
Hari ini kesibukan yang di rasakan Anwa luar biasa, empat hari mengambil waktu cuti membuatnya hectic dengan pekerjaannya sendiri. Dari surat menyurat sampai dengan jadwal yang harus dia atur ulang.
"Anwa, susunan surat yang tadi di serahkan oleh Bu Ema masih ada beberapa yang salah, coba kamu cek lagi, kalau sudah selesai bawa ke ruangan saya, Ibu Ema masih ada ketemu beberapa pejabat daerah, jadi gak usah nunggu dia," ujar Pak Fajar siang itu yang datang masih dengan menempelkan ponselnya di telinga saat berbicara dengan Anwa.
"Baik, Pak," jawab Anwa.
"Ar, kamu dimana?" tanya Pak Fajar pada lawan bicaranya lalu menutup pintu ruangannya.
Sedetik Anwa menoleh, memperhatikan lelaki yang masih terlihat tampan di usia yang menginjak umur 50 tahun itu.
"Ya, Pa?"
"Kamu dimana?" tanya sang Ayah.
"di Bekasi Pa, ada apa Pa?"
"Ke kantor Papa bisa ya?"
"Tapi jam tiga ya? Arkan masih meeting."
"Ok, Papa tunggu." Sang Ayah mengakhiri hubungan telpon.
Sementara waktu berlalu, Anwa masih berada di meja kerjanya, fokusnya pada komputer tak menyadari jika Arkana sudah berada di depannya.
"Hei..." sapa Arkana.
"Eh, ngapain?"
"Gak tau, di panggil Papa kesini... Papa ada?"
"Ada, dari tadi gak keluar ruangan, masuk aja."
"Wa," ujarnya menghentikan langkahnya.
"Apa?"
"Aku suka liat kamu serius kalo lagi kerja," ujar Arkana tersenyum nakal.
"Apaan sih, sana... buruan masuk."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pa...."
"Udah dateng kamu," ujar Pak Fajar membawa laptopnya ke meja sofa.
"Ada apa Pa," tanya Arkana.
"Gak papa, Papa cuma mau ngobrol aja," sang Ayah duduk dengan melipat kaki kiri di atas kaki kanannya, "seminggu ini kamu gak pulang, kemana?"
"Oh, Arkan banyak kerjaan Pa," jawabnya santai sambil mengeluarkan ponsel dari kantung celananya.
"Tapi Papa ke kantor kamu, kamu gak ada," Fajar menaikkan satu alisnya, "dua hari berturut-turut Papa ke kantor kamu, kamu gak ada," katanya lagi.
"Oh, Fajar ke--- "
"Lampung?" tanya sang Ayah.
Arkana serba salah, menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Bener ke Lampung?" tanya ayahnya memastikan, "mau buka cabang baru?"
"Gak Pa," jawab Arkana.
"Bisa kebetulan gitu ya sama Anwa, sekretaris Papa itu juga kemarin empat hari cuti pulang ke Lampung."
Fajar bersidekap menuntut penjelasan.
"Itu Pa--- "
"Kalo ini kamu bisa jelasin?"
Bapak Fajar membuka file di salah satu laptopnya, lalu menunjukkan pada Arkana.
Seketika wajah Arkana merah menahan malu, bagaimana bisa dia melupakan hal itu, jelas ini jauh dari perkiraannya.
"Bisa jelasin Ar," Fajar berjalan menuju pintu lalu memanggil Anwa untuk masuk ke ruangannya.
"Anwa, tolong masuk sebentar."
"Iya, Pak," lalu masuk mengikuti langkah Fajar.
"Duduk Wa."
Anwa mengangguk dan masih tetap menunduk namun sesekali melirik Arkana.
"Anwa..."
"Iya, Pak."
"Sudah berapa lama kerja di sini?"
"Delapan bulan Pak," jawab Anwa.
"Delapan bulan ya," Fajar mengangguk angguk, "berarti sudah cukup banyak tau peraturan staff di kantor ya?"
"Sudah Pak."
"Adakah salah satu isinya tidak boleh berbuat mesum?"
Anwa tersentak kaget lalu menatap atasannya.
"Maksud Bapak? saya berbuat mesum?" Anwa menjawab cepat.
"Pa!" Arkana berusaha masuk ke dalam pembicaraan merasa kekasihnya diintimidasi.
"Papa belum selesai bicara Ar," ujar sang ayah masih santai.
