
"Iya Ma," jawab Arkana.
"Pulang sekarang ada hal penting yang mau dibicarakan."
"Tapi Ma, besok pagi aja ya."
"Sekarang!"
Arkana menutup sambungan telepon selulernya. Lalu membantu Anwa mengancingkan kembali kancing bajunya.
"Kenapa?" Anwa beranjak dari posisi tidurnya.
"Mama minta ku pulang sekarang, katanya ada yang mau di bicarakan," ujar Arkana memesan taksi online agar menjemputnya.
"Besok aku kesini lagi, langsung tidur jangan baca novel terus ya," ujarnya mengecup lembut kening Anwa dan sekilas mengecup bibir gadis itu. "Kita selesaikan yang tadi, besok," Arkana mengerling nakal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Taksi itu berhenti di sebuah rumah yang juga tak nampak begitu besar. Arkana melangkah masuk ke dalam, di sana sudah menanti kedua orangtuanya.
Wajah kedua orangtuanya yang tidak begitu ramah padanya membuat Arkana bertanya tanya ada apa sebenarnya.
"Kok belum pada tidur?" Dia melirik jam tangannya, sudah pukul setengah sebelas malam.
"Duduk Ar," ujar Fajar.
"Darimana?" tanya sang Mama.
"Ma, biar aku yang bicara," wajah Fajar serius. Jika serius seperti ini pasti lah ada hal yang penting yang harus di bicarakan.
"Ada apa Pa?"
"Kamu darimana Ar?"
"Dari kantor, Arkan baru selesai periksa semua laporan keuangan," ujar Arkana sedikit berbohong.
Fajar mengangguk. "Ar, selama ini dari kamu kecil sampai kamu menginjak dewasa tidak pernah sedikitpun kamu melakukan kesalahan, kecuali kemarin dan itu sudah Papa maafkan."
"Tapi bukan berarti Papa memaafkan kelakuan kamu, kamu jadi seperti orang yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah."
"Ini maksudnya apa sih Pa? kenapa berbelit belit, bukankah kejadian kemarin Papa juga sudah maafin Arkan, tapi kenapa kesannya Arkan melakukan kesalahan lagi?"
"Kesalahan apa yang dilakukan Arkana kemarin Pa?" tanya Sang Mama penasaran.
"Lupakan saja kalau yang itu, aku gak terlalu terganggu," Fajar bersidekap.
"Lalu apalagi yang Arkan lakukan Pa?" tanya Arkana kali ini memang ia benar-benar tidak tahu.
"Sore tadi Mama ketemu Tante Indira, Tante Indira cerita sama Mama, kalau Om Riza itu sahabat dekatnya Ayahnya Anwa," ujar Mama Cha Cha.
"Iya kan, saat makan malam itu Om Riza udah kasih tau Ma, terus salahnya dimana?"
"Jelas salah kalau kamu pacaran sama anak mantan narapidana korupsi!" bentak sang Mama yang sedari tadi menahan kesalnya.
"Om Riza mungkin menutupi itu, mungkin Tante Indira juga Papa yakin dia keceplosan, tapi... tanpa mereka kasih tau pun itu akan terkuak Ar," ujar Fajar.
"Kamu tau kan posisi Papa Ar, apa jadinya anak seorang Fajar Athaya Pramudya direktur utama PT. Adhi Jaya berbesan dengan mantan narapidana tersangka korupsi," ujar Mama Cha Cha yang sudah memijat pelipisnya.
"Astaga," Arkana menepuk dahinya. "Masalah ini? memang kenapa Ma? Anwa gak salah dalam hal ini, yang korupsi bapaknya bukan anaknya Ma, Mama gak tau Anwa seperti apa, Mama hanya melihat dari sisi nama baik Papa, Papa sendiri sudah mengenal Anwa, Arkan rasa Papa pasti berpendapat yang sama dengan Arkan, Anwa anak yang baik Ma, banyak yang sudah dia lalui, sangsi sosial yang mereka terima selama bertahun-tahun bahkan sampai sekarang pun masih mereka dapatkan," ujar Arkana.
