
Seiring waktu berlalu, kedekatan itu semakin terlihat jelas. Hanya teman, iya hanya sebatas teman, Arkana belum berani mengungkapkan semuanya, dan Anwa pun masih menjaga perasaannya walau tidak menolak saat Arkana melakukan sesuatu yang menurutnya sebagai bentuk perhatian. Dari menggandeng tangan secara tiba-tiba, atau mengacak rambut gadis itu, menarik hidungnya, atau hanya sekedar tertawa bersama jika membahas atau melihat sesuatu yang lucu.
Anwa mulai menata hidupnya, senyum sekarang sering terukir. Walau kadang masih sedikit dingin tetapi sedikit perubahan sudah membuat hati Arkana berbunga-bunga.
Saat ini mereka sedang menghabiskan waktu minggu siang dengan menonton film Thriller yang berjudul A Quite Place, film yang cukup menegangkan menceritakan tentang sebuah keluarga yang berhasil bertahan hidup tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Apabila terdengar suara sedikit keras saja, akan ada makhluk kejam yang siap menghabisi siapapun tanpa pandang bulu.
Berkali-kali Anwa berada di belakang punggung Arkana untuk bersembunyi jika tiba-tiba terdapat adegan-adegan yang mengagetkan dan menyeramkan.
"Matiin aja ya, gak usah nonton," ujar Arkana yang mulai kesal melihat kelakuan Anwa yang berlindung di balik punggungnya.
"Jangaaan, ini seru," jawabnya masih memegang kaos Arkana untuk menutupi matanya.
"Seru, tapi lo nya takut, gimana coba?"
"Ya udah sih nonton aja, diem-diem, nikmatin."
"Gimana gue mau nikmatin Wa, lo nya aja narik-narik baju gue."
"Tuh kan..." sedetik kemudian Anwa menjerit terkejut, "mati aku...."
"Apaan sih," ujar Arkana kesal, "matiin ya," ujarnya lagi.
"Jangan, Ar... iya aku janji gak tereak deh, tapi aku boleh tetep di sini ya," duduk di belakang Arkana pada satu tempat tidur dengan posisi seperti mengendarai motor.
Satu hari yang lalu Arkana menambahkan fasilitas lagi di kamar kost milik Anwa. Fasilitas berlangganan tivi kabel, sempat di tolak mentah-mentah oleh Anwa, karena menurutnya sangat berlebihan. Dan seperti biasa Arkana tidak menerima penolakan.
Hampir dua jam menghabiskan film yang menjadi tontonan mereka, rasa lapar pun melanda.
"Ke kafe yuk," ajak Arkana pada Anwa.
"Laper ya?"
"Iya Wa, gue masih normal, masih bisa merasakan lapar dan haus."
"Perasaan dari tadi kamu yang ngabisin snack di kulkas, bolak balik ada aja yang kamu ambilin."
"Cuma lewat doang itu mah, ayo."
"Ganti baju dulu Ar," Anwa berjalan masuk ke kamar mandi dengan membawa satu setel baju yang akan ia pakai.
Tak berapa lama, gadis itu keluar dengan memakai rok tutu berwarna hitam dan atasan berwarna baby pink, dengan rambut di jepit si sisi sebelah kanan. Berjalan ke arah kaca yang tertempel di dinding, Anwa memoleskan sedikit lippen berwarna nude pada bibirnya.
Arkana yang masih duduk di sisi spring bed single itu hanya memperhatikan tanpa berkedip.
Kapan status gue berubah Wa... ujarnya dalam hati.
"Kita mau kencan?"
"Hah?"
"Lo kalo kayak gitu, berasa gue jadi pengen ngajakin kencan..." ujar Arkana malu-malu.
"Eh, gimana sih bahasanya?" Anwa terkekeh, "udah buruan keluar, jadi laper gak nih?"
Liat lo aja gue mah udah kenyang Wa, serius....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menikmati makan malam mereka dengan di temani alunan musik. Anwa menyuapkan lagi tenderloin mushroom steak ke dalam mulutnya.
"Perasaan yang laper tadi gue ya Wa, kenapa jadi lo yang semangat," kekeh Arkana melihat kelakuan Anwa menyantap makanan di depannya.
"Makanannya mahal Ar, sayang kalo gak di abisin," jawabnya santai sambil menyeruput avocado juice.
"Gue tinggal bentar ya," ujar Arkana saat melihat dua orang yang ia kenal memasuki kafenya.
Anwa mengikuti kemana langkah kaki Arkana melangkah, sedikit terkejut saat gadis yang ia temui memeluk erat tubuh Arkana.
"Abaaaaang."
