," ujar Mama Cha Cha, "kamu mau buah? Mama buka ya?" Anwa mengangguk.


Percakapan seperti ini yang selalu mereka lakukan setiap hari, pertemuan dan percakapan yang intens membuat mereka dekat bagai ibu dan anak bukan hanya sebagai menantu dan mertua saja.


"Anwa lupa belum bersihin ini," ujarnya tersenyum dan membelai lembut dagu dan rahang Arkana yang sudah di tumbuhin rambut-rambut halus yang membentuk sebuah jambang. Alat pernafasan sudah terlepas dua bulan yang lalu, hanya yang tersisa alat monitor serta infus yang masih terpasang serta beberapa alat pendukung untuk pembuangan.


"Iya, tapi Arkana terlihat gagah dengan jambangnya ya Wa," mereka pun tertawa. "Rambutnya tetap di cukur botak aja Wa, jangan ditumbuhi rambut dulu, jahitannya juga sudah menyatu dengan daging nih ... gak keliatan malah, ah ... anak Mama masih terlihat tampan," ujar Cha Cha tersenyum kecil.


Malam itu setelah mengunjungi dokter kandungan, Anwa seperti biasa menunjukkan hasil foto USG bayi mereka.


"Ayah ... adek udah sebesar ini di perut Bunda," ujar Anwa, "kata dokter berat adek bagus loh perkembangan adek luar biasa ... Ayah, ayo bangun ... sebentar lagi adek bakal ketemu sama Ayah loh, Ayah harus semangat ya ...." Mata Anwa berkaca-kaca.


Menjelang tidur, Anwa selalu naik ke tempat tidur suaminya, bercerita tentang banyak hal tentang usaha restoran mereka yang berjalan sangat baik, bercerita tentang percintaan mereka dulu dari saat bertemu sampai mereka menikah, momen-momen manis itu selalu Anwa ceritakan berulang-ulang.


Ia tak ingin disaat Arkana bangun suaminya itu akan melupakan momen manis mareka. Seperti saat diatas kapal perjalanan mereka pulang ke Jakarta saat Anwa, Arkana jemput untuk pulang bersamanya, atau saat Anwa pertama kali tersesat di gedung apartemen Arkana hingga hal-hal kecil yang sering Arkana lakukan, seperti menguncir rambutnya yang selalu menjadi penghalang Arkana untuk melihat Anwa.


"Banyak yang kita lalui, Ar ... aku selalu kangen sama kamu," lirihnya.


Perlahan Anwa memejamkan matanya, tidur dengan posisi menghadap sang suami, melingkarkan tangannya di pinggang Arkana. Posisi ini yang belakangan selalu menjadi pilihannya, selain perut yang semakin membesar, serta kenyaman untuk sang bayi, menatap wajah suaminya sebelum tidur sudah menjadi ritual bagi Anwa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mata itu memandang tajam, senyumnya mengembang di sudut bibir, tangannya membelai lembut setiap lekuk wajah seorang yang dia cintai selama ini.


Rasanya seperti puluhan tahun tak bertemu, bercerita, bahkan bercinta. Arkana tak bisa melepaskan tatapannya pada wajah cantik istrinya.


Anaknya ....


Benih yang dulu dia tanam sekarang tumbuh sehat di rahim sang istri. Benih yang ingin dia dengar detak jantungnya saat itu sekarang sudah berkembang dengan baik.


Banyak sekali peristiwa penting yang ia lewatkan, bagaimana dengan Anwa? saat ia tertidur panjang wanita itu sedang banyaknya menginginkan sesuatu, sedang inginnya diperlakukan bak seorang putri, rasa yang sensitif, rasa cemburunya.


Bagaimana bisa dia melewatkan semua itu, air mata Arkana menetes perlahan. Rasanya ia tak mampu lagi membendung perasaan ini. Anwa terlalu kuat menghadapi ini seorang diri.


Anwa bergerak perlahan, menyadari pergerakan itu Arkana tersenyum. Wanita itu membuka matanya, mengerjapkannya sebentar. Lalu dia tersenyum melihat wajah Arkana.


Anwa hampir saja terjatuh jika tangan Arkana tak cepat menarik pinggang wanita itu. Begitu terkejutnya ia ketika melihat wajah Arkana menoleh padanya dan tersenyum.


"Kaget ya?"


"Ar ... Ar ...."


"Iya, ini aku," ujarnya pelan.


"Ar ... kamu bangun? Ar ... kamu bangun?" Air mata Anwa mengalir deras, kedua tangannya menutup bibirnya tak percaya.


Lelaki yang sudah empat bulan terbujur tak berdaya itu tersenyum padanya, senyum yang selama ini dia rindukan. Anwa menghambur ke dalam pelukan Arkana, ia menangis sejadi-jadinya.


Mukjizat Tuhan yang luar biasa itu membuatnya benar-benar tak dapat berkata apa-apa. Anwa menciumi setiap inci wajah suaminya, Arkana tak dapat lagi membendung air matanya.


"Maafin aku ya ... maafin aku karena buat kamu begini Wa," ujarnya menangis.


Anwa mengangguk angguk, "gak ada yang perlu dimaafin Ar, semua sudah kita lewati sekarang, kamu jangan tinggalin aku lagi ya ... jangan pernah tinggalin aku lagi," ujarnya dengan suara bergetar.


"Aku takut Ar ... aku takut kamu gak bangun lagi." Anwa mengeratkan pelukannya.


"Aku janji ... aku janji gak akan lagi ninggalin kamu, aku janji dimana ada aku maka kamu akan selalu ada di sisi aku ... maafin aku Wa." Berkali kali Arkana mengecupi puncak kepala istrinya.


"Kangen aku gak?" ujar Arkana menjauhkan tubuh Anwa perlahan untuk melihat wajah istrinya.


Anwa mengangguk dan menangis. "I miss you already," ujarnya mengecup bibir Arkana lama.


***oohhh terharu aku...


Pagiii... gimana? semangat ya pagi ini 😂 jangan lupa likenyaaaahhh


enjoy reading 😘


Chida ❤️***