"Pa, please Arkan tau di hati Papa yang paling dalam, terlepas dari Anwa anak siapa, Papa juga menyukai kepribadian Anwa, benar kan?Anwa terlalu baik Pa, bukan karena Arkana cinta sama dia, tapi memang dia pantas di perjuangkan."
Fajar hanya terdiam mendengarkan anaknya berbicara panjang lebar, namun antara hati dan pikiran Fajar belum bisa menerima, bagaimana mungkin jika suatu saat dia harus menjalin hubungan dengan mantan koruptor sedangkan posisinya berada di jajaran direksi perusahaan BUMN bisa dikatakan mempertaruhkan nama baiknya.
"Bahkan Presiden SBY saja dengan legowo menerima Aulia Pohan menjadi besannya," ujar Arkana menyunggingkan senyum.
"Iya..."ujar Mama Cha Cha, "tapi sayangnya Mama bukan ibu seperti Ibu Ani Yudhoyono," ujarnya lagi dan berlalu dari hadapan anaknya.
Arkana menyugar rambutnya, terlihat wajah frustasinya, jauh hari ini sudah pasti akan terjadi, namun tidak secepat ini pikirnya.
"Pa--- please, keluarga Anwa gak seperti yang kita bayangkan Pa, kesalahan seseorang mungkin gak bakal hilang begitu saja, tapi setidaknya orang tua Anwa perlahan sudah memperbaiki dirinya," ujar Arkana yang masih berusaha membuka hati sang ayah.
"Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya yang ingin bertobat," ujar Arkana lagi.
"Please Pa, Arkan sayang sama Anwa, beri kami kesempatan membuktikannya," kata Arkana menatap Fajar.
"Apa yang mau kamu buktikan sama Papa dan Mama?" tantang Fajar.
"Arkana bakal buktiin, Anwa patut Arkana perjuangkan, Anwa akan menjadi menantu kesayangan di rumah ini," janji Arkana.
"Jaga sikap kamu, jangan sampai menimbulkan masalah baru," ujar Fajar meninggalkan anaknya.
Arkana naik ke lantai atas menuju kamarnya, memasuki ruangan gelap itu, merebahkan tubuhnya, memandangi langit-langit kamar. Entah apa yang akan di lakukannya nanti bersama Anwa untuk membuktikan kepada orangtuanya kalau mereka pantas bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari belum juga menampakkan sinarnya, saat ini masih menunjukkan pukul lima pagi, Arkana sudah berada di depan kamar Anwa. Semalam tadi dia tidak bisa tidur memikirkan hubungannya akan seperti apa dengan Anwa. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi mengunjungi kekasihnya pagi buta.
Ketukan pintu sebanyak lima kali akhirnya terbuka juga. Anwa memicingkan matanya, melihat lelaki yang semalam habis mencumbunya, datang dengan wajah yang kusut dan berantakan.
"Ar?"
Arkana masuk ke dalam kamar itu, tidur di atas tempat tidur itu seperti biasa, Anwa masih terperangah melihat kekasihnya, yang masuk tanpa bicara.
"Ar?" Anwa mendekat.
"Sini," Arkana menggeser tubuhnya, "tidur di samping aku," ujarnya menepuk nepuk kasur menyisakan satu tempat kosong untuk Anwa.
Anwa mengikuti apa yang Arkana mau, membaringkan tubuhnya, memeluk lelaki itu dan menjadikan dada Arkana sebagai bantalnya. Arkana membelai lembut rambut keriting kesayangannya.
"Kamu kenapa Ar?" tanya Anwa.
Arkana terdiam lama, seringkali menghembuskan nafas panjang seakan bebannya begitu berat.
"Aku cinta kamu Wa," ujarnya lalu mencium pucuk kepala gadis itu.
"Aku tau," jawab Anwa.
"Cinta banget sama kamu," ujar Arkana lagi.
"Aku tau Ar," jawab Anwa lagi sambil membuat lingkaran di dada lelaki itu.
"Kita kawin lari aja Wa," ujarnya putus asa.
Anwa mengangkat tubuhnya, menatap netra Arkana yang juga membalas menatapnya.
"Kita kawin lari aja Wa," ulangnya lagi.
***siapa mau ikut lari larian 😝
enjoy reading***...