Arkana memeluk gadis itu dan mencium pucuk kepalanya, lalu menyambut uluran tangan dari seorang pria yang wajahnya sedikit sama dengan gadis tadi dan membalas pelukannya.
Anwa melihat interaksi antara ketiganya, lalu dengan santainya kembali menikmati makan malamnya lagi.
"Abang, kenapa gak ke rumah?"
"Belom sempat gue Ra, lagian kalian juga baru sampe dah lanjut lagi kan ke Lombok."
"Iya, tapi harusnya Abang ikut," ujar lelaki tadi.
"Sibuk gue," jawab Arkana, lalu melirik Anwa yang sedang memainkan ponselnya.
"Pacar lo Bang?" tanya Kala, "boleh juga Bang."
"Masuk kemana Bang?" kali ini Zurra ikut penasaran.
"Ya ke hatinya Ra, emang mo kemana lagi?"
Ya kali Bang kemana gitu." Diakhiri jitakan di kepala Zurra hadiah dari Kala, "sakit Kala, ish."
"Lagi lo pikiran jauh bener."
"Lah salah gue emang mikir apaan?"
Ya begitulah Kala dan Zurra sedari kecil hidup keduanya penuh perdebatan, tetapi bila satu dengan yang lain berjauhan maka akan saling mencari karena rindu. Kembar yang tak identik, masing-masing mempunyai paras yang menawan, darah Belanda mengalir keras di aliran darah mereka, wajah sang kakek yang terkenal sebagai seorang penyuka jengkol itu membuat wajah mereka hampir menyerupai garis wajah sang Kakek.
"Dia di tinggal sama pacarnya dulu," jelas Arkana sambil menarik kursi di meja bar.
"Oh, di selingkuhi ya Bang," kekepoan Zurra benar-benar turun dari sang ayah.
"Ish, sembarangan."
"Terus ditinggal kenapa?" dan kekepoan itupun turut turun pada Kala.
"Pacarnya meninggal."
"What?" suara Zurra sedikit mengagetkan kedua kakak laki-lakinya.
"Biasa aja suara lo bisa gak?" Kala menepuk lengan Zurra.
"Kan gue kaget," jawabnya, "terus... terus... sakit?"
"Serangan jantung, mendadak."
Keduanya pun ber O bersamaan.
"Emang kalo kembar itu kudu kompak ya," Arkana lalu melemparkan senyumnya pada Anwa, "ayo, gue kenalin, tapi jaga sikap ya jangan nge jatohin harga diri gue, terutama lo... Kal," alis Arkana naik sebelah.
"Wa, kenalin," kata Arkana saat mendekat ke meja dimana Anwa menunggunya di sana, "sepupu gue... yang ini Zurra dan yang ini Kala."
"Hai, gue Zurra... ini kakak gue Kala."
"Hai, Kala," ujar Kala mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Anwa.
" Udah Kal, jangan lama-lama," Arkana melepaskan jabatan tangan keduanya.
"Biasa aja, Bang... kalo udah jodoh gak kemana," bisik Kala.
"Jadi... udah lama kenal sama Abang?" tanya Zurra sok posesif.
"Baru Ra, baru tiga bulan."
"Ish, kan gue nanya Anwa Bang, bukan lo," sungut Zurra.
Anwa tersenyum. "Baru tiga bulan Ra," jawab Anwa santai.
Pelayan datang membawakan pesanan yang mereka pesan tadi.
"Pacaran ya?" seloroh Kala.
"Gimana?" tanya Anwa lalu beradu pandang dengan Arkana.
"Lo sama Abang pacaran?" pancing Kala lagi.
Arkana sengaja diam, agar Anwa menjawab pertanyaan yang Kala tanyakan.
"Eh... gak." Anwa mengibaskan tangannya menandakan mereka tidak dalam hubungan yang serius, "kita temen... temen deket."
"Sedeket apa?" kali ini Zurra seperti mewawancarai saat mencari pekerjaan.
"Kalian apa-apaan sih," ucap Arkana sengaja masuk dalam pembicaraan itu.
"Deket aja Ra, gak lebih dari temen, iya kan Ar?"
"Ar?? lo panggil Abang dengan sebutan Ar, dan bilang cuma temen deket... wah lo, Bang harus jelasin ini ke kita," Kala mulai memancing di air yang keruh.
"Emang ada apa dengan panggilan Ar?" tanya Anwa.
"Ar itu--- " tangan Arkana membekap lambe-lambe turah seperti lambe Zurra ini perlu kekuatan maksimal.
***Ada apa dengan panggilan Ar???
1 part dulu... maapkeeuunn up nya gak di jam seperti biasa ya... 1 part lagi insyaallah sore tapi bisa jadi malam tergantung kondisi dunia nyata di saat wiken 😂
jangan lupaa jejaaaak bebs 😘***