Kiss Me

Kiss Me
Kran jebol dan daleman



Berjalan bersisian menuju mobil Arkana yang terparkir. Anwa masih memegang plastik putih berisi makanan yang dikirimkan oleh pengirim rahasia.


"Naik."


"Gak usah deh, aku jalan aja, jalan dari sini sampe Pal Batu gak jauh kok."


"Udah naik, gue anterin, lagian gue mo makan itu," ujarnya menunjuk plastik yang Anwa pegang, "laper," menepuk perutnya.


Membukakan pintu untuk Anwa, sampai Anwa berada di posisi yang nyaman, Arkana memutari mobil lalu masuk duduk di belakang kemudi.


Saling diam tanpa suara, suara merdu milik Freddy Mercury lebih dominan memenuhi ruangan di dalam mobil ini. Sesekali Arkana menoleh ke arah Anwa yang hanya memandang keluar jendela, lalu kembali lagi fokus dengan lalu lintas di depannya. Begitu terus sampai di tujuan mereka.


"Makasih ya," ujar Anwa lalu membalikkan tubuhnya membuka pintu mobil.


"Gue boleh mampir?"


"Hah?"


"Mampir... boleh?"


Anwa terdiam sejenak. "Ayo," ajaknya.


Senyuman lelaki itu tak pernah lepas, bertandang ke kediaman gadis yang beberapa minggu ini memenuhi benaknya. Mundur maju untuk mengenal lebih jauh sosok gadis yang selalu terlihat datar saja bila berada di dekatnya.


"Masuk," ujar Anwa sambil melepaskan sepatunya dan meletakkan kembali pada rak sepatu.


Setelah mencuci kaki, tangan serta wajahnya, dan menjepit kedua sisi rambutnya, Anwa mengambil dua piring, dua gelas dan satu botol air mineral. Ia membuka plastik berisi makanan yang tak ia makan siang tadi.


"Kenapa gak pake satu tempat aja? kita bisa menikmatinya kayak kemarin kan?" Arkana menumpuk kembali piring itu.


"Nanti jatah aku kamu ambil lagi," ujar Anwa menatapnya.


Arkana pun terkekeh. "Gak setega itu juga kali gue, Wa."


Dering telpon dari ponsel Arkana pun berbunyi,


"Ya, Ma," jawabnya.


"..."


"Maaf Ma, Arkan buru-buru tadi, ada meeting sama WO yang gak bisa Arkan tinggal," ujarnya berbohong.


"..."


"Iya, besok Arkan ke rumah mima, salam ya buat Kala sama Zurra."Percakapan pun berakhir.


"Kamu bohong sama mama kamu?"


"Bukan bohong besar," ujarnya lalu meneguk air.


"Kenapa bisa ngikutin aku ke makam tadi?"


"Makan dulu, ntar gue cerita," ujarnya menyuapkan spaghetti ke mulutnya.


Anwa pun mengikuti apa yang Arkana katakan, diambilnya satu ayam goreng krispi memotongnya dan kembali mengunyah makanan itu.


"Baik banget yang sering kirimin lo makanan."


"Iya, aku juga gak tau siapa orangnya,"


"secret admirer?" Arkana menatap mata Anwa yang tak sengaja juga sedang menatapnya, "pengagum rahasia."


"Mungkin... biar aku penasaran sama dia," jawab Anwa santai.


"Emang gak penasaran?"


"Gak... biasa aja, lagian gak ada yang nyuruh dia kirim-kirim makanan ke aku, kan aku gak minta, dia kasih aku terima," ujarnya lagi menyuapkan garpu yang berisi penuh spaghetti.


"Kasian dia ya."


"Siapa?"


"Pengagum rahasia lo."


Anwa pun tertawa, ternyata benar kata Arkana makan di satu tempat seperti ini lebih nikmat tapi gak kenyang gumamnya dalam hati.


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Liatin aku terus, spaghetti kamu nanti aku makan loh," Anwa berusaha mencairkan suasana, jujur sekali dia mulai serba salah bila Arkana sering tiba-tiba melihatnya.


"Jangan liatin aku terus, awas nanti kamu jatuh cinta sama aku," ujarnya santai tanpa memperhatikan mimik muka Arkana yang sudah merona.


udah kali Wa, sejak pertama kita ketemu gue dah jatuh cinta sama lo katanya dalam hati, lalu tertawa.


"Udah ah, gue mo cuci tangan, pinjem kamar mandinya ya." Masih tertawa karena mengingat kata-kata Anwa tadi, sedangkan Anwa masih menikmati potongan ayam terakhirnya.


