Kiss Me

Kiss Me
Life must go on



"Kita mau kemana, Ar? tanya Anwa lagi.


"Kalo gue bilang kita ke KUA, lo mau?" Arkana lalu mengaduh kesakitan ketika pukulan dan cubitan Anwa mendarat di lengan tangannya, "sakit loh Wa, galak banget sih."


"Lagian di tanya bener-bener jawabnya gitu."


"Biar lo terhibur Wa, kan itu tugas gue," ujarnya tersenyum menoleh pada Anwa.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mengarah ke salah satu destinasi wisata yang banyak orang bilang adalah salah satu tempat yang romantis di Bandung.


"Turun yuk, udah sampe."


Destinasi wisata hutan Pinus, udara yang sejuk hamparan hutan Pinus dengan pemandangan indah di dalamnya.


Mereka menyusuri jalan setapak yang di penuhi oleh tanaman di kanan kirinya.


"Masuk ke situ nanti banyak bunga anggrek Wa,"


Anwa menikmati pemandangan yang sejuk di sini, kepalanya menoleh ke kanan ke kiri, kembali membalikkan tubuhnya melihat ke belakang, lalu berbalik lagi seakan tak puas matanya memandang bunga-bunga yang tersaji di sana.


"Wa...."


"Ya."


"Tadi udah makan belom di hotel?"


"Udah."


"Kalo belom di situ ada resto yang unik," tunjuk Arkana.


"Gak usah, aku masih kenyang, ayo kesana," Anwa menarik tangan Arkana agar mengikutinya lagi.


"Ini yang namanya kokedama kan?" tanya Anwa saat melihat kokedama yang menggantung sepanjang dia berjalan di area itu.


"Iya kali," jawab Arkana yang sudah tak sabar ingin mengajak Anwa berjalan di sebuah jembatan gantung.


Katanya jembatan gantung itu terlihat romantis bila sore menjelang malam, lampu-lampu eksotis menerangi sepanjang jembatan itu.


" Sebentar Ar, aku mau duduk di situ," ujar Anwa lalu berjalan di kursi taman di bawah hutan Pinus.


"Minum," Arkana memberikan satu botol air mineral yang ia bawa di tas punggungnya.


"Makasih," jawab Anwa.


"Capek?"


"Dikit."


"Iket rambut mana? sini gue kuncirin rambutnya."


Seperti biasa Anwa memberikan ikat rambutnya pada Arkana yang sudah mulai mempunyai kebiasaan sendiri.


Berdiri di depan Anwa lalu mulai meraup semua rambut Anwa hingga di ikat tinggi oleh Arkana, sehingga leher jenjang itu pun terlihat begitu seksi di mata Arkana.


"Selesai, udah gak gerah kan?" Anwa pun mengangguk menjawab pertanyaan lelaki yang suka sekali menguncir rambut keritingnya.


"Kamu mau nunjukin apa ke aku?"


"Kita ke jembatan itu, ini udah mau senja, biasanya jembatan itu bakal di terangi lampu-lampu eksotis, orang bilang di sana romantis," ujarnya menaikkan kedua alisnya secara bergantian.


Anwa hanya tertawa, lalu berdiri dan berjalan lagi.


Benar saja menjelang senja lampu-lampu di sepanjang jembatan itu pun menyala, sungguh indah. Ada beberapa pasangan muda mudi melewati jembatan itu sambil berpegangan tangan.


"Ayo," ujar Arkana menjulurkan tangannya agar di sambut oleh Anwa.


Anwa menyambut uluran tangan Arkana, jembatan sedikit bergerak gerak tapi setelahnya mulai stabil.


"Ar...."


"Iya," ujar Arkana menoleh pada Anwa.


"Makin berkabut ya?"


"Kenapa? lo kedinginan?" Arkana melepaskan jaketnya lalu memakaikannya pada Anwa, "udah enak, nyaman?"


"Bau parfum kamu," Anwa tersenyum.


"Diciumin aja biar tambah nyaman Wa, bila perlu orangnya sekalian," lagi-lagi Arkana mengaduh setelah bahunya menerima pukulan dari Anwa.


"Ini jembatannya lumayan panjang ya Ar," tanya Anwa.


"Lumayan, buat pasangan muda-mudi itu, semakin panjang jembatannya semakin asik Wa," jelas Arkana.


"Kok bisa gitu?"


"Ish," melepaskan genggaman tangannya pada Arkana.


"Ye kok di lepas sih, sini... tangan lo dah dingin gitu," Arkana menarik kembali tangan gadis itu, "kalo gue genggam tangan lo bukan karena apa-apa Wa, takut lo ilang, ntar tiba-tiba gue noleh ke belakang lo udah gak ada," ujarnya yang mendapatkan cebikkan dari bibir Anwa.


"Tuh bener kan, di belakang kita udah sepi, udah gak ada orang."


"Arkaaaaan... serem tau, pulang yuk... boro-boro romantis Ar, nyeremin tau," Anwa meringsekkan tubuhnya mendekat pada Arkana, gadis penakut itu ketakutan ketika melihat ke belakang sudah benar-benar sepi.


"Haha... " Arkana tertawa melihat Anwa yang menempelkan tubuh padanya, dengan sigap Arkana merangkul pundak gadis itu, "ada gue gak usah takut," ujarnya lagi lalu menyematkan satu helai rambut Anwa ke belakang telinga yang terjatuh di sisi kiri.


