
"Ah ... Ar, u--daaah," ujar Anwa terbata-bata, tubuhnya masih bergerak naik turun mengikuti tempo yang Arkana lakukan.
"Nanti Wa ... masih belom nih," jawab Arkana yang masih berada di atas tubuh Anwa. Matanya tak lepas memandang istrinya yang sudah menggigit bibir bawahnya merasakan kenikmatan ulah suaminya.
Dada Anwa bergerak turun naik, tubuh yang tak terbalut sehelai benang itupun tak mampu membuat Arkana berhenti dari kegiatannya. Lelaki itu memang sudah tergila-gila pada istrinya sejak dulu ... iya dulu di saat semuanya bermula.
Berkali-kali ciuman itu dibalas sama liarnya seakan tak ada waktu lagi untuk hari esok.
"Ah ... Wa, aku sekarang ya ... hhmm." Beberapa kali hentakan yang dilakukan oleh Arkana membuat Anwa menjerit dan membenamkan kuku-kukunya di lengan Arkana.
"Makasih Sayang," lelaki itu sudah berlumur peluh, di kecupnya berkali-kali kening istrinya yang sudah terkulai lemas.
Satu hari ini Arkana melakukannya sebanyak tiga kali dalam waktu yang tak tentu. Seperti pengantin baru bukan? tapi begitulah Arkana yang seakan terhipnotis akan tubuh, wajah bahkan perlakuan istrinya.
Hari ini, hari pertama mereka di Bali setelah tiga hari mereka habiskan di Lombok. Dari saat pesawat landing, Arkana sama sekali tak memberikan kesempatan kepada istrinya untuk beristirahat sebentar saja. Pesona Anwa di mata Arkana sejak dulu tak pernah pudar. Arkana memang benar-benar memanfaatkan waktu mereka berdua tanpa ada satu pun yang mengganggu.
Anwa menggeliat, mengendurkan otot-otot tubuhnya. Mendapati suaminya yang tertidur begitu nyenyak setelah perlakuannya beberapa jam yang lalu.
Saat ini pukul sembilan malam, masih ada waktu untuk melakukan video call pada Kawa. Setelah membersihkan dirinya, Anwa menuju nakas meraih ponselnya, menekan nama mama mertua di sana. Tak berapa lama wajah sang mama mertua sudah heboh di seberang sana.
"Kawa ... lagi apa Sayang?" ujar Anwa mendapati sang putra tertawa-tawa melihat wajahnya.
"Kawa abis jalan-jalan ke mall Bunda," ujar Mama Cha Cha.
"Wah ... Bunda mau ikut dong, Kawa gak rewel kan? Kawa happy? iya ... pinter anak Bunda."
"Happy banget dia, Wa ... tadi Papa sama Mama ke Taman Anggrek, janjian sama Mima dan Didi," jelas Mama Cha Cha.
"Acara apa Ma?"
"Biasalah ... cuma makan doang, sama ngobrolin itu si Zurra ada yang ngajakin nikah."
"Ah, serius Ma ... siapa? kok Zurra gak ada cerita." Suara Anwa membangunkan laki-laki yang sedari tadi tidur di sebelahnya.
"Mama gak tau, besok kamu tanya sendiri ... itu ayahnya Kawa mana?"
"Apa Ma?" Arkana menjawab dengan menyembulkan kepalanya dari balik pundak Anwa.
"Sayang pake baju dulu," ujar Anwa sedikit berbisik.
"Mana anak Ayah?" tanyanya pada sang Mama.
Kamera ponsel pun diarahkan pada bayi yang sudah siap untuk tidur dengan memakai piyama. Sambil memegang botol susu, Kawa melambaikan tangan pada sang ayah.
"Ya ... udah mau bobok ya? cium Ayah dulu dong ... muach ... muach ...." Arkana mendekatkan bibirnya pada ponsel.
"Geli Mama ih ... pake baju sana," gerutu sang Mama.
Beberapa saat kemudian sambungan telepon itu pun berakhir.
"Sayang, aku laper," rengek Anwa.
"Mau cari makan di luar apa makan masakan hotel?"
"Di luar aja yuk, aku mau liat Bali pada malam hari."
"Kita makan di Jimbaran, sebentar aku mandi dulu ya," ujarnya sembari mengecup bibir istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga hari setelah kepulangan mereka dari Bali, aktivitas sudah seperti biasa mereka lakukan kembali. Kerinduan pada sang buah hati akhirnya terbalaskan. Kawa memang sangat menggemaskan, apalagi jika sang ayah mengganggunya bila sedang menyusu pada sang bunda.
"Ayah ambil ya ... buat Ayah ya," ujar Arkana mendekatkan mulutnya ke dada sang istri yang sedang asyik di hisap oleh Kawa.