"Kamu bisa jelaskan yang ada di laptop ini?" menunjukkan laptopnya pada Anwa.
Mata Anwa terbelalak, rona merah di wajahnya menahan malu seakan udara di sekitarnya habis tak lagi dapat di hirup.
"Pa, please biar Arkana yang jelasin, ini pure kesalahan Arkana bukan Anwa," Arkana memohon pada ayahnya.
"Papa tanya sama Anwa, dia staf Papa."
Anwa terdiam lama, wajahnya merah karena malu, pikirannya entah kemana-mana.
"Please Pa, ini kesalahan Arkana, Anwa gak tau apa-apa." Arkana meraup wajahnya kasar, jelas terlihat frustasi.
"Harusnya kalian dalam bertindak, berpikirlah terlebih dahulu," ujar Fajar menatap kedua tersangka di hadapannya.
"Ini sudah masuk dalam scandal Ar, anak pejabat BUMN mesum di kantor ayahnya dengan sekretaris Sang Ayah," ujar Fajar tegas, " gimana kalo itu menjadi headline besok di semua media elektronik?"
"Dimana harus Papa taruh muka Papa? bagaimana Papa harus mengatakan semuanya pada jajaran direksi?"
"Dan kamu Anwa..." ujarnya pada Anwa yang sudah meneteskan air mata. "Sudah berapa lama kamu kenal anak saya?"
"Delapan bulan Pa," jawab Arkana.
"Papa nanya Anwa, Ar."
"Delapan bulan Pak."
"Delapan bulan, sama dengan saat kamu masuk kerja?"
"Iya, Pa."
"Ar, Papa nanya Anwa, kamu bisa diem dulu gak?!"
"Iya Pak, dua minggu setelah saya kerja di sini."
"Apa hubungan kalian?"
"Teman," jawab Anwa.
"Pacar," jawab Arkana.
"Yang mana ini yang bener? teman apa pacar?"
"Teman, Pak."
"Wa...!" Arkana terlihat marah, "pacar Pa, baru kemarin kita pacaran," jawab Arkana tegas.
"Baru kemarin pacaran, tapi dua minggu lalu anak gadis orang kamu cium? di kantor Papa pula?" ujar Fajar memijit pelipisnya.
"Tapi kan akhirnya pacaran Pa," jawaban bodoh dari seorang pengusaha.
"Oke, akhirnya kalian pacaran... terus CCTV ini mau di gimana in? Papa mau tau gimana cara kamu nyelesaiin masalah ini."
Arkana diam, mencoba memutar otaknya.
"Saya mengundurkan diri Pak," ujar Anwa mengambil jalan tengah.
"Jangan... biar aku yang nyelesaiin, kamu jangan mengundurkan diri Wa," Arkana mendekatkan duduknya pada Anwa, meraih tangan Anwa, menguatkan gadis itu. "Biar aku yang mikir, please."
Fajar melihat kedua pasangan kekasih itu, yang satu anaknya ,yang satu lagi staff nya.
"Papa cuma mau kalian janji, tidak mengulanginya lagi, terlebih ini kantor Papa, jabatan Papa taruhannya Ar," ujar Fajar.
"Permasalahan ini sudah Papa selesaikan dua hari yang lalu, untung saja pihak CCTV mengenal baik Papa, untung saja yang melihat pertama kali adalah dia, dan sudah Papa pastikan semua sudah terhapus," ujar Fajar.
"Maksud Papa?"
"Kamu itu anak Papa Ar, anak laki-laki Papa, sedari kecil kamu gak pernah melakukan kesalahan, gak pernah berbuat sesuatu yang tanpa pikir panjang, ini adalah kesalahan kamu yang terfatal, Papa gak tau apa kamu benar-benar sudah di mabuk cinta, atau dampak mengenal Anwa bisa bikin kamu gak bisa berpikir sebelum bertindak."
"Maaf Pa," kata Arkana pelan.
"Dan kamu Anwa, bersikaplah biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa di kantor ini, saya jamin video yang kalian lakukan di ruangan saya tidak akan mencoreng nama baik kamu," kata Fajar dengan wajah yang serius.
"Asal kamu bisa memenuhi permintaan saya---," ujar Fajar lagi, memandang bergantian pasangan yang ada di hadapannya.
***1 part lagi... sorry to late yaaaah
happy reading 😎***