Nafas hangat Arkana menyapu wajah Anwa, pandangan itu kembali mengunci satu sama lain, kabut yang semakin tebal membuat udara semakin dingin. Mereka berdiri saling berhadapan, tangan Arkana yang sudah menangkup kedua pipi Anwa seakan siap untuk mendaratkan sekilas kecupan.


"Semakin dingin, kita pulang yuk," ajak Arkana yang menyudahi tatapan itu, lalu membelai lembut kedua pipi gadis di hadapannya.


"Ar...."


"Iya, Wa."


"Aku laper," Anwa tersenyum lalu mengeratkan genggaman tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lima hari setelah kepulangan mereka dari Bandung, Anwa disibukkan oleh pekerjaan yang luar biasa, bahkan untuk membalas pesan Arkana saja hanya di balas dengan hanya satu kata "iya atau tidak atau belum atau nanti"


Kiriman makan siang masih sering ia terima walaupun tidak seintens dulu. Mungkin pengirimnya mulai merasa bosan pikir Anwa kala itu. Dan sang pengirim makanan yang tidak lain adalah Arkana sendiri memang sudah jarang mengirimkan makanan pada Anwa karena Anwa sering bercerita jika ia lebih senang makan di tenda pinggir jalan di sekitaran kantornya, selain agar sering menghirup udara di luar kantor juga ia ingin sedikit bergaul dengan sesama rekan kerjanya.


Hari ini hari Jumat di akhir bulan, sudah menjadi jadwal Anwa untuk berkunjung ke makam Dika. Ijin untuk pulang lebih awal satu jam sebelum jam pulang kerja pun sudah ia dapatkan. Setelah berpamitan dengan Ibu Ema dan membereskan pekerjaannya, Anwa berjalan untuk keluar dari gedung kantornya. Menggunakan ojek on-line yang membawanya ke tempat pemakaman di bilangan Tebet itu. Jalan raya masih terlihat lengang, aktivitas pulang kantor memang belum di mulai.


Ojek on-line mulai memasuki ruas jalan menuju tempat dimana Dika di makamkan. Berujar pada driver ojol untuk menunggu sebentar, Anwa mendapati seorang gadis yang ia kenal sedang duduk membaca doa di makam kekasihnya.


"Dea," sapa Anwa, gadis itu mendongakkan kepalanya.


"Mbak Anwa," jawabnya lalu mereka saling berpelukan.


Setelah memanjatkan doa untuk sang kekasih, dan sebentar bercerita akan kesehariannya kini, Anwa lalu membelai lembut nisan itu lalu berpamitan.


"Aku pulang ya Sayang, Assalamualaikum."


Dea yang memperhatikan itu semua hanya bisa tersenyum tipis, ia tahu betul bagaimana perasaan Anwa saat kehilangan Dika. Semua orang yang mencintai Dika pasti akan hancur, termasuk Anwa yang selalu bersama dengan sosok humble itu.


"Sebentar ya De," ujarnya lalu berjalan ke arah driver ojol agar meninggalkannya di sini, lalu memberikan uang kepada driver itu.


"Dea sama siapa kesini tadi?" tanya Anwa.


"Tadi naek ojol juga Mbak," jawab Dea.


Mereka berjalan bersisian.


"Apa kabar Mama?"


"Mama baik Mbak, tapi ya sampai sekarang juga kalo inget Kak Dika masih sering nangis."


"Mbak Anwa kemana aja? gak pernah ke rumah?" tanya adik perempuan Dika ini.


"Aku belum siap De," ujarnya melihat Dea, "aku belum siap ketemu Mama," jawabnya.


"Mama gak marah sama Mbak Anwa, mama tau Mbak Anwa gak salah, ini sudah takdir dari Allah Mbak."


"Iya, aku tau, tapi aku belum siap aja ketemu mama, harusnya malam itu aku langsung temuin Dika dan bawa dia ke rumah sakit," ujar Anwa menangis kembali.


"Mbak... " Dea menenangkan gadis itu, "semua sudah terjadi, kalo kita menyalahkan diri, itu sama saja kita gak terima apa yang sudah Allah tuliskan buat kita."


"Hidup harus terus berjalan Mbak, mama sudah menerima kenyataan kehilangan anak kebanggaannya, Mbak juga harus bisa menerima kenyataan kalau Kak Dika sudah bahagia di sana," ujar Dea lagi.


"Life must go on Mbak, jalan hidup dan masa depan Mbak Anwa masih sangat panjang, Kak Dika ingin Mbak nikmati hidup Mbak sekarang dengan atau pun tanpa Kak Dika." Mereka lalu berpelukan, kembali menangis bersama.


Sudah hampir satu tahun setelah kepergian Dika, memang sudah sepantasnya Anwa mulai menata kembali hidupnya, kehadiran Arkana selama ini masih ditutupinya dengan perasaan bersalah atas kepergian Dika.


"Aku pulang ya Mbak," kata Dea lalu saling menautkan kedua pipi mereka.


"Dea main ke kost kalau ada waktu ya."


"Mbak Anwa juga sempatkan untuk ke rumah menengok mama."


Anwa mengangguk lalu menghapus kembali air matanya.


***hidup harus terus berjalan... dengan ataupun tanpa orang yang kita kasihi


hari Senin gaeeesss sudi kiranya kasih vote ke LangitJingga yaaah 😂 kalo Kiss Me belom di kontrak bebs 😘


jejaaaaak aja daaaah 😘***