"Ini kan punya Ayah juga ...," ujar Arkana hingga akhirnya membuat Kawa menangis dan melepaskan mulutnya dari dada Anwa.
"Kamu jahil banget sih ... udah tau anaknya gak suka di ganggu kalo lagi nyusu ... sayang ah, ini semua punya Kawa bukan punya Ayah ya, nanti Ayah gak Bunda kasih," ujar Anwa memberikan tatapan mata tajam pada Arkana yang terkekeh melihat Kawa kembali mencomot puncak dada Anwa, lalu bersuara seakan mengomeli Arkana.
"Sayang," kata Anwa setelah meletakkan Kawa di box tidurnya, Anwa mendekat pada Arkana yang sudah berbaring terlebih dahulu.
"Apa?"
"Aku mau minta ijin boleh?"
"Ijin apa?"
"Aku mau ziarah ke makam Dika," ujar Anwa menatap Arkana takut-takut.
"Kapan?"
"Eh, bener? boleh? kamu gak marah?"
"Kenapa marah? kita bisa sama-sama kayak gini, bahagia sama keluarga kecil kita itu sedikit banyak Dika sudah membantu kita Sayang, lagian aku gak perlu cemburu sama dia, kamu bidadari aku di sini ... sedangkan Dika, aku yakin dia sudah bersama bidadari pilihannya di surga," kata Arkana menyematkan rambut istrinya, lalu mencium bibir Anwa.
"Kapan mau kesana?" tanya Arkana lagi.
"Kapan kamu ada waktu ... kita ajak Kawa ya, biar kenalan sama Om Dika nya."
Anwa begitu bahagia ... sumpah demi apapun hatinya bahagia sekali mendapatkan suami yang luar biasa bisa memahami dirinya. Nikmat Tuhan yang diberikan padanya adalah Arkana setelahnya adalah kehadiran Kawa.
Sore itu tepat pukul empat, keluarga kecil itu sudah berada di samping gundukan tanah yang diselimuti rumput hijau, nisan yang berukir nama yang sama yang duku sempat berada di hati Anwa.
"Assalamualaikum Ka ... aku datang," ujar Anwa tersenyum, menggenggam satu tangan Arkana.
"Aku datang bersama Arkana dan Kawa anak kami ... kamu apa kabar? aku harap Tuhan menepati janjinya memberikan kamu bidadari surga yang cantik di sana. Aku dan Arkana sudah bahagia Ka, aku juga tau kamu di sana bahkan lebih bahagia dari kami," kata Anwa dengan mata berkaca-kaca, menoleh pada suaminya.
"Terimakasih ya ... dengan semua yang kita lalui ini, Tuhan memberikan jalan buat kita menemukan kebahagiaan masing-masing, berkat kamu juga aku menemukan suami yang luar biasa dan dia menepati janjinya buat jaga aku Ka." Anwa menghapus air matanya.
"Semoga Tuhan mengampuni segala dosa-dosa kamu Ka, menerima segala amal ibadah kamu selama di dunia, dan membahagiakan kamu di surganya ... Aamiin." Anwa dan Arkana mengamini secara bersamaan.
"Kawa ... say hello sama Om Dika," ujar Arkana sambil menggerakkan tangan Kawa. Lalu Arkana mengusap nisan itu, " makasih, bro," ujarnya dari hati yang paling dalam.
Menaburkan kembang tujuh warna dan menyiraminya dengan sebotol air mineral, sama dengan yang Anwa lakukan dulu. Lalu memberikan setangkai bunga mawar pada Kawa agar meletakkannya di atas nisan itu.
"Kita pulang, Ka ...," bisik Anwa saat ia mengusap tangannya pada nisan itu.
***jangan lupa ini hari Senin...kalo masih ada satu tiket vote boleh lah diperuntukkan buat pasangan ini yang udah mau END 😂 atau kalian semaikan bunga-bunga untuk mereka, dan secangkir kopi buat author #candaaa
enjoy reading 😘***
...----------------...
**haiiii aku mo rekomendasi in nih karya dari Kakak Gallon yang gak kalah uwu dan seru.
Judulnya : Mr. & Mrs. Trina**
**ini nih cuplikannya :
“Karena saya sangat mencintai anak anda, saya tidak mau semua itu terjadi. Saya tidak mau wanita yang saya cintai sengsara. Saya akan disamping dia sampai kapanpun, membimbingnya dan berjalan bersamanya. Cicil bouw bukan hanya seorang istri bagi saya, dia adalah sahabat, teman, dan partner hidup saya sampai saya mati dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa anda debat...!” teriak Riki keras.
“Lakukan apapun yang anda mau, saya tidak peduli. Tapi, sampai kapanpun Cicil adalah orang yang saya cintai dan bila nanti Cicil hamil, maka anak di dalam kandungannya. Siapapun ayah biologisnya, dia adalah anak saya, Jeff bouw dan akan saya pastikan itu**.”