
Arkana terbangun ketika ia sadar sudah tidak ada lagi suara berisik di dapur. Beranjak dari sofanya, ia mencari Anwa di setiap sudut ruangan, padahal ruangan hanya dua di sana. Membuka kamar mandi, tidak juga dia temukan dimana gadis itu.
Ketika meraih ponsel di atas meja, lalu diurungkannya karena melihat ponsel Anwa juga tergeletak di sana. Bergegas keluar dari apartemennya, dia merasa pasti Anwa sudah lama berada di luar sana.
Saat melangkahkan kakinya keluar dari lift, Arkana melihat gadis itu bersandar di dinding dekat pintu keluar, menggerak-gerakkan kakinya membentuk lingkaran bergantian, satu tangannya memegang satu buah novel milik Danielle Steel.
Arkana mendekatkan dirinya, berdiri dihadapan Anwa, gadis itu pun menyadarinya.
"Are you lost baby girl?" ujar Arkana lalu tersenyum.
Wajah yang cemberut, dengan mata yang berkaca-kaca, tidak ada senyum. Arkana mengacak-acak rambut gadis itu, menangkup kedua pipi yang mengembung karena cemberut, dengan mata yang merah menahan tangis.
"Kesasar ya?" ujarnya lagi.
"Arkaaaaan, jahat banget sih," lalu menghambur kepelukan lelaki itu.
Arkana terkekeh dan menyambut pelukan itu. Hangat, nyaman bahkan terlalu nyaman. Gadis yang ia kenal sedikit cuek, dingin kadang ekspresinya terlalu datar, dan pelit berbicara, penakut ternyata juga memiliki sifat manja. Dan Arkana suka itu.
Merangkul pundak Anwa, lalu menggiringnya masuk ke dalam lift menuju unit apartemennya.
"Duduk dulu, gue ambilin minum," ujarnya lalu berjalan ke arah dapur lalu menuangkan segelas air, namun pandangan matanya tak lepas dari si gadis berambut keriting itu.
"Di minum Wa," ujarnya memberikan gelas berisi air lalu di teguk sampai tandas oleh Anwa.
Arkana berjongkok di hadapan Anwa, "haus ya? lama nunggunya? sorry ya Wa," ujarnya lagi.
Anwa hanya mengangguk. "Ar... " menyerahkan gelas itu pada Arkana.
"Iya?"
Suara perut Anwa berbunyi, menandakan dia sangat lapar. Arkana lagi-lagi dibuat tertawa.
"Lo laper? bilang dong... sukanya manggil Ar... Ar mulu sih, kayak minta apa aja" Arkana meraih tangan gadis itu dan mengajaknya duduk di meja yang sudah terhidang makanan yang Anwa masak tadi.
"Enak Wa, ternyata lo pinter masak ya."
"Masak beginian sih bisa, asal jangan yang berat-berat." jawabnya.
"Ar, sebenernya ini apartemen siapa sih? aku tanya security tadi gak ada yang kenal nama kamu."
"Ini apartemen Didi Langit, suami tante gue, gue juga baru tiga hari tinggal di sini, itu pun karena belakangan suka balik malem kan dari kafe," ujarnya lagi.
~aku lupa ya kasih tau kalian kalo kafe yang berada di Tebet itu sekaligus kantornya Arkana dalam menjalankan bisnis restoran-restorannya~
"Oh, jadi nyewa gitu?" tanya Anwa lagi.
"Lebih tepatnya minjem," Arkana tersenyum.
"Pengusaha muda, dengan usaha restoran yang bertebaran dimana-mana, apartemennya minjem?" ledek Anwa.
"Bisa aja lo," jawab Arkana, "ngapain nyewa kalo Om sendiri juragan properti," ujarnya tertawa.
"Hebat ya keluarga kamu Ar," Anwa beranjak dari duduknya lalu membereskan piring"piring kotor yang mereka pakai, membawanya ke tempat cuci piring lalu mencucinya satu persatu.
Arkana berjalan mendekati gadis itu. "Bukan hebat, tapi beruntung, paham gak maksud gue? kayak gue sekarang, ketemu lo itu berarti gue termasuk yang beruntung." Arkana duduk di meja dapur menunggui Anwa yang membilas piring-piring tadi.