"Anwaaaa...."


Mendengar teriakan Arkana yang mengagetkannya spontan membuat Anwa membuka kamar mandi.


"Krannya jebol."


"Kamu apain kok bisa jebol?"


Anwa mencari sesuatu untuk menahan air agar tidak keluar lagi.


"Ini, pake ini... kamu sumpelin deh ke lubangnya," ujar Anwa menyerahkan plastik yang sudah ia gulung dengan sumpit spaghetti tadi, apapun yang di temukan jika bisa menahan air yang keluar pasti semua orang lakukan.


"Baju gue basah semua ini."


Mereka berdua berada di dalam kamar mandi kecil itu pun tertawa. Melihat penampilan Arkana yang sudah basah kuyup karena berusaha menahan air.


"Dia ketawa, terus gimana ini?" Arkana bingung mana mungkin dia pulang dengan seluruh pakaian yang sudah basah.


"Pake ini," menyerahkan handuk bersih pada lelaki itu, "kamu mau pake baju Dika? sepertinya kalian punya ukuran yang sama," Anwa menawarkan agar Arkana memakai baju Dika.


"Kalo boleh... gak ada pilihan lain kan? tapi sayangnya daleman gue juga basah," ujarnya tersenyum.


"Kalo daleman aku gak punya... aku beli deh di supermarket depan, kamu mandi aja sekalian," ujarnya lagi.


"Beli di supermarket? yang merknya itu nama supermarketnya? gak ah... gak mau gue," Arkana menolak.


"Terus gimana? gak pake daleman?"


"Ya gak juga sih... ya udah deh, tapi cari yang merknya bukan nama supermarketnya ya," pintanya memohon.


emang kenapa sih dengan merk supermarket yang pentingkan pake daleman, ish gerutu Anwa dalam hati.


"Wa... lo dah dateng?" teriak Arkana dari dalam kamar mandi.


Anwa mengetuk pintu kamar mandi, terbuka sedikit, Anwa menjulurkan plastik berisi sikat gigi dan ****** ***** yang ia beli di supermarket tadi.


"Wa... kok ada merknya sih," teriaknya lagi saat melihat merk ****** ***** itu.


"Udah pake aja kenapa sih, lagian gak ada yang mau liat sampe ke dalem-dalem, heran deh."


Merapihkan kamarnya dan membersihkan sisa-sisa makanan mereka tadi, setelah semuanya beres Anwa menyemprotkan pewangi ruangan dan menghidupkan kipas angin agar ruangan itu harum, sudah menjadi kebiasaan Anwa membuat kamar kecil ini terlihat rapih dan harum.


Arkana yang sudah selesai dengan aktivitasnya di dalam kamar mandi pun keluar dengan setelan baju milik almarhum Dika. Mengenakan celana bahan potongan pendek sebatas lutut berwarna hitam dengan kaos slim fit berwarna senada.


Anwa terkesima melihat penampilan Arkana, pakaian yang Arkana pakai adalah pakaian yang Dika pakai satu minggu sebelum dia meninggal.


"Biasa aja liatnya," ujar Arkana sambil mengusak usak rambutnya yang basah.


"Ini gue simpen di sini aja ya, gak mungkin juga gue bawa pulang," ujarnya lagi lalu meletakkan kotak yang masih berisi satu dalaman lagi.


Anwa mengangguk, lalu menerima handuk yang Arkana serahkan padanya. Tangan mereka pun bersentuhan. Sentuhan yang menghantarkan sengatan rasa yang aneh.


"Makasih... sorry gue ngerusak kran air Lo, tapi itu udah gue tampungin air buat lo mandi," Arkana berusaha mengatur detak jantungnya.


"Gak di tampung juga gak papa kanasih ada shower," jawabnya santai dan berlalu keluar untuk menjemur handuk itu.


"Gue balik ya, besok gue kesini lagi... lo jangan pergi-pergi." Arkana yang berdiri di depan pintu seakan menghadang Anwa untuk masuk ke dalam.


"Hah?"


"Maksud gue, lo jangan pergi ntar kalo gue kesini lo gak ada masa lo tega liat gue balik lagi ke Depok."


Anwa lalu mengangguk,


"Gue balik ya, jangan lupa lo mandi ntar kemaleman," ujarnya lagi sebenarnya sih ini basa basi.


Memandangi punggung lelaki itu, sampai lelaki itu menuruni tangga dan menghilang di balik pagar.


***1 part dulu yaaa... insyaallah sebelum malam aku up 1 lagi...


jejak jejak jangan lupa 😘 bantu rate cerita ini yaaaah***