"Ini," Arkana memberikan kain itu pada Anwa, "lo bukan gak beruntung, tapi belom beruntung, dan tugas gue bikin lo menjadi orang yang paling beruntung."
"Penuh percaya diri sekali anda Tuan," ujar Anwa tersenyum lalu memberikan kembali kain itu pada Arkana.
Saat Anwa membalikkan tubuhnya untuk kembali berjalan menuju ruang TV, Arkana meraih tangan Anwa dan memutar tubuh Anwa menghadap padanya.
"Wa, ada sesuatu hal yang udah lama pengen gue bilang sama lo," ujarnya dengan mimik wajah yang serius.
Lalu menarik nafas dalam dan menggenggam tangan gadis itu. "Dalam hidup manusia, ada saat-saat dimana kita berada di titik terendah, fase dimana kita kehilangan seseorang yang kita cintai," katanya lalu memandang wajah cantik di depannya.
"Dan itu sedang lo alami sekarang, tapi sesulit apapun kehidupan yang lo alami sekarang, jangan pernah lo ngerasa sendiri Wa, lo masih dikelilingi orang-orang yang sayang sama lo, dan ada gue diantara orang-orang itu," ujarnya lagi menelan salivanya takut-takut Anwa tak ingin mendengar kata-kata yang Arkana ucapkan.
Mata indah itu terus menatap Arkana, ia sudah tahu pasti kalau hal seperti ini akan terjadi.
"Gue gak minta lo, tiba-tiba nerima gue, gak Wa, gue tulus temenan sama lo walaupun gue meminta lebih, tapi gue sangat sadar diri akan posisi gue," kata Arkana membalas tatapan mata itu.
"Gue cuma pengen lo ikhlas dan menerima keadaan yang saat ini lo lalui," ujarnya lagi, "dan biarkan gue memperbaiki ini buat elo," pinta Arkana.
"I will try to fix you," ujarnya lirih.
Anwa menunduk, lalu mengangkat wajahnya kembali dan tersenyum pada Arkana, menepuk-nepuk punggung tangan Arkana yang menggenggam tangannya.
"Home teather Om kamu keren ya Ar, kalo nonton film serem kayaknya seru... ada gak?"
Anwa berusaha mengalihkan suasana, dia tahu betul maksud kemana arah pembicaraan yang di bahas oleh Arkana..Anwa tahu Arkana bukan orang yang gegabah dalam mengutarakan isi hatinya. Dari ungkapan yang Arkana katakan tadi, Anwa bisa menarik kesimpulan agar ia sedikit membuka hati untuk lelaki itu. Kembali memulai kehidupan normal seperti dulu lagi. Menyimpan memory kenangan itu baik-baik di hati dan ingatannya. Dan membiarkan Arkana perlahan-lahan memperbaiki hati yang tadinya terlihat sangat rapuh.
Arkana menangkap apa yang ada di hati Anwa, dia berusaha menyeimbangkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung. Berjalan ke arah home teather lalu mencari beberapa CD player dengan judul beberapa film horor.
"Yang ini mau? apa yang ini? oh yang ini aja Wa, seru," menunjukkan satu CD film yang berjudul Candyman.
"Oke," Anwa sudah bersiap duduk di atas sofa dengan mendekap bantal sofa di depan dadanya.
"Gak jadi aja deh ya nontonnya," ujar Arkana saat melihat Anwa sudah mendekap bantal sofa.
"Loh kenapa?" tanya Anwa heran.
"Habis lo belom juga mulai filmnya dah begitu bentuknya," ujar Arkana yang sudah menghempaskan tubuhnya di sisi Anwa.
"Ini namanya amunisi Ar, biar gak narik-narik baju kamu lagi," ujar Anwa mencebikkan bibirnya.
"Jangankan narik baju Wa, narik hati aku ke hati kamu juga boleh kok," Arkana mengerlingkan mata nakalnya.
Anwa pun merona. "Gak jelas banget Ar." Lalu pandangannya mengarah pada film yang sudah di putar dengan adegan yang membuatnya terkejut, sehingga Anwa mendekatkan dirinya pada tubuh Arkana diiringi jeritan ketakutan.
"Tuh kan Abang bilang apa, tarik Abang Dek," Arkana pun tertawa.
like
komen
dan sudi kiranya kalian share cerita ini ke seluruh kampung yaaaah 😘